Perjuangan

Apakah Mental Ilness Sebuah Ilusi Atau Kita Yang Tidak Pernah Peduli?

Pernyataan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di awal tahun 2025 menyampaikan bahwa jumlah kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang 2012-2013 mencapai 2.112 kasus. Pada tahun 2017 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 3,9 persen dari 8.899 remaja Indonesia pernah melakukan percobaan bunuh diri. Menurut Pusat Informasi Kriminal Nasional Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim Polri) menunjukkan bahwa angka kasus bunuh diri terus meningkat setiap tahun bahkan bertambah hingga 60% dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya pada tahun 2020 tercatat ada lebih dari 640 kasus bunuh diri yang ditangani. Pada tahun 2021, menurun tipis dengan menginjak angka 629 kasus. Namun angka tersebut melonjak di tahun 2022 sebanyak 887 jiwa. Sepanjang 2024 setidaknya di Januari-Oktober jumlah tersebut meningkat hingga 1.023 kasus. Jika merujuk pada data statistik yang dikumpulkan oleh Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, mencatat setidaknya pada 2020 terdapat 2.700 kasus bunuh diri. Di tahun sebelumnya, 2018 terdapat 6000 kasus upaya bunuh diri.  

Apakah kasus ini hanya terjadi di Indonesia? Global Burden of Disease Studi menunjukkan kematian akibat bunuh diri seluruh dunia menyentuh angka 746.000 kasus pada 2021. Data dari WHO pada 2018 menunjukkan bahwa 73% kasus bunuh diri global terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di antaranya negara yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi yaitu Afrika. Pada 2020 WHO melaporkan tingkat bunuh diri global telah turun sebesar 35%. Akan tetapi di tahun yang sama Amerika mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 17% untuk kasus bunuh diri.

Apakah ini hanya sebuah angka di dalam tabel statistik atau kita tengah melihat sebuah fenomena yang mencekik di bawah sistem kapitalisme? Kebanyakan dari penelitian ilmiah ataupun penelitian yang berbasiskan ilmu psikologi memuarakan analisa terhadap kasus bunuh diri karena persoalan yang dilihat terpisah seperti keluarga, asmara, lingkungan sosial, sosial media, atau bahkan terjebak pada hasrat untuk bunuh diri itu sendiri. Bagaimanapun kita perlu menyadari dan melihat lebih lanjut, manusia tidak terpisah dari masyarakat dan tempat hidupnya. Artinya, sebuah kesadaran manusia juga akan berkembang dipengaruhi oleh kondisi objektifnya. Begitupula, ketika kita berbicara persoalan psikologi—sebelum kita lebih lanjut berbicara persoalan kondisi psikologi manusia haruslah kita pahami dulu perkembangan sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang di dalam masyarakatnya.

Ketika kita berbicara persoalan ilmu psikologi yang berkembang, kita akan menemukan tokoh-tokoh pengembangnya—di mulai dari Sigmund Freud, Lacan, ataupun Piaget. Perkembangan teori-teori Freud ini menjadi banyak rujukan sebagai dasar perkembangan ilmu Psikologi. Dimulai dari 3 konsep dasarnya persoalan id, ego, dan superego. Konsep dasar ini kemudian dikembangkan oleh muridnya yaitu Lacan dengan melibatkan bahasa sebagai manifestasi dari kesadaran diri manusia. Perbedaan mendasar antara Freud dan Lacan terletak pada pemahaman tentang hubungan antara kesadaran (ego) dan ketidaksadaran (id), serta tujuan terapi psikoanalisis. Bagi Freud, ketidaksadaran terdiri dari sisa-sisa masa kanak-kanak yang tertekan dan beroperasi dengan logika irasional—menampung kontradiksi, mengacaukan kata dan benda, serta terpaut pada hal-hal sepele. Kesadaran (ego) justru berperan penting dalam mengarahkan interaksi dengan realitas melalui pengujian realitas, logika, dan konsistensi. Oleh karena itu, tujuan terapi Freudian adalah memperkuat ego agar lebih independen dari superego dan mampu mengintegrasikan bagian-bagian id ke dalam kesadarannya, sehingga tercapai pengarahan diri yang lebih sadar dan koheren.

Sebaliknya, Lacan menekankan fragmentasi dan ilusi koherensi dalam kesadaran. Ia memandang ego sebagai sumber mistifikasi yang mengaburkan “kebenaran” subjek yang sebenarnya berada dalam ketidaksadaran. Bagi Lacan, tujuan terapi adalah menemukan “kata utuh” subjek yang asli dari ketidaksadaran, menggantikan “kata kosong” ego yang menipu. Kritik utama terhadap posisi Lacan adalah bahwa ia mengacaukan ego dengan superego. Freud dengan jelas membedakan tiga agensi: id (hasrat), ego (rasionalitas dan pengujian realitas), dan superego (pembatas moral yang represif). Lacan justru menggabungkan fungsi represif superego ke dalam konsep egonya, sehingga menganggap ego sebagai musuh yang harus dilemahkan. Akibatnya, pendekatan Lacan jatuh ke dalam irasionalisme romantik yang memuja ketidaksadaran sebagai diri yang autentik dan bijak, serupa dengan dualisme pra-Freudian yang mempertentangkan “kepala” (rasio) dan “hati” (perasaan). Jika Freud berusaha mengintegrasikan ketidaksadaran ke dalam kesadaran yang diperluas, Lacan justru membalikkan nilai dengan menganggap kesadaran sebagai penghalang kebenaran. Perbedaan fundamental ini menyebabkan implikasi terapi yang bertolak belakang: Freud mendorong otonomi melalui penguatan kapasitas rasional ego, sedangkan Lacan berisiko melemahkan kemampuan subjek untuk bertindak secara efektif dalam dunia nyata dengan meruntuhkan otoritas ego.

Dalam artikel yang berjudul Psikoanalisis dan Marxisme—ditulis oleh Stefan Hain & Andreas Wintersperger mengupas hal yang menarik untuk dapat membongkar historis dan perdebatan psikoanalisis dan marxisme. Teks ini membahas adopsi dan adaptasi teori psikoanalisis Jacques Lacan oleh berbagai pemikir “Kiri Baru” (Lacanian Left) mulai dari era 1950-an. Meskipun Lacan sendiri tidak berafiliasi dengan gerakan politik tertentu, teorinya menarik minat kaum kiri karena menawarkan kerangka untuk memahami subjektivitas dalam masyarakat. Inti dari teori Lacan adalah klaim bahwa “alam bawah sadar terstruktur seperti bahasa,” sebuah ide yang diambil dari strukturalisme. Namun, Lacan meradikalisasi pandangan ini dengan menegaskan bahwa bahasa dan struktur makna itu sendiri pada dasarnya tidak lengkap dan dicirikan oleh suatu kekurangan atau yang disebut sebagai Lack. Kesenjangan yang tak terdamaikan ini memisahkan dunia simbolik (bahasa, realitas sosial) dari The Real (Yang Riil)—sebuah ranah yang tak terkatakan dan tak dapat diwakili sepenuhnya oleh simbol. Bagi Lacan, masuk ke dalam tatanan simbolis (bahasa) adalah proses alienasi yang tak terelakkan yang sekaligus melahirkan ketidaksadaran. Dalam kerangka ini, hasrat manusia selalu mengarah pada objek yang pada dasarnya telah hilang, dan ketidakmungkinan untuk memuaskannya inilah yang justru menggerakkan sejarah dan aktivitas manusia.

Dalam artikel tersebut mengkritik konsepsi Lacan ini sebagai sebuah “ontologi negatif” yang kaku, di mana konflik dan ketidakpuasan dilihat sebagai kondisi manusia yang tetap dan tak teratasi, bukan sebagai produk dari kondisi sosial-ekonomi yang spesifik. Berbeda dengan Freud yang melihat gejala psikis sebagai bagian dari “ekonomi” psike yang dapat dimediasi oleh masyarakat, Lacan memandang represi dan konflik psikis sebagai prasyarat logis yang mendahului tatanan sosial mana pun. Pandangan ini, seperti yang diadopsi oleh pemikir “Kiri Lacanian” seperti Slavoj Žižek, berpendapat bahwa perubahan radikal hanya bisa datang melalui intervensi dari “The Real” ke dalam tatanan simbolik. Namun, penulis mempertanyakan kegunaan politik dari ontologi semacam ini, yang pada akhirnya melihat penindasan sebagai bagian tak terpisahkan dari kondisi manusia.

Sebagai penutup, di dalam artikel tersebut membandingkan pendekatan Lacan dengan Freud dan Mazhab Frankfurt. Bagi Freud, akar represi budaya pada akhirnya adalah ekonomi—kebutuhan masyarakat untuk mengalihkan energi dari seksualitas ke kerja. Dengan demikian, konflik psikis individu borjuis tidak terpisahkan dari kontradiksi masyarakat kapitalis itu sendiri. Sementara Lacan mengontologikan konflik menjadi kondisi manusia yang abadi, tradisi Marxis melihatnya sebagai produk sejarah spesifik dari masyarakat kelas yang suatu saat dapat diatasi, membuka jalan bagi kebebasan yang sesungguhnya.

Meskipun ajaran Karl Marx merevolusi ilmu sosial lainnya, psikologi tetap terisolasi dari pengaruh Marxisme selama lebih dari 50 tahun. Baru pada awal 1920-an, ilmuwan Soviet, dengan pionir seperti Kornilov, mulai berusaha membangun psikologi yang secara sadar berdasar pada Marxisme. Awalnya, upaya ini dipahami sebagai kritik terhadap pandangan filosofis yang ada dan pengintegrasian materialisme dialektik, meskipun pemahaman awal tentang konsep-konsep kunci seperti ‘refleksi’ masih terbatas dan sering kali ditafsirkan secara naif sebagai pengkondisian biososial. Perkembangan signifikan terjadi berkat karya LS Vygotsky dan SL Rubinshtein, yang sepenuhnya memahami makna Marxisme bagi psikologi. Melalui merekalah pendekatan historis terhadap psikologi manusia, studi tentang kesadaran sebagai bentuk refleksi realitas yang tinggi, dan analisis mendalam tentang struktur aktivitas dikembangkan.

Revolusi mendasar yang dibawa Marxisme ke dalam teori kognisi adalah pengenalan konsep aktivitas manusia (praktik) sebagai fondasi. Marx mengkritik materialisme lama yang memandang realitas hanya sebagai objek kontemplasi pasif, dan sebaliknya menekankan bahwa kognisi adalah produk dari aktivitas manusia yang praktis dan indrawi di dunia objektif. Bagi Marx, praktik bukan hanya dasar di mana persepsi dan pemikiran bermula dan berkembang, tetapi juga menjadi kriteria untuk menguji kebenaran pengetahuan. Penekanan pada praktik ini harus dipahami dalam kerangka ajaran Marxis secara utuh, dan bukan sebagai pembenaran untuk pragmatisme, karena kognisi dilihat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses kehidupan material yang praktis.

Pendekatan Marxis memandang manusia sebagai individu nyata yang tak terpisahkan dari aktivitas dan kondisi material kehidupan mereka. Dengan bertindak atas dunia luar untuk memenuhi kebutuhannya, manusia tidak hanya mengubah dunia tetapi juga mengubah diri mereka sendiri, termasuk pikiran dan kesadarannya. Psikologi metafisika lama dianggap abstrak karena mengisolasi individu dari konteks ini, memperlakukan mereka sebagai mesin reaktif atau entitas dengan kekuatan spiritual bawaan, dan mengabaikan proses aktivitas yang memediasi hubungan antara subjek dan dunia nyata. Proses aktivitas inilah, yang awalnya bersifat eksternal dan praktis kemudian menjadi internal (aktivitas kesadaran), yang menjadi kunci untuk memahami terjadinya refleksi psikis dan transisi dari materi ke ideal. Oleh karena itu, analisis ilmiah terhadap kesadaran, baik sosial maupun individu, harus berfokus pada menganalisis bentuk-bentuk aktivitas dan kondisi kehidupan nyata yang menghasilkannya.

Karl Marx meletakkan fondasi bagi teori psikologi konkret tentang kesadaran yang mengatasi krisis teoretis dalam psikologi pra-Marxis. Psikologi sebelumnya gagal memahami kesadaran secara ilmiah; mereka mempelajarinya secara deskriptif sebagai epifenomena, mengecualikannya dari studi ilmiah (seperti dalam psikologi subjektif), atau menganggapnya sebagai sesuatu yang non-kualitatif, tak terdefinisi, dan asing bagi psikologi itu sendiri. Upaya lain, seperti dari Freud atau fenomenologi, justru mengeluarkan kesadaran dari ranah psikologi atau melarutkannya dalam disiplin lain. Kekurangan mendasar dari semua pendekatan ini adalah sifatnya yang metafisik dan ahistoris, yang memandang kesadaran sebagai sesuatu yang sudah ada sebelumnya.

Pandangan dialektis-materialis Marxisme menawarkan perspektif revolusioner dengan menolak pandangan kesadaran sebagai epifenomena semata. Menurut Marx, kesadaran adalah produk sosial yang muncul dan menjadi perlu melalui aktivitas kerjamanusia. Dalam proses kerja, ide-ide subjek menjadi terobjektifikasi dalam produk yang dihasilkan. Produk ini, yang kini ada dalam bentuk eksternal dan indrawi, kemudian menjadi objek persepsi subjek, memungkinkan “reduplikasi” ide tersebut di dalam kepalanya—inilah yang membentuk kesadaran. Proses ini tidak terisolasi, tetapi dimediasi oleh hubungan sosial dan bahasa. Bahasa bukanlah pencipta kesadaran, melainkan bentuk eksistensinya yang memuat praktik sosial dan aktivitas yang dikristalkan di dalamnya. Dengan demikian, kesadaran bukanlah cahaya mistis dari otak, melainkan hasil dari hubungan sosial yang dimediasi oleh aktivitas praktis manusia di dunia objektif.

Lebih lanjut, Marx mengembangkan sejarah ilmiah kesadaran, yang sangat penting bagi psikologi. Ia mengungkap tahap-tahap perkembangan kesadaran, dari bentuk awalnya hingga menjadi bentuk universal jiwa manusia. Ajaran Marx tentang bagaimana pembagian kerja dan kepemilikan pribadi menyebabkan alienasi dan disintegrasi kesadaran sangatlah krusial. Menurutnya, disintegrasi ini hanya dapat diatasi dengan penghapusan kepemilikan pribadi melalui transisi ke masyarakat komunis, yang akan mereintegrasikan kesadaran manusia. Dalam tulisan AN Leont’ev yang berjudul Marxisme dan Ilmu Psikologi bahwa penemuan Marx dalam ilmu psikologi begitu radikal, pandangan Marx berlandaskan gagasan bahwa kesadaran bukanlah manifestasi dari semacam kemampuan mistis otak manusia untuk menghasilkan “cahaya kesadaran” di bawah pengaruh hal-hal yang menimpanya – stimulus – melainkan produk dari hubungan-hubungan khusus – yakni, sosial – yang dimasuki manusia dan yang hanya disadari melalui otak, organ perasa, dan organ tindakan mereka. Proses-proses yang ditimbulkan oleh hubungan-hubungan ini juga mengarah pada penerimaan objek-objek dalam bentuk citra subjektifnya di dalam kepala manusia, dalam bentuk kesadaran.

Ajaran Marxis memberikan landasan teoritis yang revolusioner bagi perkembangan psikologi dalam pemahaman dan juga pemikiran. Terkait persepsi, Marxisme menolak pendekatan sensual-materialis tradisional yang memandangnya sebagai hasil pasif dari stimulus eksternal yang bekerja pada organ indera. Sebaliknya, persepsi dipahami sebagai aktivitas subjek yang aktif yang dimediasi oleh hubungan praktis manusia dengan dunia objektif. Kecukupan citra persepsi tidak hanya bergantung pada organ indera dan sifat fisik objek, tetapi terutama pada proses aktivitas yang menghubungkan subjek dengan objek. Persepsi manusia adalah produk sosial-historis; indera manusia telah “terdidik” oleh seluruh sejarah umat manusia, sehingga objek dipersepsikan sebagai objek sosial, manusiawi. Dengan demikian, persepsi bukanlah proses biologis semata, melainkan bentuk aktivitas objektif yang tunduk pada aktivitas sosial manusia.

Dalam bidang pemikiran, Marxisme mengatasi keterbatasan pandangan idealis (yang menempatkan pemikiran di atas segalanya) dan materialis metafisik (yang mereduksinya menjadi generalisasi kesan indrawi). Pemikiran dipandang sebagai produk perkembangan sosial-historis dan bentuk turunan dari aktivitas praktis. Ikatan primordial antara pemikiran dan praktik ditekankan; pada awalnya, produksi gagasan terintegrasi langsung ke dalam aktivitas material dan kontak antarmanusia. Pemikiran manusia, meskipun merupakan fungsi otak, tidak berada di luar masyarakat; ia dibentuk oleh bahasa, pengetahuan, dan logika yang merefleksikan pengalaman praktik sosial. Proses interiorisasi menjadikan aktivitas eksternal berubah menjadi proses internal “di dalam pikiran”. Namun, pemisahan antara kerja mental dan fisik adalah produk historis dari pembagian kerja dan kepemilikan pribadi.

Pemikiran teoretis, meski memiliki kemandirian relatif dan kemampuan untuk memasuki realitas yang tak terjangkau secara langsung, tetaplah berakar pada praktik. Hukum-hukum logika bukanlah prinsip bawaan pikiran, melainkan refleksi umum dari hubungan objektif yang berulang juta-an kali dalam aktivitas praktis manusia. Praktik berfungsi sebagai dasar dan kriteria kebenaran pengetahuan, serta “benang merah” yang mencegah pemikiran teoretis menyimpang. Psikologi kontemporer telah mengadopsi banyak gagasan Marxis, seperti penolakan terhadap teori asosiatif yang sempit, pengakuan adanya bentuk pemikiran eksternal yang terwujud dalam tindakan, dan konsep interiorisasi. Namun, distorsi tetap terjadi, seperti ketika operasi logika diotonomisasi dan dianggap sebagai esensi pemikiran itu sendiri, atau ketika mesin dianggap “berpikir” padahal ia hanyalah alat yang diciptakan oleh dan untuk melayani pemikiran manusia. Pada hakikatnya, berpikir adalah aktivitas manusia yang hidup yang memiliki struktur dasar yang sama dengan aktivitas praktis: ditujukan untuk memenuhi kebutuhan, terdiri dari tindakan yang disadari, dan diwujudkan melalui berbagai sarana. Tugas utama psikologi Marxis adalah mempelajari proses berpikir dalam konteks keberadaannya yang nyata dalam aktivitas manusia, dan bagaimana kondisi sosial baru memengaruhi perkembangannya.

Kita juga perlu melihat bagaimana perkembangan industri psikiatri dalam menciptakan dignosa yang menguntungkan kelas kapitalis. Di sini kita akan memahami lebih lanjut bagaimana dorongan manusia menjadi produktif dan dianggap tidak produktif dalam masyarakat kapitalis. Dalam artikel berjudul Pychiatric Hegemony: A Marxist Theory of Mentall Illness yang ditulis oleh Susan Rosenthal dengan membahas ulang buku yang ditulis oleh Bruce Cohen. Bruce Cohen dalam “Psychiatric Hegemony: A Marxist Theory of Mental Illness” dapat disimpulkan bahwa psikiatri modern telah bertransformasi menjadi alat hegemoni sistem kapitalis melalui tiga mekanisme utama. Pertama, terjadi pergeseran wacana dari masalah struktural ke patologi individu, di mana ketimpangan sosial dan alienasi di tempat kerja yang dihasilkan kapitalisme dibingkai ulang sebagai “gangguan mental” individual melalui ekspansi diagnostik dalam DSM. Kedua, kolaborasi sistemik antara psikiatri dengan industri farmasi menciptakan siklus legitimasi-medikalisasi-profit, di mana obat-obatan psikotropika menjadi solusi teknis atas penderitaan yang bersumber dari masalah sosial. Ketiga, psikiatri mengukuhkan kontrol sosial melalui patologisasi perilaku non-produktif, dengan menciptakan kategori diagnostik baru seperti Gangguan Kecemasan Sosial untuk menertibkan pekerja yang dianggap tidak memenuhi tuntutan “kerja emosional” dalam ekonomi neoliberal.

Secara holistik, Cohen memetakan bagaimana kapitalisme neoliberal dan psikiatri membentuk hubungan simbiosis yang saling menguatkan. Melalui analisis genealogis DSM dari era 1952 hingga 2013, ia menunjukkan bagaimana perluasan yurisdiksi psikiatri ke ranah pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari berjalan paralel dengan kebutuhan kapital akan tenaga kerja yang fleksibel, terkontrol, dan mampu beradaptasi. Dalam ekosistem ini, psiko-profesional berfungsi sebagai “mesin normalisasi” yang meredam potensi resistensi dengan mengalihkan kritik struktural menjadi masalah terapi individual. Fenomena pekerja yang mendiagnosis diri sendiri sebagai “tidak cukup bersosialisasi” alih-alih mempertanyakan budaya kerja yang eksploitatif menjadi bukti keberhasilan hegemoni ini. Dengan demikian, psikiatri tidak sekadar merespons penderitaan, tetapi aktif memproduksi wacana sakit-sehat yang melestarikan ketidaksetaraan sistemik, sementara industri kesehatan mental tumbuh subur sebagai penjaga status quo.

Dalam salah satu babnya juga Cohen membahas bagaiaman psikiatri terus mereproduksi penindasan.  Pada fase industrialisasi, ketika perempuan beralih dari ekonomi pedesaan ke perkotaan, psikiatri mengambil peran ganda: pertama sebagai penjaga bagi perempuan kelas pekerja yang dianggap menyimpang, dan kedua sebagai penjaga moral yang mendefinisikan dan memaksakan “feminitas yang terhormat”—sebuah konstruksi yang membatasi perempuan pada peran domestik sebagai istri dan ibu. Pergeseran ini menandai transisi di mana otoritas moral yang sebelumnya dipegang oleh agama, kini diambil alih oleh wacana “ilmiah” psikiatri. Dengan menggunakan teori medis palsu tentang kerentanan mental perempuan, psikiatri memberikan legitimasi untuk mendiskriminasi mereka di ruang publik dan membatasi mereka di ruang privat. Perlawanan perempuan terhadap penindasan ini justru dijawab dengan kekerasan psikiatris, seperti rawat inap paksa dan prosedur medis yang merusak, yang disamarkan sebagai “pengobatan.”

Evolusi kontrol ini tercermin dalam analisis tekstual Cohen terhadap Manual Diagnostik dan Statistik (DSM). Dari DSM-I hingga DSM-5, terjadi peningkatan eksponensial—dari hanya 4 menjadi 24 kategori—dalam gangguan yang dikaitkan dengan feminitas, bersamaan dengan melonjaknya frasa terkait gender dari 105 menjadi 3.096 seiring menguatnya neoliberalisme. Lonjakan ini, terutama sejak DSM-III, bukanlah bukti kemajuan ilmiah, melainkan indikasi meningkatnya kebutuhan kapitalis akan alat kontrol ideologis yang lebih halus. Dalam masyarakat kontemporer di mana lebih banyak perempuan berpartisipasi di angkatan kerja—sebuah realitas yang menantang tatanan patriarkal tradisional—psikiatri bereaksi dengan memperluas yurisdiksinya untuk mengatur dan “memathologikan” pengalaman perempuan. Dengan demikian, hegemoni psikiatris berfungsi untuk mendepolitisasi penindasan sistemik yang dialami perempuan dengan mengubah ketegangan sosial, ekonomi, dan patriarkal yang nyata menjadi sekadar masalah kesehatan mental individual, sehingga melindungi struktur kapitalis-patriarkal dari kritik dan perlawanan yang mendasar.

Akan tetapi, dalam artikel tersebut juga memberikan analisis kritis terhadap pandangan Bruce Cohen dalam “Psychiatric Hegemony”, dapat dirangkum bahwa meskipun Cohen secara tepat mengidentifikasi psikiatri sebagai alat kontrol kapitalis, ia gagal memberikan strategi perubahan yang efektif karena tiga kelemahan mendasar. Pertama, pengingkaran terhadap agensi kelas pekerja – Cohen mengabaikan potensi revolusioner pekerja kesehatan mental yang justru memiliki posisi strategis untuk mengubah sistem dari dalam, sementara secara paradoks mengakui adanya hierarki kelas dalam institusi medis. Kedua, pandangan moralistik yang reduktif – dengan mengutuk semua profesional kesehatan mental sebagai musuh, Cohen jatuh pada simplifikasi yang kontraproduktif dan mengabaikan realitas kompleks tentang adanya praktisi kritis yang berjuang untuk reformasi. Ketiga, ketiadaan jalan perubahan yang feasible – tuntutan penghapusan psikiatri tanpa melibatkan aktor utama (kelas pekerja) dan tanpa strategi politik yang jelas hanya menjadi seruan moral yang tidak operasional.

Koreksi fundamental terhadap kerangka pandangan Cohen ditegaskan dalam artikel tersebut bahwa pertarungan melawan hegemoni psikiatri harus dipahami sebagai bagian dari perjuangan kelas yang lebih luas. Alih-alih mendiskreditkan semua pekerja di bangsal-bangsal rumah sakit jiwa, perlu diakui bahwa banyak dari mereka yang justru menjadi korban sistem yang sama dan memiliki kepentingan material untuk melawan logika kapitalis dalam praktik kesehatan mental. Kontradiksi internal yang dialami oleh pekerja – antara ideal membantu sesama dan kenyataan menjadi alat kontrol – justru membuka kemungkinan untuk kesadaran kritis dan perlawanan kolektif. Perlawanan efektif terhadap psikiatri kapitalis tidak bisa mengandalkan aliansi aktivis tanpa dukungan massa pekerja terorganisir, sebab hanya kekuatan kelas pekerjalah yang memiliki kapasitas untuk mentransformasikan sistem ekonomi-politik yang melahirkan dan mereproduksi hegemoni psikiatris. Dengan demikian, proyek penghapusan psikiatri opresif harus terintegrasi dengan perjuangan untuk menciptakan tatanan sosial yang bebas dari eksploitasi kapitalis.

Psikologi dan psikiatri yang masih terperangkap dalam kerangka subjektivisme individu. Kritik ini dapat diamati secara nyata dalam banyak artikel populer tentang depresi, yang di satu sisi menunjukkan kebingungan dalam mengidentifikasi penyebab, namun di sisi lain selalu berujung pada seruan untuk solusi individual—seolah-olah beban penyembuhan sepenuhnya berada di pundak individu yang menderita. Logika sesat ini ditolak dengan tegas. Argumen sentralnya adalah bahwa kondisi mental seseorang tidak dapat dipisahkan dari kondisi material dan relasi sosialnya. Dalam masyarakat kapitalis, manusia mengalami alienasi yang mendalam; di tempat kerja mereka terasing dari esensi kemanusiaannya, sementara di luar kerja, hubungan dengan sesama direduksi menjadi transaksi komoditas dan uang. Krisis sistemik kapitalisme lebih lanjut menciptakan masyarakat yang muram, tanpa harapan, dan tanpa masa depan yang jelas. Oleh karena itu, intervensi terapeutik yang hanya berfokus pada individu—seperti terapi atau medikasi—pada dasarnya hanya merupakan perawatan permukaan yang bersifat paliatif, karena gagal menyentuh sumber patologi sosial yang sebenarnya. lingkungan kapitalis yang alienatif akan secara alami melahirkan pribadi-pribadi yang tersiksa secara mental. Di bawah sistem ekonomi yang didominasi oleh logika kapitalis, klise bahwa “uang tidak dapat membeli kebahagiaan” justru mengaburkan realitas yang pahit. Meskipun uang memang bukan jaminan mutlak kebahagiaan, uang menjadi satu-satunya alat untuk mengakses prasyarat dasar yang dapat meredam kecemasan dan depresi. Ketenangan jiwa sesungguhnya bersumber pada terpenuhinya kebutuhan fundamental secara kolektif: jaminan keamanan eksistensial, tempat tinggal yang layak, akses kesehatan dan pendidikan, serta infrastruktur publik yang memadai. Sayangnya, kapitalisme secara struktural tidak dirancang untuk menyediakan landasan material ini bagi mayoritas kelas pekerja. Akibatnya, kebahagiaan menjadi hak eksklusif segelintir elite  yang mampu membeli semua penopang kehidupan yang manusiawi—mulai dari kesehatan, nutrisi, waktu luang, ruang untuk berkreativitas, hingga kehangatan keluarga dan kedamaian dalam berinteraksi dengan alam. Ironisnya, dunia saat ini sebenarnya memiliki lebih dari cukup kekayaan untuk menjamin kehidupan yang bermartabat bagi seluruh umat manusia. Namun, konsentrasi sumber daya ekonomi yang timpang di tangan segelintir kapitalis menciptakan paradoks di mana para pekerja yang menciptakan kekayaan tersebut justru paling sulit menikmati hasilnya.

Lantas dapatkah kita menegasikan kondisi permasalahan mental yang dihadapi oleh masyarakat? Bukankah dengan menegasikan permasalahan kesehatan mental sebagai suatu kondisi sekaligus fenomena yang masif terjadi di masyarakat kita gagal memahami marxisme itu sendiri? Apakah kita meninggalkan kawan-kawan di garis perjuangan yang berakhir bunuh diri atau sedang depresi dan menyalahkan kepada mereka karena kondisi kesehatan mentalnya tanpa melihat bagaimana kondisi objektif dari tempat hidupnya itu sendiri? bagaimanapun permasalahan mental harus diamati sebagaimana penyakit lain yang dapat ada. Kita harus mampu membedakan industri psikiatri yang menyokong logika kapitalisme dan mereka yang mengalami permasalahan kesehatan mental. Kita juga perlu memahami lebih luas bagaimana trauma, depresi, atau bahkan gangguan tidur dapat terjadi tanpa menegasikan pengalaman individu yang kompleks dalam hubungannya dengan sosialnya.

Tentu, kita mengharapkan kondisi hidup yang layak—yang dapat “memberikan kebahagiaan” bagi seluruh individunya. Tentu kita sedang tidak terjebak pada pengglorifikasian permasalahan mental itu sendiri, tapi kita perlu memahami masalah yang muncul dalam sistem kapitalisme yang salah satunya permasalahan kesehatan mental itu sendiri. Ambil contoh paling sederhana, anak yang mengalami kekerasan di dalam rumah dan tidak bisa melaporkan kemanapun karena model keluarga inti yang mengikat dan menindas. Ketakutan mereka bahkan untuk melaporkan atau sekadar menyembuhkan diri ke jalur psikolog dengan kerumitan administrasi dll. Manifestasi tersebut memunculkan trauma yang lebih lanjut dalam proses pertumbuhannya, misalnya akan cenderung pendiam, tidak mudah bersosialisa atau justru sebaliknya beberapa lainnya mungkin dapat membebaskan diri dari keluarga tersebut. Akan tetapi, apakah kita menegasikan ada sample lain yang tidak berhasil keluar rumah dan berakhir terkungkung di dalam keluarga yang abbusive? Atau bagaimana kasus ODGJ di jalan, yang diusir dari rumahnya dan berakhir menjadi gelandangan?

Tentu “penyembuhan” terhadap kondisi demikian harus dibersamai dengan kebutuhan untuk merubah sistem yang menindas. Akan tetapi, tidak dengan mendeskriditkan mereka yang permasalahan mental illness. Bagaimana mungkin logika permasalahan mental ini bisa dilinearkan dengan  tendensi borjuis kecil? Mental illness dan borjuis kecil merupakan dua konsep yang sama-sama berakar pada kondisi masyarakat kapitalis, namun memiliki karakteristik dan implikasi dengan kerangka fundamental yang berbeda. Mental illness dipahami sebagai konsekuensi patologis dari struktur masyarakat yang alienatif dan menindas – sebuah respons manusiawi terhadap kondisi tidak manusiawi yang diciptakan kapitalisme. Ketika manusia teralienasi dari hasil kerjanya, dari proses produksi, dari sesama manusia, dan dari dirinya sendiri, maka muncullah berbagai bentuk penderitaan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya. Dalam kerangka ini, mental illness sesungguhnya merupakan bentuk protes bawah sadar terhadap sistem yang menindas, meskipun kemudian dimanfaatkan oleh industri kesehatan mental untuk dikomersialkan dan diindividualisasi. Sementara itu, borjuis kecil bukanlah patologi melainkan sebuah posisi kelas spesifik dalam struktur kapitalis – mereka yang berada di antara proletariat dan borjuasi besar, seperti pedagang kecil, pengusaha mikro, ataupun pengusaha kecil perorang. Mentalitas borjuis kecil justru berfungsi sebagai penopang ideologis sistem kapitalis melalui karakteristiknya yang individualistik, meritokratis, dan konservatif. Mereka menjadi penyangga sosial yang mengukuhkan mitos mobilitas sosial dan meritokrasi, sekaligus menjadi penghambat kesadaran kelas dengan mempromosikan narasi kesuksesan individu. Dengan demikian, jika mental illness merepresentasikan kegagalan sistem dalam memanusiakan manusia, maka borjuis kecil justru menjadi alat reproduksi sistem tersebut – yang satu adalah korban dari sistem, sementara yang lain meskipun sering menjadi korban pula, justru berperan sebagai individu yang melestarikan sistem penindasan tersebut tanpa disadari.

Kita perlu memahami bahwa kondisi permasalahan mental bukanlah semata-mata patologi individu yang terisolasi, melainkan produk langsung dari struktur sosial-ekonomi kapitalis yang sakit secara fundamental. Marxisme memandang kesadaran manusia (base) dibentuk oleh kondisi materialnya (superstructure), sehingga kesehatan mental mustahil dipisahkan dari relasi produksi yang mendominasi kehidupan. Dalam masyarakat kapitalis, di mana logika akumulasi profit dan alienasi menjadi intinya, manusia dipisahkan dari hakikatnya sebagai makhluk produktif yang otonom. Alienasi ini terjadi dalam empat dimensi: alienasi dari produk kerjanya (yang kini menjadi komoditas asing), dari proses kerja (yang monoton dan tak bermakna), dari diri sendiri (karena kerja bukan lagi ekspresi diri melainkan pemaksaan untuk bertahan hidup), dan dari sesama manusia (yang menjadi pesaing dalam kompetisi pasar). Kondisi ini melahirkan kecemasan, depresi, dan keterasingan eksistensial yang massal, yang oleh sistem kemudian diprivatisasi dan dimedikalisasi menjadi sekadar “gangguan personal” yang memerlukan intervensi klinis.

Kita perlu melihat dan kembali menganalisa lebih lanjut kondisi permasalahan mental yang terjadi begitu masif belakangan ini. Kita tidak bisa menganalisa dengan hitam putih, hubungan sosial antar manusia begitu kompleks di bawah kapitalisme. Kita tidak bisa terburu-buru dalam memberikan “diagnosa” dan menegasikan kondisi permasalahan mental sebagai suatu ilusi atau bahkan karena analisa bagaimana industri psikiatri memperkuat logic kapitalisme kemudian kita menganggap bahwa hal tersebut tidak harus menjadi perhatian. Tentu kita perlu pahami, bahwa kapitalisme menciptakan segudang permasalahan manusia. Tulisan ini, bukan berakhir pada kesimpulan sebagai dorongan untuk mengecek permasalahan mental yang kita alami ke tenaga profesional. Tapi, kita perlu memahami—kita tentu tidak ingin melihat kawan-kawan sudah terlanjur bunuh diri lantas kemudian kita memberikan kepedulian antar sesama kawan. Juga penting, sebagai seorang yang sudah dibanjiri ide-ide marxis untuk kembali mengecek bagaimana suatu ilmu berkembang dan bagaimana kondisi objektif masyarakatnya. Sebagai seorang yang belajar dan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya pelajari, sudah seharusnya juga saya terus mencari suatu kebenaran yang membentuk kita sebagai individu di dalam masyarakat dan memahami bagaimana masyarakat itu berkembang.

ditulis oleh Sagra, anggota Lingkar Studi Sosialis

Comment here