Tentang Pemogokan (1)

 

Mogok 3

(Tulisan ini Merupakan Materi dari Sekolah Kader Buruh KPO-PRP–dengan beberapa revisi)

 

I. Arti Penting Pemogokan Dalam Perjuangan Kelas Buruh

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, pertentangan antara kelas buruh dan kelas pemilik modal akan terjadi terus menerus dan tidak bisa terelakkan. Pertentangan merupakan hasil dari kontradiksi internal dari bekerjanya sistem kapitalisme itu sendiri; dimana pemilik modal menginginkan keuntungan (dengan merampas hasil kerja kaum buruh) untuk dilipatgandakan menjadi modal yang lebih besar lagi; Di sisi lain, kelas buruh memperjuangkan adanya peningkatan kesejahteraan dan hak-hak ekonomi dan sosial hingga pada perjuangan politik. Sejak sistem ekonomi kapitalisme muncul, saat itu pula sebenarnya perlawanan buruh telah dimulai. Dari perjuangan sendiri-sendiri, menghancurkan mesin-mesin, dan terus berkembang hingga perjuangan bersama-sama membentuk serikat, pembangunan alat politik partai revolusioner dan perjuangan politik untuk merebut kekuasaan politik dari tangan kelas borjuasi. Semua ini adalah perjalanan panjang perjuangan kelas buruh yang pernah dilalui.

Bila melihat sejarah masyarakat dan sejarah sistem ekonomi yang pernah ada di dalam masyarakat berkelas, perlawanan kelas inilah yang memajukan masyarakat. Termasuk juga dalam kapitalisme. Kita tahu, hasil perjuangan buruh di masa lalu lah sehingga kaum buruh saat ini menikmati berbagai kondisi yang lebih baik, misalnya jam kerja yang lebih pendek (sebelumnya buruh dipaksa kerja 16 jam, 14 jam, 12 jam, 10 jam hingga 8 jam kerja sehari). Hasil perjuanganlah kelas buruh di masa lalu lah, tingkat besaran upah buruh menjadi lebih baik dibandingkan masa-masa lalu. Misalnya saja di masa Seoharto, upah minimum ditentukan berdasarkan Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) dan ditinjau (dinaikkan) setiap dua tahun sekali, kemudian berdasarkan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) hingga saat ini berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL), dimana KHL pun kini sudah sangat tidak layak bila hanya mengacu pada 46 komponen yang diterapkan dalam Permenaker No.17 tahun 2005. Termasuk di dalamnya adalah pemberian THR dan lain sebagainya. Semua ini didapatkan bukan secara gratis, atau karena kebaikan hati dari kelas pemilik modal atau pemerintah melainkan hasil dari perjuangan buruh yang terus marak terutama dalam bentuk aksi mogok dan demonstrasi massa.

Semakin bersatu kaum buruh, persatuan perjuangan di level nasional bahkan internasional, telah berhasil memaksa negara, walau masih dikuasai oleh kelas pemilik modal, untuk menjamin diberikannya hak-hak sosial masyarakat seperti berbagai subsidi dan jaminan: kesehatan, pendidikan, pengangguran, dan hak-hak sosial lainnya lain sebagainya. Berikutnya ketika gerakan buruh melemah, sejak 30 tahunan yang lalu hak tersebut kembali dirampas oleh pemerintahan kapitalis di seluruh dunia. Di negara-negara dunia pertama, sejak dua puluh tahun belakangan ini tingkat kesejahteraan buruh terus dipangkas. Tingkat kesejahteraan berhasil dirampas atau dikurangi ketika perjuangan kelas buruh melemah.

Bahwa Perjuangan massa yang masif bahkan hingga perjuangan untuk menumbangkan sistem ekonomi kapitalisme tidaklah mungkin terjadi tiba-tiba tanpa adanya pendahuluan aksi-aksi massa kecil yang terus terjadi dan menjadi bara api perlawanan yang terus menyala dan berkembang menjadi energi persatuan dan perjuangan revolusioner kelas buruh. Bahkan dalam pengalaman perjuangan revolusioner di masa lalu, pemogokan massa yang terjadi dalam satu pabrik pun bisa menjadi picu awal berkembangnya menjadi perlawanan nasional, hingga pemogokan politik dan pemberontakan.

Oleh karenanya, kaum revolusioner, yaitu kaum yang berpikiran maju, tidak boleh memandang rendah perjuangan massa di level terkecil sekalipun, seperti pemogokan di satu perusahaan. Tetapi sebaliknya kaum revolusioner juga harus melihat setiap peluang dan situasi perlawanan yang ada untuk mengembangkan perlawanan-perlawanan  massa yang kecil dan yang terjadi dimana-mana menjadi suatu pemogokan massa kawasan hingga perlawanan secara nasional (mogok nasional) baik itu membawa tuntutan ekonomi maupun politik. Semua ini akan menjadi mungkin jika terdapat organisasi politik revolusioner yang hidup bersama massa kelas buruh dan kelas tertindas lainnya.

 

Terdapat 3 tugas pokok dari kaum revolusioner sebagai satu kesatuan perjuangan yaitu:

1)    Membantu Perjuangan Rakyat atas persoalan dan tuntutannnya sehari-hari (pengorganisiran perlawanan), membantu mereka membangun organisasi perjuangan mereka (pembangunan organisasi massa).

2)    Membantu menjelaskan persoalan rakyat dengan menghubungkan nya pada akar masalah, yakni sistem kapitalisme; Memberikan pemahaman revolusioner dan membangun kesadaran kelas kepada massa dan para pejuang massa

3)    Mengorganisasikan bagian temaju massa untuk menjadi bagian dari organisasi revolusioner, yang akan menjadi dasar dari pembangunan partai kelas buruh revolusioner yang massal di kemudian hari.

Jadi jelas bahwa kaum revolusioner juga berhubungan dengan massa secara langsung. Adalah salah jika ada yang beranggapan bahwa kaum revolusioner atau oganisasi revolusioner hanya berhubungan dengan massa termaju saja dan hanya mengerjakan kerja perjuangan yang dianggapnya “pekerjaan-pekerjaan revolusioner” (pendidikan, terbitan/bacaan, rekruitmen, hanya peduli pada demonstrasi besar dan sebagainya) dan menganggap/menyerahkan pekerjaan pengorganisasian massa dan perlawanan massa (biasanya perlawanan massa yang kecil) adalah pekerjaan/tugas dari organisasi massa seperti serikat buruh.

Sebaliknya juga merupakan kesalahan jika kaum revolusioner yang bekerja di organisasi massa atau pengorganisiran yang menganggap bahwa tugasnya hanyalah melakukan pengorganisiran perlawanan dan organisasi massa di ormasnya dan menganggap bahwa soal propaganda revolusioner, pendidikan/diskusi revolusioner dan melakukan rekruitmen ke dalam organisasi revolusioner bukanlah merupakan tugasnya. Karena bila ia hanya melakukan kerja perjuangan semacam ini, dia hanya meletakkan pekerjaan revolusioner  kedalam lautan perjuangan yang reformis; yakni baru bertindak sebagai aktivis serikat buruh/ormas.

Sering dikatakan bahwa setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Yaitu sebuah perjuangan yang ditujukan untuk merebut kekuasaan politik dari tangan kelas pemilik modal dan membangun pemerintahan revolusioner rakyat untuk membangun sistem yang berkeadilan: sosialisme. Proses agar perjuangan kelas buruh bisa memenuhi tugas sejarahnya ini membutuhkan dua hal.

Pertama, kesadaran revolusioner yang dipasok terus baik melalui pendidikan revolusioner maupun dengan memberikan pemahaman revolusioner dalam setiap masalah dan pertentangan/perjuangan kelas sehari-hari yang mereka lakukan, dari perlawanan yang paling umum dan mereka ketahui. Kedua, dari pengalaman perjuangan massa kelas buruh itu sendiri. Tanpa teori revolusioner, perjuangan kaum buruh tidak akan pernah sampai pada perjuangan untuk pembebasan dirinya dari perbudakan sistem kapitalisme. Tapi tanpa perjuangan riil massa, teori revolusioner tidak akan pernah bersemayam kongkrit di benak massa buruh, menjadi ruh dan energi perlawanan dari kelas buruh untuk menumbangkan sistem kapitalisme. Dua hal inilah yang dalam kesatuannya akan mematangkan kesadaran kelas buruh menuju perjuangan politik kelas dan membangun pemerintah rakyat sejati untuk sosialisme.

Oleh karenanya, melakukan pengorganisasian perlawanan massa adalah hal yang akan terus menerus dilakukan selama kapitalisme ada. Membangun dan memimpin perjuangan revolusioner gerakan buruh adalah salah satu tugas utama dalam perjuangan membebaskan rakyat tertindas.

Terkait dengan pengorganisiran perlawanan kelas buruh, agar bisa berkembang dan tercipta kondisi yang memungkinkan terjadinya pemogokan massal hingga perlawanan politik maka perlawanan harus dibangun dimana-mana (lewat pembacaan kondisi eksternal dan internal). Salah satu bentuk perlawanan di level paling rendah dan yang paling sering dan pasti terjadi selama kapitalisme ada adalah perlawanan dalam bentuk pemogokan.

Pemogokan dalam sistem ekonomi kapitalisme sering dikatakan sebagai senjata perlawanan kaum buruh, walaupun misalnya sudah berdiri serikat buruh di dalamnya. Karena seringkali, jika hanya melalui perundingan tanpa tekanan melalui pemogokan, tuntutan kita sering diabaikan oleh pihak pengusaha. Tanpa pemogokan, seringkali perundingan hanya menghasilkan perundingan kembali, dari perundingan ke perundingan lainnya, gagal berunding, “boss lagi sibuk”, mengagendakan tanggal perundingan kembali, terus demikian tanpa hasil yang kongkret sebagaimana keinginan yang dituntut oleh kawan-kawan buruh.

Pemogokan juga mengajarkan bahwa perjuangan adalah milik semua buruh bukan saja pengurus serikat, melatih seluruh massa untuk berjuang, bukan hanya pimpinannya semata (pengurus serikat). Oleh karena itu mogok juga adalah pendidikan perjuangan riil bagi massa. Perjuangan massa dalam bentuk pemogokan sering juga disebut sebagai “sekolah perang” bagi kaum buruh, yaitu sebuah latihan sebelum peperangan nyata melawan kekuasaan kelas kapitalis dan pemerintahan pendukungnya dilancarkan.

Pemogokan, dikatakan sebagai senjata kaum buruh karena aksi mogok adalah tindakan untuk menghentikan total seluruh aktivitas perusahaan. Pemogokan bukanlah sekedar demonstrasi biasa, karena metode yang dipergunakan sebagai kekuatan utamanya adalah penghentian seluruh aktivitas produksi, berhentinya mesin-mesin produksi yang selama ini menghasilkan barang-barang atau jasa, dengan demikian juga penghentian sementara keuntungan para pemodal dan penghentian sementara penghisapan.

Mengapa pemogokan menjadi penting dalam perjuangan kelas buruh? Seorang revolusioner di abad lalu dalam artikelnya, On Strike menjelaskan:

  • Pemogokan memunculkan dasar dari pertentangan dalam masyarakat kapitalis, dan merupakan embrio perlawanan terhadap sistem kapitalisme.
  • Pemogokan menyadarkan kaum buruh bahwa kaum buruh lah yang menghasilkan nilai, menghasilkan produksi dan menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang kemudian diambil oleh pemilik modal sebagai hak dirinya.
  • Pemogokan pastinya selalu menakutkan kapitalis sebab mulai mengganggu kekuasaannya. Di saat damai, kekuasaan pemilik modal menjadi sangat nyata. Mereka dapat membangun peraturan perusahaan sesuai keinginannya. Tetapi di saat pemogokan terjadi, menjadi jelas siapa sebenarnya yang menggerakkan semua mesin-mesin perusahaan selama ini. Kaum buruhlah penggerak roda-roda perusahaan.
  • Setiap pemogokan mengajarkan bahwa kaum buruh tidak sendirian.
  • Pengaruh dari sebuah pemogokan seringkali merembet ke perusahaan-perusahaan lain di sekitarnya dalam area yang sama.
  • Setiap pemogokan juga membawa benih-benih pikiran-pikiran sosialisme, pikiran perjuangan seluruh  kelas buruh untuk pembebasan dari penindasan kapital.
  • Sering terjadi setelah pemogokan, pembentukan serikat dan lingkaran diskusi/pendidikan menjadi lebih mudah dilakukan dan memudahkan mereka untuk menerima pikiran-pikiran sosialisme.
  • Setiap pemogokan mengajarkan kaum buruh apa kekuatan pengusaha dan apa kekuatan kaum buruh, mengajarkan mereka untuk tidak memikirkan pengusaha seorang demi seorang tetapi seluruh pengusaha dan seluruh kelas kapitalis dan seluruh kelas buruh.
  • Ketika memberikan perlawanan dan turun ke jalan, menyadarkan bahwa kaum buruh hanya dapat menggantungkan harapannya pada kekuatan kaumnya sendiri dan dari persatuan perjuangan mereka. Pemogokan oleh karenanya mengajarkan kaum buruh akan pentingnya persatuan, mengajarkan kaum buruh bahwa perjuangan melawan kapitalis hanya bisa dilakukan ketika mereka bersatu.
  • Ketika pemogokan, kaum buruh mulai berhubungan dengan para pejabat, polisi, depnaker dan sebagainya. Ini juga menyadarkan bahwa pemerintah tidak berpihak kepada mereka. Semua ini membuka mata kaum buruh bahwa musuh kaum buruh bukan hanya kapitalis tetapi juga pemerintah lewat berbagai peraturan perburuhan yang dikeluarkannya.
  • Kaum buruh mulai menyadari bahwa undang-undang yang ada tidak berpihak kepada buruh melainkan berpihak kepada para kapitalis. Setiap pemogokan memperkuat dan mengembangkan pemahaman kaum buruh bahwa kelas buruh harus mempersiapkan dirinya untuk perjuangan melawan pemerintah untuk hak-haknya.
  • Pemogokan mengajarkan kaum buruh untuk memikirkan perjuangan melawan seluruh kelas kapitalis dan melawan alat-alat penindasan mereka pemerintah dan polisi. Inilah mengapa kaum sosialis menyebut pemogokan sebagai sekolah/latihan perang, sebuah sekolah dimana kaum buruh belajar membuat perang terhadap musuh-musuhnya untuk pembebasan seluruh rakyat.
  • Pemogokan hanya salah satu cara dalam perjuangan kelas buruh untuk pembebasan dirinya, tetapi bukan satu-satunya cara. Kaum buruh harus melihat bentuk-bentuk perjuangan lain.

 Kerena sedemikian pentingnya perjuangan buruh dalam bentuk pemogokan, maka dari itu, kaum revolusioner dan organiser-organiser buruh yang paling maju, tulus dan teguh, harus juga memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar tentang pemogokan.

Bersambung

 

1,231 total views, 1 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment