Antonio Gramsci lahir pada 22 Januari 1891 di Ales, Sardinia, sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara. Masa kecilnya dibentuk oleh dua pengalaman kontras: kasih sayang ibunya, Giuseppina Marcias, yang menumbuhkan kecintaan pada sastra, dan hubungan yang renggang dengan ayahnya, Francesco Gramsci. Kehidupan keluarga semakin terpuruk ketika sang ayah dipenjara pada 1897, memaksa mereka pindah ke Ghilarza dan menanggung kesulitan ekonomi yang berat. Sejak usia muda, Gramsci harus bekerja, termasuk sebagai pegawai di kantor pajak, sambil bersekolah dalam kondisi kesehatan yang selalu rapuh. Namun, kecerdasannya menonjol, menjadikannya salah satu siswa paling berprestasi di lingkungan sosialnya.
Pendidikan Gramsci berlanjut di Santu Lussurgiu dan kemudian di Dettori Lyceum, Cagliari, tempat ia bersentuhan dengan gerakan pekerja dan gagasan sosialisme. Tahun 1911 menjadi titik balik ketika ia memperoleh beasiswa ke Universitas Turin, sebuah pusat industri dan intelektual Italia Utara. Di sana, ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh masa depan Partai Komunis Italia (PCI) seperti Palmiro Togliatti, serta belajar linguistik dan humaniora di bawah bimbingan Matteo Bartoli dan Umberto Cosmo. Meski hidup dalam kemiskinan dan kesehatan yang terus menurun, Gramsci semakin tertarik pada politik proletar. Pada 1915 ia meninggalkan karier akademik untuk bergabung dengan Partai Sosialis Italia (PSI) dan menjadi jurnalis militan yang tajam dalam menganalisis situasi sosial Italia.
Revolusi Bolshevik 1917 memperkuat orientasi revolusionernya. Pada 1919, bersama Togliatti dan Angelo Tasca, ia mendirikan L’Ordine Nuovo, sebuah jurnal yang memberikan landasan teoritis bagi dewan-dewan pabrik dan gerakan buruh di Turin. Keterlibatannya dalam perjuangan kelas mengantarnya pada konflik internal PSI yang berujung pada pembentukan Partai Komunis Italia pada Januari 1921, di mana ia menjadi anggota komite pusat. Dalam fase ini, Gramsci telah melihat bahaya dari kebangkitan fasisme Mussolini dan menyerukan persatuan revolusioner untuk melawannya—peringatan yang pada akhirnya terbukti akurat ketika gerakan buruh Italia dikalahkan.
Tahun 1922–1923 ia menjalankan tugas sebagai delegasi PCI di Moskow, bertemu Julka Schucht yang kemudian dinikahinya, dan menjadi ayah dari dua anak. Sekembalinya ke Italia, ia terpilih sebagai anggota parlemen pada 1924 sekaligus diangkat menjadi sekretaris jenderal PCI. Masa ini tidak berlangsung lama: pada November 1926 rezim fasis menangkapnya dengan tujuan jelas untuk “menghentikan kerja otaknya selama 20 tahun.” Gramsci dipenjara di Regina Coeli, dijatuhi hukuman lebih dari 20 tahun pada 1928, dan dipindahkan ke Turi, Formia, dan akhirnya ke Rumah Sakit Quisisana hingga kematiannya pada 27 April 1937 akibat komplikasi dari kondisi penjara yang brutal.
Walau terisolasi, Gramsci melahirkan karya monumental Prison Notebooks serta ratusan surat, terutama kepada saudara iparnya, Tania Schucht, yang berperan penting menjaga kondisi fisik dan intelektualnya. Bantuan Piero Sraffa menyediakan buku dan bahan bacaan yang memungkinkan Gramsci merumuskan sejumlah konsep paling berpengaruh dalam teori Marxis Barat—seperti hegemoni, ideologi, subaltern, intelektual organik, dan intelektual tradisional. Pasca Perang Dunia II, tulisan-tulisan ini dipublikasikan dan disebarkan luas, namun tidak jarang justru disalah interpretasikan, terutama oleh arus Stalinis PCI yang berusaha mengubah Gramsci menjadi pembenar jalur parlementer dan reformisme partai.
Konsep yang terkenal dari Grasci yaitu hegemoni yang pertama kali muncul dalam Notes on the Southern Question (1926), ketika Gramsci mendefinisikannya sebagai sistem aliansi kelas di mana kelas hegemonik memimpin kelas-kelas subaltern dengan “memenangkan hati mereka.” Dalam konteks Italia, proletariat hanya dapat menjadi kekuatan pemimpin jika mampu keluar dari korporatisme sempit dan merangkul kaum tani agar mobilisasi mayoritas rakyat pekerja menjadi mungkin. Dalam Prison Notebooks, konsep ini berkembang lebih jauh: hegemoni bukan sekadar kepemimpinan politik, tetapi juga kepemimpinan ekonomi, intelektual, dan moral, serta menuntut bahwa kelas hegemonik bersedia mengorbankan sebagian kepentingan korporatnya demi membangun konsensus. Bagi Gramsci, kekuasaan selalu terdiri dari dua momen—dominazione (paksaan) dan direzione (persetujuan). Negara mewakili paksaan melalui aparat politik-birokratis, sementara masyarakat sipil adalah ruang produksi konsensus melalui lembaga “swasta” seperti sekolah, gereja, media, dan serikat. Hegemoni berarti tercapainya keseimbangan antara keduanya, sehingga pemerintahan berlangsung terutama melalui persetujuan, bukan kekerasan.
Dalam kondisi krisis organik, kelas fundamental yang ingin merebut kekuasaan harus membangun hegemoni di masyarakat sipil dengan merangkul aspirasi kelas-kelas subaltern. Di sinilah konsep ideologi menjadi penting. “Dominasi melalui persetujuan” hanya mungkin jika kelas hegemonik menciptakan ideologi organik—pandangan dunia bersama yang dibentuk melalui perjuangan ideologis dengan mengartikulasikan kembali unsur-unsur ideologi yang sudah hidup dalam berbagai kelas. Ideologi organik bukan sekadar propaganda, melainkan sintesis baru yang lahir dari penyerapan dan transformasi elemen ideologis yang sebelumnya tersebar dalam wacana masyarakat. Konsensus ideologis inilah yang memungkinkan lahirnya “kehendak kolektif” dan pembentukan blok hegemonik baru.
Karena itu, sebelum merebut kekuasaan negara, proletariat harus terlebih dahulu membangun kepemimpinan politik, kultural, dan moral. Gramsci membedakan dua tahap kesadaran: pertama, tahap ekonomi-korporat, ketika kelas hanya memahami kepentingannya sendiri sebagai kelompok ekonomi; kedua, tahap “murni politik,” ketika kelas pekerja menyadari bahwa kepentingannya terhubung dengan semua kelompok tertindas dan harus diwujudkan melalui organisasi politik. Pada tahap inilah proletariat membangun pandangan dunia yang komprehensif, merumuskan program politik, membentuk partai, dan mulai berjuang untuk hegemoni sosial.
Konsep hegemoni Gramsci memperoleh relevansi historis spesifiknya dalam konteks Eropa Barat pasca-1923—kondisi sosial-politik yang sangat berbeda dari Rusia 1917. Jika revolusi Rusia memungkinkan “perang manuver,” masyarakat sipil yang padat-institusi di Barat menuntut strategi “perang posisi”: perebutan hegemoni secara bertahap melalui perjuangan ideologis, organisasi, dan kepemimpinan moral-intelektual di dalam masyarakat sipil sebelum perebutan negara.
Salah satu distorsi yang paling umum adalah penyajian konsep “hegemoni budaya” seolah-olah Gramsci menolak strategi revolusioner. Konsep hegemoni justru menegaskan bahwa kelas pekerja memerlukan aliansi luas dan kepemimpinan moral-politik untuk membangun mayoritas revolusioner. Dengan kata lain, hegemoni adalah bentuk taktis dari perjuangan kelas yang menggabungkan konsensus dan paksaan, sebuah gagasan yang selaras dengan tradisi Leninisme.
Dalam pandangan Gramsci, ideologi tidak pernah bekerja secara mekanis atau deterministik. Ia menolak reduksionisme kelas yang memandang gagasan sebagai cerminan langsung posisi ekonomi. Ideologi, menurutnya, adalah medan perjuangan di mana berbagai kelas berupaya menata nilai dan keyakinan agar sesuai dengan kepentingannya. Di sinilah muncul konsep “ideologi organik”—sebuah pandangan dunia koheren yang dirumuskan oleh kelas yang berkuasa atau kelas yang sedang berjuang untuk berkuasa. Ideologi ini menyatukan nilai kelas-kelas lain ke dalam satu sistem representasi yang membuat dominasi terlihat wajar. Para penyusunnya adalah “intelektual organik”, yaitu mereka yang lahir dari struktur produksi kelas tertentu dan bertugas mengartikulasikan kepentingan kelas tersebut dalam ranah budaya, politik, dan pemikiran.
Di sinilah Gramsci menempatkan peran partai revolusioner. Bagi Gramsci, partai adalah “Pangeran Modern” (the modern prince), adaptasi dari konsep Machiavelli tentang subjek politik yang memimpin rakyat dalam membangun negara baru. Partai tidak hanya mengorganisir massa, tetapi berfungsi sebagai “intelektual kolektif” yang memadukan teori dan praktik, membentuk kehendak kolektif, mendidik kelas pekerja, dan mempersiapkan perang posisi dalam masyarakat sipil. Gagasannya selaras dengan pengalaman Bolshevik dan strategi Front Persatuan sebagaimana dikembangkan Lenin dan Trotsky.
Namun kondisi pemenjaraan memaksa Gramsci menggunakan bahasa Aesopian—bahasa tersamar yang menghindari sensor—menjadikan sejumlah konsepnya lebih abstrak. Inilah salah satu alasan mengapa pemikirannya kerap diambil secara parsial atau dipelintir. Tetap saja, inti gagasannya jelas: revolusi di Barat membutuhkan organisasi proletar yang disiplin dan terpusat namun tetap demokratis, dengan mekanisme sentralisme demokratis di mana semua anggota dapat berdiskusi sebelum keputusan diambil, tetapi setelah itu seluruh keputusan dijalankan secara kolektif tanpa keraguan. Melalui struktur semacam ini, partai menjadi penghubung antara spontanitas massa dan strategi jangka panjang.
Pada akhirnya, Gramsci melihat partai sebagai institusi yang mengorganisasi masa lebih luas dalam sebuah kerangka disiplin organik yang memungkinkan mereka memimpin perjuangan kelas. Partai inilah yang mempersatukan unsur-unsur revolusi—ekonomi, politik, dan ideologi—ke dalam satu kesadaran historis yang menyeluruh. Dengan demikian, gagasan hegemoni, intelektual organik, dan perang posisi hanya dapat dipahami sepenuhnya bila ditempatkan dalam kerangka perjuangan kelas dan pembangunan partai revolusioner sebagai motor transformasi sosial.
Berbagai konsep kunci Gramsci, baik hegemoni, intelektual organik, ataupun pentingnya peran partai—memberikan fondasi teoretis baru yang lebih dialektis bagi Marxisme. Melalui pembedaan tajam antara ranah negara (masyarakat politik) dan ranah konsensus (masyarakat sipil), Gramsci memperluas analisis Marx mengenai kekuasaan dan memperlihatkan bagaimana dominasi kapitalis beroperasi bukan hanya melalui paksaan, tetapi terutama melalui kepemimpinan moral-intelektual. Dari sini lahir implikasi-implikasi teoretis yang penting mengenai sifat krisis kapitalisme dan strategi revolusioner proletariat. Yang paling menonjol adalah penekanannya bahwa dalam kondisi kapitalisme maju, proletariat tidak dapat mengandalkan kehancuran otomatis kapitalisme atau dogmatisme kelas; sebaliknya, mereka harus memimpin dengan membangun aliansi luas, meraih dukungan kelas-kelas tertindas lainnya, dan mengatasi korporatisme. Gramsci mengembalikan Marxisme kepada tradisi materialisme dialektis yang hidup dan praksis dengan “filsafat praksis”-nya, ia memberikan kembali kepada kelas pekerja perangkat teoretis yang lebih kuat untuk memahami dan mengintervensi realitas kapitalis. Pada akhirnya, yang tersisa adalah tugas historis proletariat untuk mengubah teori tersebut menjadi tindakan dan mengambil peran aktif dalam proses penciptaan sejarah untuk menuju revolusi tersebut.
ditulis oleh Sagra, anggota Lingkar Studi Sosialis
![]()


Comment here