Strategi Taktik

Apakah Kekuatan Rakyat Lebih Besar dari NSA (Badan Keamanan Nasional)?

Sepertinya baru saja kita lepas dari euforia terhadap sistem jejaring sosial, yang dikatakan membawa revolusi. Sekarang kita takut setengah mati terhadap pengawasan massal terhadap internet kemampuannya untuk menekan perbedaan pendapat.

Kekhawatiran semacam itu bukanlah sesuatu yang baru. Dalam Discipline and Punish, filsuf Foucault, menulis tentang “pendisiplinan masyarakat” yang mencontoh desain penjara Jeremy Bentham, panopticon. Konsep Bentham memungkinkan petugas penjara untuk melihat apa yang dilakukan oleh setiap tahanan, sambil menjaga mereka tidak terlihat. Foucault menyatakan bahwa semua institusi hirarkis seperti angkatan bersenjata, sekolah, rumah sakit, dan pabrik-pabrik telah berevolusi secara historis menuju bentuk tersebut. Kritik sosial lainnya mengatakan analisa seperti itu secara khusus cocok dengan internet.

Dan memang sepertinya potensi mimpi buruk ini dibuat untuk pengguna internet. Setelah serangan World Trade Center (WTC) 9/11, Tom Brignall dari Tennessee Tech memperingatkan potensi “panopticon baru.” FBI menggunakan program bernama Carnivore untuk memonitor email secara acak, katanya. Brignall menambahkan: “Panopticon sebagai struktur konseptual dapat diterapkan pada struktur fisik apapun yang memberikan kemampun pada mereka yang memiliki otoritas untuk mengawasi “narapidana” tanpa “narapidana” tersebut mengetahui bahwa mereka sedang diawasi. Apa yang unik dengan struktur Internet yaitu memungkinkan adanya beberapa lapisan pengawasan sehingga “narapidana” dapat mengawasi “narapidana” lainnya. Dalam situasi semacam itu, tidak ada yang megnetahui siapa yang mengawasi dan siapa yang diawasi”

Bagus: sebuah sistem komputer yang memungkinkan kita saling menipu. Ketakutan atas kontrol jeli ini sangat terkenal. Novel 1984 karya George Orwell bedasarkan atas masyarakat yang nyata, terutama di negara-negara blok timur.

Saat belajar Bahasa Jerman di SMA, saya diberi teman pena dari Berlin Timur. Ini artinya, saya dapat mengunjungi dan menilai sosialisme palsu Jerman Timur secara langsung. Awalnya tidak buruk, selama kamu menghindari melihat Tembok Berlin yang terkenal jahat. Lalu suatu hari seorang agen Stasi menghadang teman penaku di kampus mengenai surat-menyurat kami. Menyeringai, tatap muka: “kamu menulis untuk seorang di Amerika”

Dia ingin memamerkan kekuasaannya dan kekuasaan yang lainnya seperti dia. Dan juga kekuatannya – Jerman Timur adalah surga mata-mata. Tidak hanya  negara merekrut mungkin setengah populasi untuk mematai setengah populasi lainnya; Stasi bahkan menempatkan seseorang di dalam kabinet Jerman Barat, ini merupakan tindakan memata-matai yang sangat baik.

Pada waktu yang tepat datang revolusi demokratik, apapun di atas menjadi tidak penting. Para mata-mata (spooks) kehilangan pekerjaannya. Penyiar radio Jerman Timur mengudara, dengan sebuah pesan radio berkode dalam bentuk sajak anak anak: Semua anak bebek kecilku, berenang di danau. Itu adalah tanda untuk mata-mata Stasi untuk bersembunyi. Rakyat Jerman Timur di jalanan; Tembok Berlin runtuh, jadi berkas-berkas Stasi akan terbuka. Aksi masa telah berhasil.

Sejak musim semi Arab yang menggembirakan, aktivis Mesir sering menolak klaim bahwa media sosial memperkuat revolusi mereka. Mereka bersikeras bahwa itu berasal dari pengorganisiran akar rumput, aksi massa dan perjuangan kelas model tradisional. Demikian pula, mereka mengabaikan argumentasi bahwa polisi rahasia bisa menghentikan revolusi. Mereka menunjukan fakta bahwa seiring massa turun ke jalan, rejim Mubarak memblokir jaringan internet dan telepon. Jelas Mubarak tidak berfikir bahwa pengawasan internet dapat menyelamatkannya, dan dalam skema besar menutup siber membuat sedikit perbedaan.

Peneliti dari Universitas George Washington menemukan bahwa media baru “tidak terlihat memainkan perang penting” selama pemberontakan 2011

Sumbangan utama media sosial di Mesir – dan juga di Iran – kemungkinan adalah menyebarkan cerita mereka ke dunia lewat YouTube dan blog. Jaringan televisi kemudian merubah blogger yang mereka sukai (terawat, kelas menengah, secara politik moderat) menjadi selebriti. Dan klaim palsu serta disinformasi menyebar lewat internet secepat informasi valid.

Sementara itu, perjuangan utama dilancarkan di jalanan dan tempat kerja.

Partai Black Panther mengatakan “Kekuatan rakyat lebih kuat daripada teknologi manusia.” Tidak selalu seperti itu: kita harus memobilisasi diri. Jika kita membangun gerakan atas dasar politik yang kuat kita bisa menang.

Naskah diambil dari website Red Flag. Dapat diakses melalui Is people power stronger than the NSA? dimuat pada 26 Juni 2013. Diterjemahkan oleh Erza Noland, anggota Lingkar Studi Kerakyatan

 291 total views,  8 views today

Comment here