Intelektual dan Dunia ketiga

paris-681970

Dari Tricontinental, No.18, Mei-Juni 1970, hlm.12-15.

Ernest Mandel

Sumber: https://www.marxists.org/archive/mandel/1970/xx/intellectuals.htm

diterjemahkan oleh: Wira Dharma, mahasiswa Universitas Mulawarman


Pembagian negara-negara dunia ke dalam negara “miskin” dan “kaya”, jurang yang semakin lebar di antara keduanya, gerak pasar dunia sebagai mekanisme di mana kekayaan secara terus-menerus ditransfer dari negara miskin ke negara kaya, tanpa diragukan lagi merupakan skandal mencengangkan dari masa kita – karena ia menggambarkan eksploitasi memalukan di mana lebih dari dua per tiga manusia adalah subjek bagi minoritas kecil pemilik kapital internasional besar.

Tentu saja, bagi kaum Marxist, skandal ini bukanlah apa-apa kecuali akibat yang tidak bisa dihindari dari fase imperialisme dalam perkembangan ekonomi dan sosial kapitalis, di dalam dirinya sendiri ini adalah produk yang tidak dapat dihindari dari eksistensi kapitalisme. Kaum Marxist memahami bahwa akan sia-sia berharap untuk melawan penderitaan negara dunia ketiga tanpa usaha melawan imperialisme, dan bahkan lebih tidak berguna untuk berharap melampaui imperialisme tanpa mengontrol sumber kekuatannya: kepemilikan pribadi alat-alat produksi, eksistensi klas borjuis yang memonopoli alat produksi, dan eksistensi klas sosial yang lain – klas buruh – yang memiliki kewajiban untuk menjual tenaganya untuk mendapatkan upah.

Namun di dunia yang kita tinggali sekarang ini, sebagian besar intelektual telah mengetahui penderitaan yang tidak bisa ditoleransi di Dunia Ketiga sebelum mengetahui asal-usul sebenarnya dari kejahatan atau tanpa memahaminya secara utuh. Ini adalah masalah kesadaran yang lahir dari besarnya skandal – semakin mengherankan ketika dibandingkan dengan lebih dari 20 tahun pertumbuhan ekonomi yang sangat besar di negara-negara imperialis dan bahkan pertumbuhan yang lebih cepat di negara yang telah menumbangkan kapitalisme. Kesadaran ini telah dibentengi dengan sangat kuat oleh besarnya pemberontakan rakyat Dunia Ketiga terhadap penderitaan yang menjadikan mereka korban. Bahkan ketika kita membicarakan kesadaran yang parsial atau tidak cukup, kesadaran-semi, untuk menyebutnya dengan tepat, kita bicara tentang fakta yang tidak dapat dibantah yang telah sangat mendalam mempengaruhi politik, sosial, dan kehidupan kebudayaan di mayoritas negara-negara selama sepuluh tahun terakhir.

Di Perancis tidak diragukan lagi bahwa perang di Algeria memainkan peran penting untuk membongkar semuanya: di Amerika Serikat – dan dalam skala internasional – perang di Vietnam memiliki efek yang sama. Melalui perang inilah basis ketidakadilan dari hubungan imperialis internasional menjadi terlihat jelas di hadapan ribuan intelektual non-Marxist: para penindas menyerang korban mereka untuk menghukum mereka atas kejahatan yang mereka sebut “mencoba” emansipasi.

Reaksi pertama para intelektual di hadapan kesadaran mereka tentang imperialisme, dan pemberontakan yang meluas melawannya, berbeda-beda tergantung dari mana intelektual itu berasal apakah dari negara imperialis atau negara dunia ketiga.

Diantara intelektual negara imperialis, reaksi utamanya adalah salah satu kesadaran yang buruk: penolakan untuk mengakui perang dan penindasan kolonialis; pencarian solusi untuk membendung arus kekayaan yang diwakili oleh perdagangan dunia hari ini demi negara-negara kolonial dan semi-kolonial; tuntutan untuk peningkatan bantuan dari negara “kaya” untuk negara “miskin”; bahkan pada poin kompromi personal (sebagai asisten teknis dan dalam bentuk lain) untuk bagaimana meringankan penderitaan penduduk dunia ketiga.

Di antara intelektual negara dunia ketiga, reaksi komitmen individu dan tanggung jawab kelompok telah menyebar dengan cepatnya. Seketika underdevelopment/ kurang berkembang tidak lagi dipahami sebagai “takdir” (secara geografis, antropologi, sejarah, atau sosiologi), melainkan sebagai sebuah kejahatan yang harus dibinasakan, partisipasi dalam perjuangan untuk menghancurkannya dengan cepat diyakini. Ada hubungan paralel yang jelas antara komitmen intelektual yang menyebar luas dalam gerakan liberal (yaitu dalam revolusi borjuis nasional) pada permulaan abad ke 19,  di sebagian besar negara-negara Eropa, dengan komitmen intelektual yang menyebar luas pada gerakan pembebasan nasional negara dunia ketiga, diikuti oleh Perang Dunia II.

Meskipun begitu, ada perbedaan yang fundamental antara sejarah dan situasi sosial dari intelektual Barat dan Eropa Tengah pada permulaan abad ke 19, dengan gerakan pembebasan negara-negara dunia ketiga yang dihadapi intelektual. Para intelektual adalah bagian dari klas sosial yang sifatnya dapat dengan tepat didefinisikan, walaupun bentuknya tetap samar: borjuis kecil, kelas menengah “baru” (yang mana; secara umum, tidak memiliki alat produksi pribadi). Klas sosial ini adalah kekuatan revolusioner yang unggul selama periode klasik revolusi borjuis, pada permulaan atau tidak lama setelah revolusi industri, di mana klas pekerja modern kemudian baru akan lahir atau masih terlalu lemah. Hari ini mereka tidak bisa lagi memainkan peran yang sama, karena proletariat industrial modern di satu pihak dan petani miskin dan semi proletariat tak bertanah di lain pihak, adalah kekuatan revolusi utama di dunia modern.

Dalam hubungannya dengan kekuatan revolusi ini – yang mana, secara sejarah, adalah kekuatan yang akan mengubur penderitaan negara dunia ketiga – intelektual-intelektual, sebagai sebuah kelompok sosial, mengambil sebuah posisi yang ambigu. Tertarik oleh pemikiran-pemikiran keadilan dan rasionalitas yang mendarah daging di dalam sebab-sebab revolusi sosial, pengorbanan yang tak terelakkan, perjuangan terus menerus, dan “penyamarataan egalitarianisme” yang tersirat dalam revolusi tersebut membuat mereka mundur. Pikirannya ditarik untuk memberi bantuan bagi kaum tertindas sementara tubuh, yang mana lebih lemah, menginginkan keuntungan material yang bukan tidak penting yang disediakan bagi mereka oleh masyarakat kapitalis modern.

Ambiguitas dalam posisi sosial dari para intelektual ini dicerminkan dalam perubahan terus menerus dalam posisi politiknya, saat ini beraliansi dengan revolusi, terkadang memalingkan pandangannya dari revolusi, pada lain waktu mengasosiasikan diri mereka dengan imperialis dan bos-bos kapitalis. Hal ini lebih jauh digambarkan dalam ideologi mereka sendiri terhadap masalah utama dari Dunia Ketiga.

Di negeri-negeri imperialis ideologi intelektual ini dapat menjalankan keseluruhan instrumen mulai dari pengembangbiakan philanthropy/ kedermawanan internasional dalam skala besar atau kecil, sampai kepada sophisme apologis atau sinis  – yang “menunjukkan”  bahwa, sepanjang sejarah, penderitaan di dunia ketiga ditakdirkan untuk terus terjadi. Semua posisi ideologis tersebut memiliki kesamaan pada penolakan untuk mengakui tanggung jawab fundamental imperialisme dan kapitalisme terhadap penderitaan ini, dan juga pengingkaran untuk menerima fakta bahwa hanya revolusi yang menyapu bersih semua struktur  imperialis dan kapitalis yang dapat mendorong proses emansipasi diri sendiri bagi rakyat Dunia Ketiga.

Di antara banyaknya varian ideologi borjuis kecil ini kita dapat menunjuk: keranjingan untuk memberikan nasihat yang bagus pada pemerintahan oligarki di negara dunia ketiga (seakan pemerintahan ini tidak merepresentasikan kepentingan sosial yang mengakar dalam untuk mempertahankan status quo – artinya adalah, kesengsaraan); kesibukan utama dengan persoalan-persoalan psikologis, moral, budaya dan bahkan masalah agama dalam proses pembangunan (mereka mengatakan hal-hal seperti seolah-oleh bahwa agama Hindu adalah hambatan utama untuk memodernisasi India; mereka tidak mengerti bahwa hambatan sebenarnya adalah ketidakmampuan borjuasi India untuk melaksanakan modernisasi negeri yang menjelaskan kenapa masih bertahannya kekuasaan agama) dsb, dsb.

Di negara dunia ketiga, variasi utama dari tipikal ideologi intelektual ini adalah, di satu sisi, ilusi reformis, sebuah obsesi untuk mencari sumber kejahatan di “sistem pertanian feodal” atau mempertimbangkan bahwa sebuah reformasi agraria yang dibawa oleh borjuis akan secara radikal mengubah situasi (seolah-olah reforma agraria radikal tidak akan berbenturan dengan kepentingan dari imperialisme dan borjuis perkotaan, sebagaimana banyak terjadi dengan tuan tanah yang beroperasi di bawah sistem lama!), dan disisi lain, tendensi elitis, yang mana mengandaikan inisiatif sekelompok kecil intelektual yang berani (parahnya, para organiser kudeta)  dapat menahan laju semua kebingungan lama. Kedua variasi tersebut sering kali memiliki kesamaan keinginan untuk memisahkan secara sewenang-wenang dan radikal “tahap pembebasan nasional” dengan “tahap revolusi sosialis”, tanpa memahami bahwa tidak dapat dihindari satu tahap akan bergerak ke tahap lainnya jika ingin berhasil, karena hanya klas sosial yang berkepentingan membuat revolusi sosialis memiliki kapasitas untuk menentang imperialisme dalam jangka panjang dan untuk membawa pembebasan nasional mereka hingga tuntas, menghapuskan dominasi kapital internasional dan pasar imperialis dunia di ekonomi nasional.

Para intelektual tidak dapat mencapai kejelasan yang benar mengenai penderitaan negara dunia ketiga, tanpa komitmen yang sungguh-sungguh. Penyatuan teori dan praktik revolusioner adalah satu kesatuan yang utuh: tanpa praktik revolusioner mustahil untuk mendapatkan komprehensi teoritis yang cukup; dan tanpa teori revolusioner, praktik ditakdirkan menjadi meraba-raba dan menjadi berpandangan sempit serta menjadi tidak efektif. Bagi intelektual di negara imperialis sebagaimana intelektual di negara dunia ketiga – komitmen total berarti terlibat dalam perjuangan revolusioner. Tanpa partisipasi ini, tidak akan mungkin membebaskan diri dari tanggung jawab bersama atas penderitaan 2 miliar lebih umat manusia.

Bentuk-bentuk partisipasi ini bisa bervariasi tergantung kondisi – artinya, tergantung intensitas proses revolusioner pada berbagai tahap dan berbagai negara. Sering kali kita mengejek “pembawa koper” (hampir sebagian besar mereka adalah intelektual) yang melihat kemendesakan aksi dukungan material bagi revolusi Algeria sebagai tugas utama kaum revolusioner Perancis pada periode 1956-62.[1] Sudah pasti bahwa tugas telaten membangun organisasi revolusioner yang mampu mengintervensi secara efektif ketika situasi revolusioner menampakkan dirinya, tetap merupakan prioritas bahkan dalam masa ini di Perancis. Tapi juga sudah pasti bahwa organisasi tersebut tidak dapat dibangun jika seleksi anggotanya murni pada basis literatur, atau mengikuti partisipasi mereka dalam dalam aktivitas-aktivitas kelas pekerja yang sepenuhnya reformis (tidak ada yang lain di Perancis pada periode itu). Partisipasi – walaupun itu bisa jadi tidak langsung – dalam aktivitas revolusioner yang sebenarnya, di mana pun di dunia,  adalah kondisi yang dibutuhkan untuk pembentukan pelopor revolusioner sejati.

Dalam hal ini bukanlah secara kebetulan bahwa pelopor revolusioner baru yang berkumpul hari ini di negara-negara imperialis, di Perancis, di jepang, di Italia, dan bahkan di Amerika Serika, telah mengetahui ujian penderitaan (baptism of fire) mereka melalui identifikasi riil dan pembelaan mati-matian terhadap perjuangan revolusioner aktual yang telah berkembang dalam perjalanan beberapa tahun terakhir: revolusi Kuba dan Vietnam; solidaritas dengan gerilyawan Amerika Latin dan Palestina. Akhirnya, “komitmen” terhadap revolusi dunia ketiga ini, telah mempercepat kebangkitan perjuangan revolusioner di negeri-negeri imperialisnya sendiri, ketimbang menghalanginya.

 

[1]  Selama perang Algeria, rakyat Algeria yang tinggal di Perancis memberikan sumbangan bulanan bagi revolusi Algeria sebanyak jutaan Franc, yang dimasukan kedalam koper oleh simpatisan untuk menghindari penangkapan oleh otoritas Perancis. (Catatan Editor)

1,702 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment