Internasional

Rakyat Kuba Mempertahankan Diri Dari Imperialis Amerika Serikat

Queremos que nos DEJEN VIVIR! [Biarkan KAMI HIDUP!], muncul dalam penggalan surat terbuka yang ditulis oleh Ikay Romay menyusul meningkatnya tekanan Amerika Serikat kepada Kuba tahun ini. Diketahui tanggal 29 Januari 2026, Donald Trump mengeluarkan Perintah Eksekutif yang melabeli Kuba sebagai “ancaman yang tidak biasa dan luar biasa” bagi Amerika Serikat. Atas dasar ini, AS akan menjatuhkan sangksi ekonomi berat kepada negara manapun yang mengirim minyak atau berdagang dengan Kuba.

Kondisi ini menyusul setelah AS menculik Nicolas Maduro dan memutus pasokan minyak Venezula ke Kuba. Praksis Kuba kehilangan salah satu nadi utamanya untuk bertahan dari tekanan Amerika Serikat. Para jurnalis dari Havana melaporkan bahwa jalan-jalan menjadi sepi, halte bus pun demikian. Kelangkaan bahan bakar sangat terasa, dan banyak SPBU telah tutup. Sementara itu, pemadaman listrik harian terus meningkat.

Kondisi lain adalah pembatasan darurat mewajibkan minggu kerja menjadi empat hari, pengurangan transportasi antar provinsi, penutupan fasilitas wisata utama, hari sekolah yang lebih pendek, dan pengurangan persyaratan kehadiran tatap muka di universitas. Sementara itu, Air Canada yang melayani penerbangan pun berhenti. Dampaknya juga adalah nilai peso melemah, melumpuhkan jaringan manufaktur dan distribusi.

Penggalan surat dari Ikay Romay menggambarkan kondisi sebenarnya di rumah sakit.

“Inkubator di Kuba harus dihentikan karena tidak ada bahan bakar. Bayi-bayi yang baru lahir berjuang untuk hidup mereka sementara pemerintah AS memutuskan negara mana yang akan menjual minyak kepada kita dan mana yang tidak – [dan sekarang memutuskan bahwa tidak ada negara yang menjual minyak ke Kuba.] Para ibu Kuba melihat nyawa anak-anak mereka terancam karena perintah yang ditandatangani di sebuah kantor di Washington lebih berharga daripada tangisan bayi yang berada 90 mil dari pantai AS.”

Secara keseluruhan Kuba sekarang terancam krisis yang paling parah. Donald Trump bahkan menyatakan dengan sombong bahwa: apakah Kuba akan bertahan atau tidak? Kita lihat saja nanti! Peryataan ini sangat jelas menunjukkan barbarisme yang mengerikan. Bahkan tidak ada sejentik pun memikirkan nasib anak-anak yang terpaksa harus berjuang untuk hidup dalam kondisi tekanan maksimal yang diprakarsai oleh AS.

Tapi mengapa AS begitu terobsesi menghancurkan Kuba? Seorang jurnalis Harian Meksiko La Jornada, Louis Hernandes mewawancarai seorang pekerja dari Kuba bernama Yadira (32 thn) dan Yadira kembali bertanya, “mengapa seseorang yang bahkan bukan orang Kuba harus datang dan memutuskan bagaimana kita harus hidup?” Kegilaan Donald Trump untuk menghancurkan Kuba mewakili psikologi imperialisme Amerika Serikat bahwa dunia harus tunduk di bawah kendali mereka. Tapi Kuba, di luar itu.

Kuba telah lama memutuskan untuk tidak menjadi antek-antek AS. Revolusi 1959 memutuskan rantai penindasan AS di wilayah tersebut. Setelah revolusi, pada Agustus 1960, Fidel Castro sebagai pemimpin revolusi memerintahkan nasionalisasi semua perusahan-perusahan AS. Dua bulan kemudian, diikuti dengan nasionalisasi terhadap semua perusahaan kapitalis besar di Kuba. Efek langsung dari hal ini adalah jaminan sosial masyarakat diperluas, pendidikan dan kesehatan digratiskan, biaya listrik diturunkan, sementara upah para pekerja naik di semua sektor publik dan insdustri. Bahkan Kuba secara berani memutus semua hubungan dengan AS. Tahun 1961, Fidel Castro menutup Kedutaan AS di Havana.

Tindakkan berani inilah yang memicu respon keras dari AS. Berkali-kali fitnah keji dialamatkan kepada Kuba. Bahkan yang paling memalukan adalah tuduhan Kuba menyimpan senjata pemusnah tahun 1962. Tapi tuduhan ini adalah tidak benar, dan tidak pernah dibuktikan hingga hari ini. AS berusaha mancari pembenaran untuk menyerang Kuba, tapi selama itu pula terbukti dengan sendirinya bahwa itu hanyalah bualan AS untuk menghancurkan mercusuar harapan rakyat yang tengah merekah tidak jauh dari pantainya.

Inilah yang diulang hari ini kembali oleh Donald Trump. Donald Trump mewakili obsesi masa lalu dan masa sekarang dari imperialisme AS yang tidak ingin ada harapan lain yang tumbuh di luar kendali mereka. Yang mereka inginkan adalah negara yang patuh di bawah kendali mereka seperti Indonesia atau PNG hari ini. Negara yang secara sukarela memberikan harta kekayaannya dikelola oleh AS seperti Indonesia hari ini. Negara yang membuat kesepakatan “217 kewajiban kepada kita, dan hanya 6 untuk AS” seperti Indonesia hari ini, itulah yang diiginkan oleh AS.

Tapi Kuba bukanlah Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo! Kuba adalah Kuba, dan tidak akan pernah tunduk kepada AS! Hari ini sebagian para pengamat mengatakan bahwa kiamat bagi Kuba sudah dekat. Dilihat dari tingkat kesulitan yang dihadapi oleh Kuba, nampaknya prediksi itu sangat mungkin. Tapi pengalaman 67 tahun sudah membuktikan bahwa Kuba mampu bertahan dalam keadaan sesulit apapun. Tahun 1991, setelah runtuhnya Uni Soviet, para pengamat membuat prediksi bahwa Kuba akan runtuh pula. Tetapi justru prediksi tersebut yang gugur. Tongkat revolusi diteruskan dari Fidel kepada Raul Castro, dan hari ini kepada Miguel Diaz Canel.

Alih-alih blokade membuat kontra revolusi meningkat, justu sebaliknya, rakyat semakin bergabung ke sisi revolusi. Sebagaimana dicatat oleh Michael Smith, bahwa Donald Trump sama seperti para pendahulunya di Gedung Putih, tidak ingin ada basis politik yang anti imperialisme seperti Kuba, sehingga harus dihancurkan. Tapi ironisnya, tekanan AS justru membuat revolusi semakin kokoh. Entah bagaimana rakyat Kuba bisa bertahan, tapi mereka selalu menemukan cara agar bisa bertahan. Smith menulis:

“Sementara itu, di lapangan di Kuba, melawan angin dan gelombang reaksioner yang meningkat, rakyat yang bangga dan tangguh, para penyintas dari seribu pengkhianatan dan dikepung oleh blokade keji, dengan berani bertahan hidup.”

Inilah daya tahan revolusi yang menjadikan Kuba terus bertahan hingga hari ini. Tugas kita, sudah tentu, membangun solidaritas untuk revolusi Kuba. Bertahannya Revolusi Kuba akan menjadi lentera di tengah kegelapan perang dan penderitaan dunia akibat Imperialisme.

ditulis oleh Sharon Muller / Kader Perserikatan Sosialis dan Anggota Sosialis Muda Papua

___

Referensi:

  1. Romay Ika, “Kuba. Carta abierta al mundo desde la Isla: una mujer de a pie denuncia el crimen que no quieren ver” Resumen Latinoamericano, 13 Februari 2026. Dimuat kembali oleh Counter Punch 16 Februari 2026. Link:  https://www.counterpunch.org/2026/02/16/open-letter-to-the-world-from-the-island-from-cuba/ .
  2. Sahasranshu Dash, “Why Cuba is Back in the Crosshairs” Counter Punch 29 Januari 2026. Link https://www.counterpunch.org/2026/01/29/why-cuba-is-back-in-the-crosshairs/ .
  3. Smith, Michael, “Will Cuba Survive?” Counter Punch 12 Februari 2026. Link: https://www.counterpunch.org/2026/02/12/will-cuba-survive/ .
  4. Alana, Faranisa, “Revolusi Kuba 1959” Arah Juang 1 Januari 2020. Link: https://www.arahjuang.com/2020/01/01/revolusi-kuba-1959/ .

Loading

Comment here