Ketika lampu Stadion Azteca menyala dan Piala Dunia FIFA 2026 resmi dibuka pada 11 Juni, hanya beberapa kilometer dari pesta itu sekelompok perempuan berjalan membawa foto anak, suami dan saudara mereka yang hilang. Mereka bukan datang untuk menonton pertandingan. Mereka datang agar dunia melihat kejahatan yang selama bertahun-tahun dibiarkan negara: lebih dari 134.000 orang tercatat hilang di Meksiko. Jumlah orang hilang itu lebih besar daripada jumlah penonton yang memenuhi stadion pada laga pembuka.
Kontras ini bukan kebetulan. Ia adalah gambaran paling jujur tentang apa itu Piala Dunia di bawah kapitalisme: di dalam stadion, FIFA dan para sponsornya merayakan akumulasi modal; di luar stadion, rakyat tertindas berjuang agar tidak dilupakan.
Bukan Fenomena Baru: Dari Tlatelolco 1968 hingga 2026
Sejarah pesta olahraga selalu berjalin dengan represi negara. Pada 1968, hanya beberapa hari sebelum Olimpiade Meksiko dibuka, ratusan mahasiswa ditembak mati di Plaza Tlatelolco. Dunia tetap menyaksikan pesta olahraga, sementara darah para demonstran masih membasahi jalan-jalan Kota Meksiko. Pada 1978, ketika Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia di bawah junta militer Videla, lahir kampanye internasional Boycott Argentina 78. Dunia menikmati pertandingan, sementara ribuan aktivis kiri diculik, disiksa dan dihilangkan secara paksa. Pada 2022, Qatar dikritik keras atas eksploitasi buruh migran yang membangun stadion-stadionnya.
Kini, pada 2026, pusatnya bergeser ke Amerika Utara. Namun benang merahnya tetap sama: Piala Dunia tidak pernah bisa dipisahkan dari kekuasaan kelas yang menyelenggarakannya.
Meksiko: Guru Mogok, Ibu-Ibu Pencari, Rakyat Melawan Penggusuran
Menjelang pembukaan turnamen, jalan-jalan Kota Meksiko dipenuhi demonstrasi. Setidaknya tujuh barisan aksi bergerak menuju stadion pada hari pembukaan: (1) serikat guru CNTE yang mogok nasional, mendirikan perkemahan di Zócalo dan memblokade jalan utama, menuntut kenaikan upah 100 persen serta pencabutan undang-undang 2007 yang merampas sistem pensiun mereka; (2) para madres buscadoras, ibu-ibu pencari korban penghilangan paksa; (3) pensiunan buruh Pemex dan Komisi Listrik Federal; (4) buruh transportasi; (5) kaum tani; (6) pekerja kesehatan; dan (7) organisasi anti-gentrifikasi yang melawan penggusuran demi mempercantik kota untuk FIFA.
Negara menjawab dengan tembok polisi dan barikade beton di Calzada de Tlalpan.
Tuntutan mereka menunjuk pada satu hal: landasan objektif dari kemarahan rakyat. Pemerintah Meksiko menggelontorkan sekitar 3 miliar dolar AS untuk infrastruktur Piala Dunia, sementara guru dibayar rendah, keluarga korban penghilangan paksa mencari sendiri anggota keluarganya di ladang, gurun dan kuburan tak bernama, dan warga miskin kota digusur dari lingkungannya. Koordinator aksi guru, Luis Antonio Rosales Narváez, menegaskan: mereka tidak menentang sepak bola. Mereka menolak negara yang lebih sibuk memoles wajah kota untuk FIFA daripada menyelesaikan krisis pendidikan dan krisis sosial. Jalan layang di sepanjang Tlalpan dicat ungu muda, tetapi cat tidak menutupi kenyataan bahwa negara borjuis Meksiko gagal, dan tidak berkepentingan, melindungi rakyatnya.
Amnesty International memperingatkan bahwa represi terhadap demonstran adalah salah satu ancaman hak asasi manusia terbesar dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dan menuntut perlindungan bagi para perempuan pencari. Peringatan itu bukan tanpa dasar. Para madres buscadoras setiap hari diserang, difitnah, bahkan dikriminalisasi karena melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Amerika Serikat: Piala Dunia di Tengah Deportasi Massal
Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama memperlihatkan wajah imperialisme secara telanjang. Turnamen berlangsung di tengah kebijakan deportasi massal, penangkapan sewenang-wenang dan penahanan massal terhadap migran. Amnesty International, Human Rights Watch dan Sports & Rights Alliance telah berulang kali meminta FIFA menjamin bahwa penonton, pemain, jurnalis dan komunitas migran tidak menjadi sasaran operasi imigrasi selama Piala Dunia. FIFA dan pemerintah tuan rumah menolak memberi jaminan itu.
Di Kanada, warga tunawisma di Toronto dan Vancouver terancam “dibersihkan” dari jalanan kota tuan rumah. Di negeri yang sama, demonstrasi solidaritas Palestina membawa slogan “Kick Israel Out of FIFA” dan menelanjangi standar ganda FIFA: Rusia dijatuhi sanksi setelah invasi ke Ukraina, sementara Israel yang melakukan genosida di Gaza tetap bermain. Standar ganda ini bukan kekhilafan. Ia mencerminkan siapa yang berkuasa dalam tatanan imperialis dunia.
Guadalajara: Kapital Global di Kursi Terdakwa
Di Guadalajara, sasaran protes bergeser dari negara kepada korporasi. Ratusan aktivis mengecam Hyundai, sponsor resmi FIFA, yang menggunakan Piala Dunia untuk memoles citra di tengah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan dalam rantai pasok bajanya. Fair Steel Coalition menuntut Hyundai memberi “kartu merah” kepada pemasok bajanya, Ternium.
Aksi ini penting karena menunjuk langsung pada jantung persoalan. Piala Dunia bukan sekadar urusan FIFA dan pemerintah tuan rumah. Ia adalah mesin akumulasi modal bagi sponsor global, industri konstruksi, spekulan properti dan industri pariwisata. Harga tiket yang tak terjangkau membuat rakyat pekerja Meksiko, yang paling mencintai sepak bola, justru tersingkir dari stadion. Olahraga rakyat telah dirampas dan dijual kembali kepada rakyat sebagai komoditas.
Panggung Global sebagai Senjata Perlawanan
Apakah rakyat menolak sepak bola? Tidak. Jutaan orang memenuhi zona penggemar di Zócalo dan merayakan pertandingan. Sepak bola adalah milik rakyat pekerja jauh sebelum FIFA mengubahnya menjadi mesin uang.
Justru karena dunia sedang menonton, kaum tertindas memanfaatkan panggung ini. Ibu-ibu pencari mengenakan jersey hijau, warna yang sama dengan kostum timnas, tetapi bergambar wajah orang-orang hilang. Guru-guru CNTE menggelar pertandingan sepak bola simbolik di tengah jalan yang mereka blokade. Ini adalah taktik yang tepat: memakai kontradiksi penyelenggara melawan penyelenggara itu sendiri.
Sejarah kelak akan mencatat siapa yang mengangkat trofi di final. Namun sejarah juga akan mencatat bahwa Piala Dunia 2026 adalah turnamen ketika sorak-sorai stadion beriringan dengan teriakan rakyat yang menolak dilupakan. FIFA berbicara tentang persatuan melalui olahraga. Persatuan sejati hanya mungkin ketika rakyat pekerja dan bangsa-bangsa tertindas, bukan FIFA, bukan sponsor, bukan negara-negara imperialis, yang memegang kekuasaan atas olahraga dan atas masyarakat itu sendiri.
ditulis oleh Libby Qahtany, anggota Resistance
![]()


Comment here