Malang Berdemonstrasi Bersolidaritas untuk Kendeng

Malang Solidaritas KendengKamis (23/04/2017), puluhan demonstran turun ke jalan berunjuk rasa di depan Balai Kota Malang. Mereka bersolidaritas terhadap perjuangan petani Rembang dalam menyelamatkan alam Kendeng dari ancaman perusakan lingkungan pabrik semen disana. Massa yang tergabung dalam Aliansi Malang peduli Kendeng itu menyatakan, “pembangunan pabrik semen akan merebut ruang hidup warga. Bentang pegunungan Kendeng yang mengandung batu kapur akan rusak dan tak mampu lagi menyimpan cadangan air bagi kelangsungan hidup yang lestari.”

Atha, salah satu pegiat Aksi Kamisan, berorasi, “Apabila kebijakan itu timpang maka itu hasil konspirasi antara pemerintah dengan pengusaha. Bagaimana mungkin bikin pabrik di atas mata air dan lahan pertanian mata pencaharian rakyat?” gugatnya.

Rilis pers massa aksi juga menjabarkan, “Persoalan konflik agraria dan pembangunan yang tak memihak pada masyarakat dan malah menjadi ajang pengrusakan lingkungan tak hanya terjadi di wilayah Kendeng. Berdasarkan data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), sedikitnya terjadi 450 konflik agraria sepanjang tahun 2016 dengan luasan wilayah 1.265.027 hektar dan melibatkan 86.745 KK yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Dimana tahun sebelumnya tercatat hanya 252 konflik.Konflik agraria ini secara berurutan terjadi 160 konflik di perkebunan, disusul sektor properti 117 konflik, dan infrastruktur 100 konflik. Kemudian, 25 konflik terjadi di sektor kehutanan, 21 konflik di sektor tambang, dan masing-masing ada 7 konflik di sektor migas dan pertanian. Konflik ini misalnya terjadi di beberapa daerah seperti Sukamulya, Tumpangpitu,Wongsorejo, Urutsewu, Grobogan, Papua, Tulang Bawang Lampung, Blitar, Pati, Bali, Jakarta, dan sebagainya.

Ini dipertegas orasi Jhon dari Green Papua. “Saya mewakili rakyat Papua menyatakan bersolidaritas dengan petani Kendeng.” Ia juga mengungkap peran korporat, pejabat, dan militerisme, bukan hanya merusak lingkungan dan menindas rakyat di Rembang namun juga di daerah-daerah lainnya, termasuk di Papua. Anggota Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) ini juga menekankan keberpihakan mahasiswa. “Mahasiswa harus melawan segala bentuk penindasan.” Ia mewanti-wanti, “Kalau kasus ini dibiarkan malah akan menciptakan penindasan-penindasan lainnya seperti Kendeng.” Tak lupa ia juga menyerukan, “Kembalikan kedaulatan rakyat.”

Sementara itu Abeng Danaji dari Gus Durian Malang mengajak massa aksi tidak hanya berbelasungkawa terhadap Patmi yang gugur dalam perjuangannya. Tapi juga “kita rakyat Indonesia harus melanjutkan perlawanan.” Ia kemudian memimpin massa aksi menyanyikan tembang “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi mengadili.”

Aliansi Malang Peduli Kendeng kemudian menuntut, “…menghentikan izin operasi PT.Semen Indonesia yang merampas ruang hidup warga, utamanya di Kendeng.” Kedua, “…menghentikan proyek-proyek infrastruktur yang mengusir dan meminggirkan rakyat dari ruang hidupnya (baik tanah, hutan, gunung, sumber mata air, udara, dan sebagainya).” Ketiga, penaatan hukum terhadap Putusan Mahkamah Agung PK No. 99 PK/TUN/2016 dan pembatalan izin lingkungan kegiatan penambangan yang di areal Kendeng. Keempat, “…jalankan kedaulatan politik dan ekonomi” dan “…nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing dan menjalankan reforma agrarian bagi rakyat kecil.” (lk)

 1,035 total views,  2 views today

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment