Arah Juang

Arah Juang diterbitkan oleh Perserikatan Sosialis. Perserikatan Sosialis adalah organisasi politik sosialis. Perjuangan Perserikatan Sosialis bertujuan untuk menggulingkan tatanan kapitalisme secara revolusioner dan membangun tatanan sosialisme. Oleh karena itu, organisasi ini berdasarkan kepeloporan revolusioner.

Sejarah

Zegepraal/Kemenangan

Sneevliet dan Trotsky

Terjemahan Surat Darna Koesoema kepada Henk Sneevliet:

Kepada

Yang Terhormat

Sneevliet,

Saya khawatir pemerintah menguping Hetze dari pers borjuasi. Bagaimanapun juga saya percaya diri atas keyakinanmu padaku bahwa saya akan mampu menghindar dari bahaya yang menjelang.

Saya sudah terjemahkan seluruh isi esaimu. Dalam bagian notabene saya telah menjelaskan artikelmu dengan lebih terperinci, yaitu menyatakan saya mengenalmu, bahwa bukanlah niatanmu untuk membuat rakyat Jawa menyembunyikan diri dengan kekerasan bersenjata dari pemerintah saat ini sebagaimana yang ditekankan pers Hindia-Eropa.

Salam terbaik

Seorang Nasionalis Jawa

Darna Koesoema

Bandung

21 Maret 1917

Artikel:

Kemenangan – Terjemahan Zegepraal, Sneevliet di Koran Pertimbangan

Di bawah ini kita salin perkataan tuan H.S(neevliet) dalam s. k. De Indiër perihal perubahan aturan pemerintah di negeri Rusia berhubungan dengan gerakan rakyat di Hindia.

Sebagai naschrift (lampiran) kita akan tambahkan perkataan tuan H. S. agar pembaca bisa menimbang sendiri bagaimana perasaan kita tentang hal itu.

Marilah kita persilakan terlebih dahulu pada tuan H. S. pidato dengan perkataannya.

“Silakanlah pergi, kamu yang mendapat rahmat; pergilah, kamu barisan yang gelap, tetapi banyak sinarnya; majulah, kamu gelombang api! majulah, tumbangkanlah pilar-pilar kekuasaan yang mewah menjulang dari rezim penindas yang berkuasa, runtuhkanlah temboknya yang menutup mata dan telinga terhadap penderitaan rakyat. Mendakilah sampai ke puncak tertingginya, sebarkanlah ke segala penjuru benih-benih kemerdekaan yang berkobar-kobar itu; buat wajah semua penindas jadi putih pucat karena saking benci sekaligus takut, buat semua wajah kaum tertindas jadi merah karena malu dan berani.”

Sesudah mengutip pidato tersebut di atas, tuan H. S. melanjutkan tulisannya seperti berikut:

Demikianlah bunyi pidato dari Henriette Roland Holst, seorang pengarang perempuan bangsa Belanda dari golongan sosialisme revolusioner dalam karangannya tentang seseorang perempuan Rusia yang gagah berani bernama Katharina Brechshofsky. Ia adalah salah satu dari beberapa banyak lelaki dan perempuan yang telah mengorbankan jiwanya bagi revolusi di Rusia. Ia adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang menempuh perjuangan dan hidupnya yang penuh pengorbanan diakhiri di kuburan dingin Siberia[1], dimana tak secercah cahaya kegembiraan menghangatkan jantung hati mereka yang gagah berani ini.

Pejuang kemerdekaan dan keadilan manakah, yang melawan penindasan dan peraturan penguasa, tidak merasa seperti kita; siapakah di antara mereka yang tidak berapi-api hatinya, ketika membaca berita yang sebelumnya ditahan, tidak boleh diteruskan seperti demikian? Siapakah yang pipinya tidak bersemu karena membaca itu? Siapakah yang tidak turut bersenang hati, turut merasakan perasaan gembira yang sekarang ada di negeri Rusia yang besar dan luas, ialah rasa gembira karena kemenangan, kemenangan yang tidak berhingga?

Si payah dari Wangsa Romanov, sang bangsawan yang paling bertanggungjawab, yang mana tangannya berlumuran darahnya kaum revolusioner, sang Tsar Nicholas itu akhirnya terpaksa meletakan mahkotanya dan turun dari tahta kerajaannya, nyawanya diampuni-ia dibiarkan hidup, tentu saja karena kekerasan kaum revolusioner tidaklah lebih dari kekerasan demi membela cita-cita kemanusiaan yang tidak punya secuilpun perasaan untuk pembalasan dendam. Ia meletakan jabatan itu bagi ia sendiri dan anak lelakinya…serta menjadi pensiunan Tsar, yang mungkin kalau diberi cukup waktu dan kesempatan untuk mawas diri, apalagi kalau masih punya nurani, bisa merasakan penyesalan atas semua kejahatannya terdahulu yang didasari atas kepengecutannya-ketakutannya akan kehilangan kekuasaan, baik dari dosa-dosa yang ia perbuat sendiri secara langsung maupun lewat perantaraan gerombolan Ratusan Hitam[2]–sang pelaku dari sekian banyak pembunuhan terhadap umat Yahudi–yang Tsar sendiri dukung. Tahta kerajaan itu dipasrahkan pada seorang keturunan Romanov juga, tetapi jabatan inipun tidak lagi dipandang martabatnya dan ia menolak penerimaan kehormatan tersebut.

Semua lambang kekekaisaran dilucuti atau diturunkan dari gedung-gedung pemerintah. Suatu pemerintahan sementara telah didirikan oleh sayap kiri dari majelis Duma, yang mana tadinya hendak dibubarkan. Kaum buruh dari Petersburg ada yang paling depan dari barisan revolusioner. Kaum buruh yang diwajibmiliterkan dan dipaksa masuk tentara kini tidak mau lagi melayani rezim pemerintahan terdahulu, mereka tidak mau menembak kaum insurgen-kaum revolusioner, malahan mereka justru bergabung dengan kaum revolusioner dan menyerahkan seantero resimennya untuk digunakan bagi cita-cita suci Revolusi. Pasukan-pasukan itu berkeliling di kota-kota, sambil menyanyikan tentang sosialisme dan mengibarkan benderanya. Mereka bersorak-sorak. “Hidup republik sosialis.” Kaum terpelajar juga ikut bergabung dan bersepakat, bahwa segala kekuasaan yang gelap harus dilenyapkan, harus dilucuti semua pengaruhnya, dan tak ada perubahan yang diizinkan untuk melibatkan kaum-kaum reaksioner.

Pemerintahan baru berlaku dengan perjanjian akan ada pemilihan Duma baru serta melakukan hal-hal umum tentang pemilihan, seperti yang dahulu telah dilakukan dalam hari-hari yang tersohor, yaitu di bulan Oktober 1905 untuk Duma pertama.

Pemerintahan baru berlaku dan segera memberikan ampunan atau mencabut semua hukuman Tsar bagi semua kawan-kawan seperjuangan yang di penjara dan di pembuangan. Mereka yang berhasil bertahan hidup dari siksaan dan kejamnya pembuangan di Siberia, dengan segera mereka dipersilakan akan kembali lagi ke negeri Rusia yang baru, Rusia yang demokratis.

Lonceng kemerdekaan sekarang dibunyikan, suara kencangnya menggema dimana-mana, menyebarkan semangat juang. Sehingga dalam hati sanubari timbullah energi sekaligus militansi. Seantero dunia dilanda rasa berani yang suci, yang tidak bisa diukur dalamnya, tapi sangatlah terasa.

Telegram-telegram tentang kejadian dalam seantero minggu yang lalu, sekarang diteruskan oleh pemerintah Inggris; maka ada disebutkan, bahwa pemerintahan baru Rusia sangat bersetuju dengan kepentingan negara-negara Sekutu. Semua aduan yang memihak Jerman sudah dikeluarkan bersama-sama kaum reaksioner dari golongan pemerintah Rusia, yang sekarang diatur dengan lebih baik, akan menunjang kebutuhan negara-negara Sekutu dengan lebih hebat. Dalam masa kekalutan tidak terdengar suara anti perang dari pihak revolusioner. Benar tidaknya berita Reuter, itu sumbernya dari pihak Inggris, waktu yang akan bicara. Tetapi adalah satu hal yang telah pasti: karena revolusi di negeri Rusia, maka perihal demokrasi di benua Eropa menjadi sangat lebih baik. Revolusi Rusia adalah suatu perihal Kemanusiaan. Perang adalah hal yang sangat bertentangan dengan haluan Kemanusiaan. Maka telah pasti, bahwa revolusi Rusia akan segera menghentikan pembunuhan manusia yang besar ini, meskipun pemerintahan dari Rusia sekarang (kita akan menunggu bagaimana bentuk Duma yang berdiri dengan diberlakukan hak pilih umum) akan membantu lebih keras kebutuhan Serikat Entente. Sebab gema kemerdekaan itu akan terdengar juga di luar batas negeri Rusia. Dalam tahun 1905 suara revolusi yang dulu lantas terdengar dengan kesetujuan di Austria-Hongaria, di mana kaum buruh segera bergerak lebih hebat akan merebut hak pilih umum.

Juga dalam kerajaan Prusia, yang berhaluan reaksioner, gerakan revolusi di negeri Rusia telah terlihat pengaruhnya. Revolusi Rusia telah memberikan pengaruh digunakannya pemogokan massa politis sebagai senjata perjuangan demokratis menuntut hak pilih  secara demokratis bagi majelis Landdag dan kelompok kiri dari kaum demokratis-sosial Jerman akan melakukan propaganda menggunakan senjata yang lebih tajam dengan mempelajari pengalaman dari gerakan di Rusia. Waktu itu tidak ada perang. Waktu itu pemerintah Prusia dan Jerman sangat berkuasa tapi sekarang hal itu telah berbeda. Harapan dari pihak negara-negara Poros malah tidak berbuah sama sekali, suatu tindakan coba-coba hanya menghasilkan malapetaka, satu demi satu harus diabaikan. Sementara jumlah orang-orang yang terbunuh dan terluka senantiasa menjadi tambah banyak.

Beberapa kemenangan Jerman dalam peperangan ekonomi dari dekade sebelumnya telah hilang sudah. Rakyat Jerman maupun Austria akan mengalami kerugian-kerugian besar di akhir perang. Bagaimanakah rakyat itu akan menanggapi kabar menangnya revolusi Rusia? Apakah mereka masih akan ketakutan terhadap kekuasaan para kaisarnya, pejabatnya, dan kelas berpunyanya? Apakah sekali lagi mereka akan ditipu oleh para elit pemimpinnya yang melacur ke kelas penindas yang berkuasa? Ataukah mereka sudah akan habis kesabarannya setelah para pejuang sebangsanya disiksa dalam penjara seperti Liebknecht, Mehring, Luxemburg?[3]

Atau apakah berita kemenangan revolusi Rusia akan memberi kesadaran hati lantaran mereka akan melepaskan dirinya dari kekuasaan yang menganiaya mereka sendiri? Dan apakah mereka akan bangkit-melawan-menggulingkan tirani penguasa? Apakah buruh-buruh dari pabrik-pabrik alat perang bakal mogok, bersama-sama tidak mau bekerja, dan mereka berkumpul di jalan-jalan raya di kota Berlin, Hamburg, Essen, Weenen, Praag enz, akan menuntut supaya setiap pihak pemerintah yang kejam-jahat itu mundur, meletakkan jabatannya, dan akankah mereka mengibarkan bendera merah kebangkitan bersenjata?

Jika demikian, niscaya revolusi Rusia akan segera menghentikan peperangan dunia ini.

Apakah suara gembira dari gema itu akan terdengar hingga ke kota-kota dan desa-desa dari tanah ini?

Disini ada suatu bangsa yang hidup di tanah yang paling makmur.

Disini ada suatu bangsa, sengsara tidak banyak pengetahuannya.

Disini ada suatu bangsa, memiliki harta, yang sejak beberapa abad dimasukkan dalam peti besinya kaum pemerintah Eropa-Barat, terutama di tanah kecil itu, yang di sini melakukan politik memerintah.

Disini ada suatu bangsa, yang sabar dan memikul kesengsaraan.

Organisasi politik dilarang. . . .hak mengadakan pertemuan dijanjikan, tapi tidak pernah diberikan; kritik lewat pers diancam dengan hukuman berat oleh pengadilan, yang berlaku berat sebelah, tidak adil, karena itu adalah pengadilannya sekaligus hakimnya penindas yang berkuasa; upaya-upaya untuk bergerak dibalas rezim dengan kekerasan pembuangan.

Gerakan politik hanya diperbolehkan sebagai gerakan dari pihak yang memerintah, sebagai penghinaan bagi rakyat. . . . . seperti gerakan bagi kepentingan militer untuk membela “tanah air” yang dirampas oleh bangsa asing dari penduduknya.

Di sini ada suatu bangsa yang bersabar hati, sengsara, memikul kesengsaraan, ialah suatu bangsa dari beberapa juta jiwa setelah beberapa abad. . . .dan setelah Dipo Negoro tidak ada lagi seorang pemimpin yang membangun gerakan orang banyak yang akan merebut hak untuk mengatur nasibnya sendiri.

Hei, rakyat bangsa Jawa, revolusi Rusia memiliki pelajaran juga bagi kamu!

Rakyat Rusia juga bersabar hati dalam penindasan beberapa abad lamanya, mereka juga ada yang miskin dan sebagian besar buta aksara seperti kamu (tidak bisa membaca atau menulis). Mereka memenangkan kemenangan hanya melalui perjuangan terus-menerus melawan pemerintah kekerasan dan muslihat. Serikat buruh di Rusia juga dipimpin oleh penasihat pemerintah.

“Perjuangan kemerdekaan adalah perjuangan yang berat.” Hal itu tidak menolerir kelemahan, tidak boleh setengah-setengah, tidak boleh ada keraguan, tidak ada kebimbangan. Hal itu menuntut seluruh kepribadian dan keberanian, bahkan keberanian di atas semua keberanian! Apakah nada lonceng kegembiraan berdentang di hati kita sekarang? Akankah propaganda menabur benih bagi gerakan radikal ekonomi-politik rakyat Hindia yang melipatgandakan upaya mereka? Lalu terus bekerja tanpa henti, meskipun banyak benih jatuh di batu karang dan tidak membuat banyak kemajuan yang terlihat? Dan terus bekerja melawan semua upaya yang menindas gerakan kemerdekaan? Maka tidak salah lagi, rakyat Jawa akan menemukan apa yang rakyat Rusia temukan: kemenangan.

*tulisan ini disadur dari terjemahan bahasa Melayu sebagaimana dimuat di koran Pertimbangan atas tanggungjawab Darna Koesoema. Editor dan Dewan Redaksi Arah Juang melakukan penyesuaian tata bahasa ke ejaan yang lebih mudah dipahami untuk pembaca Indonesia di tahun 2021. Beberapa penyesuaian dilakukan dengan merujuk tulisan Sneevliet sebagaimana diarsipkan di Marxist Internet Archives seksi Belanda.

CATATAN EDITOR:

[1] Siberia merupakan wilayah Rusia yang menjadi tempat penjara sekaligus pembuangan terkenal bagi para tahanan politik yang menjadi musuh Tsar, terutama kaum revolusioner. Di sana mereka dijebloskan dengan dicampur dengan para tahanan kejahatan berat dalam hal pembunuhan, perampokan, dan sebagainya. Bukan hanya terkenal di Rusia, Siberia juga terkenal di seluruh dunia, sebagai tempat yang luar biasa keras karena memiliki musim dingin sangat panjang dengan suhu sangat rendah (di bulan Januari rata-rata suhu bisa mencapai minus 25 derajat celcius) serta dianggap tempat hukuman paling berat ketika dikombinasikan dengan pengasingan, penjara, dan kamp-kamp kerja paksa. Di abad-19 saja lebih dari 800.000 orang pernah dibuang ke Siberia.

[2] Chornaya Sotnya atau Ratusan Hitam adalah gerakan reaksioner, monarkis, dan ultra-nasionalis di Rusia pada awal abad ke-20 yang mendukung Wangsa Romanov. Konsep hitam yang mereka pakai sebagai nama bermuasal dari konsep zaman Abad Pertengahan untuk menyebut orang-orang yang bukan ningrat alias rakyat jelata yang diorganisir ke dalam laskar. Ratusan Hitam memainkan sentimen-sentimen anti-Yahudi, anti-asing, termasuk anti-Ukraina. Para anggotanya campuran dari kelompok preman, tuan tanah, borjuis kecil, pendeta, dan sebagainya. Dalam permusuhannya terhadap semua gerakan revolusioner, Ratusan Hitam melakukan berbagai penindasan, mulai dari penyebaran fitnah, penghasutan, pembubaran, persekusi, hingga pembunuhan, terorisme, penculikan, dan penyiksaan. Ratusan Hitam mengalami penurunan setelah tahun 1907 dan sisa-sisanya dibubarkan setelah Revolusi Februari 1917.

[3] Karl Liebknecht, Rosa Luxemburg, dan Franz Mehring, merupakan kaum Marxis revolusioner di Jerman yang berpegang teguh pada Marxisme serta secara konsisten melawan perang imperialis sementara banyak kaum revisionis di partai Demokrat Sosial Jerman secara oportunis malah mendukung Jerman di perang dunia I. Liebknecht, Luxemburg, dan Mehring pada Agustus 1914 mendirikan kelompok Die Internationale yang menjadi cikal bakal Liga Spartakis di kemudian hari tahun 1916 untuk kampanye-kampanye anti-imperialis. Mereka dan banyak kawannya dipenjarakan rezim Kaizer Jerman karena itu.

 1,150 total views,  1 views today

Print Friendly, PDF & Email

Comment here

%d blogger menyukai ini: