Pemilihan Presiden Menggambarkan Polarisasi Politik di Perancis

Mélenchon (kiri) dan Le Pen (kanan)

Mélenchon (kiri) dan Le Pen (kanan)

ditulis oleh Chris Di Pasquale

 

Pemilihan Presiden telah menunjukan polarisasi politik di masyarakat Perancis. Untuk pertama kalinya dalam periode paska perang, dua partai besar utama telah disingkirkan dari putaran kedua pemilihan presiden.

Dan untuk kedua kalinya, National Front-Front Nasional (FN) yang fasis telah lolos putaran pertama, dengan pemimpin partai serta kandidat presidennya Marine Le Pen meningkatkan suaranya lebih dari satu juta, menerima lebih dari 21 persen dari total suara. Pemenang putaran pertama, Emmanuel Macron, mendapatkan 23,9 persen dengan menggunakan platform samar-samar pro liberalisme Uni Eropa, yang dia presentasikan sebagai melampaui perpecahan politik yang terjadi, sepanjang kampanyenya dia menekankan bahwa dia “bukanlah kiri ataupun kanan”.

Bahwa hasil pemilihan presiden ini merefleksikan krisis politik global dari politik yang mapan ditunjukan oleh kedua kandidat – satu kandidat adalah fasis yang lainnya adalah bankir – yang menggambarkan dirinya orang yang berada di luar politik yang mapan. Tapi keduanya tidak seperti itu. Marine Le Pen mewarisi FN dari ayahnya, si rasis pemarah Jean-Marie Le Pen, dan telah menjadi pemain yang aktif dalam politik nasional selama lebih dari satu dekade. Macron menjabat sebagai menteri ekonomi saat pemerintahan Hollande dari Partai Sosialis (PS) yang membawa bencana. Sebelumnya dia adalah bankir investasi untuk Rothschild&Co, mewakili perusahaan-perusahaan Perancis teratas.

Runtuhnya suara dari partai politik utama – partai Republikan tengah kanan dan PS yang neoliberal – juga menggambarkan bagaimana dalamnya krisis politik terjadi. Mereka hanya bisa mendapatkan total 26 persen suara, terendah dalam sejarah. Kandidat partai Republikan, François Fillon, mulai bertarung dalam pemilu presiden sebagai favorit dari klas berkuasa, namun kemudian terlibat dalam skandal: dia membayar istrinya Penelope untuk sebuah jabatan parlemen yang fiktif.

Pemilih PS memilih Benoît Hamon saat pemilihan pendahuluan di bulan Januari, sebuah keputusan yang dilihat sebagai perpecahan dengan warisan sayap kanan dari mantan presiden François Hollande dan Perdana Menterinya Manuel Valls. Namun Hollande dan Valls telah merusak citra partai hingga tidak bisa diperbaiki. Banyak yang memperkirakan bahwa ini akan menjadi akhir bagi Partai Sosialis. Mereka dipastikan akan mengalami perpecahan dan pengunduran diri setelah hanya bisa mendapatkan 6 persen suara.

Namun kejutan terbesar adalah naiknya kandidat sayap kiri Jean-Luc Mélenchon, sebelumnya dari Left Front-Front Kiri dan bertarung di bawah bendera La France insoumise (“Insubordinate France”), sebuah kumpulan longgar dari aktivis dan pendukungnya. Mélenchon yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari keruntuhan PS, dia mendapatkan hampir 20 persen suara, sedikit dibawah Fillon kanan-tengah. Bahwa Mélenchon berada diurutan keempat – dan hanya 2 persen di bawah Le Pen – dengan dasar kampanye program sayap kiri yang jelas seperti pajak bagi orang kaya, meningkatkan belanja publik dan merombak sistem politik negeri itu, adalah tanda positif dan menunjukan bahwa bahwa kemarahan yang dapat dipertanggung jawabkan di seantero negeri terhadap klas politik tidaklah disalurkan secara eksklusif kepada dukungan terhadap ultra kanan.

Marine Le Pen berhasil masuk ke putaran kedua dalam pemilihan presiden, memenangkan lebih dari tujuh setengah juta suara. Sementara platform ekonomi dia akan membalikan perubahan regresif dalam undang-undang perburuhan dan menciptakan beberapa langkah-langkah proteksionis, sementara program lainnya adalah referendum “Frexit” dan menghentikan semua imigrasi.

Namun adalah jelas bahwa terdapat juga batasan dalam dukungan untuk Le Pen. Dia berusaha keras untuk membuat kampanye ini mengenai imigran dan ras, mengambil keuntungan dari penembakan terhadap polisi di Paris pada hari Kamis sebelum pencoblosan. Namun kejadian itu tidak secara substansial meningkatkan suaranya.

Pemenang jelas dari putaran pertama adalah Emmanuel Macron. Setelah kejatuhan yang mengerikan dari François Fillon, elit politik mapan Perancis merubah pendiriannya dan mendukung Macron sebagai kandidat mereka. Sebagai menteri ekonomi, Macron mengesahkan “undang-undang Macron”, serangkaian kebijakan neoliberal pro bisnis yang membantu memperkuat pandangan di antara buruh dan mahasiswa Perancis bahwa Hollande telah mengkhianati mereka. Seperti tikus yang lari dari kapal yang tenggelam, Macron melihat peruntungan politiknya berada di luar PS yang terkutuk dan membentuk En Marche! (“On the move!”) pada tahun 2016. Macron memosisikan dirinya sendiri secara sosial progresif, pro-UE dan pro bisnis. Namun platformnya tidak memberikan isi dan detail yang jelas. Dia berkata bahwa dia akan mengambil ide-ide yang terbaik dari kiri maupun kanan.

Macron menerima dukungan dari tokoh utama sayap kanan PS, termasuk mantan perdana menteri Valls. Macron sekarang adalah usaha terakhir klas berkuasa Perancis untuk menstabilkan sistem politik dan menyerang capaian historis dari klas buruh. Seperti yang ditulis oleh intelektual sayap kiri, Frédéric Lordon:

“Adalah pasti bahwa sebuah dunia yang sekarat yang masih sangat bertekad untuk tidak menyerahkan apapun akhirnya akan menemukan kandidat yang tepat, individu yang mampu bermuka dua yang dibutuhkan oleh situasi khusus. Itu adalah, kandidat yang mampu berbicara dan tidak mengatakan apapun, tidak mengatakan apapun namun terus menerus memikirkannya, pada saat yang bersamaan sepenuhnya kosong dan sangat berisi.”

Namun, sementara klas berkuasa mungkin bernafas lega karena perolehan suara Macron, namun anggota mereka mungkin harus menunda membuka botol Dom Pérignon. Semua jejak pendapat memprediksi Macron mengalahkan Le Pen dengan 60 persen banding 40 persen. Namun margin ini lebih tipis dibandingkan tahun 2002, terakhir kali ketika FN berhasil masuk ke putaran kedua, ketika Jacques Chirac yang konservatif mengalahkan Jean-Marie Le Pen dengan rekor 82 persen dari total suara.

Kemarahan buruh dan kaum muda Perancis tidak akan hilang begitu saja. Elit politik telah memperkaya dirinya sendiri sementara pengangguran meningkat dan kondisi hidup semakin buruk. Dengan pemilihan umum dijadwalkan untuk Inggris Raya, Jerman dan Italia dalam 12 bulan kedepan, krisis politik Eropa dapat lebih dalam lagi.

 

 

Naskah diambil dari website redflag.org.au. Dimuat pada tanggal 24 April 2017. Dapat diakses melalui https://redflag.org.au/node/5768

Diterjemahkan oleh Dipo Negoro, kader KPO PRP.

 1,153 total views,  1 views today

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment