Teori

Covid-19, Kapitalisme, dan Teori Konspirasi

ditulis oleh Dylan Cope (Sheffield Hallam CLP)

Ketidakpercayaan terhadap penguasa sedang meningkat. Ini membuka ruang untuk teori-teori konspirasi berkembang. Namun kita tidak membutuhkan ide-ide semacam itu untuk menjelaskan kaos di sekeliling kita. Biang keladinya sudah jelas: kapitalisme.  

COVID-19 terlihat seperti muncul entah dari mana. Awalnya penyakit ini digambarkan dapat ditahan di Tiongkok. Namun, dalam hitungan minggu, menyebar ke seluruh dunia, secara drastis mempengaruhi kehidupan jutaan orang.

Karena itu, muncul banyak pertanyaan valid mengenai tingkat kematian, penyebarannya yang cepat, serta asal-usul penyakit tersebut. Banyak juga yang berspekulasi mengenai alasan di balik respon buruk pemerintah di seluruh dunia.

Mengingat kebingungan, kemarahan, dan ketidakpercayaan, tidak mengherankan bahwa ‘teori’ tertentu – terlihat memberikan ‘penjelasan’ atas pandemi, dan bertentang dari ‘konsensus’ ilmiah – mendapatkan daya tarik.

Kelas penguasa dan medianya memiliki sejarah panjang menyebarluaskan informasi yang salah dan kebohongan. Ketidakpercayaan terhadap penguasa meningkat. Sebuah jajak pendapat YouGov dari tahun lalu, misalnya, menunjukkan bahwa kurang dari setengah orang Inggris Raya (44%) mempercayai BBC memberitakan kebenaran.

Ada juga fakta bahwa, di Inggris Raya khususnya, nasihat dan arahan dari pemerintah sangat tumpul dan kontradiktif, membuat banyak orang harus menentukan keputusannya sendiri mengenai virus dan apa yang harus dilakukan dengan hal itu.

Tidak mengherankan banyak orang tidak mempercayai media utama dan berbagai pengumuman dari para politisi.

Virus yang mematikan, bukan konspirasi

Kita harus jelas: asal usul, penyebaran yang cepat, dan meningkatnya jumlah korban pandemi bukanlah bagian dari konspirasi besar. Sebaliknya, ini adalah krisis kesehatan yang nyata – krisis yang diperburuk oleh sistem kapitalis yang busuk.

Salah satu teori konspirasi jahat adalah gagasan bahwa virus ini adalah senjata biologi yang dibuat oleh negara Tiongkok. Ini tidak masuk akal.

Mengapa pemerintah Tiongkok melepaskan virus semacam itu pada rakyatnya sendiri, mengingat dampak buruknya terhadap produksi di negara itu? Pertumbuhan ekspor, misalnya, turun dari 7,9% pada Desember 2019 menjadi -17,2% pada Februari tahun ini.

Bahkan jika, seperti beberapa teori mengatakan, virus dilepaskan secara tidak sengaja, pertama-tama mengapa Tiongkok mengembangkan virus semacam itu – yang memiliki tingkat kematian relatif rendah dibandingkan dengan, katakanlah, antraks? Apa gunanya senjata biologi yang membuat sebagian besar korbannya pulih, sementara secara bersamaan memengaruhi penduduk dan ekonominya sendiri? ‘Penjelasan’ seperti itu tidaklah meyakinkan.

Beberapa teori yang senada juga mengatakan bahwa penyakit ini tidak untuk digunakan sebagai senjata perang, tetapi untuk pengendalian populasi.

Memang benar bahwa bagian-bagian tertentu dari kelas penguasa dan berbagai komentator ternama dengan jelas menyambut fakta bahwa penyakit ini terutama fatal bagi lansia dan mereka yang rentan – mereka yang secara tidak proporsional ‘tidak aktif secara ekonomi’.

Misalnya, seorang jurnalis sayap kanan di Inggris Raya menulis bagaimana penyakit ini akan berguna dari sudut pandang ekonomi dalam “memusnahkan tanggungan lansia secara tidak proporsional” .

Boris Johnson, sementara itu, awalnya menganjurkan strategi ‘herd immunity’, di mana kita semua seharusnya “take it on our chin”  (berani menghadapinya – pent.) dan membiarkan virus menyapu seluruh populasi untuk “menjalankan programnya”.

Ide-ide neo-Malthus seperti itu tidak mengherankan datang dari pemerintah yang baru-baru ini mendapatkan situasi sulit karena mempekerjakan seorang ahli eugenika (filosofi sosial yang berarti memperbaiki ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat – pent.) sebagai penasihat.

Tapi pandangan reaksioner ini hanyalah contoh telanjang tentang bagaimana kelas penguasa memandang kehidupan manusia secara umum: sebagai umpan peluru yang bisa dibuang, untuk dibariskan di lapangan tembak demi kebutuhan kapital.

Pengalihan dari perjuangan kelas

Ada alasan penting lain bagi kaum sosialis untuk menolak teori konspirasi semacam itu: bahwa teori tersebut mengalihkan perhatian dari sumber sebenarnya semua masalah kita – sistem kapitalis.

Dalam beberapa kasus, sifat memecah belah teori konspirasi bahkan bermanfaat bagi kelas penguasa, yang tidak ragu untuk menggunakan histeria demi keuntungan mereka. Dengan merekayasa cerita dan peristiwa, mereka dapat mengalihkan perhatian dari tindakan kriminal mereka sendiri, mengarahkan telunjuknya pada berbagai kambing hitam, dan menyalahkan siapa pun atau apa pun selain diri mereka sendiri.

Surat Zinoviev palsu tahun 1924, yang diterbitkan oleh The Daily Mail, adalah salah satu contoh yang jelas tentang hal ini. Kebohongan Tory (konservatisme versi Inggris Raya – pent.) ini membantu menjatuhkan pemerintahan Partai Buruh pada saat itu. Maju cepat hampir seabad kemudian, dan sejarah hampir berulang dengan pembunuhan karakter Jeremy Corbyn dan kampanye hitam antisemitisme yang dijalankan terhadap kaum kiri Partai Buruh.

Melihat sedikit yang telah dilakukan oleh pemerintah Tory atau pers kapitalis untuk menghilangkan mitos tentang kaitan antara tower 5G dan COVID-19. Tidak heran karena konspirasi semacam itu mengalihkan fokus dari tindakan yang benar-benar memalukan dan kesalahan keji dari Boris Johnson dan kaum Tories (Partai Konservatif Inggris Raya – pent.) .

Namun di sisi lain, ketika kebenaran muncul tentang skandal nyata yang mendiskreditkan, mempermalukan, atau merusak otoritas kelas yang berkuasa, pers kapitalis selalu cepat untuk berteriak ‘konspirasi!’. 

Pahami dunia

Tidak bisa dihindari akan ada virus baru. Wabah mematikan telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Bahkan, komunitas ilmiah telah memberikan peringatan tentang pandemi global selama bertahun-tahun. Baru tahun lalu, para menteri pemerintah diperingatkan tentang potensi bahaya yang mereka hadapi, dan didesak untuk menimbun APD sebagai persiapan. Namun tidak ada yang dilakukan.

Di bawah kapitalisme, kebutuhan bisnis besar yang selalu didahulukan. Kebutuhan rakyat dan planet ini adalah yang kedua. Dekade kebijakan pengetatan adalah bukti yang jelas dari (hal) ini. Bahkan, justru pemotongan inilah yang telah membuat dampak virus (menjadi) begitu dahsyat.

Sebagai kaum Marxis, bertentangan sepenuhnya dengan kaum kapitalis, kami hanya tertarik untuk memahami dan menjelaskan realitas. Kita tidak perlu mengandalkan konspirasi untuk menjelaskan dunia di sekitar kita. Fakta-faktanya cukup jelas, tanpa perlu konspirasi: kapitalisme menahan masyarakat mundur, menghadirkan ancaman eksistensial bagi kemanusiaan itu sendiri.

Hanya ide-ide revolusioner Marxisme yang dapat memberikan alternatif nyata untuk teori konspirasi. Ide-ide Marxis sendiri memberikan penjelasan yang jelas tentang penyebab sesungguhnya di balik pandemi mematikan ini dan semua kengerian yang kita lihat di sekitar kita saat ini: sistem kapitalis.

Hanya dengan mempersenjatai kelas pekerja dengan ide-ide Marxisme kita dapat mengakhiri barbarisme kapitalisme. Bergabunglah bersama kami dalam perjuangan ini untuk transformasi masyarakat sosialis dan masa depan yang sesuai dengan kemanusiaan!

Konspirasi dan krisis

Oleh John Russell, Norwich CLP

Ide-ide seperti bumi benar-benar datar, atau bahwa Keluarga Kerajaan sebenarnya adalah kadal luar angkasa yang mengenakan kulit manusia, jelas-jelas tidak masuk akal bagi kebanyakan dari kita. Tidak ada alasan rasional untuk mempercayai hal-hal ini, dan sebagian besar dari kita bahkan tidak menyukai ide-ide seperti itu.

Tetapi teori konspirasi sedang meningkat – yang terbaru adalah ide bahwa jaringan 5G terkait dengan coronavirus. Tetapi jelas tidak ada cara ilmiah radiasi dapat menyebabkan virus.

‘Bukti’ yang diberikan untuk ide-ide ini kadang-kadang sangat buruk sehingga untuk memercayainya, anda harus ingin mempercayainya.

Ilmuwan sewaan yang secara luas terdiskreditkan didorong untuk menyemburkan sampah. Lompatan total logika diambilnya, untuk menghubungkan satu fenomena ke fenomena lainnya. Tetapi kadang-kadang, hanya satu atau dua dari ide-ide gila itu mungkin terasa menggelisahkan seolah-olah itu benar.

Kembali ke tahun 2014, sebuah penelitian di AS menemukan bahwa 50% orang Amerika percaya pada “setidaknya satu teori konspirasi”. Tetapi apa yang studi-studi ini anggap sebagai ‘teori konspirasi’, layak untuk dilihat.

‘Teori konspirasi’ paling umum dipercaya dalam survey penelitian itu – dengan 25% orang Amerika setuju – bahwa “krisis Wall Street 2008 sengaja disebabkan oleh komplotan rahasia kecil para bankir Wall Street”.

Sebuah studi berbeda di AS pada 2016 menemukan bahwa 53% orang Amerika percaya bahwa “pemerintah mereka menyembunyikan apa yang diketahui tentang serangan 9/11”. Dan survei lain yang dilakukan pada tahun 2016 menemukan bahwa 46% responden Jerman dan 45% responden Inggris Raya setuju bahwa “tim sukses Donald Trump dengan sadar bekerja dengan agen Rusia untuk membuatnya terpilih sebagai presiden”.

Terlepas dari apa politik orang-orang ini, atau kebenaran pernyataan-pernyataan ini, apa yang ditunjukkan oleh angka-angka ini adalah bahwa ada ketidakpercayaan yang mendalam pada tatanan kapitalis.

Ada pemahaman umum bahwa terdapat sekelompok kecil orang, yang beroperasi dengan cara yang rahasia dan tertutup, dengan kekuasaan besar, yang berusaha untuk memajukan kepentingan mereka sendiri dengan merugikan kita semua.

Teori konspirasi memanfaatkan perasaan intuitif yang dimiliki orang awam, berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri tentang dunia dan cara kerjanya. Namun, tanpa pendekatan ilmiah dan rasional untuk memahami masyarakat, sifat sebenarnya dari ‘konspirasi’ ini akan tetap terselubung dalam misteri.

Dengan analisis Marxis tentang masyarakat kelas dan sistem kapitalis, kita dapat memilah gandum dari sekam. Kita dapat menyaring omong kosong – seperti chemtrails dan illuminati – dari fakta yang sangat nyata tentang intrik dan kesalahan kelas kapitalis.

Tidak ada konspirasi jika kita mengerti apa yang terjadi. Dan kita tidak perlu ide-ide fantastik – seperti teknologi pengontrol pikiran, atau makhluk luar angkasa, atau wabah penyakit yang direncanakan – untuk menjelaskan kegilaan sistem kapitalis yang anarkis, irasional, dan dilanda krisis.

Ide-ide Marxisme menyediakan alat yang dengannya kelas kita dapat membatalkan semua takhayul dan prasangka beracun – dan dengan memahami dunia secara ilmiah, berjuang untuk mengubahnya.

Naskah diambil dari website Socialist Appeal. Dapat diakses melalui COVID-19, capitalism, and conspiracy theories dimuat pada 14 Mei 2020. Diterjemahkan oleh Arjuna S.R, anggota Lingkar Studi Sosialis.

 1,219 total views,  2 views today

Comment here