Hubungan antara Keluarga Inti, Masyarakat Kelas, dan Penganiayaan

Kadang orang kaget mengapa ada kasus orang tua tega menganiaya atau anak sendiri atau melakukan kekerasan seksual terhadap keluarga sendiri. Sebagai seorang materialis kita melihat bahwasanya dalam masyarakat kelas, yang tahapan terkininya adalah kapitalisme, keluarga inti diformat untuk menjalankan peran sebagai unit konsumsi, tingkat terdasar penanam ideologi dan kepatuhan pada hirarki, sekaligus pereproduksi tenaga kerja untuk dihisap kapitalisme.

Sebagai unit konsumsi, keluarga inti diformat kapitalisme untuk mendorong permintaan atas barang dan jasa serta siklus konsumsinya agar terus berjalan meskipun upah buruh secara riil dari waktu ke waktu cenderung ditekan kapitalis.

Sebagai tingkat terdasar penanam ideologi dan kepatuhan pada hirarki, keluarga inti diformat kapitalisme untuk menanamkan atau menginternalisasi nilai-nilai ideologis kelas penguasa. Kesenjangan ditanamkan sebagai hal alamiah dan berlaku selamanya. Kepatuhan pada otoritas, atribut resmi, dan pemegang jabatan lebih dianjurkan daripada orientasi pokok pada nilai dan penilaian rekam jejak.

Sebagai pereproduksi tenaga kerja untuk dihisap kapitalisme, keluarga inti diformat kapitalisme berhubungan dengan penanaman kerja rumah tangga sebagai kodrat perempuan. Tenaga kerja yang habis dihisap kapitalisme, lelah fisik dan psikis, direproduksi alias dipulihkan dan disegarkan kembali lewat kerja-kerja rumah tangga (yang umumnya dibebankan kepada perempuan) model servitude atau pelayanan seperti pembuatan masakan, penyajian makanan, penyiapan air panas untuk mandi, penyiapan pakaian (lewat kerja mencuci, menjemur, dan menyeterika), dan sebagainya. Termasuk reproduktif secara harafiah: mencetak anak-anak sebagai generasi buruh masa depan, yang tidak hanya berhenti pada aktivitas seks, kehamilan, persalinan, dan pengasuhan, tapi juga pendidikan (agar menjadi tenaga kerja dengan kemampuan tinggi).

Meskipun Laki-laki kelas pekerja juga dibebani stereotip gender dengan kerja-kerja di (seputar) rumah yang dianggap maskulin seperti mengganti genteng, menambal pipa ledeng, memasang instalasi listrik, memperbaiki (mesin) kendaraan, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang dianggap membahayakan.

Dalam situasi kondisi demikian ada ketimpangan kuasa dan umumnya hirarki paling rendah serta paling rentan adalah anak-anak. Seringkali anak-anak menjadi perpanjangan kepemilikan orang tua atau extention of parents possession. Bentuk lain obyektivisme. Ketika manusia diperlakukan seperti obyek, nasibnya diserahkan kepada ‘pemiliknya.’ Pemilik yang ‘baik’ mungkin memperlakukan barangnya dengan baik, hati-hati, cermat, dan sayang. Pemilik yang ‘buruk’ sebaliknya. Tapi keduanya sama-sama bersikap sebagai ‘pemilik’, dan pandangan itu dilanggengkan masyarakat kelas. Mereka yang melawan konsepsi demikian seringkali bukan hanya dihantam keluarganya sendiri tapi juga dihukum masyarakat, termasuk lewat institusi resmi negara. Oleh karena itu kita menemukan adanya kasus anak dianiaya yang membunuh orang tuanya justru dihukum pengadilan. Anak mengalami penindasan berlapis di sana.

Selain itu kita harus melihat bahwa konsep keluarga inti dengan pewarisannya diformat kapitalisme untuk melanggengkan kesenjangan. Ini cara kelas borjuis untuk meneruskan monopolinya atas alat produksi. Alih-alih kekayaan dikembalikan ke masyarakat demi kebutuhan bersama, termasuk semua anak kecil, harta (termasuk kepemilikan atas alat produksi) diputar saja di lingkaran keluarganya sendiri.

Tentu saja solusinya bukanlah model eksperimen komune ala Hippies di Amerika atau pembubaran paksa keluarga model Pol Pot di Kamboja. Permasalahan ketertindasan keluarga inti yang diformat kapitalisme hanya bisa dituntaskan dengan penghapusan kapitalisme pada khususnya dan masyarakat kelas pada umumnya. Dengan pengertian demikian, bukan berarti kita menunggu revolusi. Sebaliknya harus aktif turut berjuang melawan berbagai penganiayaan/”abuse” dan memenangkan sebanyak mungkin hak-hak anak dan hak-hak perempuan. Semakin maju capaian pergerakan, semakin sedikit PR revolusi nantinya.

Sebagai seorang dialektis, kita juga harus menarik kesimpulan, kalau orang bisa menganiaya atau bahkan melakukan kekerasan seksual walaupun terhadap keluarganya sendiri maka hal yang sebaliknya juga bisa berlaku: orang yang tidak punya hubungan darah atau ikatan keluarga juga bisa bersolidaritas mendukung perjuangan melawan penindasan dan kesewenangan. Bukan semata ditentukan kondisi senasib seperjuangan tapi juga pilihan keberpihakan.

ditulis oleh Leon Kastayudha, kader PS dan anggota Sosialis Muda

 1,332 total views,  1 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment