Pada 15 Juni 2026, diskusi yang dihadiri Budiman Sudjatmiko di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada digeruduk mahasiswa yang naik ke panggung dan membentangkan spanduk penolakan. Delapan hari kemudian, mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Mulawarman menginterupsi kuliah umum Wakil Menteri HAM Mugiyanto di Samarinda dengan spanduk bertuliskan “Usir Mugiyanto, Pengkhianat Reformasi.” Dua orang ini bukan tokoh sembarangan. Keduanya kader Partai Rakyat Demokratik yang pernah dihantam langsung oleh Rezim Militer Orde Baru. Budiman dipenjara dengan tuduhan subversi. Mugiyanto diculik dan disekap. Mereka bagian dari generasi yang oleh Pramoedya Ananta Toer disebut satu-satunya di dunia yang berhasil menjatuhkan rezim militer tanpa senjata. Kini mereka disambut kemarahan mahasiswa karena keduanya sudah lama bergabung dengan tatanan yang dahulu mereka lawan.
Kemarahan itu sah, dan mahasiswa yang menggeruduk keduanya sudah benar. Tapi kemarahan saja tidak menjelaskan apa pun. Yang menentukan masa depan gerakan bukanlah seberapa keras kita mengutuk para pembelot, melainkan seberapa tepat kita memahami mengapa pengkhianatan itu bisa terjadi. Sebab dari pemahaman yang keliru akan lahir jalan yang keliru.
Di sinilah tulisan Moses Kabelen yang terbit di revolusioner.org, corong Perhimpunan Sosialis Revolusioner, bermasalah. Judulnya seakan membela Lenin. Isinya membalik Lenin. Tulisan itu memakai kasus Budiman dan Mugiyanto sebagai pintu masuk, lalu membelokkan bidikannya bukan ke orang-orang yang berkhianat, melainkan ke strategi revolusi demokratik itu sendiri.
Inilah yang harus dijawab. Bukan demi membela PRD, sebab PRD punya kelemahan nyata yang akan kita bedah tanpa berkelit, melainkan demi membela perspektif Lenin yang hendak dibuang Moses dengan mengatasnamakan Lenin.
Apa yang Benar, dan di Mana Moses Mulai Tergelincir
Kita harus jujur tentang apa yang benar dari tulisan itu, sebab tanpa kejujuran ini polemik hanya akan menjadi tangkisan buta.
Moses benar bahwa pengkhianatan eks-kader PRD bukan sekadar soal lemahnya watak perorangan. Budiman, Mugiyanto, Dita Indah Sari, Faisol Riza, Nezar Patria pernah menunjukkan keberanian luar biasa ketika muda. Keberanian itu nyata, dan justru karena nyata, kemerosotan mereka tidak bisa dijelaskan semata dengan tuduhan lemah iman. Ada yang lebih dalam bekerja, dan menjelaskannya secara struktural memang benar. Moses juga benar bahwa gerakan membutuhkan pendidikan Marxis yang serius dan partai yang dibangun secara revolusioner. Ini bukan barang baru, tapi tetap benar dan tetap mendesak.
Persoalannya dimulai ketika Moses melompat dari satu kebenaran ke satu kesimpulan yang sama sekali tidak mengikuti. Ia melihat rentetan ketua PRD menyeberang ke partai borjuis, lalu menyimpulkan bahwa strategi revolusi demokratiklah biang keladinya. Lompatan ini keliru, dan untuk melihat betapa kelirunya, kita tidak perlu jauh-jauh. Plekhanov, bapak Marxisme Rusia, guru teori bagi seluruh satu generasi Marxis Rusia termasuk Lenin sendiri, di ujung hidupnya berbalik ke kanan, mendukung perang imperialis, dan menentang Revolusi Oktober. Apakah dari situ kita simpulkan bahwa Marxisme Rusia busuk sejak fondasinya? Tentu tidak. Penyeberangan seorang pemimpin, bahkan pemimpin sebesar Plekhanov, menuntut penjelasan, tetapi penjelasan itu tidak pernah otomatis berupa “berarti teorinya yang salah.” Justru menyamakan kemerosotan orang dengan kebusukan teori adalah cara berpikir yang malas, yang menggantikan analisis dengan vonis.
Strategi Dua Tahap Itu Milik Lenin, dan Trotsky Muda Menentangnya
Inti tulisan Moses sederhana: PRD tidak pernah punya perspektif revolusi sosialis yang matang. Sejak awal ada kecenderungan yang melihat tugas revolusi Indonesia hanya sebatas revolusi demokratik nasional. Dan seruan menuntaskan revolusi demokratik, kata Moses, hanyalah selubung oportunisme. Ia menutup dengan kalimat yang tidak bisa disalahpahami: semua celoteh soal menuntaskan revolusi demokratik, menyelesaikan reformasi, dan bangsa yang belum selesai adalah perspektif yang membawa pada kekalahan dan pengkhianatan.
Penting untuk menyebut asal-usul argumen ini secara terang, bukan untuk menyerang pribadi, melainkan untuk memperjelas apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan. PSR adalah seksi Indonesia dari International Marxist Tendency, arus internasional yang mengibarkan diri sebagai pewaris Internasionale IV dan tradisi Trotsky. Posisi yang dikemukakan Moses, bahwa demokrasi sejati hanya bisa dicapai lewat kemenangan revolusi sosialis dan bahwa tahap demokratik tersendiri hanyalah jebakan, adalah jantung dari teori revolusi permanen Trotsky dalam rumusannya yang menampik adanya tahap demokratik. Inilah ironinya. Moses mengangkat nama Lenin untuk menyerang strategi dua tahap. Padahal strategi dua tahap itu justru milik Lenin. Trotsky mudalah yang menentangnya. Moses sedang memakai Lenin untuk membunuh gagasan Lenin sendiri.
Mari kembali ke sumber, sebab di sinilah seluruh perkara ditentukan. Dalam Dua Taktik Sosial-Demokrasi dalam Revolusi Demokratik yang ditulis pada 1905, Lenin mempertahankan perlunya tahap demokratik bukan sebagai konsesi kepada borjuasi, melainkan sebagai kebutuhan material dari kondisi yang dihadapi. Tugas-tugas demokratik yang belum tuntas, sisa-sisa feodal, kaum tani yang tertindas, semua itu nyata dan tidak bisa dilompati hanya karena kita menginginkan sosialisme. Tetapi, dan inilah yang memisahkan Lenin dari kaum Menshevik, Lenin tidak pernah menyerahkan kepemimpinan tahap demokratik kepada borjuasi. Sebaliknya, ia bersikeras bahwa kelas buruh harus memimpin revolusi demokratik bersama kaum tani, melawan borjuasi liberal yang setengah hati dan yang pengkhianatannya, dalam penilaian Lenin sendiri, sudah bisa dibaca dari kepentingan kelasnya.
Lalu apa arti “tak terinterupsi” yang begitu sering dilupakan? Lenin menegaskan bahwa dari revolusi demokratik, sesuai dengan kekuatan proletariat yang sadar dan terorganisir, gerakan akan segera mulai beralih ke revolusi sosialis. Kita berdiri untuk revolusi tak terinterupsi, tulisnya, kita tidak akan berhenti di tengah jalan. Tak terinterupsi tidak berarti ada jeda lalu disambung. Ia berarti kepemimpinan kelas buruh tidak diserahkan, kemandirian organisasinya tidak dilepas, dan momentum perjuangan tidak dijinakkan oleh borjuasi yang sudah puas mencapai tujuannya sendiri. Kelas buruh memimpin tahap demokratik justru agar bisa melangkah ke tahap sosialis dengan posisi yang lebih kuat.
Dan yang paling menentukan, Lenin menegaskan ulang kerangka ini setelah Oktober 1917, ketika ia menilai apa yang benar-benar terjadi, bukan ketika ia masih berteori dalam pengasingan. Dalam Revolusi Proletar dan Kautsky Si Pembelot yang ditulis pada 1918, Lenin menyatakan bahwa perjalanan revolusi telah membenarkan analisis Bolshevik. Pertama, bersama seluruh kaum tani melawan monarki dan tuan tanah, dan sejauh itu revolusi tetap bersifat borjuis-demokratik. Kemudian, bersama kaum tani miskin dan semi-proletar melawan kapitalisme, dan sejauh itu revolusi menjadi sosialis. Lenin memperingatkan bahwa berusaha mendirikan tembok buatan di antara kedua tahap ini, memisahkannya dengan apa pun selain tingkat kesiapan proletariat dan tingkat kesatuannya dengan kaum tani miskin, berarti mendistorsi Marxisme secara dahsyat dan menggantikannya dengan liberalisme. Setahun kemudian, dalam laporan ke Kongres Kedelapan partainya pada 1919, Lenin menyatakan bahwa Revolusi Oktober dalam banyak hal masih bersifat borjuis sampai Komite Kaum Tani Miskin terbentuk pada musim panas 1918, dan baru setelah itulah revolusi menjadi proletar dalam kenyataan, bukan sekadar dalam proklamasi, janji, dan deklarasi.
Inilah Lenin sesudah berkuasa, menegaskan dua tahap yang tak terinterupsi sebagai gambaran sebenarnya dari revolusi yang ia pimpin. Maka ketika Moses menyebut strategi dua tahap sebagai sumber oportunisme yang inheren, ia sedang menyebut Lenin sebagai sumber oportunisme. Silakan berdebat dengan Lenin, tetapi punya nyali untuk melakukannya dengan terang, bukan bersembunyi di balik nama Lenin sambil menikamnya dari belakang.
Syarat-Syarat Lenin, dan Ujian atas 1998
Tuduhan Moses harus diuji dengan standar yang tepat, yaitu syarat-syarat yang Lenin sendiri tetapkan. Lenin tidak pernah membiarkan peralihan antar tahap menjadi soal selera atau waktu. Ia merumuskannya secara tegas, dan rumusan itulah yang akan kita pakai untuk menguji 1998.
Untuk menuntaskan tahap demokratik, Lenin menetapkan beberapa syarat. Pertama, kepemimpinan harus berada di tangan proletariat, bukan borjuasi. Dan yang dimaksud Lenin bukan sekadar proletariat “berada di garis depan” dalam perjuangan demokratik borjuis biasa. Yang dimaksud adalah kediktatoran demokratik revolusioner buruh dan tani sebagai bentuk kekuasaan yang berbeda secara kualitatif dari republik demokratik borjuis. Ini adalah kekuasaan revolusioner yang menghancurkan mesin-mesin kekuasaan lama secara tuntas, bukan sekadar mengganti wajah di pucuk pimpinannya. Proletariat menuntaskan revolusi demokratik dengan mengikat pada dirinya massa kaum tani untuk menghancurkan perlawanan kekuasaan lama dan melumpuhkan kebimbangan borjuasi.
Kedua, aliansi pada tahap ini adalah proletariat dengan seluruh kaum tani, sebab hanya proletariat yang bisa diandalkan berjuang sampai akhir karena ia melangkah jauh melampaui sekadar revolusi demokratik. Ketiga, proletariat harus berdiri dalam partai kelasnya sendiri yang tegas, justru karena kaum tani mengandung unsur semi-proletar dan borjuis kecil yang membuatnya goyah. Keempat, dan ini yang paling sering dilanggar, Lenin mengecam keras logika menahan tuntutan demokratik demi menjaga agar borjuasi tidak mundur dari revolusi. Baginya, sikap takut membuat borjuasi mundur sama saja dengan menyerahkan kepemimpinan revolusi kepada borjuasi dan menempatkan proletariat di bawah perwaliannya. Sebaliknya, Lenin menegaskan bahwa revolusi justru mencapai keluasan terbesarnya ketika borjuasi mundur darinya dan massa kaum tani tampil sebagai kaum revolusioner aktif di samping proletariat.
Untuk beralih ke tahap sosialis, syaratnya lebih dalam lagi. Ukurannya bukan waktu, melainkan kekuatan kelas. Peralihan terjadi, kata Lenin, sesuai dengan ukuran kekuatan proletariat yang sadar-kelas dan terorganisir. Aliansinya pun berubah, dari proletariat bersama seluruh kaum tani pada tahap demokratik, menjadi proletariat bersama unsur-unsur semi-proletar untuk menghancurkan perlawanan borjuasi pada tahap sosialis. Inilah yang ditandai Lenin dengan pembentukan Komite Kaum Tani Miskin pada 1918. Dan di atas semua itu, Lenin menegaskan satu prasyarat mutlak, bahwa emansipasi kelas buruh harus dimenangkan oleh kelas buruh sendiri, dan revolusi sosialis mustahil kecuali massa menjadi sadar-kelas, terorganisir, dan terdidik dalam perjuangan kelas yang terbuka. Ia bahkan menambahkan peringatan tentang betapa sedikitnya massa buruh, pada saat itu, yang mengetahui tujuan sosialisme dan cara mencapainya.
Sekarang ujikan syarat-syarat ini pada Reformasi 1998, dan tuduhan Moses runtuh dengan sendirinya. Diukur dengan syarat penuntasan tahap demokratik, 1998 jelas belum tuntas, sebab syarat pertamanya tidak terpenuhi: yang memimpin bukan kelas buruh yang sadar dengan partai kelasnya sendiri, melainkan gerakan spontan yang kepemimpinannya akhirnya dipetik oleh elit borjuis-reformis. Borjuasi mundur tepat seperti yang diramalkan Lenin, begitu kepentingan sempitnya menyingkirkan Soeharto terpenuhi, dan sisa-sisa kekuatan lama tidak dihancurkan. Diukur dengan syarat peralihan ke tahap sosialis, jaraknya bahkan lebih jauh lagi, sebab massa yang bergerak pada 1998, terutama kaum semi-proletar dan miskin kota, dalam catatan Max Lane sendiri belum membayangkan merebut kekuasaan, mendirikan kekuasaannya sendiri, dan mempertahankannya dari kontra-revolusi. Persis kondisi yang Lenin sebut sebagai massa yang belum mengetahui tujuan sosialisme.
Maka seruan ‘tuntaskan revolusi demokratik’ bukan oportunisme. Itu pembacaan yang tepat atas syarat objektif yang Lenin tetapkan sendiri. Dan di sini terkunci satu hal yang akan terus kita pegang. Belum tuntasnya tahap demokratik bukan alasan untuk menunda sosialisme ke masa depan yang jauh, sebab syarat yang sama yang menuntaskan tahap demokratik, yakni kelas buruh yang memimpin secara mandiri dan terorganisir, adalah syarat yang sama pula yang membuka peralihan tak terinterupsi ke sosialisme. Membangun kekuatan itu adalah satu kerja yang sama, bukan dua kerja yang dipisahkan oleh tembok.
PRD: Tidak Perlu Dimuliakan, Tidak Boleh Dipalsukan
Lalu benarkah, seperti kata Moses, PRD tidak pernah punya perspektif revolusi sosialis yang matang sejak awal? Klaim ini tidak tahan diuji dokumen.
Manifesto PRD 22 Juli 1996 menempatkan buruh sebagai pondasi yang paling mungkin diorganisir dalam perjuangan demokratik, menyebut tujuan ekonomi berupa pemilikan sosial atas perusahaan-perusahaan yang vital, dan menetapkan tugas utama mahasiswa sebagai pemasok kesadaran dan pembangkit tindakan politik ke kalangan buruh. Menempatkan buruh sebagai kelas pemimpin dan mahasiswa sebagai pemasok kesadaran, bukan sebaliknya, adalah posisi yang secara sadar mengikuti Lenin. Max Lane, yang mengenal PRD sejak awal dan menulis disertasi doktoral tentang gerakan massa Indonesia, mengkonfirmasi bahwa Dua Taktik Lenin adalah salah satu bacaan paling sentral dalam pendidikan kader PRD. Koran Pembebasan menegaskan hal yang sama berulang kali. Dalam kolom teori Agustus 2000 berjudul “Demokrat Borjuis: Mereka Selalu Berkhianat,” PRD menyatakan bahwa kekuatan rakyat harus tetap independen dari borjuasi, harus berada dalam organisasinya sendiri dengan program dan strategi taktiknya sendiri, dan bahwa meleburkan diri dalam cengkeraman borjuasi adalah kesalahan. Ini bukan partai yang menyerahkan kepemimpinan kepada borjuasi. Ini partai yang, di atas kertas dan dalam pendidikannya, memahami prinsip tak terinterupsi dengan sadar.
Maka pada poin faktual ini Moses keliru, dan kekeliruannya bukan soal kecil, sebab seluruh bangunan argumennya bertumpu pada klaim bahwa PRD tidak pernah Leninis sejak akar.
Namun di sini kita harus berhenti dan menolak godaan untuk berbalik memuliakan PRD demi memenangkan polemik. PRD bukan partai Bolshevik yang turun dari langit. Ia adalah produk dari perkembangan kondisi objektif dan gerakan pada masanya. Lingkar-lingkar studi sejak awal 1980-an, perdebatan panjang antara yang mengutamakan teori dan yang mengutamakan aksi, perkenalan dengan pengalaman gerakan revolusioner di negeri tetangga, hubungan dengan kaum sosialis di Australia, dan pembacaan atas Lenin, semuanya bertemu dan mengkristal menjadi PRD. Dari pertemuan itu PRD memegang beberapa hal sebagai penanda utamanya: keharusan membangun partai, strategi politik mobilisasi massa sebagai titik sentral, dan revolusi dua tahap tak terinterupsi. Bahwa penanda-penanda ini berasal dari sumber yang berbeda-beda bukanlah cacat lahir yang perlu kita hakimi, melainkan kenyataan historis yang justru menjelaskan apa yang kemudian terjadi.
Mengapa Pengkhianatan Itu Terjadi
Kalau bukan strategi dua tahap, apa yang menjelaskan degenerasi PRD? Jawabannya tidak tunggal. Dan harus diurai dengan jujur.
Yang pertama dan paling menentukan adalah perubahan total kondisi objektif. PRD dibentuk oleh satu situasi yang sangat khas, yakni represi Rezim Militer Orde Baru yang memaksa kerja bawah tanah, dengan satu musuh yang terang dan satu tugas yang memusatkan segalanya, menjatuhkan Soeharto. Seluruh watak organisasi terbentuk untuk kondisi ini. Lalu kondisi itu lenyap nyaris dalam semalam. Soeharto jatuh, ruang demokrasi terbuka lebar, dan medan politik yang tiba-tiba rumit menggantikan medan lama yang hitam-putih. Sebuah organisasi yang seluruh nalurinya ditempa untuk perlawanan bawah tanah dipaksa membanting setir ke medan yang sama sekali asing.
Yang kedua, yang memperberat keadaan, adalah bahwa kader PRD sangat muda dengan pengalaman politik yang sangat pendek. Hampir seluruhnya berusia dua puluhan, dan separuh dari mereka yang ada pada 1998 baru bergabung setelah 1996, yang berarti pengalaman politik mereka cuma sekitar dua tahun ketika ujian terbesar datang. Perbekalan untuk membaca dan menjawab perubahan sebesar itu memang tipis. Di sinilah soal kedalaman ideologis masuk, bukan sebagai tuduhan bahwa PRD lalai, melainkan sebagai keterbatasan yang sendirinya ditentukan oleh kondisi objektif. Membangun kedalaman dan keluasan ideologis di lapisan kader yang cukup luas menuntut waktu panjang, dan waktu itulah yang justru tidak diberikan sejarah kepada PRD. Mobilisasi massa PRD luar biasa, dan mengintervensi radikalisasi 1997-1998 secara maksimal adalah tindakan yang tepat, persis seperti yang dilakukan Bolshevik pada 1905 dan 1917. Yang kurang bukanlah kerja mobilisasinya, melainkan waktu untuk menanamkan kesadaran yang dalam pada gelombang baru yang masuk begitu cepat.
Yang ketiga, dan ini sering disalahpahami, adalah soal kronologi yang sebenarnya. Mayoritas kader yang kemudian kita kenal menyeberang ke kubu kekuasaan justru sudah meninggalkan PRD jauh sebelum berkarir di sana. Nezar Patria tak lagi aktif sejak diculik pada 1998 lalu menempuh jalan jurnalistik. Budiman menghilang dari kolektif kepemimpinannya pada masa penggulingan Gus Dur, lalu kuliah ke Inggris, dan baru kemudian masuk PDI-P. Mugiyanto dan Faisol Riza aktif hingga sekitar 2001 sebelum menempuh jalan masing-masing lewat LSM dan partai. Artinya mereka tidak berkhianat saat memimpin perjuangan demokratik di dalam partai. Mereka keluar lebih dulu, dan lingkungan sosial yang baru, entah LSM, jurnalisme, atau partai elit, membentuk kesadaran sosial yang baru pula. Lingkungan menentukan kesadaran. Begitu seseorang tercerabut dari derap gerakan rakyat dan tenggelam dalam pergaulan elit, cara berpikirnya perlahan menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
Yang keempat adalah satu-satunya jalur di mana pengkhianatan itu sungguh-sungguh menjangkiti PRD sebagai lembaga, dan ini perlu disebut tegas justru karena merupakan pengecualian. Agus Jabo Priyono, salah satu kader paling lama, tidak keluar. Ia bertahan, naik menjadi ketua umum, dan dari dalam membawa PRD berbelok ke kanan, dipuncaki perubahan asas dari Sosial-Demokrasi Kerakyatan menjadi Pancasila pada Kongres 2010, lalu bermuara pada PRIMA. Distorsi yang dikenal sebagai penyimpangan “strategi atas,” dari semula agitasi-propaganda yang menopang mobilisasi bawah menjadi logika aliansi dengan kelas berkuasa, mengkristal di jalur ini, lewat kegagalan proyek Papernas yang disubordinasikan ke partai borjuis pada 2009.
Gambaran sebenarnya jauh dari tuduhan Moses. Bukan strategi dua tahap yang menyeret PRD ke kanan. Apa yang terjadi adalah perubahan objektif yang memutus seluruh pijakan lama, menimpa organisasi berkader sangat muda yang belum sempat matang, sehingga sebagian tercerabut keluar dan dibentuk ulang oleh lingkungan elit, sementara satu jalur kepemimpinan yang bertahan justru membelokkan asas partai. Dan yang perlu ditegaskan, sebab Moses menggeneralisasi seakan seluruh PRD membusuk, sebagian besar aktivis PRD tidak berbelok ke kanan. Dari tradisi PRD itu pula lahir orang-orang yang justru meneruskan kerja membangun partai revolusioner sampai hari ini. Membuang strategi dua tahap tidak menyentuh satu pun mata rantai sebab yang sebenarnya.
Kenapa Resep Moses Berbahaya secara Material
Terima saja resep Moses. Buang revolusi demokratik. Maka tidak perlu lagi memimpin perjuangan melawan militerisme, tidak perlu memimpin perjuangan reforma agraria sejati, tidak perlu memimpin perjuangan demokrasi yang belum tuntas, sebab semuanya dicap jebakan.
Tapi di Indonesia, tugas-tugas itu bukan barang masa lalu. Sisa-sisa kekuatan lama belum dihancurkan. Faksi kapitalis bersenjata, yakni militer, masih menguasai bisnis, masih mengendalikan ruang politik, masih menempatkan personelnya di jabatan-jabatan strategis. Reforma agraria sejati belum terjadi, dan jutaan petani masih kehilangan tanah di hadapan korporasi yang dilindungi negara. Hak menentukan nasib sendiri rakyat Papua belum terwujud. Seperti sudah kita uji dengan syarat-syarat Lenin, semua ini menegaskan bahwa tahap demokratik memang belum tuntas, bukan karena kita memilih menundanya, melainkan karena kekuatan kelas buruh yang sadar dan terpimpin untuk menuntaskannya juga belum terbangun. Kedua sisi ini satu kesatuan. Justru karena itulah jalan keluarnya bukan menyerahkan tugas demokratik kepada borjuasi, melainkan kelas buruh memimpinnya sendiri dan tidak berhenti, melainkan langsung melanjutkannya ke tugas-tugas sosialis.
Lenin sudah memperingatkan bahaya posisi Moses. Kaum yang memandang perjuangan demokratik sebagai pemborosan waktu tampak lebih revolusioner, tetapi justru karena itu mereka memencilkan diri dari massa. Sebab perjuangan atas tanah, atas militerisme, atas demokrasi, atas Papua, itulah yang mengikat kelas buruh dengan kaum tani, semi-proletar, dan rakyat tertindas secara keseluruhan. Kelas buruh yang hanya berbicara sosialisme dalam arti abstrak sambil menyerahkan medan perjuangan demokratik kepada borjuis demokrat akan terputus dari sekutu-sekutu yang justru menentukan kemenangannya. Itu bukan radikalisme sejati, melainkan radikalisme yang tidak berpijak pada kenyataan material. Ironisnya, dengan membuang revolusi demokratik, Moses justru menggerogoti basis material bagi revolusi sosialis yang ia idamkan.
Pelajaran yang Sesungguhnya
PRD patut dipelajari, bukan untuk dikultuskan dan bukan untuk dibuang.
Yang terbaik dari PRD harus dipertahankan dan dikembangkan. Keberaniannya menghadapi represi, ketepatannya mengintervensi di titik-titik radikalisasi, metode mobilisasi massanya yang sanggup menggerakkan puluhan ribu orang dalam satu isu di banyak kota pada hari yang sama, program demokratiknya yang jelas, dan kesadarannya bahwa sosialisme adalah tujuan akhir. Semua itu pencapaian nyata dalam kondisi yang luar biasa berat, dan tak banyak organisasi di dunia yang sanggup menandinginya.
Tetapi pelajaran yang paling mahal justru tersembunyi dalam cara kita memahami kejatuhannya. Sebab kalau akar utamanya adalah perubahan objektif yang memutus seluruh pijakan lama dan menimpa kader yang belum matang, maka tugas pokok hari ini menjadi terang, yakni membangun perbekalan yang justru tidak sempat dimiliki PRD. Perbekalan itu adalah kedalaman ideologis yang tertanam luas, bukan hanya di kader inti, sehingga ketika kondisi berubah drastis, gerakan tidak kehilangan arah. Dan perbekalan itu dibangun lewat kerja yang sabar dan panjang, lewat mesin ideologi yang menyatukan dan menuntun, lewat koran partai yang bukan sekadar alat agitasi melainkan pemasok kesadaran sekaligus pengikat organisasi, persis seperti yang ditekankan Lenin dalam Apa yang Harus Dikerjakan? Inilah satu hal yang membedakan tugas hari ini, dan tidak bisa dilompati dengan tergesa.
Karena itu, membangun kader yang sungguh-sungguh menguasai Lenin, bukan sekadar mengutip Lenin di judul untuk membantah Lenin, adalah tugas paling mendasar saat ini. Gerakan membutuhkan Lenin bukan sebagai nama yang diagungkan, melainkan sebagai metode berpikir yang hidup dalam praktik sehari-hari perjuangan.
Mahasiswa yang mengusir Budiman di Universitas Gadjah Mada dan mahasiswa Universitas Mulawarman yang menolak Mugiyanto sudah melangkah benar dengan menampik pengkhianatan. Tetapi langkah berikutnya, memahami mengapa pengkhianatan itu terjadi agar tidak terulang, menuntut lebih dari kemarahan. Ia menuntut kejernihan tentang strategi revolusioner, tentang peran kelas buruh, dan tentang arti tak terinterupsi yang sesungguhnya. Sebab Budiman dan Mugiyanto tidak jatuh karena mereka dahulu memimpin perjuangan demokratik. Mereka jatuh karena mereka berhenti memimpinnya sebagai kelas buruh, melepaskan kemandirian kelas, dan membiarkan diri dibentuk ulang oleh pergaulan elit. Yang gagal bukan jalannya. Yang gagal adalah mereka yang meninggalkan jalan itu.
Jalan Lenin bukan jalan pengkhianatan. Jalan Lenin adalah jalan yang menuntut kesabaran membangun, kejernihan ideologis yang tak goyah, dan kemandirian kelas yang dijaga teguh bahkan dalam kondisi paling sulit. PRD melangkah di jalan itu dan tergelincir bukan karena jalannya keliru, melainkan karena sejarah tidak memberinya cukup waktu untuk menyiapkan perbekalan menempuhnya sampai ujung. Tugas kita bukan membuang jalan itu mengikuti seruan Moses, melainkan menempuhnya dengan perbekalan yang lebih matang daripada yang sempat dimiliki PRD.
ditulis oleh Dipo Negoro, Kader Perserikatan Sosialis
![]()


Comment here