Arah Juang

Arah Juang diterbitkan oleh Perserikatan Sosialis. Perserikatan Sosialis adalah organisasi politik sosialis. Perjuangan Perserikatan Sosialis bertujuan untuk menggulingkan tatanan kapitalisme secara revolusioner dan membangun tatanan sosialisme. Oleh karena itu, organisasi ini berdasarkan kepeloporan revolusioner.

Sejarah

Merayakan Komune Paris tahun 1871: “Pelopor Kejayaan Tatanan Masyarakat Baru”

ditulis oleh Sandra Bloodworth

Eleanor Marx menulis tentang Komune Paris:

Sudah saatnya orang memahami arti sebenarnya dari Revolusi ini; dan ini dapat diringkas dalam beberapa kata… Ini adalah usaha pertama dari kaum proletar untuk memerintah dirinya sendiri. Para buruh Paris mengungkapkan hal ini dalam manifesto pertama mereka yang menyatakan bahwa mereka “memahami bahwa itu adalah tugas mereka dan hak mutlak mereka untuk menjadikan diri mereka tuan atas nasib mereka sendiri dengan merebut kekuasaan pemerintah”.

Karl, ayahnya, sebelumnya berpidato di depan Asosiasi Pekerja Internasional (dikenal sebagai Internasionale Pertama) pada 30 Mei 1871. Dia memulai dengan: “Pada fajar 18 Maret, Paris bangkit karena ledakan petir ‘Vive la Commune!‘ Apakah Komune itu, sphinx yang begitu menggoda pikiran borjuis? ”

Marx kemudian menjelaskan mengapa dia begitu terinspirasi. Komune Paris adalah

“revolusi pertama di mana kelas buruh secara terbuka diakui sebagai satu-satunya kelas yang mampu melakukan inisiatif sosial, bahkan oleh sebagian besar kelas menengah Paris – pemilik toko, pedagang, pedagang – kecuali kapitalis kaya-raya.”

Banyak pelajaran yang ditarik Marx dari peristiwa penting ini dalam setengah abad terakhir sebagian besar telah hilang dari para buruh yang berjuang untuk mendapatkan kendali atas hajat hidup mereka. Tetapi jika kita mendengarkan suara kaum perempuan dan laki-laki Komune, jika kita memeriksa reaksi biadab dari Pemerintah Nasional yang dipimpin oleh Adolph Thiers yang reaksioner, kita akan menemukan bahwa pelajaran tersebut sama relevannya dengan perjuangan kita bertahun-tahun kemudian. Seperti yang dikatakan Walter Benjamin secara puitis:

Perjuangan kelas, yang selalu menjadi pandangan sejarawan yang mempelajari Marx, adalah perjuangan untuk hal-hal yang kasar dan material, yang tanpanya tidak ada yang halus dan spiritual… [Yang terakhir] hadir sebagai kepercayaan, sebagai keberanian, sebagai kejenakaan, sebagai kecerdikan, sebagai keteguhan dalam perjuangan ini, dan jangkauannya jauh melampaui kabut waktu. Mereka akan, selamanya dan segera, mempertanyakan setiap kemenangan yang pernah dimenangkan oleh para penguasa. Sama seperti bunga yang menghadapkan kelopoaknya ke arah matahari, begitu pula yang telah dibalik, berdasarkan jenis heliotropisme rahasia, menuju matahari yang terbit di langit sejarah. Kaum materialis historis harus memperhatikan semua perubahan yang paling tidak mencolok ini.

Dalam tindakan memperhatikan itulah, saya akan berusaha menangkap atmosfer kegembiraan, eksperimen, dan kreativitas luar biasa yang berkembang pesat. Tetapi kita tidak boleh menutup mata dari kengerian yang mengerikan minggu berikutnya, yang dikenal sebagai la semaine sanglante atau pekan berdarah, di mana setidaknya 30.000 orang dibantai oleh pemerintah yang bertekad untuk menghancurkan tidak hanya kehadiran fisik dari revolusi sosial ini, tetapi juga semangatnya. Kesiapan kelas penguasa untuk melakukan kekerasan semacam itu harus diingat dan dipahami setiap aktivis anti-kapitalis sampai menancap kuat ke kesadaran mereka. Setiap gerakan yang memiliki visi masyarakat baru harus menghadapi pertanyaan menyulitkan tentang bagaimana menang dalam menghadapi barbarisme semacam itu.

Komune membangun masyarakat yang lebih demokratis secara menyeluruh daripada yang pernah dilihat kapitalisme sebelumnya atau sejak itu. Reformasi yang diperkenalkan jauh lebih maju dari apa pun yang pernah disetujui oleh kaum kapitalis, beberapa di antaranya masih belum dimenangkan di banyak negara. Peringatan 150 tahun peristiwa yang luar biasa ini adalah saat yang tepat untuk meninjau kembali langkah-langkah pertama inspiratif dari gerakan buruh revolusioner, serta menarik pelajaran yang dapat dipetik dari keberhasilan-keberhasilan maupun kekalahan mutlaknya.

Kebangkitan Bersenjata

Semuanya dimulai saat matahari terbit di atas arondisemen kelas buruh yang radikal dari Montmartre dan Belleville pada tanggal 18 Maret 1871. Para prajurit mulai menyita hampir sebanyak 250 meriam yang sengaja ditempatkan di daerah kelas pekerja ini oleh Garda Nasional, suatu laskar Paris kerakyatan. Para prajurit dikirim ke sana oleh kepala pemerintahan republik yang baru, Adolphe Thiers. Thiers punya banyak rekam jejak yang membuatnya dibenci rakyat luas, salah satunya karena perannya dalam penindasan brutal terhadap pemberontakan buruh pada tahun 1848.

Tapi bertentangan dengan dugaan Thiers bahwa tindakan ini akan berlangsung singkat dan cepat selesai, peristiwa yang terjadi kemudian bergerak menjadi tidak terkendali. Pasukan yang tidak becus lupa membawa kuda untuk menyeret meriam, yang memberi waktu kepada para anggota Garda Nasional untuk menjalin perkawanan dengan tentara. Para prajurit yang dikerahkan dengan perkiraan akan menghadapi gerombolan pengkhianat, mulai mengangkat senapan mereka, namun massa yang turun ke jalanan memenuhinya dengan yel-yel Vive la République! Hidup Republik!

Koresponden The London Times menggambarkan kejadian itu saat para perempuan keluar untuk membeli roti dan bersiap untuk hari itu: “Kelompok kecil blus yang biadab [sedang] membuat pernyataan sinis atas kepengecutan semua orang… ‘Jika mereka hanya menyerahkannya kepada kami untuk menjaga mereka tidak akan telah ditangkap dengan begitu mudah ‘. ” Militansi dan kepercayaan diri para perempuan pekerja di Paris, yang yakin bahwa mereka dapat berperang lebih baik daripada para laki-laki, akan bergema di sepanjang revolusi. Saksi kami, bergerak ke pinggiran kota Belleville, menyaksikan para prajurit dan anggota garda  menemukan banyak kesamaan di antara kedua belah pihak. Mari berhenti sejenak untuk menyaksikan suatu peristiwa yang khas:

Ada sesuatu yang sangat menarik dalam peristiwa itu. Ketidakpastian sesaat apakah para laki-laki itu bertemu sebagai kawan atau lawan, antusiasme liar teriakan persaudaraan, lambaian senapan yang terbalik, para perempuan sembrono tapi berani yang tertawa dan mendorong para prajurit laki-laki agar membangkang melawan perwira mereka, semuanya berpadu menghasilkan sensasi kebingungan yang bercampur dengan keawasan akan perubahan aneh dan tak terduga yang tengah terjadi.

Persaudaraan, perlawanan gagah berani oleh massa Paris, dan pembangkangan para prajurit terhadap Thiers, adalah ciri khas hari itu. Ketika terdapat pasukan yang memblokir pintu masuk ke gereja Saint-Pierre untuk menghentikan siapa pun yang hendak membunyikan lonceng gereja demi memperingatkan Garda Nasional dan warga tentang bahaya, para buruh kemudian masuk ke gereja lain, memanjat menara. Dibunyikannya lonceng gereja itu membuat semakin banyak orang turun ke jalan.

Koresponden menggambarkan daerah-daerah ini sebagai “ruang terbuka yang tidak rata di mana kerumunan orang tanpa aturan suka mengadakan pertemuan dan menempatkan meriamnya”. Belleville, berdampingan dengan Montmartre di tepi kanan, digambarkan sebagai “distrik kelas buruh paling kokoh di seluruh Paris, dan paling revolusioner”. Meriam ini dianggap sebagai meriam mereka, dibiayai oleh iuran yang disetorkan para buruh ke Garda Nasional sejak revolusi tahun 1848. Dan mereka adalah satu-satunya alat pertahanan melawan pasukan Prusia yang membombardir kota sejak Thiers memindahkan pasukannya ke Versailles. Ketika koresponden Times bertanya kepada seorang anggota Garda Nasional tentang apakah pertempuran mungkin terjadi, dia mengumpat: ” Sacrebleu, sialan, memangnya kau pikir kami akan mengizinkan Canaille alias para bajingan itu mengambil meriam dari kami tanpa kami tembak?” Bagaimanapun, Garda Nasional telah dengan sengaja menempatkan meriam mereka untuk mempertahankan daerah-daerah utama dari pinggiran kota ini.

Kerumunan yang bermusuhan dengan cepat berkumpul untuk menghalangi para prajurit yang mencoba memindahkan meriam. Semua saksi mata menarik perhatian kita pada sejumlah besar perempuan dan anak-anak. Louise Michel, salah satu tokoh paling flamboyan dan radikal di Komune, kemudian mengenang peristiwa di Montmartre:

Montmartre bangun; drum itu bergemuruh. Saya pergi bersama orang lain untuk melancarkan serangan di puncak bukit. Matahari terbit dan kami mendengar lonceng peringatan berdentang. Pendakian kami secepat serangan, dan kami tahu bahwa di puncak ada pasukan yang siap bertempur. Kami berharap mati demi kebebasan.

Seolah-olah kita telah bangkit dari kematian. Ya, Paris bangkit dari kematian. Kerumunan seperti ini terkadang menjadi pelopor lautan umat manusia… Tapi bukan kematian yang menunggu kita… Tidak, itu adalah kejutan dari kemenangan rakyat.

Di antara kami dan tentara ada perempuan yang melemparkan diri mereka ke meriam dan senapan mesin sementara para tentara berdiri bergeming, tidak bergerak sama sekali.

Jenderal Lecomte tiga kali memerintahkan tentara untuk menembaki kerumunan itu. “Seorang perempuan menantang para tentara: ‘Apa kau akan menembaki kami? Menembaki saudara-saudara kami? Menembaki suami kami? Menembaki anak-anak kami? ‘” Lecomte mengancam akan menembak tentara mana pun yang menolak melakukan hal itu. Saat mereka ragu-ragu, dia menuntut untuk mengetahui apakah mereka “akan menyerah pada para sampah itu”. Michel mengenang:

[Seorang] bintara keluar dari barisan dan…berseru dengan suara yang lebih keras dari Lecomte. “Turunkan laras senjatamu dan angkat popor senapanmu ke udara!” Para prajurit mematuhinya. Verdaguerre-lah yang, untuk aksinya ini, ditembak mati oleh Versailles beberapa bulan kemudian. Tapi revolusi telah terjadi.

Belakangan, Lecomte dan Jenderal lainnya, Clément Thomas, ditawan sebelum ditembak mati. Insiden ini akan menjadi pusat kontroversi selama bertahun-tahun yang akan datang, yang dikeluarkan oleh musuh-musuh communard untuk menunjukkan kebiadaban mereka. Tentu saja, peran kedua laki-laki itu dalam melakukan kekerasan massal untuk menghancurkan revolusi tahun 1848 dan perintah berulang Lecomte untuk membunuh perempuan dan anak jarang disebutkan.

Mereka yang berada di posisi berlawanan tentu memandang nyalang karena tidak biasa ditentang otoritasnya namun kisah yang mereka tuturkan sama saja. Seorang perwira tentara Versailles mencatat bahwa di lokasi dimana dia ditugaskan, mereka: 

dihentikan oleh kerumunan beberapa ratus penduduk lokal, terutama anak-anak dan perempuan. Detasemen infanteri yang berada di sana untuk mengambil meriam benar-benar melupakan tugas mereka dan membubarkan diri ke kerumunan, menyerah dan menuruti bujukan untuk membelot, dan diakhiri dengan mengangkat popor senapan mereka.

Sebuah proklamasi oleh Thiers dipasang di sekitar kota: pengambilan meriam “sangat diperlukan untuk pemeliharaan ketertiban”, maksud pemerintah adalah untuk menyingkirkan kota dari “komite pemberontakan” yang menyebarkan doktrin-doktrin “komunis”, dan mengancam Paris dengan penjarahan. Fitnah bahwa para pemberontak ingin menghancurkan Paris, yang dikeluarkan oleh kaum reaksioner yang telah meninggalkan Paris untuk dibombardir dan diduduki oleh Prusia, tersebut malah memicu perlawanan yang lebih keras.

Begitu kuda-kuda untuk menarik meriam tiba, beberapa prajurit berhasil mulai memindahkan beberapa meriam di Belleville. Para anggota Garda Nasional dan penduduk menanggapi dengan membangun barikade untuk secara fisik mencegah pemindahannya. Massa membeludak, mengubah diri dari massa penonton menjadi peserta yang semakin marah dan aktif. Seorang pengamat menulis bahwa mereka melihat:

para perempuan dan anak-anak berkerumun di lereng bukit dalam massa yang padat; artileri mencoba dengan sia-sia untuk berjuang melalui kerumunan, tetapi gelombang orang menelan segalanya, menaiki meriam-meriam, menduduki gerbong-gerbong amunisi, di bawah roda, di bawah kaki kuda, melumpuhkan gerak maju para penunggang yang memacu tunggangan mereka dengan sia-sia. Kuda-kuda itu membesarkan dan menerjang ke depan, gerakan tiba-tiba mereka membersihkan kerumunan, tetapi ruang itu segera diisi oleh sapuan punggung yang diciptakan oleh kerumunan yang melonjak.

Menanggapi seruan Garda Nasional, para perempuan memotong tali kekang kuda. Para prajurit mulai turun, menerima tawaran makanan dan anggur dari para perempuan. Saat mereka membangkang dan keluar pasukan, mereka disambut “tepuk tangan meriah”.

Beberapa waktu kemudian koresponden Times kembali ke Montmartre dan mengunjungi barikade, batu pertama yang dilihatnya diletakkan telah berkembang sekarang: 

menjadi tumpukan sangat besar karena aturan yang diberlakukan bahwa setiap orang yang lewat harus meletakkan batu, yang tumpukannya ditempatkan untuk tujuan di setiap sisi jalan… Barikade baru bermunculan di segala arah… Sekarang sudah tengah hari, dan seluruh kejadian itu menunjukkan aspek yang paling aneh dan tidak bisa dipahami bagi seseorang yang tidak dibesarkan untuk membuat barikade… Alih-alih pemerintah memblokir setiap jalan seperti yang terjadi di pagi hari, sebuah meriam siaga sekarang mengawasi setiap jalan.

Barikade akan mengembangkan pusat aktivitas, drama, dan tragedi mereka sendiri yang akan menjadi fokus para sejarawan. Eric Hazan, dalam bukunya The Invention of Paris, a History in Footsteps, memasukkan sejarah barikade dan “peran teatrikal” mereka dengan mengacu pada penggunaannya oleh Komune.

Barikade tentara telah digantikan oleh Garda Nasional yang mengawasi pembangunan barikade. Jalanan, yang awalnya begitu sepi di pagi hari, sekarang “dipenuhi dengan [Garda Nasional], suara genderang yang dipukul, terompet ditiup, dan semua hiruk pikuk kemenangan”.

Menjelang tengah hari, Jenderal Vinoy, yang ditugaskan untuk merebut meriam, melarikan diri dari Paris. Seorang simpatisan Komune menulis dalam buku hariannya:

Secara hukum kami tidak memiliki pemerintahan lagi; tidak ada kepolisian ataupun polisi; tidak ada hakim ataupun pengadilan; tidak ada pejabat tinggi ataupun prefek; tuan tanah melarikan diri dengan panik dan menyerahkan bangunan mereka kepada para penyewa, tidak ada para tentara ataupun jenderal; tidak ada surat ataupun telegram; tidak ada petugas bea cukai, pemungut pajak ataupun guru. Tidak ada lagi Akademi ataupun Institut: para profesor, dokter, dan ahli bedah besar telah meninggalkan… Paris, Paris yang sangat besar ditinggalkan untuk “pesta pora orang banyak yang keji”.

Bagaimana menjelaskan mobilisasi massa yang tampaknya spontan terhadap beberapa ratus meriam ini? Paris telah dikepung oleh Prusia sejak 19 September 1870 dan dibombardir tanpa henti sejak 5 Januari. Kemarahan terhadap Thiers begitu kuat. Dia telah memerangi Jerman pada bulan Juli sebelumnya demi kejayaan kekaisaran Prancis. Namun saat dihadapkan dengan kekalahan terhadap pasukan Bismarck, dia menolak gagasan mempersenjatai penduduk Paris. Dan kaum borjuasi menolak untuk mendukung pertahanan apapun di Paris sementara Garda Nasional, dengan keanggotaan kelas buruhnya, tetap menguasai persenjataan. Jelas bahwa untuk memenangkan perang melawan Bismarck, semua kota, terutama Paris, perlu dimobilisasi untuk mengangkat senjata. Tetapi sejarah Prancis sejak revolusi 1789 telah menjadi salah satu pergolakan sosial yang berulang sehingga membuat borjuasi ketakutan. Seorang jenderal militer kemudian menyimpulkan masalahnya: ketakutan akan penggulingan kekuasaan ”. Jadi Thiers bersekongkol dengan Bismarck Prusia untuk menghancurkan Paris yang radikal sebagai syarat perjanjian untuk mengakhiri perang. Mengambil alih meriam adalah bagian dari proses itu.

“Dipersenjatainya Paris adalah dipersenjatainya revolusi”, komentar Marx. Dan begitulah Thiers, “dengan menyerah kepada Prusia tidak hanya Paris, tetapi seluruh Prancis… memprakarsai perang sipil yang sekarang harus mereka lakukan, dengan bantuan Prusia, melawan republik dan Paris”.

Upaya untuk merebut meriam pada kenyataannya hanyalah pemicu yang meledakkan kegetiran yang selama ini diakibatkan oleh menggunungnya kemiskinan dan kemelaratan di distrik-distrik kelas buruh yang penuh sesak. Restrukturisasi Paris oleh Georges-Eugène Haussmann, yang ditunjuk oleh Louis Napoléon Bonaparte, yang berkuasa setelah melancarkan kudeta pada tahun 1852 hingga September 1870, telah mengakibatkan kehancuran luar biasa. Jalan raya baru yang lebar membelah distrik buruh, menghancurkan 100.000 apartemen di 20.000 bangunan. Ini menggusur ribuan warga dari pusat kota Paris, dan mengakibatkan kaum miskin kota hidup berdesakan di Montmartre dan Belleville. Di tengah booming ekonomi, diperkirakan mayoritas kelas buruh membutuhkan bantuan pemerintah. Seiring dengan kesengsaraan kaum miskin kota yang semakin parah di satu sisi, di sisi lain kaum kaya semakin dimanjakan dengan fasilitas kemewahan, seperti gedung-gedung pertokoan dan deretan kafe glamor yang dibangun di dekat perumahan mewah mereka sehingga bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Seperti yang dikatakan Merriman, “zaman borjuasi telah benar-benar tiba”. Pembangunan kembali Paris, yang dimaksudkan untuk mencegah pergolakan sosial, malah memicunya selama beberapa dekade.

Gerakan Maret 1871 yang berjaya telah menghidupkan apa yang kemudian dikenal sebagai Komune Paris. Tugasnya sekarang adalah menata kembali kehidupan di kota, berdasarkan prinsip keadilan, persamaan dan kebebasan dari tirani.

Komune  – Kekuasaan Baru

Saat kita menyimak peristiwa-peristiwa selama 72 hari berikutnya, kita akan menyaksikan pencapaian yang benar-benar menakjubkan. Institusi-institusi demokratis yang inovatif didirikan. Dan pengalaman merebut kendali atas tatanan masyarakat mereka telah mengilhami keterlibatan massa dalam perdebatan tentang semua aspek kehidupan mereka. Mereka menggantikan negara kapitalis dengan negara yang mereka kendalikan sendiri. Mereka dengan penuh semangat mengupayakan reformasi radikal dalam keluarga, kondisi kaum perempuan, di tempat kerja, dan pendidikan, jauh lebih maju dari zamannya, sekaligus pada saat yang bersamaan berdiskusi serta berdebat soal peran sains, agama, dan seni dalam masyarakat.

Edmond de Goncourt – salah satu pendiri sekolah sastra naturalis di Prancis sekaligus kelak menjadi pendiri Akademi Goncourt yang setiap tahun memberikan penghargaan bergengsi sastra Prancis – menuturkan kesaksian berikut tentang watak proletar Komune:

Revolusi yang berjaya ini tampaknya menguasai Paris… barikade-barikade dipasang di mana-mana, anak-anak nakal berebut menaikinya… Anda diliputi rasa jijik melihat wajah mereka yang bodoh dan hina, yang mana kemenangan dan kemabukan membuat raut muka kasar mereka semakin berseri-seri … untuk saat ini Prancis dan Paris berada di bawah kendali buruh… Berapa lama ini akan bertahan?… yang tak disangka-sangka malah berkuasa… barisan-barisan dari Belleville menjubeli dan menguasai jalan raya kita.

Goncourt jijik terhadap ketakjuban massa atas keberhasilan mereka sendiri. Dia mencatat bahwa mereka memakai sepatu mereka tanpa kaus kaki! Dia mengomel “pemerintah meninggalkan tangan kaum berada dan menyerahkannya kepada kaum yang tidak berpunya”.

Pada tengah hari pada 18 Maret, penduduk telah membentuk situasi kekuasaan ganda: Paris radikal yang melawan pemerintah di Versailles. Di satu sisi adalah Adolph Thiers, seorang yang reaksioner luar dalam. Pemerintahannya baru dilantik pada bulan Februari namun sebulan berikutnya telah kabur melarikan diri ke perlindungan dekaden Versailles, ditemani militer dan tokoh-tokoh borjuis dan kelas menengah perlente. Sejak saat itu mereka menjalankan kekuasaannya dari Château Agung monarki Bourbon di Versailles, pusatnya kaum reaksioner dari persekutuan yang berabad-abad tuanya antara pihak gereja Katolik dan kalangan ningrat Bourbon. Thier yang bertekad untuk menghancurkan Komune akan didukung penuh oleh semua pandangan dari kalangan berada ini, baik di dalam Prancis maupun dari seluruh penjuru Eropa.

Di sisi lain barikade, kaum buruh menciptakan institusi-institusi paling demokratis yang dikenal umat manusia pada saat itu. Marx akan menulis tentang pencapaian mereka: “Langkah sosial yang besar dari Komune adalah keberadaan aktifnya sendiri. Langkah-langkah istimewanya menunjukkan pemerintah rakyat oleh rakyat ”. Keadaan seperti itu merupakan ancaman langsung bagi pemerintahan yang represif dari Thiers, monarki, dan gereja.

Kapan pun kaum tertindas bangkit dan memperjuangkan hak-hak mereka, kesukariaan pasti muncul mengikuti. Inilah yang menginspirasi para saksi mata yang bersimpati pada revolusi untuk menggambarkan momen-momen tersebut sebagai festival kaum tertindas. Paris pada tahun 1871 tidak berbeda. Bahkan musuh bebuyutan Komune pun tidak bisa tidak merasakan suasana gembira yang muncul di sekitar kemenangan 18 Maret. Seseorang mencatat pengalamannya berdiri di hadapan Hôtel de Ville, balai kota Paris yang sekarang ditempati oleh communard, sementara nama-nama mereka yang terpilih untuk membentuk Komite Komune dibacakan:

Saya menulis baris-baris ini dengan masih penuh emosi… Seratus ribu mungkin, dari mana asalnya? Dari setiap sudut kota. Orang-orang bersenjata tumpah ruah dari setiap jalan di sekitarnya, dan ujung tajam bayonet, berkilauan di bawah sinar matahari, membuat tempat itu tampak seperti lapangan kilat. Musik yang dimainkan adalah Marseillaise, sebuah lagu yang diambil dalam lima puluh ribu suara tegas: guntur ini mengguncang semua orang, dan lagu hebat itu, yang ketinggalan zaman akibat kekalahan Prancis dari Prusia sebelumnya, dalam waktu sekejap telah pulih semangat juangnya.… Lautan luas panji-panji, bayonet, dan topi bergerak maju, terkadang mundur sejenak, dalam gelombang besar, dan berbenturan dengan panggung. Meriam-meriam itu masih bergemuruh, tetapi hanya terdengar di sela-sela nyanyian. Kemudian semua suara bergabung menjadi satu sorakan, suara yang berpadu dari orang banyak yang tak terhitung jumlahnya, dan semua orang ini satu hati dan satu suara.

Komite Komune terpilih diamanahi tanggung jawab penting untuk mempertahankan kota dari Versailles, mengatur persediaan makanan, merawat yang terluka; dengan kata lain, menata ulang seluruh kehidupan kota.

Negara

Kekuasaan negara yang lama telah dihancurkan, suatu langkah signifikan yang ditekankan oleh Marx:

Untuk pertama kalinya sejak hari-hari Februari 1848, jalanan Paris aman, dan tanpa polisi apa pun. “Kami,” kata seorang anggota Komune, “tidak mendengar lagi tentang pembunuhan, pencurian, dan penyerangan pribadi; sepertinya memang menghilang bersama dengan minggatnya para polisi ke Versailles beserta semua konco Konservatifnya ”.

Untuk menekankan pentingnya hal ini, Marx menempatkannya dalam konteks yang lebih luas:

Komune aalah anti-tesis langsung dari kekaisaran. Seruan “republik sosial” [slogan populer dari gerakan massa]…mengungkapkan aspirasi terang-benderang jelasnya akan suatu republik yang tidak hanya untuk menggantikan bentuk monarki dari kelas penguasa, tetapi juga kekuasaan kelas itu sendiri. Komune adalah bentuk positif dari republik itu.

Paris, pusat bertahtanya pemerintahan lama sekaligus benteng sosial kelas buruh Prancis, telah bangkit melawan upaya Thiers… untuk memulihkan dan meneruskan kekuasaan pemerintah lama yang diwariskan kepada mereka oleh Kekaisaran. Paris dapat melawan hanya karena, sebagai akibat dari pengepungan, ia telah menyingkirkan militer, dan menggantinya dengan Garda Nasional, yang sebagian besar terdiri dari kaum buruh. Fakta ini sekarang akan ditransformasikan menjadi sebuah institusi. Oleh karena itu, dekrit pertama Komune adalah penghapusan militer dan diganti dengan rakyat bersenjata.

Gerakan revolusioner ini adalah dasar di mana demokrasi baru yang dirayakan oleh Marx dapat dibangun.

Mayoritas anggota [Komite Komune] pada dasarnya adalah kaum buruh, atau perwakilan kelas buruh yang diakui. Komune harus menjadi badan yang bekerja, bukan badan parlementer, sekaligus eksekutif dan legislatif. Komune dibentuk dari para anggota dewan kotapraja, yang dipilih oleh hak pilih universal di berbagai lingkungan kota, bertanggung jawab dan dapat ditarik kembali sekaligus diganti dalam jangka pendek.

Ini adalah poin kunci yang ditekankan Marx: bagaimana delegasi dan pejabat pemerintah yang terpilih dapat dipertanggungjawabkan. Tapi bukan hanya delegasi terpilih. “Seperti pegawai negeri lainnya, hakim dan hakim harus dipilih oleh rakyat, bertanggung jawab kepada rakyat, dan dapat ditarik kembali serta diganti sewaktu-waktu oleh rakyat.”

Kerja

Marx menyimpulkan bahwa struktur-struktur demokratis inovatif ini adalah “bentuk politik yang akhirnya ditemukan untuk melaksanakan pembebasan ekonomi buruh” dan ia menjelaskan:

Kekuasaan politik produsen tidak dapat hidup berdampingan dengan terus dilangsungkannya perbudakan sosialt. Oleh karena itu, Komune berfungsi sebagai pengungkit untuk mencabut fondasi ekonomi yang menjadi sandaran keberadaan kelas-kelas, dan juga kekuasaan kelas itu sendiri. Dengan pembebasan buruh… tenaga kerja produktif tidak lagi menjadi atribut kelas.

Komite Komune tidak dibiarkan sendirian bekerja hanya mengeluarkan dekrit-dekrit reformasi sementara semuanya kembali seperti biasa. Sejarawan telah mendokumentasikan luar biasa berkembangnya luar biasa organisasi, debat, dan eksperimen sosial yang tengah berlangsung, menambahkan hamparan kaya rincianyang menerangi keumuman teori Marx. Banyak organisasi dan proposal mereka didasarkan pada tuntutan yang telah didiskusikan oleh kaum sosialis dan buruh militan selama beberapa dekade. Perbedaannya sekarang adalah bahwa hal-hal itu tidak lagi sekadar menjadi topik untuk debat dan protes. Sekarang hal-hal itu diperjuangkan kaum miskin dan rakuyat tertindas untuk diwujudkan seiring dengan mereka menguasai dan merebut kendali atas hidup mereka sendiri.

Komite membentuk berbagai Komisi untuk menangani bidang-bidang tertentu. Seorang buruh Yahudi-Hungaria, Léo Frankel, anggota Internasionale dan rekan Marx, ditunjuk sebagai menteri perburuhan untuk menangani hak-hak buruh dan kondisi kerja. Kerja malam bagi buruh roti, dihapuskan; majikan dilarang mengurangi gaji dengan mendenda karyawan mereka dengan dalih apa pun, “suatu praktik dimana pemberi kerja menggabungkan dalam dirinya sendiri bagian-bagian dari legislator, hakim, dan pelaksana, serta dengan itu mengantongi uang untuk kepentingannya sendiri, dihapuskan”.

Beberapa masalah menjadi rumit karena konflik prioritas. Pasokan militer jelas sangat penting. Tetapi pembelian peralatan termurah oleh Komune tidak sesuai dengan tuntutan pekerja akan upah yang layak. Komisaris keuangan, seorang Proudhonist yaitu François Jourde, menolak menulis ulang kontrak dengan majikan. Ini tidak mengherankan mengingat Proudhonis mendukung kepemilikan privat. Tetapi seperti yang ditunjukkan oleh Frankel, “revolusi dibuat secara eksklusif oleh kelas buruh. Saya tidak mengerti apa gunanya Komune jika kita… tidak melakukan apa-apa untuk kelas itu ”. Menanggapi buruh itu sendiri, kontrak baru yang menetapkan upah minimum yang memuaskan telah disepakati. Majikan tidak diajak berkonsultasi.

Klausul tambahan yang diputuskan oleh Komisi Perburuhan menyatakan bahwa kontrak yang mungkin diberikan “langsung kepada perusahaan buruh sendiri”. Perusahaan buruh di sini dapat dipahami sebagai koperasi, asosiasi, dan serikat buruh. Mereka sangat didukung oleh Komisi Frankel sebagai kendaraan menuju sosialisme. Komisi juga memutuskan bahwa perusahaan dari setiap majikan yang kabur ke Versailles harus diambil alih oleh para buruhnya.

Rekan Marx lainnya di Internasionale memainkan peran kunci dalam mempengaruhi Komisi Perburuhan. Seorang sosialis Rusia yaitu Elisabeth Dmitrieff adalah tokoh sentral dalam pembentukan Union des Femmes, atau Serikat Perempuan. Itu adalah seksi perempuan dari Internasional Pertama. Suatu mariage blanc telah memberi Dmitrieff jalan keluar dari Rusia. Dia telah menghabiskan tiga bulan terakhir di London, di mana dia bertemu dengan Marx hampir setiap hari, membahas teori-teori revolusi. Sebelumnya dia telah bergabung dengan Internasionale di Jenewa, di mana dia bertemu dengan Eugène Varlin dan Benoît Malon yang kelak juga akan menjadi Communard alias anggota atau pendukung Komune. Menurut sejarawan Kristin Ross, Union des Femmes menjadi organisasi terbesar dan paling efektif di Komune. Organisasi itu menggelar pertemuan setiap hari di hampir setiap satu dari dua puluh arondisemen. Keanggotaannya didominasi oleh buruh garmen: penjahit, binatu, dan sebagainya.

Union des Femmes mengadakan diskusi-diskusi yang turut membahas ‘termasuk permasalahan teoretis tentang mengakhiri kepemilikan privat dan isu-isu ketidaksetaraan berbasis gender, serta solusi mendesak perjuangan sehari-hari untuk menyediakan pangan maupun bahan bakar kebutuhan keluarga. Pada saat yang sama mereka berpartisipasi dalam pertahanan Komune, mengurus barikade serta merawat yang sakit dan terluka. Ross menyimpulkan: “Dalam beberapa hal, Serikat Perempuan dapat dilihat sebagai tanggapan praktis atas banyak pertanyaan dan masalah terkait buruh perempuan yang telah menjadi topik diskusi [selama bertahun-tahun]”.

Sejarawan lain, Donny Gluckstein, berpendapat: “Komisi Perburuhan dibentuk oleh, dan sepenuhnya bergantung pada, Serikat Perempuan dan perusahaan-perusahaan buruhnya serikat, yang pada gilirannya diperkuat oleh komisi.” Menyatakan misi mereka, Union des Femmes menyatakan: “Kami ingin bekerja, tetapi untuk mempertahankan produk, tidak boleh ada lagi pengeksploitasi, tidak ada lagi tuan. Kerja dan kesejahteraan untuk semua rakyat.”. Atas desakan mereka, Komune membentuk koperasi untuk membuat seragam Garda Nasional, yang menyediakan pekerjaan dengan bayaran tinggi di bawah kendali buruh perempuan.

Sementara perempuan mengalami penindasan khusus, kehidupan kerja mereka juga dibentuk oleh kondisi yang lebih luas yang dihadapi kelas buruh. Mereka membuat gerakan luar biasa ke arah kontrol buruh, meskipun terbatas oleh waktu dan kondisi perang : “Ada selusin bengkel yang disita, terutama yang terkait dengan pertahanan militer… Lima perusahaan telah mulai mencari bengkel yang tersedia, siap untuk penyitaan mereka ”. Dan perusahaan milik negara seperti percetakan dan percetakan nasional berada di bawah manajemen buruh. Bahkan para pekerja kafe, dengan petunjuk ini, mulai mendirikan serikat pekerja.

Klub radikal

Tradisi klub-klub politik radikal, yang diilhami oleh revolusi 1789-92 dan dihidupkan kembali pada tahun 1848, telah muncul dari bawah tanah pada tahun menjelang Komune. Mereka membahas berbagai masalah: strategi politik, reforma-reforma yang diprioritaskan, hak-hak perempuan, sikap terhadap gereja dan sains, bagaimana mengatur pertahanan dan memperkuat barikade dengan lebih baik, dan banyak lagi. Sebelumnya masalah ini hanya terbatas pada lingkaran radikal, tetapi sekarang klub menarik lebih banyak khalayak dan dukungan antusias untuk proposal-proposal mereka. Kaum buruh adalah mayoritas pesertanya, tetapi kaum radikal dari kalangan kelas menengah juga bergabung. Antara 36 dan 50 klub bertemu setiap hari, kebanyakan di distrik kelas buruh.. Beberapa pertemuan besar hadirinya, melibatkan ribuan, dengan perempuan memainkan peran penting baik di klub perempuan mereka sendiri maupun di klub campuran dengan laki-laki. Banyak diskusi menghasilkan pengiriman resolusi ke Komite Komune, dan ada perdebatan yang sedang berlangsung mengenai hubungannya dengan klub-klub.

Seorang anti-communard mengisahkan semangat yang membuat klub-klub tersebut menjadi bagian yang hidup dari demokrasi baru:

Dari Rue Druout hingga distrik Montmartre, jalanan telah menjadi pertemuan umum atau klub permanen di mana kerumunan, yang terbagi menjadi beberapa kelompok, tidak hanya memenuhi trotoar tetapi juga jalanan sampai mengakibatkan kemacetan… lalu lintas. Mereka membentuk banyak sekali pertemuan publik di mana perang dan perdamaian diperdebatkan dengan panas.

Élie Reclus, seorang etnografer yang diberi tanggung jawab atas pengelolaan dan pelestarian Bibliothèque Nationale atau Perpustakaan Nasional, menyebutnya “sekolah untuk rakyat”, tempat berkembangnya debat yang konstruktif dan rasa kebersamaan yang tinggi tercipta. Ross menggambarkan klub-klub itu sebagai “gabungan antara pendidikan dan hiburan ala Brechtian”.

Seminggu setelah deklarasi Komite Komune terpilih, atas inisiatif klub di arondissement ketiga yang disahkan oleh Komite Komune, gereja-gereja di seluruh kota dikomandoi sebagai tempat pertemuan dan pusat pengorganisasian. Tempat-tempat ini, tidak seperti pertemuan jalanan, menciptakan rasa keseriusan dan keberlangsungan seterusnya di klub, bahkan drama yang tinggi. Lissagaray, anggota Internasionale dan penulis salah satu buku pertama yang diterbitkan tentang Komune, menulis deskripsi yang penuh warna tentang salah satu pertemuan tersebut:

Revolusi menaiki mimbar-mimbar…hampir tersembunyi oleh bayang-bayang kubah, tergantung sosok Kristus yang terbungkus dalam panji merah kerakyatan. Satu-satunya titik terang-benderang di sana adalah meja baca, menghadap mimbar, yang dibalut dengan warna merah pula. Organ dan orang-orang menyanyikan Marseillaise. Sang orator, yang larut dalam semangat dalam lingkungan yang fantastis ini, menyampaikan deklamasi secara girang yang terulang oleh suara gema dalam ruangan dan terdengar seperti ancaman. Rakyat mendiskusikan peristiwa hari itu, alat-alat pertahanan; para anggota Komune dikecam keras, dan resolusi yang keras dipilih untuk diajukan ke Hôtel de Ville keesokan harinya.

Sungguh luar biasa membayangkan proses revolusioner seperti itu terjadi di bawah langit-langit yang menjulang tinggi dan jendela kaca patri yang indah. Menduduki tempat yang sebelumnya diistimewakan bagi kaum penguasa dan kaum yang bergelimang hak-hak istimewa adalah pengingat terus-menerus akan tantangan penting yang telah dilemparkan Komune di hadapan kaum borjuasi, monarki, dan sekutu mereka, gereja.

Memisahkan gereja dan negara

Marx mencatat bahwa setelah kekuatan negara dibongkar, Komune: 

sangat ingin mematahkan kekuatan spiritual penindasan… dengan penghapusan status kemapanan serta keistimewaan semua gereja sebagai badan kepemilikan… Seluruh lembaga pendidikan dibuka untuk orang-orang secara gratis, dan pada saat yang sama dibersihkan dari semua campur tangan gereja dan negara. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya dapat diakses oleh semua orang, tetapi sains itu sendiri dibebaskan dari belenggu yang dipaksakan oleh prasangka kelas dan kekuatan pemerintah padanya.

Sentimen anti-gereja bukanlah dikarang-karang sejumlah kecil kaum radikal Ada penyebab riilnya. Gereja Katolik telah mencurahkan kekayaan dan kekuatannya mendukung kediktatoran Bonaparte serta dengan terang-terangan memusuhi republikanisme secara sengit. Jadi oposisi yang berkembang terhadap Bonaparte secara alami bersifat anti-pendeta, baik di antara kaum radikal kelas menengah maupun kaum miskin kota. Di kota-kota besar, kedatangan ke upacara-upacara keagamaan telah menurun drastis sebelum revolusi, terutama di kalangan buruh. Tidak sulit untuk melihat alasannya. Gereja mengajarkan bahwa orang miskin akan diberi imbalan atas penderitaan mereka dengan meneruskan lembah air mata ini ke kemuliaan surga. Tetapi untuk memasuki surga itu engkau harus menanggung kesengsaraan tanpa akhir dalam diam. Selain itu, gereja, pada masa Pencerahan dan dalam dunia yang berubah dengan cepat ini, dipandang sebagai benteng kebebalan, sebagaimana diringkas oleh Syllabus of Errors tahun 1864 yang mencela masyarakat modern. Seperti yang ditulis Merriman: “Persekutuan erat antara gereja dengan kaum kaya-raya telah lama menimbulkan kemarahan rakyat; kelahiran Komune hanya melepaskannya ”.

Hukum negara sangat dipengaruhi oleh ajaran gereja tentang keluarga, peran perempuan dan moralitas. Jadi program reforma-reforma yang diangkat di klub-klub seputar isu-isu semacam itu lebih sering terjalin dengan sentimen pahit anti-agama.

Tidak ada batasan untuk ketidaksopanan yang ditampilkan setelah gereja-gereja dikuasai. Misa plesetan, air suci diganti dengan tumpukan tembakau, patung Bunda Maria dipakaikan seragam perempuan yang memasok perbekalan kepada Gardal Nasional, terkadang dengan cangklong di mulutnya. Pada saat yang sama, Communard dalam banyak kasus memperbolehkan upacara bagi rakyat yang relijius untuk terus dilakukan di pagi hari sebelum klub bertemu. Karena itu, pertemuan sering dilakukan di tengah-tengah bunga, salib, dan perlengkapan keagamaan lainnya yang ditinggalkan dari misa pagi dan acara keagamaan lainnya.

Properti gereja menyediakan tempat yang sangat dibutuhkan, masalah praktis yang kebetulan bersinggungan dengan sentimen anti-gereja. Notre-Dame-de-Lorette menjadi barak pada satu tahap, kemudian menjadi penjara bagi mereka yang ditangkap karena menolak untuk berperang. Koperasi Serikat Perempuan bertempat di Saint-Pierre di Montmartre, juga digunakan sebagai tempat penyimpanan amunisi dan sekolah untuk anak perempuan. Yang lainnya menjadi fasilitas medis. Dalam kebalikan dari tatanan lama, pembicara di klub bersikeras bahwa pendeta membayar sewa ke Komune untuk penggunaan ruang gerejawi untuk “komedi mereka”. Hasil akan diberikan kepada para janda dan anak yatim piatu dari pertempuran tersebut. Klub Faubourg Saint-Antoine menyarankan agar lonceng gereja dilebur untuk membuat meriam.

Permusuhan terhadap gereja adalah tema dalam banyak catatan waktu. Misalnya, ketika uskup agung, yang telah ditangkap, menyebut kepala polisi dan petugas pengadilan sebagai “anak-anakku”, tanggapan yang tajam adalah: “Kami bukan anak-anak – kami adalah hakim rakyat!” Merriman mengutip sebuah dokumen di mana uskup agung digambarkan sebagai “Tahanan A yang mengatakan bahwa dia adalah hamba seseorang yang disebut Tuhan”.

Sementara sepertiga dari semua siswa bersekolah di sekolah agama, gereja itu sendiri sebelumnya mempraktikkan monopoli hampir sepenuhnya atas pendidikan anak perempuan, sebuah fakta yang secara langsung berkaitan dengan rendahnya tingkat melek huruf di kalangan perempuan. Secara umum, pendidikan agama bersifat terbelakang dan melemahkan. Sebuah komisi yang dipimpin oleh berbagai seniman, guru, dan penulis lagu mengusulkan untuk menutup sekolah-sekolah gereja dan menghapus simbol-simbol agama. Jika perlu, massa mengambil tindakan langsung untuk menutup sekolah yang dididik oleh tokoh-tokoh agama, yang tidak pernah diwajibkan memiliki kualifikasi yang dituntut dari guru umum. Banyak dari mereka mengundurkan diri, meminta guru awam untuk menggantikan mereka. Pada bulan Mei, pelajaran agama dilarang di semua sekolah.

Pendidikan

Anggota Internasionale Pertama menonjol dalam debat dan mengusulkan inovasi pada sejumlah permasalahan yang saling bersinggungan seputar pendidikan. Jurnal resmi Commune mencatat bahwa mereka aktif dalam menyelenggarakan pertemuan pendidikan publik dan mengatur ulang pendidikan “dengan basis seluas mungkin”. Ross menjelaskan dengan baik seberapa sentral masalahnya:

Sebagai suatu pengalaman hidup dari “kesetaraan dalam tindakan”, Komune pada dasarnya adalah serangkaian tindakan pembongkaran yang diarahkan pada birokrasi negara dan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan rakyat jelata. Banyak dari tindakan pembongkaran ini difokuskan, tidak mengherankan, pada birokrasi pusat itu: sekolah.

Diskusi-diskusi tentang pendidikan berjalan jauh lebih baik melampaui sekularisasi. Sepertiga anak tidak memiliki akses pendidikan sama sekali, dan Komune akan mencoba menerapkan pendidikan wajib dan setara bagi anak laki-laki dan perempuan. Gaji guru dinaikkan, dengan gaji yang sama untuk perempuan dan laki-laki. Sebuah sekolah seni industri didirikan dengan seorang perempuan sebagai direkturnya. Para pelajar akan menerima instruksi ilmiah dan sastra, kemudian menggunakan sebagian hari untuk penerapan seni dan menggambar ke industri. Salah satu pendukung paling antusias dari sekolah politeknik adalah Eugène Pottier, anggota Internasionale dan pendukung konsep “kerja atraktif” sosialis utopis Charles Fourier. Lahir dan dibesarkan sebagai seorang putra pembuat peti, secara wajar Pottier juga merupakan seorang desainer kain sekaligus penyair. Tidak seperti hari ini, perdebatan teoritis dan praktis tentang pendidikan tidak dilakukan di kalangan akademisi secara tertutup, tetapi berlangsung di klub-klub di sekitar kota. Deklarasi yang mencerminkan debat tersebut dicetak sebagai poster dan ditempel di dinding di jalan-jalan. Salah satu yang bertuliskan nama Pottier sebagian berbunyi:

Bahwa setiap anak dari kedua jenis kelamin, setelah menyelesaikan siklus studi dasar, dapat meninggalkan sekolah karena memiliki elemen serius dari satu atau dua profesi manual: ini adalah tujuan kita… kata terakhir dalam kemajuan manusia diringkas seluruhnya dengan frasa sederhana: Kerja oleh semua orang, untuk semua orang.

“Tempat-tempat penitipan anak sekuler” juga didirikan di dekat tempat kerja yang mempekerjakan perempuan. Mereka dipandu oleh prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh sosialis utopis Charles Fourier: pengasuh tidak boleh mengenakan pakaian hitam atau berwarna gelap, dan bekerja bergiliran untuk menghindari kebosanan atau kelelahan, “penting bahwa anak-anak harus diasuh hanya oleh para perempuan muda nan ceria, kapanpun hal tersebut memungkinkan”. Representasi religius diganti dengan gambar dan pahatan benda nyata seperti binatang dan pohon, termasuk sarang yang penuh dengan burung. Kebosanan dianggap sebagai “penyakit terbesar” pada anak-anak. Kami melihat sekilas beberapa dari apa yang diajarkan kepada anak-anak itu dalam anekdot ini dari seorang pria yang menyaksikan sebuah “band” yang terdiri dari 200 “balita” berbaris di belakang drum dan bendera merah kecil. “Mereka bernyanyi sekuat tenaga ‘ La Marseillaise ‘. Parade aneh ini merayakan pembukaan sekolah awam yang diselenggarakan oleh Komune.”

Rekan Marx, Benoît Malon, membantu mendirikan rumah penampungan untuk para anak yatim piatu maupun anak-anak yang minggat, di mana mereka dapat ditawari mengenyam pendidikan dasar. Paule Mincke membuka salah satu sekolah pertama untuk anak perempuan. Mereka mengambil alih sekolah Yesuit, karena sekolah itu sudah dilimpahi dengan peralatan dan laboratorium paling canggih. Édouard Vaillant mendirikan sekolah seni industri profesional untuk anak perempuan dengan menempati École des Beaux Arts atau Sekolah Seni Rupa. Sekolah ini memperkenalkan pendekatan baru dalam mengajar. Setiap pekerja terampil yang berusia di atas 40 tahun dapat melamar menjadi profesor.

Penekanan pada sains sebagai dasaruntuk kemajuan masyarakat adalah tema yang kuat. Seorang ilmuwan muda dari AS, Mary Putnam Jacobi, kebetulan berada di Paris. Pengalamannya di musim semi itu “menyebabkan kebangkitan politik” dan menginspirasinya untuk menghabiskan tiga dekade berikutnya berkampanye melawan asumsi seksis tentang biologi perempuan. Dia menjadi pembela yang kuat untuk kontribusi perempuan yang setara dalam pengobatan dan mengembangkan filosofi bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan perempuan adalah satu tujuan yang sama. Dia mendepathologiskan menstruasi dengan menyangkal anggapan yang saat itu diyakini luas bahwa istirahat diperlukan untuk mencegah kemandulan, salah satu gagasan reaksioner dari kaum Proudhonis.

Hak-Hak Perempuan dan Keluarga

Marx menertawakan “para laki-laki yang melarikan diri dari keluarga, agama, dan terlebih lagi yang kabur meninggalkan harta-benda kepemilikannya”, ia menulis:

Sebagai gantinya, kaum perempuan Paris yang sejati muncul kembali di permukaan – herois, mulia, dan berdedikasi, seperti perempuan di awal sejarah. Paris yang bekerja, berpikir, berjuang, bertempur, berdarah  – berseri-seri dalam antusiasme inisiatif bersejarahnya, namun karena saking sibuknya membangun masyarakat baru hampir lupa terhadap keberadaan para kanibal di gerbangnya –

Seperti yang telah dibahas, kaum perempuan terlibat dalam mendorong banyak proposal Komune yang paling radikal. Ini tidak mengherankan. Kaum perempuan – karena penindasannya yang bersifat khusus – dapat menjadi pembawa ide yang lebih konservatif di masa yang stabil, terutama saat terjebak di dalam rumah. Tetapi ketika mereka menantang rantai penindasan mereka, mereka sering menjadi elemen gerakan massa yang paling dinamis, dengan sedikit kerugian dan lebih banyak keuntungan dari perubahan mendasar terhadap status quo.

Komune segera melakukan perbaikan yang berpandangan jauh ke depan dan mendasar bagi kehidupan perempuan. Pemutihan (tunggakan) uang sewa dan larangan penjualan barang yang disimpan di pegadaian telah mengangkat beban yang sangat besar dari keluarga buruh. Suatu dekrit pada 10 April memberikan istri – baik yang tercatat hukum maupun tidak – dari anggota Garda Nasional yang gugur karena membela Komune, suatu dana pensiun sebanyak 600 franc. Masing-masing anaknya, baik yang sah atau tidak, dapat memperoleh 365 franc hingga mereka berusia 18 tahun. Dan anak yatim piatu akan menerima pendidikan yang diperlukan “agar bisa membuat jalan hidup mereka sendiri dalam masyarakat”. Sebagaimana dituturkan Edith Thomas, dalam sejarah sosialnya tentang perempuan di Komune: “Ini adalah pengakuan implisit dari struktur keluarga kelas buruh, sebagaimana adanya, di luar konteks hukum agama dan borjuis”. Union libres atau tinggal/hidup bersama merupakan praktik umum di kalangan buruh tetapi tidak diakui oleh gereja atau negara, sekaligus tidak mengakui martabat perempuan , belum lagi diskriminasi ekonomi mengingat perempuan yang belum menikah tidak memenuhi syarat untuk tunjangan janda mana pun. Dan “di suatu kota di mana sekitar seperempat dari semua pasangan belum menikah, gereja, yang biasanya menarik biaya 2 franc untuk mendaftarkan kelahiran, menuntut 7,50 franc [setara besarannya dengan upah dua hari untuk banyak buruh] untuk anak yang ‘tidak sah’”.

Thomas berkomentar bahwa dana pensiun bagi para janda adalah “salah satu langkah paling revolusioner dalam masa pemerintahannya yang singkat. Bahwa tindakan ini membuat marah borjuasi, dan diterima dengan kegembiraan oleh anggota Komune adalah indikasi signifikansinya ”.

Tetapi perempuan bukanlah penerima reforma pasif. Kaum perempuanlah yang menyeret guillotine ke Rue Voltaire dan membakarnya pada 10 April. Kaum perempuan jugalah yang menjadi salah satu kelompok paling militan baik di klub perempuan maupun campuran. Mereka sangat keras dalam mengkritik pernikahan. Di sebuah klub di Les Halles, seorang perempuan militan memperingatkan bahwa pernikahan “adalah kesalahan terbesar umat manusia kuno. Menikah berarti menjadi budak. Di klub Saint-Ambroise seorang perempuan menyatakan bahwa dia tidak akan mengizinkan putrinya yang berusia enam belas tahun untuk menikah, bahwa dia sangat bahagia hidup dengan seorang pria “tanpa restu Gereja”. Setidaknya satu klub lain juga mendukung perceraian, sebuah kebijakan yang diterapkan oleh Komite Komune. Diskusi semacam ini di klub-klub adalah katalisator untuk jenis reformasi yang telah kita lihat. Mereka tidak hanya datang dari Komite Komune. Dan pernikahan tidak lagi menjadi kontrak formal, itu hanya kesepakatan tertulis antara pasangan, mudah dibubarkan.

Club de la Révolution nya Michel, bersama dengan lainnya, mengusung hak untuk aborsi, yang didukung oleh Komite. Di Klub Pemikir Bebas Nathalie Lemel – penjilid buku, dan anggota kelompok Marx di Internasionale yang bekerja dengan rekan Marx lainnya, Elisabeth Dmitrieff dan Union des Femmes – bersama dengan Lodoyska Kawecka, yang mengenakan celana panjang dan menyandang dua revolver sabuknya, mengajukan hak perempuan untuk menggugat cerai dan pembebasan perempuan.

Banyak gagasan tentang pembebasan perempuan, sebagaimana gagasan tentang pendidikan, tidak berasal dari Komune. Pengelompokan Marx di Internasional, bersama dengan para feminis seperti André Léo, telah menciptakan tradisi dukungan untuk sikap ini di antara para buruh dan sosialis yang paling militan. Tetapi gerakan revolusioner membuka kesempatan baru bagi ide-ide mereka untuk mendapatkan dukungan rakyat.

Peran Seni

Orientasi anti-kapitalis, anti-elitis dari Internasionale secara alami menarik para seniman, penulis dan intelektual lain yang ketergantungannya pada patronase dan subsidi negara membatasi ekspresi artistik dan politik mereka.

Eugène Pottier menjadi terkenal karena menulis L’Internationale, sebuah lagu yang dijiwai dengan semangat internasionalisme dan sikap pembangkangan Komune. Sebelumnya ia juga menulis manifesto pendiri Federasi Seniman di mana ia menulis istilah “Kemewahan Komunal”, yang diadopsi oleh Kristin Ross sebagai judul bukunya. Pendiri dan presiden Federasi adalah Gustave Courbet, kelak ia dianiaya karena dituduh memerintahkan pembongkaran kolom Vendôme. Federasi mengadakan debat tentang peran seni dan seniman dalam masyarakat, integrasi seni ke dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana mengatasi pertentangan antara keindahan dan kegunaan. Ini menarik artis terkenal seperti Corot, Manet dan Daumier, yang mencemooh mereka yang kabur dari Paris ke Versailles seperti Cézanne, Pissarro dan Degas. Émile Zola, yang terkait dengan kaum reaksioner di Versailles, mempermalukan dirinya sendiri dengan serangan yang mengejek Courbet karena partisipasinya dalam politik, sebuah lingkungan yang dianggap asing bagi seniman.

Federasi menolak untuk berurusan dengan karya seni yang tidak ditandatangani oleh pencipta mereka. Ini adalah respon dari praktik seniman sebelumnya harus menjual karyanya tanpa ditandatangani sehingga para makelar seni bisa mengantongi keuntungan .Sejarah pribadi Napoléon Gaillard, anggota Internasionale lainnya, menunjukkan teori mereka. Sebagai pembuat sepatu, Gaillard ditunjuk sebagai komisaris barikade. Tapi bagaimana cara menandatangani ciptaan sebesar barikade? Seorang musuh Komune menjelaskan bagaimana Gaillard memecahkan masalah ini:

[Dia] tampak sangat bangga dengan ciptaannya sehingga pada pagi hari tanggal 20 Mei, kami melihatnya dengan seragam komandan lengkap, empat kepang emas di lengan dan topi, kerah merah di tuniknya, sepatu bot berkuda yang bagus, rambut yang panjang dan tergerai, tatapan mantap… dan dengan tangan di pinggul, memotret dirinya sendiri.

Selaras dengan teori yang dikembangkan di Federasi, Gaillard akan menulis risalah filosofis tentang kaki dan sepatu bot, dan menciptakan sepatu karet. Ada orang yang tidak akan memakai sepatu selain yang dia rancang, bertahun-tahun setelah kematiannya. Dari pengasingan dia menulis “Seni Sepatu, tidak peduli apa yang dikatakan, dari semua seni yang paling sulit, paling berguna, dan di atas semua itu paling kurang dipahami”. Dia bersikeras bahwa dia dikenal sebagai pekerja dan “seniman pembuat sepatu”. Sikap dan tulisannya merangkum argumen Federasi Seniman untuk mengatasi kontradiksi antara yang berguna dengan yang indah, menyerukan kepada publik untuk menuntut sepatu yang dibuat untuk kaki apa adanya, bukan sebagaimana yang dianggap seharusnya.

Upaya untuk mengatasi pemisahan seni dari industri dan kehidupan secara umum menjadi subjek banyak perdebatan dan eksperimen, sangat mempengaruhi novelis sosialis Inggris dan perancang kain William Morris.

Internasionalisme Komune

Marx dan Engels telah mengemukakan dalam Ideologi Jerman dekade sebelumnya bahwa pekerja hanya bisa menjadi layak untuk menciptakan masyarakat baru melalui perjuangan melawan yang lama. Paris pada Maret 1871 menunjukkan dengan tepat sekaligus dramatis apa yang mereka berdua maksud. Prancis telah berperang melawan Prusia sejak Juli 1870, namun Komune bertekad kuat dalam semangat internasionalis: “Dalam pandangan tentara Prusia itu, yang telah mencaplok dua provinsi Prancis ke Jerman, Komune mencaplok ke Prancis rakyat pekerja di seluruh dunia”. Seorang pekerja Yahudi-Hungaria diangkat ke posisi kunci sebagai menteri perburuhan. Mereka “menghormati anak-anak gagah berani Polandia [J Dabrowski dan W Wróblewski] dengan menempatkan mereka di depan para pembela Paris”. Dan “untuk menandai secara luas era baru sejarah itu secara sadar dimulai, di depan kedua mata penakluk Prusia di satu sisi, dan tentara Bonapartis… di sisi lain, Komune meruntuhkan monumen Vendôme Column, simbol kejayaan perang 

Ini bukan sekadar tindakan mendadak militan. Pemikiran dan perencanaan yang luar biasa dilakukan untuk memindahkan patung yang berada di atas monumen tersebut. Ada foto tumpukan puing di Place Vendôme, semua yang tersisa dari patung Bonaparte, dikelilingi oleh bangunan yang tidak rusak: communard telah mempekerjakan insinyur dan pekerja paling terampil mereka untuk menurunkannya. Memang, tujuan awal mereka adalah memindahkan monumen tersebut ke museum, tetapi terbukti terlalu rapuh untuk selamat dari penggulingan. Place Vendôme berganti nama menjadi Place Internationale.

Seperti banyak reforma yang diajukan, gagasan internasionalisme telah berkembang di antara buruh radikal sebelum Maret 1871. Lissagaray menguraikan perkembangan kelas buruh yang agresif, independen dari borjuasi liberal yang semakin konservatif. Pada tahun 1870, saat rumor beredar tentang perang yang akan datang dengan Prusia:

Sosialis revolusioner mengerumuni jalan-jalan sambil menangis, Vive la paix! Hidup perdamaian! Dan menyanyikan lagu pro-perdamaian – “Rakyat adalah saudara kami / Dan para tiran adalah musuh kami”… Tidak dapat mempengaruhi kaum borjuasi, mereka beralih ke buruh di Jerman… “Saudara-saudara, kami memprotes perang, kami yang menginginkan perdamaian, kerjam dan kebebasan. Saudara-saudara, jangan dengarkan orang-orang sewaan yang berusaha menipumu tentang keinginan Prancis yang sebenarnya ”.

Sambutan hangat Komune terhadap militan berkebangsaan asing di tengah-tengah mereka dan penghancuran simbol imperial mungkin menunjukkan bahwa internasionalisme mereka lebih dari sekadar kata-kata.

Menata Kembali Masyarakat secara Demokratis

Para pengamat terkini, baik yang bermusuhan maupun bersimpati, berkomentar bahwa para pemimpin terpilih Komune tidak dikenal. Itu tidak benar; banyak dari mereka yang sudah terkenal dalam debat di klub-klub populer. Bagi kaum kaya raya, baik di zaman dulu maupun sekarang sama saja, pemimpin massa seperti itu memang tidak terlihat. Komentar lain yang muncul kembali selama pengamatan dan melalui semua sejarah adalah kurangnya pengalaman mereka. Dan bagaimana bisa sebaliknya? Seperti yang ditekankan oleh Marx, ini adalah pertama kalinya para buruh secara utuh membentuk diri sebagai kelas untuk memimpin gerakan perubahan. Jadi, bahkan aktivis berpengalaman pun menghadapi masalah-masalah baru.

Donny Gluckstein melihat cara kerja demokrasi secara mendetail. Dia dengan tepat menempatkannya dalam konteks harus mempertahankan Komune melawan Versailles dengan pasukan terlatihnya melawan pasukan Garda Nasional yang jumlahnya jauh lebih kecil. Tahanan perang dibebaskan oleh Bismarck untuk membantu menghancurkan Paris. Mereka dicekoki dengan kebohongan dan cerita-cerita mengerikan tentang niatan warga Paris, sehingga diliputi kebencian yang akan dilampiaskan pada minggu terakhir bulan Mei. Tapi bait terakhir yang mematikan itu hanyalah kesimpulan dari meningkatnya pembombardiran dan serangan ke Paris oleh militer. Serangan-serangan ini menewaskan banyak anggota Garda Nasional, dan banyak lainnya ditangkap.

Dengan kondisi-kondisi demikian, prinsip-prinsip kemanusiaan yang ingin dijalankan Komune seringkali bertentangan dengan kebutuhan akan pertahanan. Misalnya, penghapusan hukuman mati menjauhkan gagasan revolusi dari kekejaman semacam itu. Tetapi dalam menghadapi pembantaian dan pemyanderaan kawna-kawannya yang kemudian dijebloskan musuhnya ke penjara Versailles, membuat hukuman mati diaktifkan kembali. Pun hanya tiga yang pernah dieksekusi mati Komune, tetapi sebagaimana yang kita lihat setelah Revolusi Oktober di Rusia, ada ketegangan yang tak terhindarkan antara tujuan jangka panjang yang mulia dan permasalahan seketika untuk bertahan hidup.

Gluckstein menunjukkan bagaimana Komite Komune – yang berkantor pusat di Hôtel de Ville – terkait dengan jaringan komite di arondissement, klub, dan berbagai organisasi lain yang berkembang pesat. Dia berpendapat bahwa “penghubung hidup utama antara gerakan massa dan Dewan Komunal adalah klub-klub”.

Kita tidak dapat memahami bagaimana demokrasi berfungsi di Komune tanpa memahami kehidupan klub-klub itu. Mereka memperjuangkan pembentukan kepemimpinan yang lebih kuat dalam bentuk Komite Keamanan Publik, yang memicu perdebatan luas. Nama tersebut mengingatkan akan teror Revolusi Akbar, yang bertentangan dengan citra tertib dan cinta-damai yang dikehendaki oleh para pemimpin di Hôtel de Ville. Beberapa perempuan membentuk komite-komite kewaspadaan mereka sendiri meskipun ada keengganan dari Komite Komune. Klub Saint-Séverin, mungkin dimana para pendukung Internasionale memiliki pengaruh, meminta Komune untuk “menghabisi kaum borjuasi dalam satu pukulan [dan] mengambil alih Banque de France“, sebuah poin yang telah ditekankan oleh Marx dalam beberapa kesempatan.

Pertemuan 3.000 orang di Louise Michel’s Club de la Révolution pada 13 Mei, hanya seminggu sebelum pekan berdarah, dengan suara bulat menyerukan penghapusan hakim, penangkapan segera para pendeta dan eksekusi sandera setiap 24 jam sampai pembebasan seluruh tahanan politik oleh Versailles. Ini adalah tuntutan dari beberapa communard paling radikal, yang menunjukkan tingkat perdebatan dan bagaimana argumen yang dibuat oleh militan yang terorganisir bisa menghimpun khalayak massal. Ini sebagian dipicu pula oleh keragu-raguan di Hôtel de Ville, yang menyulut ketidaksabaran rakyat.

Klub bersikeras bahwa mereka harus mengawasi tindakan Komite Komune. Sebelas dari mereka membentuk federasi untuk membuat buletin, beberapa memanggil anggota Dewan untuk menghadiri pertemuan mereka sehingga ada lebih banyak pertukaran pandangan. Peristiwa kacau ini mencerminkan dinamisme yang telah muncul, tetapi juga banyak kebingungan tentang bagaimana menang melawan pasukan Versailles yang semakin mengancam. Gluckstein menyimpulkan bahwa “seksi-seksi” yang termasuk organisasi seperti Union des Femmeslah yang paling efektif bekerja dengan Hôtel de Ville, dalam membangun hubungan “yang kuat dan timbal balik”: “Dalam pendidikan, misalnya, banyak momentum yang tidak datang dari komisi Komune tetapi dari badan pendidik yang sudah ada ”. Dan kita telah melihat peran timbal balik dari Union des Femmes dalam kaitannya dengan Komisi Perburuhan dan Komite Komune.

Masalah bagaimana klub-klub menekan Komite Komune, mengambil inisiatif dan menuntut Komite menginformasikan keputusan mereka adalah penting dalam memahami peran kaum perempuan dalam proses revolusioner. Judy Cox dengan tepat menantang Gay Gullickson yang, seperti kebanyakan sejarawan, meremehkan kemajuan perempuan karena mereka bukan anggota Komite Komune terpilih. Ini adalah kesalahan ganda. Pertama, seperti kebanyakan feminis, Gullickson beranggapan bahwa laki-laki tidak bisa mewakili kepentingan perempuan. Tapi dukungan untuk hak-hak perempuan bukan hanya soal gender, tapi politik. Seperti yang ditunjukkan Cox, “Sayap Marxis dari Internasionale Pertama adalah satu-satunya organisasi politik di Prancis yang mendukung hak perempuan. Setidaknya empat anggota laki-laki sosialis dari Komune – Eugène Varlin, Benoît Malon, Edourd Vaillant, dan Leo Frankel – mengambil insiatif mempromosikan kesetaraan kaum perempuan dalam setiap ranah yang menjadi wewenang mereka.

Tapi itu bukan hanya masalah orang-orang berprinsip yang berdiri melawan penindasan. Seperti yang telah ditunjukkan, suara kaum perempuan terdengar keras dan jelas di klub, di barikade, dan di setiap aktivitas Komune. Untuk Para pendukung modern pembebasan perempuan, fakta bahwa perempuan tidak diberi hak untuk memilih dalam pemilu tampaknya mengejutkan. Tetapi tidak ada bukti bahwa perempuan menuntutnya. Seperti yang dikatakan Ross:

Serikat [Perempuan] tidak menunjukkan minat pada tuntutan parlemen atau berbasis hak. Dalam hal ini anggotanya adalah, seperti Louise Michel, Paule Mincke dan perempuan lain di Komune, tidak peduli dengan pemungutan suara (tujuan utama pada tahun 1848) dan bentuk tradisional politik republik… Partisipasi dalam kehidupan publik, dengan kata lain, adalah untuk mereka sama sekali tidak terkait dengan hak pilih.

Ini benar, tetapi Komite Nasional Garda Baru berasumsi, ketika mereka mendapati diri mereka memimpin insureksi yang berhasil, bahwa mereka harus beroperasi secara legal. Jadi pemilihan yang mana darinya mereka mendapatkan persetujuan dari para walikota, diadakan berdasarkan undang-undang pemerintah yang ada sebelumnya, yang hanya memperbolehkan hak pilih laki-laki. Kita tidak tahu apa hasilnya jika para perempuan terkemuka memimpin perjuangan untuk hak pilih perempuan, tetapi jelas bahwa banyak yang akan mendukung mereka.

Gullickson mengambil posisi kaum Proudhonis sayap kanan – yang Marx tanpa henti mengobarkan kampanye melawannya – sebagai bukti adanya budaya laki-laki sauvinis umum yang mengesampingkan perempuan. Tetapi bahkan kaum Proudhonis kiri, seperti Lefrançais, mendukung hak-hak perempuan. Dan terlepas dari feminismenya, Gullickson tidak menghormati suara André Léo, seorang feminis terkemuka jauh sebelum Komune sekaligus editor majalah La Sociale. Demi mendukung sikapnya, Gullickson mengutip akun Léo yang diterbitkan tentang petugas Garda Baru dan seorang dokter yang bertindak tidak hormat terhadap sukarelawan perempuan. Namun Léo menyimpulkan artikel itu dengan: “kami memperhatikan sikap yang sangat berbeda saat ini. Tanpa kecuali para petugas dan ahli bedah [kelas menengah] menunjukkan kurangnya simpati yang bervariasi dari sikap dingin hingga menghina; tetapi dari Garda Nasional muncul rasa hormat dan persaudaraan ”. Dan, karena dia menyuarakan keluhannya terhadap para perwira, Louis Rossel, utusan perang Komune, meminta nasihatnya tentang melibatkan lebih banyak perempuan dalam kampanye militer.

Tentu saja tidak semua orang langsung yakin akan poin-poin paling radikal yang dijelaskan di sini. Intinya adalah bahwa perempuan menantang pandangan terbelakang, mengagitasi untuk diwujudkannya reforma yang mereka butuhkan, dan Komune mendukung tuntutan mereka. Mayoritas artikel Léo di La Sociale tidak secara khusus membahas masalah perempuan. Tetapi ketika dia melakukannya, dia menekankan kebutuhan dan potensi solidaritas antar jenis kelamin. Salah satu artikelnya berjudul “Toutes avec Tous” (semua perempuan dan pria bersama-sama).

Kita bisa menambahkan poin lebih lanjut. Gullickson tidak dapat mengenali kemajuan besar yang dibuat kaum perempuan, dan tradisi yang mereka tinggalkan untuk dipelajari oleh kelas buruh karena dia, seperti feminis liberal lainnya, berfokus pada pemimpin terpilih. Sementara apa yang terjadi pada tingkat itu tidak relevan, sosialis harus fokus pada perubahan yang terjadi di bawah permukaan, di mana para buruh sibuk membangun struktur demokrasi, memunculkan ide-ide baru dan mengambil inisiatif yang luar biasa. Dalam peristiwa-peristiwa penuh gejolak yang menjadi ciri revolusi mana pun, karakter demokratis dari proses tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami hanya dengan menganalisis konstitusi atau struktur formal. Ini tentang dinamika proses itu, dan kecenderungan yang baru muncul yang muncul secara spontan melalui perjuangan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dengan intervensi politik yang disadari.

Banyak kritik yang bersifat peninjauan dan penilaian ke masa lalu terhadap Komune mengenali kegagalan mereka untuk merebut kekayaan yang disimpan di Bank Nasional sebagai kesalahan utama. Namun ini sendiri sebagian merupakan produk dari demokrasi yang ketat yang menjadi norma di seluruh Komune. Raoul Rigault, seorang Blanquis dan anggota Internasionael, bertanggung jawab atas “bekas prefektur polisi”. Dia adalah sosok yang penuh semangat dan terkenal karena agitasi dan pengorganisasian politiknya, sehingga ia dijuluki “profesor barikade” oleh hakim dalam salah satu dari banyak persidangannya. Dia memerintahkan beberapa anggota Garda Nasional untuk merebut Bank Prancis untuk menasionalisasi kekayaan yang disimpan di sana. Tetapi karena rentan terhadap elitisme yang khas dari Blanquis, dia tidak berkonsultasi dengan Dewan Komunal lainnya, dan karena itu proposal tersebut diblokir oleh Proudhonis. Salah satu dari mereka bersikeras bahwa bank “harus dihormati sebagai milik pribadi milik pemegang saham”! Pada saat Dewan Komunal mempertimbangkan instruksi Rigault, kesempatan itu telah hilang.

Engels bersikukuh bahwa “bank di tangan Komune – ini akan bernilai lebih dari 10.000 sandera”. Masih bisa diperdebatkan apakah ini akan mendorong Versailles untuk berdamai seperti yang ditegaskan Engels, tetapi jelas bahwa uang di dalamnya dapat digunakan untuk memperdalam pencapaian Komune. Misalnya, Komune harus menghabiskan 21 juta franc untuk pertahanan, hanya menyisakan 1.000 franc untuk pendidikan, sebuah masalah yang menyentuh hati hampir semua orang yang berpartisipasi. Lebih tepatnya, keengganan untuk mengambil alih benteng kekuasaan pemerintah dan borjuasi mencerminkan keinginan konstan untuk beroperasi dalam batas-batas legalitas borjuis dan untuk menghindari dianggap bertanggung jawab atas perang sipil yang berkecamuk di sekitar mereka. Meskipun ada contoh kurangnya akuntabilitas dari beberapa pemimpin, kelemahan yang diketahui oleh sejarawan harus dilihat dalam konteks pengepungan, perang sipil, dan kehancuran sosial dan ekonomi. Pencapaian signifikan adalah apa yang ditekankan oleh Marx: embrio demokrasi buruh, dengan perwakilan yang dapat dipilih sekaligus dapat ditarik dan digantikan sewaktu-waktu, yang juga berlaku pada para hakim dan pejabat di setiap tingkatan. Terobosan sejarah ini menjamin penekanan utama kami, daripada kekurangan-kekurangan mereka yang masih bisa dimaklumi.

Poin terakhir. Struktur yang didirikan oleh Komune tidak dapat diambil sebagai model langsung bagi kaum revolusioner saat ini. Kelas buruh di Paris adalah kelompok terbesar, berjumlah 900.000, dikelilingi oleh 400.000 borjuis kecil yang menjalankan 4.000 toko penjual sayur, 1.900 tukang daging, 1.300 toko roti. Namun, rekonstruksi Haussmann di Paris telah menghalangi pendirian tempat kerja yang besar. Yang didirikan kebanyakan di pinggiran luar kota Paris. Pabrik Cail di timur laut Paris, yang mempekerjakan 2.800 buruh untuk memproduksi mesin uap dan lokomotif, adalah pengecualian dan bukan keumuman. Tempat kerja yang berisikan lebih dari 10 buruh hanya berjumlah 7% dari keseluruhan, dimana 31% tempat kerja lainnya hanya mempekerjakan antara dua sampai sepuluh buruh. Gluckstein menyimpulkan:

Sifat produksi… memiliki pengaruh pada struktur organisasi gerakan 1871… Tindakan serikat buruh sulit dilakukan dan kegiatan yang luas tidak dapat dengan mudah dibangun dari tempat kerja yang kecil. Unit produksi seperti itu tidak dapat memberikan fokus kolektif bagi kelas pekerja. Sebaliknya fokus kolektif itu datang dari Garda Nasional dan klub-klub yang menawarkan kerangka kerja untuk ekspresi dan organisasi kolektif.

Dalam revolusi Rusia tahun 1905, para buruh akan mengambil lompatan ke depan dan menciptakan soviet, yang mencerminkan pertumbuhan besar kelas buruh industri, yang disatukan di tempat kerja yang jauh lebih besar daripada apa pun di Paris pada tahun 1871. Ini berarti bahwa fokus organisasi bergeser ke tempat kerja., meski jalanan tetap menjadi titik fokus penting untuk protes besar dan terpadu yang menyatukan para buruh dari berbagai industri yang berbeda. Ini sangat penting. Seperti yang dikatakan Rosa Luxemburg, “di mana rantai penindasan ditempa, di sana rantai itu harus diputuskan”. Namun demikian, prinsip-prinsip Komune tetap hidup di soviet: semua delegasi dan orang-orang yang mengemban jabatan dapat ditarik kembali serta digantikan setiap saat, mereka bertanggung jawab langsung kepada para pemilihnya, dibayar tidak lebih dari upah buruh, dan tetap bekerja di mana mereka mengalami kondisi yang membuat mereka mengambil keputusan.. Oleh karena itu, Komune Paris paling baik dipahami sebagai firasat, atau pertanda, dari masyarakat masa depan. Dalam kata-kata Marx:

Kelas buruh tidak mengharapkan keajaiban dari Komune. Mereka tidak memiliki utopia siap pakai untuk memperkenalkan par décret du peuple atau dekrit rakyat. Mereka tahu bahwa untuk melaksanakan pembebasan mereka sendiri… mereka harus melalui perjuangan yang panjang, melalui serangkaian proses bersejarah, mengubah keadaan dan manusia. Mereka tidak memiliki cita-cita untuk direalisasikan selain membebaskan elemen-elemen masyarakat baru.

Beberapa aspek Komune telah digantikan oleh perkembangan-perkembangan selanjutnya, dan kita tidak tahu persis bagaimana revolusi kelas buruh di abad ini akan terlihat. Bagaimanapun prinsip-prinsip dasar kolektivitas dan demokrasi yang didirikannya tetap sangat penting bagi kelas buruh modern.

Kekejaman Kelas Penguasa – La Semaine Sanglante (Pekan Berdarah)

Marx berargumen bahwa kita membuat sejarah kita sendiri, tetapi tidak dalam keadaan yang kita pilih. Kebangkitan bersenjata yang meletus pada tanggal 18 Maret memaksa communard untuk merombak kembali tatanan masyarakat di tengah-tengah pengepungan dari pasukan Prusia dan perang sipil yang sengit. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi kekalahan kebangkitan bersenjata yang gagah berani ini.

Pada hari Minggu 21 Mei, pasukan dari Versailles menyerbu Paris. Barikade baru didirikan di jalan demi jalan, karena penduduk dikerahkan untuk upaya heroik terakhir untuk mempertahankan Komune mereka. Seorang saksi mata menggambarkan bagaimana salah satu barikade dibangun dan dipertahankan oleh “batalion perempuan yang terdiri dari sekitar seratus dua puluh orang. Pada saat saya tiba, sesosok gelap memisahkan diri dari gerbang kereta. Itu adalah seorang gadis dengan topi Phyrgian dia kenakan di kepalanya sampai menutupi telinganya, dengan senapan di tangannya, dan sabuk kartrid di pinggangnya. ‘Berhenti, warga, kamu tidak boleh lewat sini!’ ” Kami melihat bagaimana perempuan telah berkembang dari memohon kepada tentara untuk tidak menembak di bulan Maret, hingga kini berperan sebagai orang yang penuh kepercayaan diri, berjuang dan bertempur sebagai kombatan di bulan Mei, siap untuk mati dengan bermartabat dan terhormat.

Hanya satu minggu kemudian, 30.000 atau lebih orang telah dibunuh oleh kaum kontra-revolusioner. Judul bab yang digunakan oleh Lissagaray dalam bukunya merangkum pengalamannya: “The Versailles fury” atau Angkara Versailles, “Neraca Pembalasan Dendam Borjuis”. Inti dari peristiwa tersebut ditangkap dalam judul buku John Merriman, Massacre atau Pembantaian. Meskipun ada perdebatan tentang jumlah korban tewas, saya tidak melihat ada gunanya berdebat tentang angka pastinya. Banyak korban yang tidak pernah tercatat, jenazah mereka dibuang ke kuburan massal dan kemudian dibakar. Tak terhitung banyaknya orang hilang ke penjara atau dibuang ke tanah jajahan, entah berapa banyak yang tewas. Yang lainnya melarikan diri untuk mencari perlindungan, dan hanya ada sedikit catatan mengenai mereka yang selamat dari luka-luka yang ditorehkan dalam pertempuran tersebut. Kebiadaban ini pada awalnya disorak-soraki di surat kabar borjuis terkemuka di Eropa, yang jurnalisnya mengikuti tentara berkeliling “seperti serigala”. Seorang jurnalis menyerukan “diakhirinya hama demokrasi internasional” Paris Merah. Namun saat dihadapkan pada “bau pembantaian”, kerumunan lalat di atas mayat-mayat, pohon-pohon yang hancur hilang semua daunnya, jalanan yang penuh dengan bangkai burung, bahkan beberapa komentator borjuis ini merasa syok. “Janganlah kita membunuh lagi”, pinta Paris Journal, “Sudah cukup eksekusi, cukup darah, cukup korban” keluh Nationale.

Tetapi kelas atas yang hidup dari kerja keras mereka yang dibantai tidak kenal batasan seperti itu terhadap kebiadaban mereka. Para perempuan dari kalangan kaya-raya melakukan tur ke ruang bawah tanah di mana yang ditangkap dipenjarakan, sambil memegang sapu tangan bertepi renda mereka – yang dibuat oleh perempuan yang mereka lihat – untuk menutupi hidung mereka dari bau menyengat para komunar yang sekarat dan terhina ini. Secara khusus, mereka juga menikmati menusuk-nusuk para tahanan perempuan itu dengan gagang payung mereka. Banyak tokoh publik, termasuk hakim dan kalangan kelas menengah dan borjuis perlente lainnya terus menunjukkan rasa haus darah mereka terhadap para tahanan communard ini. Demi membenarkan kegilaan ini, mereka mengarang kebohongan penuh prasangka brengsek. Seorang Inggris yang namanya dirahasiakan menggambarkan para communard sebagai “makhluk yang tercambuk gila sehingga menjadi binatang-binatang buas yang terperangkap”. Ini, menurut pendapatnya, “menjadikan pemusnahan mereka suatu keharusan”. Kelas penguasa khususnya membenci kaum perempuan communard, yang mereka gambarkan sebagai “keji”, “liar” dan bejat secara seksual.

Kemarahan mereka dipicu oleh cerita histeris tentang pétroleuses yang terkenal, yang konon disiapkan untuk membakar seluruh Paris. Jadi legenda pétroluses menuntut perhatian kita. Edith Thomas memberi judul bukunya tentang para perempuan di Komune Les Pétroleuses, yang diterjemahkan sebagai The Women Incendiaries atau Para Perempuan Pembakar. Dia memeriksa bukti dan menyimpulkan bahwa tidak jelas apakah ada pétroleuses sebagaimana digambarkan kaum reaksioner yang menggunakan istilah tersebut. Pada saat yang sama, communard jelas menggunakan api sebagai senjata perang untuk menghancurkan bangunan yang dari tempat itu pihak Versaillese bisa menembaki orang. Api juga digunakan sebagai bentuk barikade, suatu tembok api untuk menahan laju para tentara, yang bisa dipasang oleh para pejuang Komune termasuk juga kaum perempuan dan bahkan mungkin juga anak-anak. Merriman mendokumentasikan perintah yang diberikan oleh delegasi perang dengan Garda Nasional, Charles Delescluze, Jacobin yang sudah tua, dan lainnya, termasuk orang-orang di Komite Komune, untuk meledakkan atau membakar rumah. Delescluze, menyadari bahwa menjadi tidak mungkin untuk mengumpulkan respon militer yang cukup untuk mengusir tentara, “mengadopsi strategi perlawanan massa rakyat”. Para jenderal Garda Nasional secara khusus memerintahkan “pembakaran sejumlah bangunan monumental Paris, semua di bagian kota yang mewah”, serta gedung-gedung resmi. Salah satu jenderal communard memerintahkan Istana Tuileries dibakar. Gustave Lefrançais, Proudhonis sayap kiri paling kiri, mengakui bahwa dia adalah salah satu dari mereka “yang mengalami kegembiraan melihat istana yang jahat itu terbakar”. Ketika seorang perempuan bertanya kepada Nathalie Lemel apa yang bisa dia lihat terbakar di Montmartre, Lemel menjawab dengan sederhana, “tidak apa-apa, hanya Palais-Royal dan Tuileries, karena kami tidak menginginkan seorang raja lagi”.

Marx benar saat membela pembakaran kota:

Paris-nya kaum buruh, dalam tindakan pembakaran diri yang heroik, melahap bangunan-bangunan dan monumen-monumen dengan kobaran api. Penguasa yang mencabik-cabik kaum proletariat hidup-hidup tidak boleh lagi berharap untuk kembali dengan penuh kemenangan ke dalam arsitektur utuh tempat tinggal mereka. Pemerintah Versailles berteriak-teriak histeris, “Pembakaranisme!” dan membisikkan isyarat ini kepada semua agennya… agar memburu musuh-musuhnya kemana-mana sebagai tersangka pembakaran profesional. Kaum borjuis di seluruh dunia, yang dengan puas melihat pembantaian besar-besaran terhadap manusia setelah pertempuran, dikagetkan oleh kengerian atas penodaan terhadap batu bata dan mortir yang merupakan benda mati!

…Komune menggunakan api secara ketat sebagai alat pertahanan. Mereka menggunakannya untuk menghentikan pasukan Versailles di jalan panjang dan lurus yang telah dibuka oleh Haussmann untuk tembakan artileri; mereka menggunakannya untuk menutupi gerak mundur mereka, dengan cara yang sama seperti orang Versailles, yang merangsek maju, yang dengan menggunakan peluru dan meriam mereka telah menghancurkan setidaknya sama banyaknya dengan yang dihancurkan api Komune. Hingga kini masih diperdebatkan, bangunan mana yang dibakar oleh pertahanan Komune, dan bangunan mana yang dibakar oleh penyerangan pasukan Versailles. Dan para pembela Komune terpaksa memakai api baru saat pasukan Versailles telah memulai pembunuhan besar-besaran terhadap para tahanan.

Kepahlawanan anak-anak, perempuan, dan laki-laki saat mereka berjuang untuk mempertahankan “kemewahan komunal” mereka akan terus hidup dalam ingatan gerakan sosialis dan kaum buruh. Berjuang dan gugur dalam pertempuran menjadi tanda kehormatan revolusioner. Memoar sering kali mengingat pemandangan seperti ini dari Lissagaray tentang barikade Faubourg du Temple:

Penembak yang paling tak kenal lelah adalah seorang anak-anak. Barikade direbut, semua pembela Komune ditembak, dan giliran anak-anak juga datang. Dia meminta jeda tiga menit saat akan dieksekusi; “Agar dia bisa mendatangi ibunya, yang tinggal di seberang, untuk mewariskan arloji peraknya agar setidaknya ibunya tidak kehilangan segalanya”. Perwira itu, dengan enggan dan ragu-ragu kemudian, melepaskannya. Sang perwira tidak kepikiran bahwa sang penembak anak akan kembali lagi; tapi tiga menit kemudian anak itu berseru, “Inilah aku!” melompat ke atas trotoar, dan dengan gesit bersandar ke dinding dekat mayat kawan-kawannya.

Lissagaray menyimpulkan, “Paris tidak akan pernah mati selama dia melahirkan orang-orang seperti itu”. Dan Victor Hugo, yang awalnya tidak mendukung Komune, tetapi merespon dengan solidaritas dalam menghadapi pembantaian itu, menulis puisi tentang kejadian ini. Dia mengakhiri dengan angan-angan bahwa petugas itu melepaskan anak itu.

Gustave Courbet mengenang:

Mabuk akan pembantaian dan kehancuran telah menguasai orang-orang ini yang biasanya begitu kalem, tetapi sangat menakutkan ketika terdesak… Kita akan mati jika harus mati, teriak para laki-laki, perempuan dan anak-anak, tetapi kita tidak akan dikirim ke Cayenne.

Louise Michel menjadi terkenal karena sikap konfrontatifnya pada persidangannya:

Karena tampaknya setiap hati yang berdetak untuk kebebasan hanya memiliki sedikit petunjuk, saya juga menuntut bagian saya. Jika Anda membiarkan saya hidup, saya tidak akan berhenti menangis mengharapkan pembalasan… Jika kalian bukanlah pengecut, bunuh saya.

Karena takut dia akan menjadi martir yang malah membuat buruh memobilisasi diri, dia dibuang ke tanah jajahan Prancis di Kaledonia Baru, di mana dia bertemu Nathalie Lemel. Selama membela Paris, Lemel menjadi komando kontingen Union des Femmes. Mereka berbaris, dengan bendera merah berkibar di depan barisan, dari pertemuan di gedung walikota dari arondisemen keempat untuk mempertahankan Les Batignolles. Di sana, 120 perempuan menahan pasukan pemerintah selama beberapa jam. Mereka yang dtangkap ditembak di tempat, salah satunya adalah penjahit bernama Blanche Lefebvre, salah satu pengorganisir Union des Femmes dan anggota lain dari lingkaran Marx. Beberapa orang menahan barikade di Place Pigalle selama tiga jam berikutnya, tetapi semua terbunuh pada apa yang disebut Lissagaray sebagai “barikade legendaris ini”. Lemel merawat yang terluka selama berjam-jam. Rekannya Elisabeth Dmitrieff berada di Montmartre bersama Louise Michel dan Léo Frankel dalam beberapa jam terakhir.

Massa kaum miskin hanya memiliki sedikit pilihan selain mati dengan gagah berani, yang mereka lakukan dengan bangga. Mereka dari kalangan yang lebih terpelajar, jika beruntung, menemukan jalan ke pengasingan. Frankel diselundupkan oleh seorang sopir pelatih dan melarikan diri ke Jerman bersama Dmitrieff. Mereka bisa menyamar sebagai pasangan Prusia karena mereka fasih berbahasa Jerman. Dmitrieff akan kembali ke Rusia, hanya untuk pergi ke pengasingan di Siberia dengan seorang revolusioner yang dengannya ia menjalin pernikahan sejati. Karena hidup di tempat amat jauh, dia tidak pernah mendengar kabar tentang amnesti dan karenanya menjalani sisa hidupnya di tundra di mana begitu banyak kaum revolusioner binasa. Michel menepati janjinya dan akhirnya kembali ke Prancis di bawah amnesti, kemudian ditangkap karena demonstrasi buruh yang menganggur pada tahun 1883 dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara di sel isolasi, kelak ia ditangkap lagi pada tahun 1890. Dia kembali ke Prancis dari Inggris, ke tempat dia melarikan diri,dan kemudian meninggal karena pneumonia pada Januari 1905

Seorang dokter mengomentari keberanian Communard:

Saya tidak bisa menginginkan kemenangan cita-cita kalian; tetapi saya belum pernah melihat orang-orang yang terluka lebih tenang dan tetap berkepala dingin selama operasi. Saya pikir keberanian ini datangnya dari energi yang bersumber dari keyakinan mereka.

Dan demikianlah bagaimana para pendukung Komune menafsirkan perlawanan yang berani. Ini mengilhami generasi, menggambarkan mengapa sentimen “lebih baik mati berjuang daripada berlutut” adalah tanggapan paling berprinsip terhadap barbarisme kelas penguasa. Jika mereka menyerah dengan patuh atas nama menghindari kekerasan, tidak ada bukti bahwa nyawa bisa diselamatkan, dan revolusi pasti tidak akan menginspirasi generasi-generasi aktivis kelas buruh dan sosialis berikuitnya.

Penilaian politik

“Dunia telah berganti rupa” demikian kalimat Internationale karya Pottierer. Tapi bagaimana melakukannya? Politik dan teori manakah yang paling sesuai dengan kebutuhan Komune? Saat mengenang perjuangan buruh, menilai ide-ide politik yang diuji dalam pertempuran adalah bagian penting untuk menghormati ingatan mereka. Jika penderitaan massa dalam kekalahan itu sepadan dengan darah yang ditumpahkan, itu adalah tanggung jawab mereka yang diilhami oleh mereka untuk mencoba menarik pelajaran, agar pengorbanan mereka tidak terulang tanpa henti. Dalam artikel terakhir yang ditulis oleh Rosa Luxemburg sebelum dibunuh pada Januari 1919, dia menyebut Komune Paris sebagai metafora untuk nasib revolusi yang sedang terurai di sekitarnya. Tetapi, dari perspektif misi bersejarah kelas pekerja, kekalahan semacam itu memiliki tujuan:

Di manakah kita hari ini tanpa “kekalahan” itu, yang darinya kita memperoleh pengalaman sejarah, pemahaman, kekuasaan dan idealisme?… Kita berdiri di atas dasar kekalahan itu sendiri; dan kita tidak dapat melakukannya tanpa salah satu dari mereka, karena masing-masing berkontribusi pada kekuatan dan pemahaman kita.

Berkali-kali, dalam selang waktu 150 tahun, para pekerja telah menunjukkan bahwa jika saja mereka dapat mengambil kendali, mereka akan membangun masyarakat yang manusiawi, membangun sebuah dunia sosialis. Dalam setiap perjuangan kita bisa merayakan tanda-tandanya, dan inspirasi itu menyatukan orang-orang dari banyak politik kiri. Coba pikirkan. Seratus lima puluh tahun yang lalu, ketika perjuangan untuk hak-hak perempuan masih dalam tahap awal, klub-klub yang lebih radikal di Paris menuntut dan mendapat dukungan untuk hak aborsi.

Namun, pertanyaan yang sejauh ini luput dari perhatian para buruh adalah bagaimana memenangkan kendali dan mempertahankannya, bagaimana mengalahkan kekuatan kapitalisme digdaya yang dikerahkan melawan mereka. Proudhonis, Jacobin, dan Blanquist adalah kelompok politik paling berpengaruh di Komite Komune. Internasionalenya Marx  memiliki ribuan anggota, tetapi jauh dari koheren seputar teori dan politiknya. Tak satu pun dari kelompok ini dapat menawarkan petunjuk yang dibutuhkan.

Garda Nasional telah memilih Komite Sentral baru beberapa minggu sebelum kebangkitan bersenjata. Meskipun tidak berpengalaman, mereka berkumpul untuk mempertimbangkan apa yang harus dilakukan sehubungan dengan kebangkitan bersenjata spontan tersebut. Pada penghujung hari, Hôtel de Ville diduduki sebagai markas besar para insurgen. Tetapi mereka kurang percaya diri untuk menegaskan otoritas mereka dan mengatur pertahanan dan reorganisasi kota yang diperlukan. Dalam kebingungan politik mereka, mereka menyerahkan kepemimpinan kepada satu-satunya badan konstitusional yang tersisa di Paris, para walikota, yang ditunjuk oleh pemerintah pusat yang dibenci! Komite Sentral Garda Nasional bersikeras bahwa hanya badan yang baru terpilih yang dapat melakukan semua tugas mendesak yang dihadapi kota itu. Itu delapan hari sebelum negosiasi dengan walikota memungkinkan pemilihan badan yang berwenang, di mana waktu yang berharga telah hilang dan malah memberikan keuntungan bagi bala tentara Versailles yang mengancam Paris. Élie Reclus bertanya pada hari pemungutan suara: “Apa arti legalitas pada masa revolusi?”

Hampir setiap sejarawan yang telah menulis tentang itu berkomentar tentang sifat buruk Garda Nasional, yang memastikan bahwa kemenangan pemerintah Versailles lebih mudah dari yang seharusnya. Serupa dengan itu, sebagian besar membahas tentang tanggapan datar Komune terhadap kebangkitan bersenjata massa. Namun, hanya sedikit yang menarik kesimpulan politik atau menjelaskan secara serius apa yang salah. Edwards meringkas alasan malapetaka demikian karena: perhatian utama mayoritas Komite “adalah untuk ‘melegalkan’ situasinya dengan melepaskan diri dari kekuasaan yang tiba-tiba jatuh ke tangannya”. Kaum Blanquis mendesak untuk menyerbu Versailles, “sebuah rencana yang mungkin berhasil” setelah persaudaraan antara para prajurit dan anggota Garda Nasional. Gluckstein berpendapat bahwa Thiers dan konco-konconya tidak akan pernah lebih lemah daripada pada jam-jam dan hari-hari pertama setelah 18 Maret 1871. Disiplin militer telah menguap, dan tentara Prancis belum didukung oleh tawanan perang yang dibebaskan oleh Bismarck. Landasan bagi pandangan ini adalah fakta bahwa Thiers menolak permintaan pasukan untuk membentuk pasukan anti-Komune di dalam Paris: “Tidak ada 5.000, atau 500, atau lima; Saya membutuhkan beberapa pasukan yang masih tersedia – dan saya belum memiliki kepercayaan penuh – untuk membela pemerintah ”. Seorang pendukung Komune melaporkan bahwa di Versailles pasukan reguler bahkan tidak dipercaya untuk berpatroli di jalan-jalan.

Auguste Blanqui berbagi dengan Marx harapan bahwa perang akan menciptakan situasi yang matang untuk revolusi. Tetapi tidak seperti Marx, dia tidak melihat kelas buruh sebagai agen pembuat revolusi itu sendiri, melainkan dianggap hanya sebagai pendukung kudeta. Akibatnya, para pendukungnya tidak mengakar dalam organisasi atau komunitas kelas buruh, dan dia mendekam di penjara selama revolusi karena keterlibatannya dalam upaya pemberontakan beberapa bulan sebelumnya. “Laporan Blanqui sendiri tentang malapetaka[Agustus 1870] sangat jujur,” jelas Gluckstein. Blanqui menulis tentang tanggapan para buruh di Belleville terhadap orang-orang asing yang membawa senjata ini yang menyerukan mereka untuk bangkit: “Penduduk tampak tercengang… tertahan oleh ketakutan”. Dan dia menyimpulkan, “Kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa rakyat!” Terlepas dari sejarah pengorganisasian kudeta lewat konspirasi segelintir orang, kaum Blanquis berpartisipasi dengan antusias dalam kebangkitan bersenjata massal dan institusi yang dimilikinya. Namun, karena kekurangan pemimpin mereka yang paling berwibawa, kaum Blanquis kalah dalam perdebatan dan usulan mereka untuk menyerbu Versailles ditolak, dan momen yang menentukan telah terlewat.

Meskipun mereka alergi terhadap segala bentuk organisasi politik, kaum Proudhonis mengambil banyak posisi pemimpin di Komite Komune. Tradisi mereka telah lama memupuk permusuhan terhadap semua jenis organisasi politik, yang terwujud dalam keengganan untuk memberikan otoritas nyata kepada badan-badan terpilih dari Komune. Ini kemudian merusak kepercayaan dari badan-badan itu untuk bertindak tegas, dan berakibat memberi Versailles waktu untuk menyerang. Penghormatan Proudhonis terhadap kepemilikan pribadi juga bertanggung jawab atas keputusan untuk meninggalkan kekayaan burjuasi yang sangat besar dengan aman di Bank Nasional, dan menginformasikan keengganan umum untuk mengambil tindakan tegas di bidang kebijakan ekonomi dan militer.

Proudhonisme saat ini sudah mati sebagai suatu arus politik; akan tetapi, murid Proudhon, Bakunin, masih mempengaruhi beberapa aktivis. Dalam rumusan yang khas, Bakunin menulis dalam kritiknya terhadap Komune: “penyebab masalah [kemanusiaan] tidak terletak pada bentuk pemerintahan tertentu tetapi pada prinsip-prinsip fundamental dan keberadaan dalam pemerintahan, apapun bentuknya”. Tetapi sifat umum yang terdengar radikal ini mengaburkan fakta bahwa masalah-masalah yang dihadapi Komune bukan berasal dari kategori abstrak, tetapi dari kekuatan nyata pasukan kontra-revolusioner Thiers. Hanya kekuatan yang sama terorganisirnya berdasarkan demokrasi kelas buruh yang dapat mempertahankan Komune dari pembantaian yang akan datang. Slogan-slogan abstrak Bakunin – yang terus hidup dalam lingkungan kaum anarkis saat ini – sama sekali tidak memberikan panduan tentang apa yang harus dilakukan dalam menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh mesin brutal yaitu negara borjuis. Buruh tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan politik dan organisasi.

Tapi itu bukan hanya soal pertahanan. Tuntutan para buruh roti untuk mengakhiri kerja malam menimbulkan banyak perdebatan karena anggota Komite Komune, dipengaruhi oleh ide-ide seperti yang diartikulasikan oleh Bakunin, menolak mengeluarkan keputusan untuk menghapuskan kerja malam, meskipun mereka mendukungnya. Para buruh roti telah berkampanye selama dua tahun, terhambat oleh ukuran kecil toko roti yang mengurangi pengorganisasian yang efektif. Tanggapan Komite itu menggelikan. Mereka menentang setiap tindakan negara secara prinsipil, dan berpendapat bahwa para buruh harus “melindungi kepentingan mereka sendiri dalam hubungannya dengan majikan”. Benoît Malon mewakili pandangan 3.000 buruh pembuat roti yang berbaris ke Hôtel de Ville menuntut dekrit: “sampai sekarang negara telah melakukan intervensi melawan kepentingan buruh. Sudah waktunya bersikap adil dengan negara melakukan intervensi untuk para buruh ”.

Doktrin-doktrin abstrak yang anti-organisasi tidaklah bisa menjadi panduan bagi kaum kiri mengenai bagaimana seharusnya berhubungan dengan organisasi-organisasi radikal seperti Union des Femmes, Federasi Seniman, dan klub-klub radikal. Jika engkau meyakini prinsip-prinsip itu dengan serius, maka engkau akan mendapati diri memboikot mereka, dan itu tidak lebih dari suatu sikap sektarian dan destruktif yang akan membuatmu tidak relevan, serta tidak dapat berkontribusi untuk mengembangkan kesadaran rakyat apalagi memenangkan argumen soal bagaimana strategi-strategi yang harus dipakai agar bisa menang.

Marx dan Engelslah yang paling baik dalam menarik pelajaran-pelajaran Komune. Marx telah berkomitmen pada pandangan pembebasan diri kelas buruh jauh sebelum Komune menunjukkan sekilas bagaimana hal itu bisa dilakukan. Dia telah menyaksikan perkumpulan-perkumpulan buruh radikal dan, secara kritis, pemberontakan penenun Silesia pada tahun 1844, dan kemudian tidak pernah meragukan kreativitas dan kejeniusan organisasi dari proletariat yang terorganisir. Tesis-Tesis tentang Feurbach-nya menjawab pertanyaan tentang bagaimana kaum buruh bisa “dididik” untuk masyarakat baru: mereka mendidik diri mereka sendiri melalui aktivitas sadar mereka sendiri. Marx dan Engels mengembangkan ide ini lebih jauh dalam Ideologi Jerman karya mereka, di mana mereka berpendapat bahwa untuk membangun masyarakat sosialis, “perubahan manusia dalam skala massal diperlukan, perubahan yang hanya dapat terjadi dalam gerakan praktis, revolusi”.

Sekarang massa Paris telah mengungkapkan jawaban atas pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan terhadap negara yang represif. Marx telah bergumul dengan persoalan ini sejak dia menyimpulkan dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte bahwa masalahnya sampai saat itu bahwa “Semua revolusi akan menyempurnakan mesin ini alih-alih menghancurkannya”. Tapi apa yang bisa menggantikannya? Dua hari setelah La Semaine Sanglante, Marx memberikan pidatonya ke hadapan Internasionale, ia menekankan pencapaian Komune dan pentingnya bagi masa depan gerakan buruh. Dia telah memperingatkan kebangkitan bersenjata itu pada minggu-minggu sebelumnya, karena khawatir itu terlalu dini, namun tidak ragu-ragu untuk membela mereka. Seperti kebanyakan karya politiknya, tulisannya tentang Komune menekankan aspek fundamentalnya. Berbeda dengan revolusi borjuis yang terutama menguntungkan minoritas penjajah kapitalis, potensi revolusi buruh untuk membebaskan seluruh umat manusia kini ditunjukkan dalam praktiknya. Dia menjelaskan bagaimana struktur demokrasi, dengan tentara dan polisi dibubarkan dan rakyat bersenjata, menjadi dasar di mana buruh dapat dibebaskan dari eksploitasi tenaga kerja mereka. Dengan cara ini, praktik buruh Paris benar-benar membuka jalan baru; kepahlawanan mereka menciptakan kondisi bagi Marx dan Engels untuk mengklarifikasi dan mengkonkretkan ide-ide mereka sebelumnya mengenai pembebasan diri kelas buruh. Secara keseluruhan, tulisan Marx tentang Komune sangat kontras dengan doktrin-doktrin abstrak dalam karya Bakunin.

Tetapi Lenin-lah yang menyatukan semua elemen ini, melampaui apa yang biasanya dianggap sebagai kontradiksi antara penggulingan penguasa secara spontan dan organisasi. Pertentangan antara spontanitas dan organisasi berlimpah dalam kritik Bakunin, dan diterima begitu saja oleh banyak aktivis saat ini. Masalahnya sangat rumit ketika perempuan terlibat. Aktivitas perempuan dalam pemberontakan seperti ini seringkali digambarkan sebagai suatu hal mendasar, tidak terencana dan tidak terlalu politis. Penekanan pada spontanitas ini seringkali bersifat seksis dan meremehkan peran kepemimpinan, pandangan ke depan dan perencanaan oleh kaum perempuan itu sendiri. Komune dengan sempurna menggambarkan argumen Lenin. Pertama-tama, tidak ada revolusi tanpa spontanitas. Radikalisasi yang cukup untuk membangkitkan Komune Paris tidak berkembang secara bertahap, malah meledak dan mengejutkan dunia. Benar bahwa kebangkitan bersenjata yang merebut meriam di Montmartre muncul dalam konteks meningkatnya ketidakpuasan dan kemarahan rakyat, Komune menunjukkan bagaimana tidak ada penghalang antara kebangkitan revolusioner itu sendiri dan aktivitas serta politik yang ada sebelumnya. Misalnya Eugène Varlin dan Nathalie Lemel terlibat dalam kampanye buruh untuk hak-hak perempuan dan upah yang setara di tahun 1860-an. Dalam jumlah pemogokan yang terus meningkat sebelum tahun 1871, beberapa buruh telah belajar dari pengalaman mereka. Pemogokan oleh 5.000 buruh perunggu pada tahun 1867 dimenangkan dengan dukungan dari Internasionale, yang mengorganisir dana dari buruh di negara lain. Pelajaran tentang solidaritas internasional tidak dilupakan. Dan kaum buruh lainnya – secara signifikan di sektor tekstil tempat kaum perempuan berpartisipasi dalam Union des Femmes Dmitrieff– mulai melihat nilai organisasi dan pemogokan di sejumlah kota. Dalam pemogokan yang dilakukan oleh para buruh tambang di wilayah Loire, para istri buruh telah dengan berani melawan polisi selama pemogokan di Le Creusot pada tahun 1870. Ide-ide yang dipromosikan oleh Proudhonis, yang menyatakan bahwa “perempuan harus tinggal di dalam rumah dan menghindari bahaya fisik dan moral dari bengkel” sekarang ditolak oleh laki-laki kelas buruha. Mereka menyatakan bahwa perempuan harus menjalankan kemandirian mereka dan “akan berbaris bersama kita dalam melaksanakan kerja sama sosial dan demokratis”. Ide-ide tersebut paling efektif dapat dipertahankan hidup dan dipopulerkan jika diambil oleh organisasi, daripada diserahkan pada imajinasi kebetulan individu.

Terobosan teoretis Lenin yang paling penting adalah melihat bahwa tugas kaum revolusioner adalah bersiap atas ledakan spontan sebelum itu terjadi. Persiapan ini bukan semata-mata latihan intelektual, tetapi melibatkan partisipasi dalam setiap perjuangan, memunculkan ide-ide yang menantang para partisipannya untuk menolak ide-ide kapitalisme. Tidak semua buruh akan mengembangkan kesadaran kelas pada saat bersamaan; kesadaran akan selalu tidak seimbang, seperti yang terjadi di Komune. Ini berarti kaum revolusioner perlu membangun sebuah partai yang mengorganisir para pekerja yang paling sadar kelas dan militan, “pelopor” seperti yang disebut Lenin. Partai revolusioner semacam itu perlu menaikkan tingkat kesadaran kelas secara umum, yang diartikan oleh Lenin adalah sejauh mana para buruh memahami peran kelas mereka sendiri, dan peran semua lapisan sosial lainnya, dan seberapa besar mereka memahami kekuatan kelas mereka. Mereka perlu memahami bahwa kelas mereka dapat dan harus memimpin kelas lain dalam revolusi jika ingin menggulingkan kapitalisme. Partai perlu memiliki sejarah berpartisipasi dalam gerakan bahkan juga memimpin perjuangan-perjuangan sehingga mereka mendapatkan pemahaman yang luas tentang momentum perjuangan, bagaimana menilai strategi yang berbeda dan argumen dari organisasi politik yang berbeda. Hanya ini yang menawarkan peluang terbaik bahwa argumen mereka yang selalu mendukung kompromi dan moderasi akan dikalahkan, bagaimana menilai strategi yang berbeda dan argumen dari organisasi politik yang berbeda. Hanya ini yang menawarkan peluang terbaik bahwa argumen mereka yang selalu mendukung kompromi dan moderasi akan dikalahkan. bagaimana menilai strategi yang berbeda dan argumen dari organisasi politik yang berbeda. Hanya ini yang menawarkan peluang terbaik bahwa argumen mereka yang selalu mendukung kompromi dan moderasi akan dikalahkan.

Pelopor pasti telah membakar kesadaran mereka bahwa jika pihak kita secara serius menantang kelas penguasa dan negara mereka, yang mana mereka tidak kenal batasan untuk “kebiadaban terang-terangan dan pembalasan dendam secara biadab”, dalam kata-kata Marx. Revolusi telah berkali-kali menghantam keberadaan negara yang tampaknya tak lekang oleh waktu, dan kesalahan dalam berusaha untuk tetap berada dalam “supremasi hukum”. Solusi Lenin adalah mengatur barisan depan untuk bersiap mengulangi tindakan pertama Komune: membubarkan polisi dan tentara, dan mempersenjatai kelas buruh dan kaum miskin. Ia tidak boleh segan-segan menanggapi kekerasan kelas penindas yang berkuasa demi mempertahankan revolusi.

Warisan Komune

Di Komune Paris, kelas penguasa melihat bentuk masyarakat baru. Mereka memahami bahwa dunia kesetaraan dan keadilan hanya dapat dibangun di atas reruntuhan kapitalisme. Jadi mereka berusaha untuk secara sistematis melenyapkan ingatannya.

Di Louvre hari ini, gambar keluarga kerajaan yang digulingkan dalam Revolusi Besar digambarkan dengan simpatik. Tapi koleksi kecil dari Komune disembunyikan di ruang bawah tanah. Koleksi artefak, dokumen, dan sejenisnya termasuk dalam museum yang didedikasikan untuk seni Paul Éluard di Saint-Denis. Ironisnya, itu bertempat di sebuah biara Karmelis tua. Ini pada awalnya didirikan oleh dewan Komunis Saint-Denis.

Pada tahun 1870-an, kaum borjuasi mulai memperbarui Paris dengan monumen Republik. Seperempat terakhir abad kesembilan belas telah disebut sebagai “zaman keemasan pembangunan monumen” sebagai bagian dari upaya “definisi diri” setelah trauma tahun 1870-71. Pembanguan kembali monumen Vendôme, tentu saja, merupakan prioritas besar. Terkadang tujuan monumen atau bangunan baru dibuat secara eksplisit. Gereja Sacré-Coeur dibangun di Montmartre. Ketika meletakkan batu fondasi, arsitek Charles Rohault de Fleury menyatakan bahwa Sacré-Coeur mereklamasi bangsa “tempat yang dipilih oleh Setan dan di mana dicapai tindakan pertama Saturnalia yang mengerikan itu”.

Sangat mudah untuk melihat pengingkaran Komune dalam kemegahan luar biasa dari Sacré-Coeur. Tetapi banyak rekonstruksi tidak begitu eksplisit. Banyak seni yang dipromosikan dan ruang yang ditata ulang hanya disajikan sebagai perayaan Republik. Namun, berusaha semaksimal mungkin, ingatan itu sering bergema pada apa yang tidak dikatakan atau dibangun. Satu ruang yang diizinkan untuk kaum sosialis adalah Mur des Fédérés (Tembok Federasi ), terletak di pemakaman Père Lachaise di mana darah dari jumlah yang tak terhitung tumpah pada hari-hari terakhir Komune. Agaknya pihak berwenang menganggap ini sebagai peringatan yang paling tepat: dihitung untuk membakar jiwa kita dan untuk memberi tanda bahwa upaya pemberontakan anti-kapitalis akan selalu tenggelam dalam kebiadaban yang tak terbayangkan. Tapi mereka salah. Pengunjung dari waktu ke waktu terus meninggalkan lautan mawar merah , dan meninggalkan tempat itu dengan membawa kebencian baru terhadap borjuasi dan keinginan untuk memperjuangkan janji Komune. Pada tahun 1907, dewan kota Paris berencana untuk memasang Monumen Paul Vautier-Moreau untuk Korban Revolusi., dipahat dari batu-batu barikade, yang di atasnya terukir clarion call Victor Hugo untuk mengakhiri “balas dendam”. Ada protes keras dari para pendukung Komune, yang lebih suka menjaga ruang itu hanya untuk communard, sehingga harus ditempatkan di luar tembok pemakaman.

William Morris memberi penghormatan kepada penghancuran monumen Vendôme dalam novelnya News from Nowhere, yang diterbitkan pada tahun 1890. Kebun aprikot yang menggantikan alun-alun Trafalgar, yang didominasi oleh patung Laksamana Nelson, seperti yang dikatakan Ross, adalah “revisi simbolis [dari] baik Place Vendôme dan Trafalgar Square… estetika nasionalistik dan monumentalitas abadi mereka menjadi ruang supra-nasional ”.

Terlepas dari upaya keturunan para penjagal yang membanjiri Paris dengan darah, ingatan akan revolusi buruh yang pertama ini tidak dapat sepenuhnya dihilangkan. Jadi sejarah sosial Paris, yang diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 2010, meninjau kembali beberapa catatan oleh para partisipan dan pendukungnya. Eric Hazan, penulisnya, mengingatkan kita bagaimana para penipu zaman modern, alih-alih mengaburkan sejarah sepenuhnya, secara sinis berupaya mengooptasi inspirasi Komune karena alasan oportunistik mereka sendiri. Sebuah plakat di Paris bertuliskan: “Barikade terakhir Komune bertahan di Rue de la Fontaine-au-Roi. Seratus dua puluh tahun kemudian, partai Sosialis dan sekretaris pertamanya, Pierre Mauroy, memberikan penghormatan kepada orang-orang Paris yang berusaha mengubah hidup mereka, dan kepada 30.000 orang yang tewas di Time of the Cherries ”. Hazan yang mendokumentasikan kebenaran atas hari-hari itu mengingatkan kita: “lagak demikian memendekkan sejarah, bagi Louis Blanc, sang Mauroy hari ini, tetap mempertahankan pandangan bahwa ‘insureksi ini sepenuhnya harus dikutuk, dan republiken manapun yang tidak mengutuknya bukanlah republiken sejati.’, Le temps des cerises yang dirujuk prasasti tersebut adalah sebuah lagu yang ditulis pada tahun 1866. Lagu itu menjadi populer selama Komune, dengan syair-syair ditambahkan saat dinyanyikan di barikade dan di klub. Judul tersebut adalah metafora harapan akan kehidupan baru setelah revolusi, membuat prasasti munafik oleh partai reformis semakin menyakitkan.

Selama beberapa dekade para buruh mengingat perlawanan gagah berani para communard. Pada May Day 1901, ribuan pelayat mengikuti prosesi pemakaman Paule Mincke melalui jalan-jalan di Paris. Mereka meneriakkan “Vive la Commune!” dan “Vive l’Internationale!” karena lebih dari 600 polisi, 500 tentara dan 100 kavaleri menjaga jalan-jalan dari kemungkinan terulangnya tahun 1871. Lebih dari 100.000 orang menghadiri pemakaman Louise Michel di Paris pada tahun 1905. Sosialis dan anarkis merayakan Komune setiap bulan Maret. Gambaran mengerikan tentang perempuan yang disiksa yang disiarkan ke seluruh dunia oleh pers borjuis tidak dapat mengurangi rasa bangga dan solidaritas yang diilhami oleh keberanian mereka. Di kota pertambangan pedalaman New South Wales, Broken Hill, Australia, selama setidaknya satu dekade sampai memasuki abad kedua puluh, Sekolah Minggu Sosialis menyelenggarakan peringatan tahunan Komune. Dalam bagian lain saya menyimpulkan bahwa “[itu] tentu saja tidak digambarkan sebagai perayaan pencapaian laki-laki, seperti yang sering dituding oleh sejarawan feminis: ‘Apa keagungan yang lebih besar dan lebih agung dapat digambarkan daripada laki-laki dan perempuan yang siap mengorbankan hidup bahkan untuk suatu cita-cita? ‘”Sebuah artikel di koran sosialis di kota” menekankan keberanian perempuan yang membawa anak dalam pelukannya menolak saat diperintah berlutut, berseru kepada kawan-kawannya, ‘Tunjukkan pada para bajingan ini bahwa kita tahu cara mati dengan tegak berdiri”,

Seorang sejarawan acara tahunan yang berlangsung selama beberapa dekade menulis:

Mereka menggunakan Komune sebagai contoh kerja sama internasional, memanfaatkan identitas kelas bersama mereka. Komune ditulis ulang setiap tahun, menciptakan naskah-naskah warisan. Para pembicara menggunakan Komune sebagai simbol pemerintahan kelas buruh, atau revolusi, simbol peringatan dan harapan, masa lalu, sekarang dan masa depan, sesuatu untuk dipelajari, dan dihormati.

Terlepas dari begitu banyak upaya untuk mengaburkan sejarahnya, Komune masih digunakan sebagai titik rujukan untuk gagasan revolusi, atau tantangan terhadap penguasa hingga hari ini. Saat saya menulis, sebuah posting oleh Buzzfeed, “Stormings of History Ranking from Best to Worst” atau “Penyerbuan dalam Sejarah dari yang Terbaik sampai Terburuk”, muncul sebagai tanggapan atas invasi Capitol oleh pendukung sayap kanan Trump. Komune adalah contoh terbaik kedua mereka, kedua setelah Revolusi Oktober. Bahkan Lancet yang prestisius di tahun peringatan seratus lima puluh tahun Komune Paris memberi penghormatannya kepada Komune dengan sebuah artikel tentang Mary Putnam Jacobi. Kesimpulannya adalah penghargaan atas kekuatan Komune untuk menginspirasi harapan akan dunia yang lebih baik: “Asal-usul filosofinya, filosofi yang memberikan benih untuk kebangkitan Amerika hari ini, terletak di dalam darah yang tumpah di jalanan Paris selama 150 tahun lalu ”.

Kesimpulan

Kita mulai dengan gambaran “sphinx” yang dibuat oleh Marx untuk menyampaikan bagaimana Komune membuat takut borjuasi dan antek-anteknya. Kita meninggalkannya saat dunia turun ke dalam kekacauan yang lebih mengerikan yang menciptakan malapetaka satu demi satu. Bank Dunia memperingatkan pemerintah di seluruh dunia untuk menghindari pemotongan dini terhadap tindakan yang diambil untuk mencegah ekonomi benar-benar runtuh. Nasihat ini tidak didorong oleh kepedulian kemanusiaan bagi mereka yang akan menderita akibat pemotongan, tetapi oleh ketakutan akan penggulingan para penguasa. Sang Sphinx masih menghantui mereka.

Komune Paris mengingatkan kita tentang apa yang dikatakan Walter Benjamin, bahwa aspek halus dan spiritual dari kehidupan yang kita dambakan hanya dapat dimenangkan dengan perjuangan untuk hal-hal material yang kasar yang memungkinkannya. Dan bahwa “mereka hadir sebagai keyakinan, sebagai keberanian, sebagai kejenakaan, sebagai kecerdikan, sebagai ketabahan dalam perjuangan ini”. Itulah sebabnya Komune Paris masih menarik perhatian kita, dan patut dipelajari secara serius. Dan mengapa itu masih memiliki kekuatan untuk menginspirasi kepercayaan kita pada kelas pekerja untuk menciptakan “kemewahan komunal” bagi umat manusia hingga hari ini.

*Frasa “Pelopor Kejayaan Tatanan Masyarakat Baru” berasal dari Marx 1871. Berkat mata tajam dan wawasan Omar Hassan dan Mick Armstrong, hasil akhirnya jauh lebih baik dari draf aslinya.

Naskah diambil dari website Marxist Left Review Dapat diakses melalui Celebrating the Paris Commune of 1871: “Glorious harbinger of a new society” dimuat pada Issue 21 — Summer 2021. Diterjemahkan oleh Arjuna SR, anggota Red Elephant dan Leon Kastayudha, anggota Sosialis Muda dan kader Perserikatan Sosialis.

 2,109 total views,  6 views today

Print Friendly, PDF & Email

Comment here

%d blogger menyukai ini: