Arah Juang

Arah Juang diterbitkan oleh Perserikatan Sosialis. Perserikatan Sosialis adalah organisasi politik sosialis. Perjuangan Perserikatan Sosialis bertujuan untuk menggulingkan tatanan kapitalisme secara revolusioner dan membangun tatanan sosialisme. Oleh karena itu, organisasi ini berdasarkan kepeloporan revolusioner.

Pojok

Kaum Muda dan Perubahan : Catatan Diskusi 16 Tahun Reformasi

putar film-3 (2o mei 14)Dalam rangka memperingati kebangkitan nasional dan 16 tahun kejatuhan Soeharto, Komite Persiapan Sentra Gerakan Muda Kerakyatan (KP SGMK)bersama Aliansi Kepemudaan Pademangan (AKP) mengadakan pemutaran film dan diskusi yang bertema ‘Kaum Muda dan Perubahan’. Dalam kegiatan itu, diputar 2 film dokumenter yang berjudul “Sekolah Kami, Hidup Kami” dan “Student Revolt” yang menggambarkan peran kaum muda dalam perubahan. Setiap film disusul dengan diskusi untuk memahami makna dari film dan kontekstualisasi nya di era sekarang.

Puluhan pemuda baik dari pelajar maupun mahasiswa yang sudah berkumpul di gedung LBH Jakarta sore hari itu, 20 Mei 2014, akhirnya memulai acara mereka. Yang menarik, bukan hanya pelajar dan mahasiswa, beberapa kaum muda dari organisasi serikat buruh dan pekerja serabutan pun ikut dalam kegiatan ini. Film pertama (Sekolah Kami Hidup Kami) bercerita tentang keberanian pelajar salah satu SMA di Solo dalam membongkar korupsi di sekolah nya. Cukup menarik ketika beberapa pelajar yang juga ikut menonton film tersebut akhirnya bercerita dalam sesi diskusi, bahwa di sekolah mereka pun tercium aroma korupsi terhadap Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Biaya Operasional Sekolah (BOS). Seperti mendapat inspirasi, pelajar yang rata-rata berasal dari Jakarta Utara ini pun mengatakan kebutuhan akan adanya organisasi pelajar yang mampu bertindak atas kasus-kasus yang membebani pelajar dari biaya pendidikan mahal.

Daniel Pay yang merupakan kordinator KP SGMK sekaligus bertindak sebagai moderator diskusi menyimpulkan faktor pengetahuan dan keberanian yang harus dimiliki pelajar dan kaum muda pada umum nya untuk bertindak atas penyelewengan dan penindasan yang terjadi di masyarakat, khususnya yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Sedangkan dalam film kedua (Student Revolt) yang menceritakan peran gerakan mahasiswa dalam menumbangkan Soeharto dan membawa angin reformasi menjadi hangat karena disertai beberapa komentar spontan di setiap adegan seru nya. “wah pake peluru tajam ya, pantes ada yang mati”, celetuk seorang mahasiswa disaat adegan aparat menembakkan peluru nya pada kerumunan massa. Sorak spontan “yohhh, ayooo” juga terjadi ketika adegan mahasiswa menjebol berikade polisi dan tentara di sekitar Semanggi.

putar film-3 (2o mei 14)

Tarsisius Teren dari Aliansi Kepemudaan Pademangan (AKP) yang juga salah satu pembicara diskusi kemudian mendefiniskan secara ringkas siapa itu pemuda dan mengapa pemuda begitu dekat dengan perubahan. “kaum muda adalah kaum yang menginginkan perombakan atas aturan-aturan lama, tidak tergantung usia nya”, begitu jelas Teren. Kaum muda dikatakan juga terikat erat dalam satu generasi yang lebih bertanggung jawab atas masa depan demokrasi dan kesejahteraan yang belum didapatkan mayoritas rakyat sekarang ini.

Diskusi ini juga menghadirkan pandangan bahwa organisasi kaum muda tidak boleh memisahkan dirinya dari gerakan politik kelas, bahkan harus jadi satu kesatuan untuk berbicara dan bertindak atas sistem ekonomi dan politik yang ada, yaitu kapitalisme. Hal ini disampaikan pembicara lainnya dari KPO-PRP, Mika Darmawan. Menurut Mika dalam penjelasannya, kaum muda terdapat di berbagai lini dan kelas sosial. Didalam kelas buruh juga ada kaum muda yang selalu lebih resah dan aktif bergerak terhadap banyak persoalan rakyat. Sehingga tugas gerakan kaum muda salah satunya adalah menjadi sahabat gerakan rakyat, khususnya gerakan buruh, dengan cara membangun organisasi kaum muda dari tingkat lingkungan atau teritorial.

Selain pelajar yang kebanyakan dari Jakarta Utara, dalam diskusi ini hadir juga mahasiswa dari beberapa kampus seperti UKI dan UBK. Pemutaran film dan diskusi yang berlangsung selama tiga setengah jam ini juga diselingi oleh lagu-lagu dan akhirnya ditutup dengan pembacaan puisi oleh seorang seniman dari komunitas senen. Didepan ruang pemutaran film panitia acara terlihat menjajakan beberapa terbitan bernama “Suara Kita” dan “Arah Juang”, beserta stiker tentang pendidikan dan kaos tentang politik alternatif, yang sebagian nya dijual dan sebagian lagi dibagikan. (red)

 

 2,049 total views,  1 views today

Comment here

%d blogger menyukai ini: