Kejahatan Anti-Komunisme

JacobinMax Laneditulis oleh Max Lane

 

Sebuah buku baru membuktikan bahwa tentara militer Indonesia bertanggungjawab atas pembantaian sistematis terhadap kaum kiri dalam Genosida 1965-1966 – dan perintah itu diterima langsung dari atas. Tulisan ini merupakan ulasan dari buku The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder (Routledge, 2018).

Buku baru Jess Melvin, The Army and the Indonesian Genocide, telah diakui sebagai sebuah terobosan. Mengungkap para pelaku di balik pembunuhan massal terhadap ratusan ribu kaum kiri (termasuk terhadap minoritas ras Tionghoa), Melvin menemukan celah dalam kisah resmi versi pemerintah mengenai genosida 1965-1966.

Negara Indonesia selalu mengklaim bahwa pembunuhan terhadap kaum komunis atau kiri adalah pembunuhan terbatas dan itu merupakan hasil dari kemarahan anti-komunis secara spontan di antara orang-orang biasa. Para pejabat bersikeras bahwa itu bukanlah tindakan sistematis maupun dilakukan oleh Angkatan Darat.

Sebagian besar penelitian akademik, meskipun lebih bervariasi daripada versi resmi negara, condong ke arah itu. Menurut versi ini, Presiden Soekarno, seorang reformis kiri otokratis, berusaha menyeimbangkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang besar dan Angkatan Darat (yang merupakan musuh PKI). Kemudian keadaan menjadi tidak seimbang, dan kacau. Pembunuhan massal mungkin hal yang disesalkan, namun itu dipandang sebagai akibat dari ketidakmampuan Soekarno berdiri di atas dua perahu.

Melvin secara metodis membantah mitos itu. Dengan menyusun dokumen-dokumen Angkatan Darat Indonesia, ia menunjukkan bahwa pembantaian itu sebenarnya diorganisir oleh Angkatan Darat–dan perintah itu datang dari atas.

Melvin bukan orang pertama yang menyadari dinamika dasar dari genosida itu. Ironisnya, justru kelompok Kananlah yang lebih awas melihat. Komentator-komentator sayap-Kanan 1960-an, seperti cendekiawan Justus van de Kroef dan jurnalis anti-komunis Arnold Brackman, memahami bahwa ada pertempuran riil untuk berebut kekuasaan antara pandangan ideologis yang diwakili oleh militer melawan Partai Komunis, kelompok-kelompok kiri lainnya, dan Soekarno.

Dalam dunia akademis, penelitian terbaru dari John Roosa (penulis Pretext for Mass Murder, terbit tahun 2006) dan Geoffrey Robinson (penulisThe Killing Season, terbit tahun 2018) juga menunjukkan bahwa ledakan kekerasan itu sebelumnya telah direncanakan dan diinformasikan secaraideologis.

Namun Melvin, cendekiawan dari Universitas Yale, dengan menggunakan karya ini secara telak mematahkan berbagai argumen yang membela militer Indonesia tersebut.

GENOSIDA

Buku The Army and the Indonesian Genocide adalah terobosan dalam setidaknya dua cara.

Pertama, dengan menggunakan dokumen internal militer – yang ia temukan meneliti arsip di Provinsi Aceh, Indonesia – Melvin mampu menunjukkan, dengan tanpa keraguan sama sekali, bahwasanya Komando Tinggi Angkatan Darat, yang diambilalih oleh sosok anti-komunis Jendral Soeharto, sebagai pihak yang memprakarsai dan memimpin pembunuhanmassal, penangkapan, pembersihan, dan penyiksaan tahun 1965-1966.  Melvin menunjukkan dokumen-dokumen internal, baik dari tingkat nasional (seperti telegram dari markas Angkatan Darat di Jakarta) dan tingkat lokal (materi dari militer dan pemerintahan sipil) yang mengungkapkankehati-hatian dan kesengajaanpembunuhan brutal itu. Kemudian ini yang barangkali merupakan bukti paling jelas: dokumen-dokumen yang mengindikasikan terdapat perintah-perintah untuk memusnahkan PKI, diinstruksikan oleh Soeharto sendiri.

Pembunuhan massal berlangsung melalui empat tahapan yang terorganisir: faseinisiasi, fase kekerasan publik, fase pembunuhan massal sistematis, dan fase konsolidasi akhir, yang juga termasuk pembersihan-pembersihan. Pertumpahan darah meletus menyusul konspirasi gagal oleh unsur-unsur dalam PKI, yang berusaha mengantikan Komando Tinggi Angkatan Darat dengan tokoh-tokoh yang lebih bersahabat. Namun tindakan itu terorganisir dengan buruk, prematur – dan dilakukan tanpa sepengetahuan kawan-kawan mereka maupun massa pendukung mereka. Sehingga militer menggunakan itu sebagai dalih untuk meluncurkan serangan balik yang menghancurkan.

Sebelum pembantaian itu berakhir, sebanyak satu juta orang telah tewas, dengan sebagian besar korban jiwa berjatuhan pada akhir 1965 hingga 1966. Setelah gelombang awal eksekusi publik, sebagian eksekusi dilakukan pada malam hari, secararahasia. Unit tempur Angkatan Darat bergerak dari satu daerah ke daerah lain, menyisiri negeri dengan pembataian massal. Milisi-milisi sipil anti-komunis bergabung dalam pembunuhan massal itu. Bahkanmereka yang lolos dari kematian pun tidak bebas dari hukuman. Puluhan ribu orang dijebloskan ke dalam rumah-rumah yang dioperasikan sebagai penjara. Setidaknya lima belas ribu orang dipenjara selama empat belas tahun.

Misi genosida itu berhasil. PKI dibabat habis dari arena politik, Soeharto merebut kekuasaan, dan gerakan kiri Indonesia hingga kini secara besar tidak ada.

Perlu ditambahkan, mustahil untuk meyakini bahwa pemerintah Amerika Serikat, Britania, dan Australia tidak menyadari adanya persiapan jangka-panjang dari pasukan anti-komunis. Ketiga pemerintahan itu telah memberikan dukungan konkret kepada unit-unit sayap kanan Angkatan Darat dan kelompok politik sayap kanan bahkan sejak 1950-an. Ketiga pemerintahan itu juga mengelu-elukan penindasan penuh kekerasan terhadap organisasi-organisasi kiri Indonesia termasuk seluruh anggotanya pada 1965-1966.

Bagian terpenting kedua dalam analisis Melvin adalah rinciannya tentang infrastruktur yang digunakan untuk membasmi PKI dan merebut kekuasaan pemerintah. Melvin menunjukkan bagaimana struktur komando militer yang sebelumnya digunakan untuk melaksanakan darurat militer dan kampanyemiliter (yang pertama untuk mengusir Belanda dari koloni Papua Barat dan kemudian mengganggu pembentukan Malaysia), dikombinasikan dengan struktur teritorial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, diambil alih fungsinya untuk pembunuhan, pembersihan, dan represi sistematis.

Dengan membingkai peristiwa 1965 sebagai puncak dari “perjuangan untuk negara Indonesia,” Melvin membantah ungkapan-ungkapan lama yang menganggap bahwasanya pembantaian 65 diakibatkan alasan-alasan seperti kemarahan spontan massa atau proses politik yang tidak terkendai. Dengan demikian, ia menyorotiperistiwa-peristiwa penting lainnya yang berujung ke genosida.

Fokusnya yang terperinci tentang berbagai kekuatan yang melawan satu sama lain di Provinsi Aceh menunjukkan secara terang-benderang dinamika di lapangan dari perjuangan politik yang saat itu sedang berlangsung – perjuangan yang telah berkembang selama periode yang panjang dan berakar dalam masyarakat secara keseluruhan.

Di Aceh, kekuatan PKI meningkat selamatahun 1950-an dan awal 1960an. Hasilnya adalah polarisasi ekstrem. Sebuah jurang menganga antara PKI dan koalisi elit sipil, termasuk tokoh Islam serta Angkatan Darat. Tahun 1965, PKI dan organisasi afiliasinya mengklaim memiliki keanggotaan hingga mencapai 20 juta orang secara nasional. Sebagian besar adalah petani desa di Indonesia yang saat itu masih merupakan negeri dengan wilayah mayoritas berupa pedesaan,  namun buruh perkebunan dan perkotaan juga bergabung dengan partai. Lalu pada tahun 1965, jumlah keanggotaan melesat tinggi. Saat yang bersamaan, Partai Nasional Indonesia (PNI) juga mengembangkan program sayap-kiri yang memenangkan kesetiaan jutaan anggotanya.

Bagi elit sipil dan militer anti-komunis, hal ini sudah keterlaluan dan tidak bisa diterima lagi. “Perjuangan bagi negara Indonesia” oleh karena itu sebenarnya berarti perjuangan mempertahankan jabatan mereka menentang perlawanan politik—tidak bersenjata, legal, dan terbuka, bahkan juga di luar kalangan elit—yang kian meningkat. Mereka mengembangkan struktur kontra-revolusi dan menerapkannya dengan kebrutalan yang tidak tanggung-tanggung dan sering kali tidak kenal ampun. Selain pembantaian terhadap anggota PKI, banyak aktivis terkemuka PNI dibunuh. Seniman dan intelektual yang terkait dengan PKI dan PNI dipenjarakan. Anggota partai sayap-kiri yang lebih kecil, seperti Partai Indonesia (Partindo) dan AngkatanKomunis Muda (Acoma) juga banyak yang dibunuh dan ditangkap.

 

MASA DEPAN

Selama beberapa tahun terakhir, baik di dalam maupun di luar Indonesia, ada beberapa inisiatif yang melibatkan para akademisi, seniman, dan aktivis demokrasi yang bertujuan untuk mengakhiri pembungkaman mengenai genosida Indonesia.

Kaum muda di Indonesia – terutama mahasiswa – lebih bebas untuk membaca buku-buku dan artikel-artikel mengenai hal ini, juga mengaksesnya di internet. Para intelektual dan aktivis Indonesia dari waktu ke waktu telah menantang ancaman-ancaman dari kelompok-kelompok sayap-kanan dan menolak menyerah pada sikap setengah hati pemerintah saat ini dalam menegakkan keadilan atas persoalan itu.

Buku Melvin, terutama bila tersedia dalam Bahasa Indonesia, akan menjadi dorongan besar bagi upaya tersebut.

Perjuangan bagi negara Indonesia tumbuh dari kekuatan yang saling bersaing dalam masyarakat Indonesia. Tahun 1965 mewakili kemenangan total dari satu pihak, yang dikonsolidasikan melalui genosida, teror, pembersihan, dan penindasan yang terorganisir secara nasional dan terpusat. Upaya yang meningkat untuk mengungkap kebenaran ini, betapapun sederhananya, bisa menjadi bagian untuk membangkitkan kembali gerakan kiri. Bahkan mungkin dapat memantik perjuangan sosial yang lebih luas.

 

Naskah diambil dari website jacobinmag.com. Dapat diakses melalui https://www.jacobinmag.com/2018/08/army-indonesian-genocide-review-jess-melvin. Diterjemahkan oleh Aghe Bagasatriya.

 1,949 total views,  3 views today

Share this post:

Recent Posts