Pelajaran dari Revolusi Suriah

Ghayath Naisse (kiri), pimpinan Revolutionary Left Current, suatu organisasi sosialis revolusioner Suriah

Ghayath Naisse (kiri), pimpinan Revolutionary Left Current, suatu organisasi sosialis revolusioner Suriah

Seorang Sosialis bernama Ghayath Naisse, anggota Revolutionary Left Current, berbicara dengan Simon Assaf mengenai brutalisasi Suriah, tujuan dari mereka yang mengintervensi, dan prospek-prospek bagi para sosialis di kawasan.[1]

SA: Mari kita mulai dari Imperialisme. Apa yang ingin mereka—Rusia, Saudi, AS, dan Turki—ingin capai di Suriah?

GN: Suriah merupakan suatu studi kasus yang sangat khusus dalam pengertian bahwasanya hampir semua kekuatan imperialis dan regional bertindak di wilayah yang sama.

Pertama, mari kita bicara tentang intervensi oleh Rusia dan para sekutunya. Imperialisme Rusia memiliki kepentingan geostrategis yang penting di kawasan. Setelah Libya, Suriah kini merupakan benteng terakhir dimana Rusia memiliki keberadaan militer selama puluhan tahun. Rusia punya pangkalan angkatan laut di Tartus, yang semakin membesar dalam tahun-tahun belakangan ini. Mereka juga punya pangkalan udara di Hmeimim di dekat Latakia. Jadi, dalam tingkatan geostrategis, kalau Rusia kehilangan Suriah, maka Rusia tidak punya keberadaan dan tidak punya saluran untuk pengaruh diplomatis di Mediterania.

Kepentingan khusus tersebut berkombinasi dengan kepentingan yang lebih umum. Sejak naiknya Vladimir Putin, Rusia berupaya memulihkan posisinya di antara negara-negara besar di dunia—untuk membuat negara-negara imperialis lainnya mengakui tempat Rusia di antara mereka, kalau perlu dengan kekerasan. Itu yang membentuk tindakan-tindakannya di Ukraina dan juga membentuk apa yang terjadi di Suriah.

Untuk memahami”kubu” imperialis lainnya, Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya, kita harus mulai dari melihat bahwa invasi Anglo-Amerika ke Irak pada tahun 2003 berakhir dengan kegagalan dan kekalahan Pulangnya pasukan-pasukan AS tahun 2011 memperlihatkan dengan sangat gamblang kegagalan imperialisme AS di seluruh kawasan dan di Irak pada khususnya. Apa yang terjadi sekarang dengan ISIS telah membuat AS kembali ke kawasan, bukan hanya ke Irak tapi juga ke Suriah, setidaknya dalam batasan-batasan “intervensi ongkos rendah”. Artinya AS tidak perlu menempatkan pasukan-pasukannya di darat namun memiliki keberadaan angkatan udara secara besar.

Jadi demi melawan ISIS, maka AS kembali ke Irak. Selain itu juga di Suriah, dimana sebelumnya kehadiran AS bersifat minimal, sebagian besar sebatas kehadiran diplomatik, namun sekarang AS melakukan intevensi secara langsung. AS memiliki pasukan khusus di sekitar perbatasan dan di utara dan supremasi angkatan udara yang tak tertandingi. Itulah yang dipertaruhkan di AS–kepentingannya kembali ke kawasan dimana dulunya ia dipaksa angkat kaki. Ini adalah kawasan penting bagi AS, dimana sekutu-sekutunya seperti Israel dan negara-negara Teluk terancam oleh perlawanan dan revolusi-revolusi yang menyapu kawasan.

Sebagian dari kiri radikal mengkritik kebijakan AS di kawasan karena “berpangku tangan”. Namun itu tidak benar. AS telah mengintervensi; AS telah bertindak; AS telah berbuat sesuatu. Kebijakannya untuk Suriah adalah membiarkan berbagai kelompok yang berbeda-beda untuk saling membunuh satu sama lain di satu sisi. Namun tujuannya adalah untuk menghancurkan kapasitas-kapasitas ekonomi dan militer Suriah sampai titik dimana rezim–atau apapun rezim di masa depan setelahnya–tidak pernah bisa menjadi ancaman apapun bagi Israel.

Patut diperhatikan bahwa AS awalnya tidak mengambil sikap tegas tentang Revolusi Suriah. Barrack Obama menyerukan Ben Ali untuk turun setelah dua minggu Revolusi Tunisia. Bahkan tidak ada satu minggu setelah Revolusi Mesir, Husni Mubarak juga disuruh turun. Namun pernyataan pertama kali Obama untuk Bashar Al-Assad baru muncul pada Agustus 2011–lima bulan setelah revolusi dimulai.

Terutama di antara negara-negara Teluk pimpinan Arab Saudi. Dalam bulan pertama Revolusi Suriah, Arab Saudi memberi rezim Assad $3 miliar bantuan. Mereka melihat luasnya dan radikalisme dari perlawanan kerakyatan, yang dinamikanya mengandung bahaya bagi semua rezim reaksioner dan kediktatoran di kawasan. Saat mereka mengintervensi, memang itu dilakukan untuk melawan rezim namun juga dengan mendukung faksi-faksi Islamis radikal, baik yang secara langsung dibekingi oleh negara Saudi ataupun melalui berbagai banyak organisasi yang dikendalikannya. Kemudian juga terdapat aliran pendanaan dan penempur ke faksi-faksi ekstremis seperti Jabhat Al Nusra[2]. Sedikit demi sedikit, dengan FSA bersusah payah mendapatkan peralatan, kelompok-kelompok ini muncul ke permukaan tahapan militer di Suriah.

Poin kedua bagi Arab Saudi adalah rivalitasnya dengan Iran. Arab Saudi telah menyaksikan Iran meraih pengaruhnya di Irak-berkat, secara tidak sengaja, intervensi AS–dan sekutu Iran yaitu Rusia dan Hizbullah yang membantu rezim Suriah[3]. Jadi kemenangan bagi rezim serta Hizbullah atas Revolusi Suriah mengandung ancaman bagi Arab Saudi yang akan menggulung pengaruhnya di kawasan. Bagi Iran, rezim Suriah telah menjadi suatu sekutu semenjak Perang Teluk Pertama–konflik berdarah-darah dan mematikan antara rezim Iran dan Saddam Hussein di Irak.[4] Perang itu telah membunuh dan menciderai serta membawa kehancuran besar bagi kedua negeri, dengan bantuan negara-negara imperialis dunia. Iran juga memiliki kepentingan dalam menjaga zona pengaruh dari Irak ke Suriah ke Lebanon. Jadi Iran masuk secara militer di pihak rezim dari awal, dan disusul, dengan pelan-pelan awalnya, lewat Hizbullah dari tahun 2012. Tahun 2013 pimpinan Hizbullah, Hasran Nasrallah menyatakan mereka mengintervensi di Suriah untuk melindungi tempat-tempat suci Syiah Islam melawan kaum Takfiri[5]. Sehingga poros Iran bagian dari konflik Suriah sejak awal.

Rivalitas ini mengobarkan aspek sektarian dari konflik. Satu sisi, Arab Saudi membantu Islamis Ekstremis, dan di sisi lain, Iran mengintervensi dengan slogan-slogan relijiusnya sendiri. Pihak-pihak ini mengaduk suatu konflik relijius yang sebelumnya tidak ada di Revolusi Suriah.

Bagi Turki taruhannya agak berbeda. Persoalan Kurdi telah lama menjadi mimpi buruk negara Turki sejak berdiri. Populasi terbesar Kurdi di dunia ada dalam perbatasan Turki. Revolusi Suriah memungkinkan pembebasan Kurdi di Suriah dan mengangkat isu-isu pembebasan nasional Kurdi.

Revolusi Suriah dan aspek militer dari konflik telah memungkinkan PYD Kurdi mengontrol suatu area luas yang disebut Rojava—Kurdistan Suriah, yang terdiri dari tiga daerah: Jazira, Kobane, dan Afrin[6]. Bagaimanapun juga, terdapat area yang kosong antara Kobane dan Afrin. Kapasitas pasukan-pasukan Kurdi dan para sekutu Arabnya untuk menghubungkan dua daerah tersebut akan menciptakan suatu teritori otonom efektif dan berkelanjutan secara de facto di Suriah utara. Jadi Turki mengintervensi untuk mencegah tersatukannya area Jazira dan Kobane di timur dan Afrin di barat. Turki punya setidaknya dua tujuan—menghancurkan aspirasi otonomi Kurdi di Suriah, yang mengandung konsekuensi-konsekuensi di dalam Turki, serta untuk menjamin bahwa masa depan Suriah tidak akan ditentukan tanpa partisipasi aktif Turki.

Akhirnya, Israel jangan dilupakan. Dari awal tahun 2011, Ehud Barak membuat pernyataan yang menggegerkan[7]. Ia mengatakan bahwa Suriah tidak boleh menempuh jalan Irak. Rezim harus diperbaiki namun tentara Suriah dan Partai Baath harus tetap utuh[8]. Israel ingin Suriah terlemahkan secara ekonomi dan militer namun tanpa jatuhnya rezim yang akan membuka perang sipil tanpa kendali yang mengancam Israel dan seluruh stabilitas imperialis di kawasan.

Apa Watak Rezim Assad

Secara historis, tentara yang mengambil alih kekuasaan di Suriah dengan Partai Baath dan apa yang bisa kita sebut kelas borjuis kecil atau kelas menengah. Tony Cliff menjelaskan bagaimana, dalam situasi dimana proletariat dan borjuasi sama-sama lemah, kelas menengah bisa memainkan suatu peran kunci, dalam suatu jenis revolusi yang terbalik.[9]

Saat tentara dan Partai Baath merebut kekuasaan, mereka merepresentasikan kelas menengah di hadapan suatu borjuasi yang telah terlemahkan, khususnya akibat nasionalisasi-nasionalisasi dan reforma-reforma agraria rezim Nasser selama persatuan Mesir dan Suriah antara tahun 1958-1961.[10] Dekade 1950an menyaksikan pertumbuhan kaum komunis di Suriah. Kaum kiri kuat dan tantangan-tantangan dari kelas-kelas kerakyatan menjadi berbahaya baik bagi borjuasi maupun rezim, sehingga borjuasi memilik persatuan dengan Mesir demi berupaya untuk memotong pergolakan radikal ini. Ini adalah suatu periode instabilitas politik yang panjang di Suriah, dengan adanya satu atau dua kudeta hampir setiap tahun sejak 1949 hingga seterusnya.

Rezim Baath menjalankan serangkaian reforma—khususnya di bawah sayap radikal partai, yang berkuasa dari tahun 1966 sampai 1970—yang relatif positif dan paling radikal di kawasan. Ini secara lebih lanjut memperlemah borjuasi Suriah, sampai pada titik kolaps.

Hafez Al-Assad mengambil alih kekuasaan lewat suatu kudeta tahun 1970 dan berkuasa selama 30 tahun. Awalnya ia memainkan peran yang relatif Bonapartis.[11] Sembari formasi-formasi sosial lama dihancurkan, negara membantu menciptakan formasi-formasi sosial baru. Rezim Suriah membantu menempa borjuasi Suriah “lama tapi baru” yang terkait erat dengan negara. Birokrat-birokrat papan atas bergabung melalui pernikahan atau ikatan-ikatan bisnis dengan borjuasi tradisional yang lama. Serta melalui korupsi, birokrat-birokrat ini menjadi sangat kaya dan berupaya menanamkan kembali kekayaannya ke dalam ekonomi. Jadi, sedikit demi sedikit, rezim mulai mempreteli monopoli ekonomi negara. Terutama dengan Dekrit Nomer 10 tahun 1991, yang membuka ekonomi bagi kapital swasta. Birokrat-birokrat korup yang sama ditransformasikan melalui hubungan-hubungan mereka dengan borjuasi lama, yang tidak lagi punya kapasitas untuk berinvestasi. Mereka menyuntikkan kekayaannya ke dalam ekonomi tersier khususnya—konstruksi, pabrik-pabrik, pariwisata—dan dari tahun 1990an menjadi borjuasi baru yang secara organis terhubung ke rezim Assad.

Saat yang bersamaan Hafez Al-Assad yang mengawasi suatu pembagian jabatan-jabatan aparatus negara yang tidak dibicarakan namun bersifat keras di atas garis-garis sektarian dan atau regional. Misalnya, tiap pemerintahannya harus menyertakan dua Druze, seorang perdana menteri Sunni dan mungkin juga menteri pertahanan Sunni, serta lain sebagainya[12]. Ia mampu mengintegrasikan semua hirarki keagamaan ke dalam negara. Meskipun seorang ateis, ia menjamin menampakkan diri sholat di masjid-masjid dengan cara Sunni, ambil bagian dalam festival Kristen, bahkan juga Yahudi.  Buah kebijakan negara tampak di Revolusi Suriah dimana para petinggi hirarki setiap agama berpihak kepada rezim.

Represi mencegah perkembangan aktivitas politik, serikat buruh, maupun LSM yang independen dari rezim. Rezim memenjarakan puluhan ribu lawan politik dan aktivis serikat buruh dalam kurun waktu yang sangat lama. Salah satu keponakan saya dipenjara selama 25 tahun—ia masuk umur 33 dan keluar umur 58. Orang-orang dibuat membusuk di penjara selama jangka waktu yang lama. Rezim memiliki cengkeraman erat ke masyarakat, dan ini adalah suatu generasi yang memiliki keberanian untuk membangkan dan melawannya.

Saat Bashar Al-Assad mewarisi kekuasaan dari ayahnya di tahun 2000, sekitar 11 persen populasi di bawah garis kemiskinan. Setelah sepuluh tahun kekuasaannya angka ini meningkat jadi 33 persen. Artinya Bashar Al-Assad menerapkan kebijakan-kebijakan neoliberal paling parah, paling radikal, dan paling mengerikan di seluruh penjuru kawasan—lebih parah daripada Moroko, lebih parah daripada Mesir, lebih parah daripada Yordania. Ia berpikir bahwa tidak akan ada oposisi, tidak akan ada perlawanan. Ia berpikir bahwa ia mewarisi masyarakat yang telah digilas. Jadi ia membiarkan dirinya menerapkan kebijakan-kebijakan sosial yang dalam sepuluh tahun telah membuat sekian proporsi populasi hanya berpendapatan sekitar dua dolar sehari mencapai 50 persen jumlahnya.

Bagaimana Revolusi Mengakibatkan Berubahnya Watak Rezim?

Perang, intervensi-intevensi, revolusi, pergeseran demografi, semuanya telah mengubah watak rezim. Sekarang rezim tidak lebih dari laskar suatu keluarga dan sekutu-sekutunya—suatu faksi yang membentuk poros borjuasi Suriah—laskar suatu klan yang memerangi rakyat.

Benarkah untuk Mengatakan, sebagaimana Dikemukakan Beberapa Pihak, bahwa Revolusi telah Ditelan Konflik Sektarian?

Itu cuma benar secara parsial. Ya, di satu sisi, ada kelompok-kelompok Islamis yang merupakan sektarian reaksioner. Sedangkan di sisi lain, rezim juga menggunakan laskar Syiah sektarian seperti Hizbullah atau laskar Afghanistan dan Iran. Ini adalah kenyataan. Namun mereka terdiri dari kemungkinan sekitar 100.000 atau 200.000 orang. Apa artinya bagi rakyat Suriah secara keseluruhan? Akan kuceritakan padamu pertama-tama pengalamanku.

Saya sudah ke Suriah beberapa kali selama tahun-tahun belakangan ini. Saya hampir tidak mendapatkan permusuhan sektarian atau yang berdasarkan agama. Sebagai tambahan kita punya sejumlah kawan yang keluar dari Suriah dalam beberapa bulan belakangan. Untuk melakukan itu mereka harus melintasi zona-zona yang dikuasai kaum Islamis—dan beberapa kawan ini dari minoritas agama yang tidak disetujui Islamis Sunni. Namun mereka tidak diganggu. Warga disana mengatakan “Ahlan wa sahlan” atau “Engkau adalah saudaraku.” Salah satu kawan ini menghabiskan waktu dua bulan berada di zona ini sebelum dia ke Turki.

Kenyataannya adalah kalau ini memang adalah konflik sektarian maka seharusnya kita telah menyaksikan pembantaian-pembantaian sektarian tanpa henti. Ada beberapa pembantaian sektarian, yang pertama kali ditorehkan oleh rezim dulu lalu kemudian dilakukan oleh kelompok-kelompok Islamis. Namun mereka bersifat sporadis dan terbatas skalanya. Sejauh ini di konflik Suriah ada 600.000 kematian. Jumlah yang terbunuh dalam konflik sektarian mungkin 1.100 jiwa. Kita belum menyaksikan siapapun membantai satu desa Alawi secara keseluruhan, ataupun menggorok ribuan leher orang, kita belum menyaksikan darah mengalir yang menyiratkan cara tersebut[13]. Kita telah melihat insiden-insiden. Namun pada umumnya bukan itu dan rakyat tidak serta-merta secara spontan menjadi sektarian. Dalam kawasan yang dikuasai rezim terdapat orang-orang yang mengungsi dari seluruh penjuru Suriah. Lalu di Latakia saja mereka berjumlah satu juta orang serta setengahnya—Sunni dan Non-Sunni tinggal di antara Alawi di masa dimana lusinan tentara Alawi tewas. Namun apakah kalian pernah dengar orang-orang Sunni itu dibantai? Tidak, karena belum terjadi. Dalam masa populasi biasa, rakyat belum berubah menjadi monster-monster sektarian.

Mengatakan ini telah menjadi suatu konflik keagamaan dan tidak ada yang bisa kita lakukan adalah suatu alasan tipikal untuk lepas dari tanggung jawab atas solidaritas terhadap perjuangan rakyat Suriah. Tidak, ada suatu aspek sektarian atas apa yang terjadi serta ada aspek-aspek lainnya pula, namun tendensi yang menggarisbawahi, yang menjadi basis bagi segalanya adalah, adanya revolusi kerakyatan—revolusi yang memiliki naik turunnya, titik balik-titik baliknya, mengalami intervensi imperialis dan perang bumi hangus oleh rezim, revolusi yang menyaksikan kemunduran gerakan kerakyatan, namun bukan revolusi yang bisa kita bilang telah tamat.

Apa yang Sekarang Terjadi dengan kekuatan-kekuatan Revolusi dan Kelompok-kelompok Bersenjata yang Berbeda?

Pertama, mari kita lihat Free Syrian Army (FSA) yang sering kita dengar. Banyak pengamat membuat kekeliruan saat mereka bicara tentang FSA seakan-akan ini adalah tentara terorganisir dan punya suatu struktur komando. Itu sebenarnya adalah suatu label generik yang meliputi fenomena beraneka ragam. Demi memahami apa itu FSA kita harus melihat balik ke bagaimana ia berawal. Dengan militerisasi perlawanan, sejak paruh kedua 2011 dan setelahnya, kami mulai mengamati dua fenomena terjadi.

Satu sisi beberapa orang yang berdemonstrasi dan ditembaki seperti burung oleh tentara-tentara rezim, memutuskan mengangkat senjata dan melindungi diri. Mereka adalah para individu yang membawa pistol untuk melindungi demonstrasi-demonstrasi. Saat yang bersamaan terdapat sejumlah desersi yang semakin tinggi dari tentara. Akhir 2011 dan khususnya 2012 terdapat 20.000 hingga 30.000 tentara yang melakukan desersi dan membawa persenjataan bersama mereka. Dari fenomena inilah tercipta FSA.

Ini lebih mirip dengan apa yang kami sebut koordinasi-koordinasi. Tiap lingkungan, tiap desa, tiap dusun, rakyat mengorganisir diri dan menjalin koordinasi-koordinasi yang menyelenggarakan demonstrasi-demonstrasi, memutuskan rutenya, menyepakati yel-yelnya, merencanakan rute pelarian kalau-kalau pasukan-pasukan rezim tiba serta mengorganisir perawatan dan evakuasi bagi mereka yang terluka. Ini merupakan suatu fenomena lokal, dan itu adalah kelemahan mereka sekaligus keunggulannya. Kelemahan karena mereka selalu kekurangan suatu jaringan yang bisa berkoordinasi di tingkatan nasional. Namun hal itu juga membantu mereka bertahan lebih lama—karena sangat sulit bagi rezim untuk menghancurkan sesuatu yang terlokalisir dan jamak.

FSA, serupa dengan itu, sebenarnya adalah suatu kombinasi para desertir dan rakyat jelata yang mengangkat senjata di daerah-daerah lokal mereka. Terdapat sedikit koordinasi di antara mereka. Kekuatan-kekuatan regional juga mendorong membangun hal serupa, namun ini adalah fenomena riil dari rakyat. Sekali lagi, lokalisme mereka merupakan kelemahan sekaligus keunggulan mereka. Bahkan hari ini di Suriah masih terdapat 3.000 “kelompok bersenjata” selain organisasi-organisasi Islamis besar—mereka ini benar-benar yang paling baik terorganisir, namun fenomena di puncaknya jauh lebih luas.

Siapa di Al-Azabadani yang harus dievakuasi?[14] Apakah kalian mendengar tentang mereka? Mereka adalah rakyat jelata di pedesaan sekitar Damascus; adalah FSA; adalah kelompok-kelompok lokal di sana sini yang membela diri saat mereka dilemparkan ke tangan-tangan Jabhat Al-Nusra. Rezim memainkan suatu peran cerdik dalam melempar mereka ke Al-Qaeda—rezim mengatakan hanya ada Al-Qaeda dan ISIS yang memusuhinya, dan Al-Qaeda harus dihancurkan.

Fenomena perlawanan kerakyatan sebenarnya tidak mendapatkan solidaritas dari negara-negara di kawasan karena rakyat bersenjata adalah suatu hal berbahaya bagi mereka. Mereka lebih memilih membantu beberapa kelompok, yang mereka identifikasi secara cermat dan mereka gaji.

Di samping ini ada pasukan-pasukan Kurdi—PYD dan Unit-unit Perlindungan Rakyat nya yang selama puluhan tahun memiliki pengalaman gerilya di Turki dan di pegunungan. Mereka lah satu-satunya partai Kurdi dengan kekuatan militer nya sendiri. Mundurnya rezim dari beberapa area di Suriah Utara di tahun 2012, dimanfaatkan pasukan-pasukan ini—yang terhubung dengan PKK—untuk merebutnya seketika dan mengonsolidasikan keberadaan militernya. Ini terjadi dari Juli 2012 dan disusul suatu dinamika swapemerintahan dan pembangunan serta pengembangan Unit-unit Perlindungan Perempuan. Tahun lalu mereka beraliansi dengan beberapa batalyon FSA untuk membentuk Democratic Syria Force atau Pasukan Suriah Demokratis, suatu pasukan Arab Kurdi atau Kurdi Arab di utara Suriah. Kami berada dalam suatu dialog bersahabat dengan bagian dari pengelompokan ini pada khususnya, suatu aliansi demokratis nasional yang menyertakan Assyria, Turki, dan Arab, dengan keberadaannya di utara dan barat Aleppo.[15]

Setelah itu ada kelompok-kelompok Islamis paling kuat. Jika kita mengesampingkan ISIS sebentar—karena bagi saya itu adalah suatu fenomena berbeda—terdapat dua kekuatan Islamis utama. Satu ada Ahrar Al-Sham, suatu laskar Islamis yang ingin mendirikan suatu rezim Jihadis Salafis, namun dengan perbedaan ini: mereka tidak ingin langsung segera mendirikan negara Islam secara seketika namun suatu saat di masa depan dan sementara itu menyerukan umat untuk menuruti panggilan agama. Lalu ada Jabhat Fateh Al-Sham, dulunya bernama Al-Nusra. Mereka adalah kekuatan terbesar dan memiliki kekuatan militer penting di utara Aleppo, di Aleppo itu sendiri dan di sekitar Idlib. Kemudian di Damaskus dan di sekitarnya terdapat Jaysh Al-Islam, suatu laskar yang merupakan semacam penghambaannya keluarga Zahran Alloush, yang dibunuh Rusia tahun 2015.

Apa yang Terjadi di Selatan Sekitar Daraa?

Daerah Daraa punya kekhusan ini—geografinya adalah jebakan tikus. Bagi kelompok-kelompok disana, mereka bisa bergerak dua arah. Kalau rezim Yordania membuka perbatasan, mereka bisa bernafas; bila menutup perbatasan, mereka terjepit di antara rezim Suriah dan Yordania. Geografi ini membuat mereka sangat sensitif terhadap kebijakan-kebijakan perbatasan rezim Yordania.

Banyak batalyon FSA mendapati diri terpaksa mencari solidaritas, munisi, persenjataan, dan perawatan medis bagi mereka yang terluka, sehingga menjadi tergantung pada Yordania. Saat ini Yordania tidak mau perang dan mereka menutup keran tersebut. Jadi mereka tidak bisa berbuat hal lain atau mereka akan hancur.

Apakah Komite-komite Kerakyatan yang Terbentuk Selama Revolusi Masih Eksis? Apa yang Mereka Lakukan?

Hal penting yang mencirikan revolusi Suriah adalah kemampuannya menciptakan—atau massa kerakyatan yang mampu menciptakan—organ-organ swa-organisasi. Ini adalah koordinasi-koordinasi lokal yang sebelumnya telah kita bahas, dan sejak 2012 setelahnya, apa yang disebut dewan-dewan sipil atau dewan-dewan lokal, organ-organ swapemerintahan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Tahun 2011, 2012, dan sebagian tahun 2013, ini adalah fenomena sangat besar. Dimanapun tidak ada rezim—dan bahkan di beberapa tempat yang ada rezim—terdapat dua organ swa-organisasi dan swa-pemerintahan.

Bagaimanapun juga 2013 membawa di satu sisi ISIS dan merangseknya kelompok-kelompok Islamis sektarian serta di sisi lain kekerasan tak tertandingi dari rezim. Inilah titik dimana rezim mulai menerapkan kebiadaban perang bumi hangus, menghancurkan infrastruktur dan gedung-gedung. Ini adalah saat gelombang pengungsi Suriah mulai tumbuh, dari 2013 dan setelahnya. Ini juga masa dimana dewan-dewan dan koordinas-koordinasi ini melemah, orang-orang yang menjalankannya tewas, tersingkir, atau mengungsi. Inilah mengapa kita bicara tentang merangseknya kontra-revolusi sejak 2013 dan dengannya kemunduran gerakan kerakyatan.

Namun kemunduran tidak berarti menghilang.

Hari ini, baru sejam lalu, ada demonstrasi kerakyatan di kota Zakieh dekat Damaskus. Hari ini masih ada beberapa koordinasi meskipun melemah. Gerakan kerakyatan belum mati. Setiap saat senjata api berhenti menyalak maka massa rakyat bangkit kembali; mereka terlahir kembali. Kita melihat ini meskipun ada kehancuran, perang, pembantaian, penyingkiran, dan eksodus.

Itu masih ada hari ini namun sangat lemah. Kami ambil bagian dalam beberapa komite koordinasi dalam situasi sangat sulit dan masih terdapat beberapa dewan lokal yang masih aktif. Meskipun organisasi-organisasi gerakan sedang terpukul mundur dan sangat terlemahkan namun mereka masih bertahan.

Pertanyaan besarnya: Apa yang Harus Dikerjakan? Apa Strategi Kiri Revolusioner di Suriah?

Perspektif jangka pendek organisasi sosialis revolusioner kami di Suriah, yaitu Revolutionary Left Current, mencakup beberapa tugas. Tentu saja, kami butuh bertahan—untuk mengawetkan kekuatan yang kami miliki dan merekrut aktivis-aktivis baru. Kedua, kami perlu ambil bagian dalam semua perjuangan yang terjadi, dalam koorinasi-koordinasi dan dewan-dewan yang masih bertahan. Dimanapun ada perjuangan, apapun kondisi di dalamnya, kami harus ambil bagian. Betapapun sulit kondisi-kondisinya, tugas kami adalah berpartisipasi dalam perjuangan-perjuangan sambil membangun partai. Koran kami diproduksi di Suriah. Saat engkau melihatnya, ada beberapa kesalahan cetak, salah eja, dan kosakata yang buruk—lantas apa? Apa yang penting adalah bahwa para aktivis disanalah yang mencetak dan mendistribusikannya, bukan kami yang ada di pengasingan. Ini adalah suatu pengalaman pembelajaran, di kondisi-kondisi yang jarang ada listrik[16]

Itu setengahnya. Setengah lainnya adalah kami perlu membangun suatu front persatuan, menghimpun semua kekuatan kiri dan semua kekuatan demokratis dan revolusioner di Suriah. Ini bisa menjadi kutub tarik alternatif yang berbeda dari oposisi borjuis, rezim dan para sekutunya, serta para ekstremis Islamis. Kami telah membuat beberapa langkah di arah tersebut terlepas dari kesulitan-kesulitan yang ada. Kami telah mengumumkan suatu kesepakatan kerjasama dengan Aliansi Demokratis, yang melibatkan beberapa pihak termasuk kaum Komunis lama. Kita butuh suatu front demikian untuk membentuk apa yang sedang terjadi hari ini dan dalam jangka yang lebih panjang. Bagi kami, penting untuk bersiap atas periode yang akan datang. Kondisi begini tidak bertahan selamanya. Akan datang momen dimana perang dan pengeboman akan berhenti, dan saat itu terjadi kami akan harus sudah siap. Kami akan membutuhkan kekuatan untuk menanamkan akar di populasi Suriah, di kelas-kelas kerakyatan. Kami akan butuh bersama mereka untuk menjamin bahwa nasib Suriah tidaklah ditentukan oleh kekuatan-kekuatan regional ataupun imperialis maupun oleh borjuasi Suriah.

Membangun perimbangan kekuatan tersebut dimulai hari ini. Jadi inilah apa yang kami sebut “tiga kaki” dimana kerja kami berdiri—berada di perjuangan massa, membangun partai, dan membentuk suatu front persatuan kekuatan-kekuatan demokratis. Tentu saja, kami juga menyerukan slogan-slogan kami yang berbunyi: “Bukan Washington, bukan Moskow, bukan Riyadh, bukan Ankara, dan bukan juga Teheran”. Ini untuk mengedukasi rakyat, untuk menggarisbawahi bahwa solusi tidak datang dari negara-negara tersebut namun dari rakyat Suriah sendiri yang harus menentukan nasib mereka sendiri. Serta ini untuk menekan oposisi borjuis yang sedang bernegosiasi dengan rezim, agar mereka tidak menerima keberlanjutan rezim yang hanya ditambal sulam di sana-sini serta meminta jabatan untuk mereka sendiri.

Kita harus memperdalam perjuangan massa Suriah untuk mencapai perubahan politis, sosial, dan demokratis paling mendalam. Itu akan menjadi suatu perjuangan yang sangat panjang jadi kita butuh membangun kekuatan-kekuatan kita untuk terus berjuang dalam jangka panjang ke depan.

Apakah Engkau Pesimis atau Optimis?

Saya sangat optimis, berbeda dengan sentimen umum. Pertempuran memang keras. Namun lihat, revolusi kami sudah berlangsung selama enam tahun. Pelajaran-pelajaran apa yang diberikan enam tahun itu?

Pertama, kita bisa berontak, bahwasanya rezim tidak bisa begitu saja menggilas kehendak rakyat, tak peduli apapun yang dilemparkan padanya dan tak peduli sekutu apapun yang bisa didapatkannya. Ada sesuatu yang hancur dalam rezim. Ada sesuatu yang berakhir. Bila Amerika dan Rusia serta negara-negara lainnya memaksakan suatu situasi dimana Bashar Al-Assad serta klannya untuk terus berkuasa, mereka tidak akan pernah bisa berkuasa seperti sebelumnya.

Rezim bertahan dengan suatu lingkungan “loyalis”, yang terdiri dari lebih dari sepuluh juta orang, hampir setengah populasi, berada di bawah kekuasaannya. Orang-orang itu menyimpan kebencian, kebencian yang riil terhadap rezim tersebut. Kehidupan mereka sehari-hari adalah suatu kemartiran. Terdapat demonstrasi-demonstrasi besar menentang rezim dan keluarga Assad. Terdapat ledakan-ledakan besar di depan, dan disinilah yang akan terjadi. Dimana rezim berpikir disana adalah tempat paling stabil maka disanalah sebenarnya tempat yang paling tidak stabil. Hari dimana seseorang yang menguasai rakyat Suriah dan memerintah rakyat untuk tutup mulut serta berbuat sewenang-wenang akan berakhir.

Lalu ada pelajaran pengalaman. Dulu, bila engka adalah bagian dari kaum sosialis revolusioner “lama” dan ingin bicara tentang sosialisme, engkau bisa mengatakan bahwa kita menginginkan negara buruh berbasiskan dewan-dewan buruh dan dewan-dewan tani serta hal lain semacamnya. Orang-orang bisa mengajukan pertanyaan, lantas engkau bisa menjawab, hal itu terjadi setidaknya, untuk beberapa saat di Jerman, di Hungaria, dan paling penting: di Rusia. Namun sekarang semua itu jadi jauh lebih sederhana. Swa-organisasi adalah sesuatu yang dipahami rakyat karena koordinasi-koordinasi. Rakyat Suriah, tanpa membaca Lenin atau Marx atau Trotsky, telah melakukannya dalam perjuangan-perjuangan mereka. Jadi saat kita bicara tentang dewan-dewan buruh dan dewan-dewan tani, mereka paham, karena mereka telah melakukannya; itu adalah pengalaman hidup mereka.

Pelajaran ketiga menyangkut kekuatan-kekuatan Islamis. Dulu mereka selalu berkata Islam adalah solusinya. Hipotesis itu kini pupus di Suriah. Rakyat telah melihat sendiri bagaimana saat kekuatan-kekuatan Islamis relijius menerapkan model pemerintahannya. Argumen itu telah diuji dan gagal.

Apa yang tersisa adalah sosialisme. Sekarang terserah kita. Kami yakin sosialisme adalah satu-satunya solusi, solusi yang paling humanis dan paling egaliter, bagi massa rakyat Suriah dan bagi semua orang. Perjuangan terus berlanjut.

Ghayath naisse adalah seorang anggota dan salah satu pimpinan Revolutionary Left Current, suatu organisasi sosialis revolusioner Suriah. Simon Assaf adlah anggota Socialist Workers Party dan Al-Muntada Al-Ishtiraki (Forum Sosialis) Lebanon.

 

[1] Terimakasih pada Dave Sewell atas kerja transkirpsinya terhadap wawancara ini.

[2] Jabhat Al-Nusra adalah organisasi Al-Qaeda yang kemudian memisahkan diri dari Al-Qaeda dan menamai diri Jabhat Fateh Al-Sham Al-Islamiyya. Ahrar Al-Sham adalah laskar Islamis lainnya, yang saat ini beraliansi dengan Jabhat Fateh Al-Sham.

[3] Hizbullah adalah laskar Islamis Syiah sekaligus partai politik berbasis di Lebanon

[4] Perang Iran-Irak pada 1980 sampai 1988.

[5] Takfiri adalah istilah negatif dalam bahasa Arab atas umat Muslim yang mengafirkan lainnya. Ini sering dipakai sebagai cap untuk menyebut kelompok-kelompok seperti ISIS.

[6] PYD (Partiya Yekîtiya Demokrat, Democratic Union Party atau Partai Serikat Demokratis) adlah partai Kurdi di Suriah utara yang beraliansi dengan PKK (Partiya Karkerên Kurdistanê, Kurdistan Workers’ Party atau Partai Buruh Kurdistan), organisasi utama Kurdi di Turki.

[7] Barak, mantan Perdana Menteri Israel, yang menjadi Menteri Pertahanan dari tahun 2007-2013.

[8] Partai Baath, yang mana Presiden Bashar Al-Ashad adalah anggotanya, telah menjadi partai penguasa di Suriah sejak kudeta 1963 dan dibahas lebih detail di bawah.

[9] Ini adalah referensi ke teori Tony Cliff tentang Revolusi Permanen yang menyimpang, dibahas rinci di pamflet berjudul sama serta tersedia secara online disini www.marxists.org/archive/cliff/works/1963/xx/permrev.htm

[10] Anne Alexander menulis tentang pemimpin Mesir Gamal Abdel Nasser di edisi 112 Jurnal ini: http://isj.org.uk/suez-and-the-high-tide-of-arab-nationalism

[11] Istilah “Bonapartis” berasal dari analisis Karl marx atas rezim Louis-Napoléon Bonaparte di Prancis, yang berhasil mendirikan diri dalam kudeta saat kelas-kelas yang bertentangan lewat revolusi-revolusi 1848 melemah.

[12] Druze adalah minoritas agama yang utamanya terdapat di Suriah, Lebanon, dan Israel.

[13] Alawi adalah anggota cabang Syiah Islam, terdapat utamanya di Suriah dan Turki, yang mana Assad merupakan anggotanya.

[14] Al-Zabadani adalah kota kecil di perbatasan Lebanon

[15] Assyirian dan Turki adalah kelompok minoritas di populasi Suriah

[16] RLC, didirikan di Suriah pada Oktober 2011, menerbitkan bulanan di Suriah berjudul Frontline.

 

Naskah diambil dari Jurnal International Socialist, Issue: 153. “Interview: Lessons of the Syrian Revolution”, Dapat diakses melalui http://isj.org.uk/interview-lessons-of-the-syrian-revolution/

Diterjemahkan oleh Leon Kastayudha, Kader KPO PRP.

 1,705 total views,  2 views today

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment