Panggung Rakyat “Refleksi 21 Mei 1998 : Menolak Politik Orde Baru”

Orde Baru SoehartoKamis 21 Mei 2015 berbagai kelompok Pro-Demokrasi menyelenggarakan panggung rakyat di titik Nol Km Yogyakarta. Acara ini menampilkan orasi dari berbagai macam organisasi, musik, teatrikal, pembacaan puisi serta ekspresi seni lainnya.

Acara dimulai dengan pembacaan puisi anggota LPM Ekspresi UNY. Puisi yang dibacakan adalah karya Wiji Thukul “Apa Guna” serta karya Adam Wispi berjudul “Matinya Seorang Petani”. Pembacaan puisi juga dilakukan oleh
Diikuti oleh teatrikal yang menggambarkan bahwa perlawanan tidak dapat dihentikan oleh rejim. Penculikan pembunuhan, penyiksaan dan penindasan dapat datang bertubi-tubi namun rakyat tidak akan takut terhadapnya.

Musisi bernama Babe Yono membawakan sebuah lagu yang indah tentang kondisi Indonesia. Dimana hutang banyak sekali, pelanggaran HAM masih dalam kegelapan, Kasus Marsinah tidak ada penyelesaiannya. Sementara para koruptor bersenang-senang dan rakyat yang menanggungnya. Lagu kedua yang dinyanyikan adalah lagu Iwan Fals berjudul Palapa. Pertunjukan musik juga ditampilkan oleh Mahardhika, Pamer Nol KM, Serikat Mahasiswa Indonesia, Front Mahasiswa Progresif Revolusioner, LMND dan juga musisi Yab Sarpote.

Berbagai organisasi juga membawakan orasinya masing-masing. Dari CAKRAWALA menekankan terpecahbelahnya gerakan serta bahwa KMP dan KIH sama saja, yang dibutuhkan adalah sebuah partai alternatif. Salah satu aktivis 98 bernama Gianto menyatakan bahwa yang dibutuhkan adalah massa rakyat yang sadar untuk memperjuangkan demokrasi rakyat dan kekuasaan rakyat. FPBI menegaskan bahwa sumber daya alam Indonesia dirampok oleh para pemilik modal sementara partai politik tidak berpihak kepada rakyat. Yang dibutuhkan adalah pembangunan sebuah partai rakyat dan persatuan rakyat yang sebesar-besarnya.

Serikat Mahasiswa Indonesia menyatakan bahwa kita membutuhkan kepemimpinan klas buruh dan mahasiswa harus turun ke basis-basis rakyat untuk melakukan perlawanan. Dari KPO PRP menyatakan bahwa reformasi dan terbukanya ruang demokrasi adalah hasil dari perjuangan rakyat. Bahwa dengan adanya demokrasi maka ada ruang untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan rakyat. Bahwa demokrasi berarti kebebasan berideologi, berkeyakinan, berpendapat, berorganisasi, orientasi seksual dan setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri.

Dari PEMBEBASAN menyatakan bahwa demokrasi yang ada sekarang masih diracuni oleh Orde Baru. Rakyat butuh membangun organisasi politiknya sendiri yang anti berkolaborasi dengan borjuis. Sementara itu PPR menyatakan bahwa rejim Soeharto berdiri diatas pembantaian 3 juta orang. Solusi bagi rakyat Indonesia bukanlah Jokowi ataupun Prabowo, solusinya adalah sosialisme.

Acara diakhiri dengan pembacaan statemen bersama dengan tuntutan :

  1. Kebebasan berpendapat, berkumpul, berorganisasi, berideologi adalah hak dasar rakyat yang harus dihormati dan tidak direpresi oleh milisi sipil maupun oleh negara.
  2. Lawan segala sisa politik Orde Baru yang masih bercokol di negara ini
  3. Tegakkan demokrasi yang sejati, demokrasi yang melibatkan rakyat sehingga tercipta demokrasi partisipatoris.
  4. Tuntaskan kasus-kasus pelanggaran demokrasi dan Hak Azazi Manusia (HAM)
  5. Negara harus melindungi dan menegakkan demokrasi demi mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.
  6. Tolak dan lawan segala bentuk represifitas yang dilakukan oleh aparat militer terhadap rakyat kecil yang memperjuangkan hak-haknya, seperti yang terjadi dalam kasus petani Rembang, petani Kulonprogo, aksi dan mogok buruh,mahasiswa, dan kegiatan rakyat lainnya
  7. Selamatkan demokrasi dari bahaya laten Orde Baru!

Kemudian SEBUMI tampil sebagai musik penutup. Acara pun berakhir sekitar pukul 11 malam.

1,445 total views, 1 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment