Membaca “Deklarasi ISKRA”, Membangun Koran Kita

Koran KitaDengan membaca tulisan “Deklarasi Dewan Editorial ISKRA” dan melihat kondisi gerakan revolusioner, akan semakin memperjelas tujuan-tujuan yang ingin kita capai dan pemahaman akan tugas kita. Analisis dokumen tersebut kondisi gerakan kelas-buruh dan Sosial-DemokrasiRusia, kelemahan-kelemahanya, serta konsekuensi yang ditimbulkan menghasilkan beberapa kesimpulan yang dapat dipakai untuk memajukan gerakan revolusioner hari ini.

Secara khusus terkait dengan partai revolusioner yang harus menyebarluaskan perspektifnya dan meyakinkan klas buruh akan ketepatan dan kepemimpinan partai revolusioner tersebut. Kerja-kerja yang erat kaitannya dengan penyebarluasan koran partai revolusioner.

Konteks sejarah : diawal “Deklarasi Dewan Editorial ISKRA” menggambarkan konteks kondisi sejarah kemunculan ISKRA. Pertama, Beberapa tahun terakhir telah ditandai dengan penyebaran gagasan-gagasan Sosial-Demokratik yang sungguh-sungguh cepat di antara kaum intelektual.Gerakan kelas buruh yang mandiri telah menemui gagasan-gagasan sosial ini dan mulai bersatu dan berjuang melawan penindas-penindas mereka, dan dengan penuh semangat berjuang menuju sosialisme. Namun disisi lain (kedua) kondisi Sosial-Demokratik pada saat itu terpecah-pecah dan amatiran. Berbagai macam lingkaran studi lokal bermunculan namun berjalan terpisah satu sama lainnya. Tidak ada tradisi yang terbangun dan tidak ada kontinuitas.

Dalam masa Lenin amatiran juga berarti ketidakmampuan mempertahankan organisasi ketika berhadapan dengan represi dari Rejim. Hari ini kita melihat kaum revolusioner yang amatiran tersebut juga terutama pada tidak berjalannya iuran organisasi, tidak adanya koran partai serta tidak adanya kader fulltime didalam partai revolusioner. Organisasi cenderung berjalan momentuman, sekehendak hati serta seluang waktu, tidak mampu mengambil pelajaran dan kesimpulan-kesimpulan menyeluruh dari perjuangan kelas buruh dan kaum revolusioner itu sendiri.

Kondisi kaum revolusioner yang seperti itu tidak dapat menjawab kebutuhan perkembangan gerakan kelas buruh. Seperti saat ini kelas buruh telah berkembang demikian pesat selama dua tiga tahun belakangan ini namun kepemimpinan kaum revolusioner berkembang sangat minim.Kondisi tersebut memaksa semua kaum revolusioner untuk melihat adanya kebutuhan untuk konsolidasi dan sebuah bentuk organisasi yang definitif.

Namun diantara kaum revolusioner yang aktif, kebutuhan untuk berubah ke bentuk gerakan yang lebih tinggi tidak terjadi.

Yang terjadi justru kebimbangan ideologis. Kebimbangan ideologis akibat adanya kecenderungan untuk (i) memasukan reformisme kedalam Marxisme (ii) Bernstein-isme serta (iii) gagasan ekonomisme.

Bernstein-isme mengembangkan teori perubahan secara bertahap dari kapitalisme ke sosialisme, dengan begitu menegasikan revolusi. Kalimat terkenalnya adalah : “gerakan adalah segalanya, tujuan akhir, apapun itu, bukanlah apa-apa“.

Sementara itu ekonomisme bukanlah sekedar persoalan gerakan yang tidak mau berbicara politik atau melancarkan perjuangan politik.Bukan juga gerakan yang hanya membicarakan masalah ekonomi serta ke-serikat buruh-an. Toh pada akhirnya gerakan ekonomisme di Rusia juga berbicara dan melancarkan perjuangan politik.

Ekonomisme pada dasarnya adalah sebuah oportunisme yang selalu membuntut pada setiap perkembangan gerakan buruh. Mereka akan berbicara tentang politik ketika gerakan buruh sudah mengambil isu-isu politik. Karena isu-isu politik yang diambil oleh gerakan buruh berkembang dari perjuangan ekonominya yang spontan maka kelompok ekonomisme hanya akan berbicara tentang politik yang terkait dengan perjuangan ekonomi dilancarkan oleh kelas buruh. Dengan begitu mereka akan mencari-cari jembatan untuk dapat menghubungkan antara politik mereka dengan persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi oleh kelas buruh.

Penyebaran ketiga gagasan tersebut berakibat pada adanya usaha untuk menjaga “gerakan tetap pada tahapan yang rendah…” serta “…mengubur tugas pembentukan sebuah partai revolusioner…. Partai revolusioner didorong kebelakang, dikesampingkan pembangunannya oleh gerakan-isme serta aktivisme, oleh kerja-kerja ke-serikat buruhan-an serta membuntut di belakang perkembangan gerakan buruh. Membangun partai revolusioner mendapatkan ejekan sebagai: bermain-main didalam hutan, berbicara dikalangannya sendiri atau hanya bermain komedi putar. Bahkan juga mengutip-ngutip Marx yang mengatakan 1 gerakan nyata lebih berarti dari seribu program.

Kebimbangan ideologis dari kaum revolusioner mengakibatkan terjebak pada “…praktikalisme… sempit…” yang memisahkan diri dari persoalan-persoalan terkait dengan kejelasan ideologi dan teori.Sehingga gerakan justru dibelokan ke jalan yang keliru.

Dari seluruh kondisi diatas, apa kesimpulan praktis dari semua hal itu? Kesimpulan praktis yang harus diambil adalah “…bersatu dan mengarahkan semua usaha kita untuk membentuk sebuah partai yang kuat, yang harus berjuang di bawah panji tunggal Sosial Demokrasi revolusioner“.

Kesimpulan praktis tersebut sudah dipaparkan dalam Kongres Partai Buruh Sosial Demokrasi Rusia pada tahun 1898 dan Manifesto yang dihasilkannya. Lalu apa kerja-kerja yang harus dilakukan berangkat dari kesimpulan itu? Jawaban yang biasanya didapati adalah memilih kembali pengurus nasional membuat instruksi untuk melanjutkan penerbitan koran.

Namun dalam periode yang penuh kebingungan yang sedang dilalui.Dalam periode ketika partai revolusioner justru didorong kebelakang, metode yang sederhana seperti itu tidaklah memadahi.Dalam kondisi seperti saat ini sebuah “…partai yang kuat, yang berjuang di bawah panji tunggal Sosial Demokrasi revolusioner” tidaklah bisa dihasilkan dari kesepakatan-kesepakatan belaka. Tidak akan bisa dihasilkan dari instruksi-instruksi atau dekrit ataupun keputusan-keputusan semata. Partai yang kuat dan berideologi revolusioner harus Diperjuangkan.Ini juga menggambarkan bahwa pada saat itu didalam partai revolusioner itu sendiri bisa dikatakan berbagai macam cabang berjalan sendiri-sendiri atau sesuai dengan kecenderungannya masing-masing.

Perjuangan tersebut adalah pertama, membangun kesatuan ideologis yang kokoh yang akan menghapus berbagai kebimbangan dan perseteruan.Persatuan ideologi tersebut kemudian dikonsolidasikan dengan sebuah program.
Kedua, “…kita harus bekerja untuk membangun sebuah organisasi yang memiliki tujuan khusus untuk membangun dan mempertahankan kontak dengan semua pusat-pusat gerakan, untuk menyediakan informasi yang lengkap dan tepat-waktu mengenai gerakan, dan untuk menyampaikan koran-koran dan penerbitan-penerbitan berkala kita secara reguler ke seluruh pelosok Rusia“.

ISKRA didedikasikan untuk “…perjuangan bagian pertama, yaitu untuk menciptakan sebuah literatur bersama, yang konsisten dalam prinsip dan mampu secara ideologis menyatukan Sosial-Demokrasi revolusioner, karena kita melihat ini sebagai tuntutan mendesak dari gerakan hari ini dan sebuah kebijakan preliminer yang diperlukan untuk melanjutkan kembali aktivitas Partai…“.

Demikian persatuan ideologi kaum revolusioner itu harus diperjuangkan.Oleh karena kita harus melakukan sebuah diskusi yang terbuka dan menyeluruh mengenai masalah-masalah prinsip dan taktik yang pokok.Masalah-masalah yang sudah dimunculkan oleh kaum ekonomis, Bernstein dan reformis.

Sebelum kita dapat bersatu, dan supaya kita dapat bersatu, kita harus pertama-tama menarik garis demarkasi yang tegas dan jelas. Kalau tidak maka persatuan kita akan sepenuhnya fiktif. Persatuan macam ini akan menutup-nutupi kebingungan yang ada dan menghalangi penyelesaiannya secara radikal“.

Oleh karena itu koran partai revolusioner bukanlah gudang yang menyuguhkan berbagai cara pandang. Koran harus berisikan semangat tendensi yang tegas, yaitu Marxisme.Itu artinya kita menolak “koreksi-koreksi” yang sengaja dibuat tidak jelas untuk menutup-nutupi maksud sebenarnya, kabur, dan oportunis yang dibuat oleh Eduard Bernstein, P. Struve, dan banyak lainnya. “Tetapi walaupun kita akan mendiskusikan semua topik dari sudut pandang kita, kita akan memberi ruang di kolom-kolom koran kita untuk berpolemik sesama kamerad“.

Sebuah polemik atau perdebatan terbuka, yang dilakukan di hadapan semua kaum revolusioner dan kaum buruh sadar-kelas, adalah sesuatu yang diperlukan dan kita inginkan guna memperjelas perbedaan-perbedaan yang ada, guna mendiskusikan masalah-masalah yang ada dari semua sudut, guna memerangi ekstrem-ekstrem yang sering menjerat tidak hanya para perwakilan dari berbagai gagasan, tetapi bahkan dari berbagai lokalitas, atau dari berbagai “spesialitas” di dalam gerakan revolusioner.

Memang, seperti yang kita katakan di atas, salah satu kekurangan dari gerakan hari ini adalah tidak adanya polemik-polemik terbuka antara pandangan-pandangan yang berseberangan dan usaha untuk menutup-nutupi perbedaan-perbedaan yang fundamental.

Kita akan berusaha untuk membuat setiap kamerad Rusia melihat koran kita sebagai korannya sendiri, sebuah koran di mana semua kelompok akan mengkomunikasikan semua informasi mengenai gerakan, di mana mereka akan menceritakan pengalaman mereka, mengekspresikan gagasan mereka, mengindikasikan kebutuhan mereka akan literatur politik, dan menyuarakan pendapat mereka mengenai edisi-edisi koran tersebut. Dalam kata lain, mereka akan berbagi kontribusi apa pun yang mereka berikan pada gerakan dan apa pun yang mereka ambil darinya. Hanya dengan itu maka kita bisa menciptakan sebuah koranrevolusioner yang sungguh-sungguh meliputi seluruh negeri.

Kita tidak hanya berseru pada kaum sosialis dan kaum buruh sadar-kelas, kita juga berseru pada siapa pun yang tertindas oleh sistem politik yang ada sekarang ini; kita berikan kepada mereka akses ke kolom-kolom koran kita supaya mereka bisa mengekspos semua keburukan dari penindasan kapitalisme.

Hanya sebuah koran seperti ini yang dapat memimpin gerakan ke jalan perjuangan politik yang tinggi. “Memperluas batas-batas dan memperluas isi dari aktivitas propaganda, agitasi, dan organisasional kita,” – kata-kata P.B. Axelrod.

Mereka yang menganggap Sosial Demokrasi sebagai sebuah organisasi yang secara eksklusif melayani perjuangan spontan kaum proletariat mungkin akan merasa puas dengan sekedar agitasi lokal dan literatur kelas-buruh “yang murni dan sederhana“.

Kita tidak memahami Sosial Demokrasi seperti itu; kami memahaminya sebagai sebuah partai revolusioner, yang secara erat terikat dengan gerakan kelas buruh dan berjuang melawan absolutisme. Hanya ketika kaum proletariat – yakni kelas yang paling revolusioner hari ini – terorganisir ke dalam partai semacam ini maka kaum proletariat akan berada di dalam posisi untuk memenuhi tugas historis yang dihadapinya – yakni menyatukan di bawah panjinya semua elemen-elemen demokratik di bangsa ini dan memahkotakan perjuangan keras kepala yang telah memakan korban banyak generasi ini dengan kemenangan akhir.

1,958 total views, 1 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment