Revolusi Kuba 1959

Pada tahun 1895 perang kemerdekaan berkobar di Kuba diinspirasi oleh José Martí yang berhasil menyatukan banyak veteran perang kemerdekaan Kuba pertama. Namun baik para pejuang kemerdekaan maupun kolonial Spanyol tidak berhasil mendapatkan kemenangan yang menentukan. Pada tahun 1898, malah Amerika Serikat (AS) ikut terlibat dengan dalih membantu perjuangan kemerdekaan Kuba. Namun setelah mengalahkan kekuatan Spanyol, AS memerintahkan para pejuang kemerdekaan untuk melucuti senjatanya. Pemerintahan militer didirikan pada Januari 1899, dipimpin oleh Jenderal AS. Pemerintahan militer AS tersebut berlangsung hingga 1902 ketika kemerdekaan formal diberikan. Namun kedepannya AS tetap bisa melakukan intervensi di Kuba baik secara ekonomi, politik maupun militer. Pemerintah AS dapat memveto atau mengganti keputusan yang dibuat oleh pemerintah Kuba. Situasi tersebut mengembangkan tingkat korupsi yang tinggi dalam sistem politik. Para pejabat menerima sogokan dengan imbalan kontrak pemerintah ataupun pengurangan hukuman.Terjadi demonstrasi dan pemberontakan periodik namun kebanyakan pemberontak digilas oleh pemerintahan.

Pada tahun 1933, AS mengorganisir kelompok yang pro dengan pemerintahan AS dengan mengangkat Manuel de Cespedes. Beberapa minggu kemudian terjadi kudeta yang dilakukan oleh sekelompok Sersan, dipimpin oleh Fulgencio Batista, beraliansi dengan mahasiswa dari Universitas Havana. Batista kemudian membentuk pemerintahan yang dipimpin oleh Professor Grau San Martin. Setelah itu Batista menyatakan dirinya sebagai Kolonel dan panglima angkatan bersenjata. Beberapa reforma dijalankan seperti 8 jam kerja, upah minimum bagi buruh, reforma agraria, otonomi universitas dan penolakan hutang luar negeri. AS memberikan pengakuan kepada Pemerintahan Grau namun mendorong Batista untuk melakukan kudeta. Pada bulan Januari 1934 kudeta dilakukan dan selama enam tahun kedepan Batista menjadi pemimpin Kuba walaupun terdapat orang lain yang menduduki jabatan Presiden.

Pada April 1937, Partai Komunis Kuba (PKK) mengkategorikan Batista sebagai fasis dan berusaha, namun gagal, untuk membentuk front popular dengan dengan kelompok borjuius anti-Batista. Pada tahun 1938, PKK merubah kebijakannya dan berkolaborasi dengan Batista. Pada tahun 1944, PKK merubah namanya menjadi Partai Sosialis Popular (PSP) yang sepertinya telah meninggalkan analisa Marxis terhadap imperialisme dan perjuangan kelas. Batista kembali melakukan kudeta sebelum pemilihan umum Mei 1952.

Terdapat berbagai perlawanan terhadap Rezim Batista. Mahasiswa termasuk yang paling pertama melawan Batista. Berbagai kelompok aktivis merencanakan penggulingan Rezim Batista. Salah satunya adalah Fidel Castro bersama Youth of the Centenary yang melakukan serangan ke barak Moncada pada 26 Juli 1953. Penyerbuan tersebut gagal dan Fidel Castro dipenjara namun banyak dari mereka yang terlibat kemudian mendirikan Gerakan 26 Juli (J26M). Selain terdapat juga National Revolutionary Movement (MNR) dan Revolutionary Directorate. PSP juga mengkritisi Batista namun lamban dalam melakukan apapun. Baru pada tahun 1958, kebijakan PSP berubah secara fundamental.

Pada Agustus 1955, Fidel Castro mengeluarkan 15 program Reforma yang termasuk: reforma agraria, nasionalisasi layanan publik, pendidikan massal dan industrialisasi. Sebelum J26M mendarat di Kuba pada 2 Desember 1956, metode perjuangan damai sudah diuji namun gagal. Demikian juga sebenarnya bukan sekedar latihan militer di Meksiko yang dilakukan. J26M membangun organisasi bawah tanah dengan sel-sel dan kepemimpinan di seantero Kuba serta menerbitkan koran yang awalnya bernama Aldabonanzo menjadi Revolucion. Dalam editorial dinyatakan bahwa bagi J26M tujuannya bukan sekedar menyingkirkan diktaktor Batista namun juga perubahan revolusioner dalam moral, politik, ekonomi dan sosial yang memungkinkan adanya diktaktor Batista. Melihat itu maka J26M bertujuan untuk perubahan sosial radikal. Banyak dari aktivisnya bukanlah Marxis namun demokrat radikal yang peduli pada keadilan sosial. Dalam perjalanannya banyak dari mereka yang berkembang menjadi sosialis namun ada juga yang tidak. Mereka yang kemudian berbalik menentang revolusi ketika sosialisme mulai dijalankan.

Sementara metode perjuangan J26M adalah mogok nasional dan pemberontakan popular. J26M menyerukan buruh agar diorganisir dari bawah dalam kelompok-kelompok revolusioner untuk melancarkan mogok nasional. Beberapa kali terjadi pemogokan dimana J26M terlibat di dalamnya. Komposisi pasukan gerilya J26M bukan sekedar petani namun juga buruh perkebunan dan perkotaan. J26M juga terus membangun jaringan bawah tanah di kota-kota yang mengirim uang, suplai dan merekruit gerilyawan, menjalankan propaganda di kota-kota, mengorganisir pemogokan dan demonstrasi serta melancarkan sabotase dan serangan militer terhadap markas polisi dan tentara di kota.

Terdapat dua kali upaya mogok nasional sebelum pada akhirnya mogok nasional menang pada Januari 1959. Pada 30 Juli 1957, Frank País pemimpin bawah tanah J26M di Santiago dibunuh oleh polisi. Pemogokan spontan terjadi, melumpuhkan Santiago serta seluruh Oriente sementara puluhan ribu orang menghadiri pemakamannya. J26M menyerukan dilancarkan mogok nasional pada 5 Agustus 1957. Namun pemogokan tersebut tidak efektif di Havana walau diikuti oleh buruh pembangkit listrik, telekomunikasi, perbankan dan supir bis.  J26M kembali menyerukan dilancarkannya mogok nasional kembali pada April 1958 namun pemogokan tersebut gagal.

Di internal J26M dilangsungkan evaluasi terhadap kegagalan tersebut. Evaluasinya adalah sikap sektarian beberapa pemimpin bawah tanah perkotaan J26M yang menolak bekerjasama dengan PSP. Di sisi lain kritik juga dilakukan terhadap metode J26M yang berupaya menggantikan kurangnya dukungannya di kalangan buruh terhadap mogok nasional dengan menggunakan milisi. Itu berhubungan dengan teori yang dipegang bahwa dengan pertempuran di jalan-jalan oleh milisi J26M maka buruh akan mempunyai alasan untuk tidak masuk kerja (mogok). Selain itu juga terdapat evaluasi atas dirahasiakannya waktu pelaksanaan mogok nasional. Setelahnya J26M menyadari bahwa mogok nasional harus disiapkan dengan lebih baik dan dilancarkan ketika kondisi objektif telah matang. Kerjasama dengan PSP dilakukan dan konferensi-konferensi perwakilan buruh di daerah yang dikuasai gerilyawan dilakukan.

Pada akhir 1958, Rezim Batista terus menerus mengalami kekalahan. Pada 1 Januari 1959, Batista melarikan diri ke AS dan digantikan oleh Jenderal Cantillo. Fidel Castro memerintahkan gerilyawan yang dipimpin oleh Che Guevara dan Camilo Cienfuegos untuk bergerak ke Havana. Castro juga menyerukan mogok nasional dilancarkan pada 2 Januari untuk mendukung kekuatan revolusioner dan memastikan kemenangan. Kelas buruh dengan serikat buruhnya bersama dengan rakyat memogokan Kuba. Para elit birokrasi serikat buruh kabur dan serikat-serikat buruh direformasi dengan pemimpin-pemimpin baru. Castro mengatakan bahwa mogok nasional tersebut memberikan sumbangan menentukan bagi kemenangan Revolusi.

Setelah kemenangan Revolusi Kuba, pemerintahan dipegang oleh Manuel Urrutia, seorang konservatif, yang membentuk kabinet yang didominasi oleh kelompok konservatif. Sementara itu Castro yang tidak masuk kedalam kabinet terus mendorong mobilisasi massa untuk menuntut perubahan radikal. Selama tahun 1959, terjadi 4 kali mogok nasional mendukung Castro dan program reforma radikalnya. Konflik tersebut berujung dengan rapat akbar yang diserukan oleh Fidel Castro pada 26 Juli 1959. Rapat akbar yang diikuti sekitar 1 juta orang tersebut menuntut Fidel Castro diangkat sebagai Perdana Menteri.

Berbagai capaian didapatkan dari Revolusi Kuba. Reforma agraria dilancarkan sementara perkebunan-perkebunan gula besar diambilalih dan dikolektivisasi. Aset-aset pemilik modal yang didapatkan dari penipuan ataupun yang melanggar undang-undang perburuhan juga diambilalih. Namun pada Agustus 1960, semua perusahaan industri dan agraria AS dinasionalisasi untuk merespon blokade AS. Dua bulan kemudian nasionalisasi dilancarkan terhadap semua kapitalis besar di Kuba. Ini menunjukan bahwa pemerintah Kuba ingin menghancurkan kekuatan ekonomi dari kelas kapitalis.

Upah dinaikan sementara biaya listrik, telepon dan uang sewa diturunkan, jaminan sosial diperluas. Sementara itu pendidikan dan kesehatan gratis. Tentara dan polisi dibubarkan sementara milisi buruh dan petani bersenjata yang berjumlah sekitar 200 ribu dibentuk. Para gerilyawan sebenarnya juga dibubarkan dan banyak diantara mereka yang bergabung dalam milisi rakyat bersenjata. Komite untuk Mempertahankan Revolusi dibentuk dan buruh serta kaum tani didorong untuk memobilisasi dirinya melalui organisasi mereka untuk menuntut dan menjalankan perubahan sosial radikal. Mereka juga yang menjalankan proses nasionalisasi, reforma agraria serta menjalankan ekonomi terencana.

Ditulis oleh Faranisa Alana, Anggota Lingkar Studi Sosialis
Tulisan ini juga diterbitkan dalam Arah Juang edisi 36, III-IV Januari 2018, dengan judul yang sama.

 1,979 total views,  2 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment