Bom Atom ke Hiroshima dan Nagasaki serta Akhir Perang Dunia II

Tujuh puluh tiga tahun yang lalu, pada tanggal 9 Agustus 1945, Amerika Serikat (AS) meledakan bom plutonium di Nagasaki dan tiga hari sebelumnya bom uranium di Hiroshima. Cahaya dari kedua bom atom tersebut dapat dilihat dari jarak 32 kilometer dan akan membutakan sementara mereka yang melihatnya. Cendawan api terbentuk setinggi 3 kilometer dan bekas ledakannya meninggalkan lubang sedalam 2 meter dan berdiameter 365 meter. Panas bom atom tersebut mencapai 3 ribu derajat celsius. Bom atom tersebut membunuh ratusan ribu orang, sekitar 40 ribu hingga 80 ribu orang di Nagasaki dan 90 hingga 170 ribu orang di Hiroshima.

Seorang saksi di Hiroshima menggambarkan para korban bom atom: “… Mereka tidak memiliki rambut karena semua rambutnya terbakar, dan sekilas kau tidak bisa membedakan apakah kau melihat wajahnya atau belakang kepalanya…” Saksi yang lain mengatakan “Seorang laki-laki dengan matanya keluar sekitar 5 sentimeter memanggil nama saya dan saya merasa sakit… Tubuh manusia membengkak sangat besar – kau tidak dapat membayangkan betapa besarnya tubuh manusia bisa bengkak.”

Presiden AS, Harry S Truman menyebutnya pengeboman tersebut sebagai “hal terhebat sepanjang sejarah”. Walaupun Truman tidak menjatuhan bom atom ketiga yang sudah disiapkan, dia melanjutkan perintah bombardir yang menghancurkan setengah kota serta 6 kota lainnya serta membunuh ribuan rakyat Jepang sebelum Jepang secara resmi menyerah pada 14 Agustus 1945. Pada tanggal 9 Agustus, Truman mengatakan bahwa dunia menyaksikan bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima, sebuah basis militer. Namun fakta menunjukan bahwa mayoritas besar korban di Hiroshima dan Nagasaki adalah penduduk sipil. Di Hiroshima sekitar 20 ribu, kurang dari 15 persen korban jiwa, adalah personil militer sementara di Nagasaki hanya 150 orang korban merupakan personil militer. Mayoritas besar korbannya adalah anak-anak, perempuan dan orang tua.

Argumentasi yang berkembang hingga sekarang bahwa kedua bom atom tersebut dibutuhkan untuk dengan segera menghentikan Perang Dunia II (PD II) serta mengalahkan Jepang sehingga korban jiwa lebih banyak akan dapat dihindari.

Namun itu semua tidak benar. Perang di Pasifik sudah berakhir pada Januari 1945. Rakyat Jepang kelaparan dan tidak peduli dengan perang. AS sudah meretas komunikasi Jepang dan mengetahui kondisi Jepang. Blokade laut AS menghentikan minyak bumi, metal dan barang-barang lain masuk ke Jepang. Kebutuhan perang sudah tidak bisa diproduksi dan bahkan Jepang membangun pesawat yang sebagian bahannya dari kayu. Jepang sudah mengupayakan negosiasi untuk menyerah dengan syarat-syarat yang akan disepakati oleh pihak Sekutu, seperti mempertahankan Kaisar Jepang.  Tidak lama setelah PD II, US Strategic Bombing Survey menyimpulkan bahwa pasti sebelum 31 Desember 1945, dan dengan berbagai kemungkinan sebelum 1 November 1945 (tanggal rencana invasi militer AS ke Jepang), Jepang akan menyerah bahkan ketika bom atom tidak digunakan, bahkan ketika Rusia tidak terlibat dalam perang, dan bahkan jika tidak ada invasi yang direncanakan.

Bom atom di Nagasaki dan Hiroshima bukan untuk segera menghentikan PD II ataupun menghindari lebih banyak jatuh korban. Bom atom tersebut harus dilihat dalam gambaran besar kepentingan Sekutu untuk penguasaan teritori di dunia pasca PD II berhadap-hadapan dengan saingannya, Uni Soviet.

Sekutu ingin menahan pengaruh Uni Soviet. Di Asia, jika Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang atau jika Uni Soviet membuat perjanjian damai dengan Jepang maka Uni Soviet akan memiliki pengaruh lebih besar di Asia. Situasi ini mendorong kekuatan Sekutu untuk mengakhiri perang sebelum 15 Agustus 1945, tanggal dimana Uni Soviet berencana mendeklarasikan perang terhadap Jepang.

Uni Soviet sendiri berjanji di Konferensi Tehran, yang dihadiri oleh Stalin, Roosevelt dan Churchill, November 1943 bahwa Soviet akan melawan Jepang setelah Jerman dikalahkan. Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang pada 8 Agustus 1945. Ini dilanjutkan, keesokan harinya, dengan invasi Uni Soviet ke Manchuria hingga ke bagian utara semenanjung Korea, daerah yang sekarang dikenal sebagai Korea Utara.

Sementara itu di Eropa, Uni Soviet yang menderita korban sebanyak 20 juta jiwa muncul sebagai kekuatan dominan. Di Pertempuran Stalingrad (23 Agustus 1942-2 Februari 1943), Uni Soviet melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh militer AS dan Inggris yaitu memukul mundur Nazi. Setelahnya kekuatan fasis terus menerus kalah di Eropa Timur oleh Uni Soviet. Italia menyerah pada September 1943. Finlandia, Bulgaria dan Romania menyerah pada 1944 dan Jerman akhirnya menyerah pada Mei 1945.

Selain itu kelas buruh Eropa juga menyadari bahwa kelas kapitalis di negara mereka juga bekerjasama atau mendukung fasisme. Sementara kaum komunis di Eropa telah menunjukan bahwa mereka adalah pejuang melawan fasisme. Atas dasar itulah kekuatan Komunis berkembang di Eropa. Partai Komunis Austria berkembang 10 kali lipat hingga memiliki anggota 150 ribu orang. Sementara di Cekoslovakia berkembang 20 kali lipat menjadi 1,1 juta anggota. Di Finlandia, kaum komunis menang 25 persen suara di pemilu tahun 1945. Di Yugoslavia, tentara kaum komunis mengalahkan kekuatan fasis Jerman. Di Perancis, partai komunis memiliki anggota 1 juta orang, di Italia sebanyak 2 juta orang. Di Belgia, partai komunis berkembang 10 kali lipat dan di Denmark berkembang 3 kali lipat.

Pengaruh komunisme berkembang di Eropa, walaupun hubungan mereka dengan Uni Soviet lebih banyak memoderasi ketimbang meradikalisasi. Stalin membubarkan Komunis Internasional, yang dibangun oleh Lenin dan Bolshevik pada 1919 untuk menyatukan partai-partai komunis dan buruh diseluruh dunia demi memperjuangkan revolusi sosialis, pada tahun 1943.

Situasi tersebut mendorong agar AS mengakhiri perang dengan cara yang dapat memperkuat posisi AS pasca PD II. Bom atom diarahkan ke Jepang namun secara politik menyasar Uni Soviet. Dengan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki maka ekspansi Uni Soviet di Asia Timur akan ditahan dan membuat Uni Soviet lebih bisa dihadang di Eropa.

Pemboman Hiroshima dan Nagasaki menunjukan sekeji apa tindakan kelas kapitalis untuk mempertahankan kekuasaan globalnya. Selama kapitalisme dan imperialisme masih ada maka kita akan terus menerus hidup dibayang-bayang kekejian dan kehancuran dunia.

Ditulis oleh Dipo Negoro, Kader KPO PRP

Tulisan ini juga diterbitkan dalam Arah Juang edisi 48, I-II Agustus 2018, dengan judul yang sama.

 431 total views,  3 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment