Peran Kepeloporan Kaum Muda

Kepeloporan Kaum Muda“Yang menjatuhkan Soekarno itu kan tangan-tangan Imperialis. Nah kalau menjatuhkan Harto itu… saya hormat… dibunuhi, diculiki, ditembaki, dianiaya… tanpa senjata… toh bisa bikin Harto terjengkang… itu satu-satu kejadian dalam sejarah umat manusia… Jangan Lupa Itu !” (Pramoedya Ananta Toer dalam Wawancara Film Dokumenter “Kado Buat Rakyat Indonesia: GOLKAR Partai Penguasa Orde Baru”)

Dalam perubahan sosial di berbagai negara, peran gerakan pemuda adalah kompleks dan penting, meski tidak selalu menentukan. Mereka lebih sering mencerminkan perubahan kekuasaan antara kelas-kelas. Mahasiswa yang merupakan kelompok generasi muda yang kritis dan memiliki intelektualitas karena merupakan kelompok yang mampu mengenyam pendidikan sampai taraf tinggi. Mahasiswa juga mampu merepresentasikan barometer yang sangat sensitif yang secara setia merefleksikan animo yang bergerak dalam masyarakat.

Umumnya gerakan mahasiswa memainkan peran memimpin dalam mempromosikan hak-hak borjusi seperti kebebasan berbicara. Kebanyakan gerakan pembebasan nasional diberikan dorongan pertamanya oleh gerakan mahasiswa, dan otokrasi telah menjadi target gerakan mahasiswa dari Burma hingga Meksiko. Namun demikian dukungan mereka untuk kejadian atau gerakan revolusi sosial bersifat tidak kekal, bertentangan, dan terbatas. Sebagian besar dari kaum intelektual Rusia beroposisi terhadap Revolusi Oktober, seperti para intelektual Cina, Vietnam dan Kuba, ketika revolusi-revolusi tersebut berbelok ke arah kebijakan-kebijakan egaliter dan berkonfrontasi dengan serangan imperialis AS. Di beberapa negara di Afrika (Afrika Utara, Etopia), mahasiswa dan pelajar memang juga memainkan peran revolusioner.

Sebagai mana pernah diamati oleh Trotsky tahun 1930 :

“Semangat demontrasi mahasiswa hanya usaha yang dilakukan oleh generasi muda borjuis, khususnya kaum borjuis kecil, untuk menemukan solusi bagi ketidakstabilan yang dialami negara setelah kebebasan semu dari kediktatoran Primo de Rivera, dimana elemen-elemen dasar masih sepenuhnya tersembunyi. Ketika kaum borjuis secara sadar dan keras kepala menolak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dari krisis masyarakat borjuis, dan ketika kaum proletar belumlah siap untuk menyandang tugas ini, maka seringkali para mahasiswalah yang tampil ke depan. Selama masa perkembangan revolusi Rusia yang pertama (1905), kami mengamati adanya fenomena yang begini lebih dari satu kali, dan kami selalu mengenali tanda-tanda kemunculannya. Aktivitas mahasiswa yang revolusioner ataupun semi-revolusioner seperti itu mempunyai arti bahwa masyarakat borjuis tengah menghadapi krisis yang amat dalam. Pemuda-pemuda kaum borjuis kecil, merasakan kekuatan eksplosif tengah terbangun di tengah massa, berusaha dengan cara mereka sendiri untuk keluar dari kebuntuan dan untuk mendorong perkembangan politis ke arah yang lebih maju”.

Kemunculan gerakan mahasiswa sudah dimulai sejak kemunculan universitas-universitas pertama di dunia. Mahasiswa di Bologna dan Paris selama Abad Pertengahan adalah sumber utama ketegangan. Kerusuhan adalah fenomena umum di banyak universitas. Demonstrasi dan gerakan mahasiswa memainkan peran yang cukup penting dalam penggulingan Perón di Argentina pada tahun 1955; kejatuhan Pérez Jimenez di Venezuela pada tahun 1958; perlawanan yang sukses terhadap Diem di Vietnam pada tahun 1963; kerusuhan massif melawan Perjanjian Keamanan Jepang-AS di Jepang pada tahun 1960, yang memaksa pengunduran diri pemerintahan Kishi; kejatuhan Ayub Khan di Pakistan pada tahun 1956; demonstrasi Oktober untuk kebebasan yang lebih besar di Polandia pada tahun 1956; Revolusi Hongaria tahun 1956; dan gerakan untuk pembebasan di Cekoslovakia pada tahun 1968. Bahkan Revolusi Rusia pada tahap awalnya juga dimulai sebagai gerakan revolusioner kaum cendekiawan antara 1860-70an. Revolusi Spanyol di awal 1930-an juga dimulai sebagai gerakan mahasiswa. Pada tahun 1968 di Paris, Perancis, gerakan mahasiswa bergerak pada awalnya menggunakan isu pendidikan. Di luar itu memang juga muncul gerakan menolak pendudukan Perancis di Aljazair dan perang Vietnam. Sejak tahun 1965 ke depan, gerakan mahasiswa juga masuk ke dalam Gerakan Perdamaian, Gerakan Anti Perang Vietnam.

Kaum muda di Indonesia kondisinya tidak jauh berbeda. Sejak masa perlawanan terhadap penjajahan hingga Orde Baru kaum muda mengawal hampir setiap perubahan sosial yang terjadi. Adalah dari kaum muda terpelajar, yang memang sebagian besar adalah anak-anak priyayi, itulah muncul metode dan alat perjuangan yang modern. Yaitu organisasi dan partai politik serta koran, demonstrasi dan mogok. Demikian dari merekalah berkembang ideologi seperti nasionalisme, komunisme serta sosialisme yang memainkan peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme. Kaum muda jugalah yang mengambil inisiatif untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Termasuk insiatif-inisiatif untuk memperkuat kemerdekaan itu sendiri, seperti dorongan mereka untuk rapat akbar di lapangan IKADA.

Paska kemerdekaan, kaum muda tidak terlepas dari peran mempertahankan kemerdekaan dan melawan Neokolonialisme dan Imperialisme. Pun demikian kaum muda tidak terlepas dari pertentangan klas yang ada di dalam masyarakat. Pertarungan antara Soekarno, PKI, PNI serta para pendukungnya berhadapan dengan kekuatan Imperialis bersama kaki tangannya di Indonesia, yaitu Angkatan Darat serta partai-partai borjuis semakin memuncak yang berujung pada penggulingan Soekarno dan pembantaian serta pemenjaraan jutaan rakyat. Banyak dari antara mereka yang dibantai dan dipenjarakan adalah kaum muda. Kaum muda yang paling memiliki kesadaran klas, militan serta banyak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan maupun setelahnya. Disisi yang lain tidak sedikit kaum muda, khususnya mahasiswa, yang berperan dalam penggulingan Soekarno dan melegitimasi pembantaian serta pemenjaraan jutaan rakyat. Dibawah tirani Rejim Militer Soeharto, kaum muda (terutama mahasiswa), kembali bangkit. Memupuk satu demi satu kekuatan perjuangan rakyat Indonesia, yaitu mobilisasi massa. Melawan represi yang luar biasa mereka kemudian berhasil menggulingkan Soeharto. Buah dari perjuangannya dirasakan oleh rakyat dengan terbukanya ruang demokrasi.

Dalam kebangkitan buruh 2 atau 3 tahun yang lalu, kaum muda buruh juga memainkan peran luar biasa. Terlepas pada fakta bahwa mayoritas struktur pimpinan berbagai serikat buruh masih dikuasai oleh sisa-sisa SPSI buata Rejim Militer Soeharto. Kaum muda buruh memainkan peran dalam memimpin aksi-aksi hingga pemogokan nasional buruh pertama paska 50 tahun. Adalah mereka pula yang semangat belajar ideologi untuk memahami penindasan yang mereka alami hingga berperang di jalan-jalan mempertahankan diri dari serangan preman, polisi dan tentara.

Sejarah gerakan kaum muda telah menunjukan nilai-nilai personal dan kolektif yang menjadi teladan. Militansi, rela berkorban serta keberanian yang telah dilakukan oleh gerakan kaum muda di masa lalu haruslah menjadi pelajaran bagi kaum muda saat ini. Selain itu tentunya menjadi semangat yang harus tetap ada dalam gerakan kaum muda saat ini. Karena tanpa semangat itu maka tidak akan ada peran kepeloporan dari kaum muda.

Namun semangat saja tidak cukup, hal penting yang juga dibutuhkan oleh gerakan kaum muda adalah perspektif, ideologi. Sejarah sudah menunjukan berbahayanya gerakan kaum muda yang mengambil konsep gerakan moral. Pengalaman tahun 1965 menunjukan bahwa mereka yang menjadi penyeru konsepsi gerakan moral adalah gerakan mahasiswa yang mendukung kebangkitan Rejim Militer Soeharto. Dan menjadi legitimator terhadap pembantaian dan pemenjaraan jutaan rakyat.

Dalam konsepsi gerakan moral, mahasiswa lebih bertindak sebagai kekuatan moral daripada sebagai kekuatan politik. Artinya, mahasiswa muncul sebagai aktor politik ketika situasi bangsa sedang krisis, setelah krisis berlalu, mahasiswa kembali ke kampus untuk belajar. Konsep gerakan moral juga berarti bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh pamrih dengan kekuasaan dan tidak boleh memiliki vested interests, gerakan mahasiswa harus tulus. Hingga saat ini, ada berbagai macam turunan dari konsepsi gerakan moral. Konsepsi tersebut antara lain: gerakan harus murni, gerakan non partisan, gerakan adalah kelompok penekan serta gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual. Kelemahan dari gerakan moral melanggengkan sistem kapitalisme yang menindas ini. Bagi gerakan moral, tatanan kapitalisme yang ada ini sudah baik yang dibutuhkan adalah mengkritisi kebijakan-kebijakan yang ada. Ataupun melakukan perbaikan-perbaikan terhadap tatanan kapitalisme yang ada. Dengan demikian maka gerakan moral pada akhirnya hanya akan menjadi alat peralihan dari satu penguasa ke penguasa yang lain.
Saat ini, yang dibutuhkan adalah gerakan kaum muda yang merupakan gerakan politik dan ideologis. Gerakan yang diarahkan untuk bersama klas buruh dan rakyat melawan kapitalisme. Ini mengharuskan gerakan mahasiswa memiliki ideologi sebagai arah perjuangan. Ideologi yang dimiliki haruslah sosialisme karena sosialisme adalah satu-satunya alternatif rasional dari kapitalisme. Sosialisme juga akan menjadi pemandu bagi gerak perjuangan kaum muda. Demikian Sosialisme akan menjadi kekuatan bisa kaum muda mempraktekan perjuangannya bersama klas buruh dan rakyat tertindas.

Tidak mungkin lagi semua kemajuan umat manusia dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang super kaya. Karena yang dihasilkan hanyalah kemiskinan, penderitaan, perang, pembantaian, diskriminasi serta penindasan. Semua kemajuan umat manusia tersebut harus berada dalam kontrol demokrasi klas buruh dan rakyat. Untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemajuan umat manusia. Itulah sosialisme yang harus menjadi tujuan perjuangan kaum muda.

Oleh : Ignatius Mahendra Kusumawardhana, Kontributor Arah Juang dan Anggota KPO PRP.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Koran Arah Juang Edisi III November 2014. Untuk berlangganan Koran Arah Juang, silahkan isi form berlangganan di link berikut ini : Berlangganan.

1,576 total views, 1 views today

Share this post:

Related Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment