Arah Juang

Arah Juang diterbitkan oleh Perserikatan Sosialis. Perserikatan Sosialis adalah organisasi politik sosialis. Perjuangan Perserikatan Sosialis bertujuan untuk menggulingkan tatanan kapitalisme secara revolusioner dan membangun tatanan sosialisme. Oleh karena itu, organisasi ini berdasarkan kepeloporan revolusioner.

AksiPernyataan Sikap

Kaum Muda, Pekerja dan Rakyat Tertindas Bersatulah dan Melawan!

LSSSejarah Mayday, Hari ini tanggal 1 Mei merupakan hari bersejarah bagi kaum buruh. Sekitar seratus tiga puluh tahun yang lalu lebih dari setengah juta buruh di Amerika Serikat melancarkan Demonstrasi menuntut pemotongan jam kerja. Sebelum tahun 1886 pemerintah Amerika Serikat (dan dunia) menetapkan jam kerja antara 12 samapi 16 jam sehari. Dapat kita bayangkan bagaimana buruh diperas oleh kaum pemilik modal yang dengan santai dapat menghitung laba yang didapatkan, sedangkan buruh harus bekerja keras selama 16 jam perhari. Dengan jam kerja yang panjang buruh bahkan tidak mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat. Buruh oleh pemilik modal dianggap sebagai “mesin” produksi yang tidak perlu diperhatikan kesejahteraannya. Implikasinya adalah buruh tidak dianggap memiliki relasi sosial selayaknya masyarakat yang lain dan hanya dianggap sebagai objek produksi.

Ketidakadilan yang dialami sekian lama menjadikan kaum buruh sadar harus melakukan perlawanan. Kaum buruh kemudian bersatu menuntut keadilan. Ratusan ribu buruh bersatu dalam berbagai serikat buruh. Salah satunya adalah Knights of Labor. Mereka mengorganisir diri mereka untuk melakukan aksi demonstrasi. Tuntutan yang diajukan adalah pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Sehingga dalam sehari ada 8 jam kerja, 8 jam istirahat, dan 8 jam untuk tidur. Aksi yang diawali pada April 1886 hanya beranggotakan 250 buruh, sekali lagi hanya 250 buruh. Dalam waktu seminggu jumlahnya meningkat menjadi 350 buruh. Aksi mereka cepat mendapat solidaritas dan menulah ke Negara bagian lain. Di Chicago, aksi ini diikuti 90 ribu buruh. Sementara New York mengikuti dengan 10 ribu buruh. Disusul dengan Detroit yang mendukung dengan 11 ribu buruh. Aksi ini menular dengan cepat ke negara bagian lain. Di Louisville dan Baltimore aksi ini bahkan menyatukan buruh kulit putih dan kulit berwarna. Aksi terus menjalar dari Maine ke Texas dan dari New Jersey ke Alabama. Puncaknya pada 1 Mei 1886 massa buruh yang melakukan demonstrasi berjumlah lebih dari setengah juta buruh. Buruh baik yang tua dan muda, pria dan perempuan, kulit putih maupun berwarna semua tumpah ruah dengan gegap gempita meneriakkan perlawanan “jam kerja 8 jam sehari”. Semangat dan persatuan kaum buruh itulah yang harus tetap kita dengungkan.

Bila kita  perhatikan mayaday merupakan satu-satunya hari libur nasional bahkan internasional yang tidak berkaitan dengan hari besar keagamaan dan sejarah kenegaraan. Ini artinya buruh memiliki posisi tawar yang cukup membuat para penguasa memperhitungkannya. Buruh berpotensi memberikan perlawanan dan merebut kemenangan dengan menggulingkan sistem kapitalisme yang mengeksplotasi dan menindas rakyat. Keadaan itu dapat dicapai apabila buruh bisa solid dan bersatu dengan elemen rakyat tertindas lainnya.

Kondisi Indonesia, Indonesia merupakan Negara yang kaya akan Sumber Daya Alamnya. Ekonom dunia (sindonews.com) mengatakan Indonesia terkaya peringkat kelima segi SDA dari 200 negara yang ada. Dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah seharusnya rakyat bisa sejahtera apabila pengelolaan SDA dibawah kontrol rakyat.

Akan tetapi, dengan corak sistem Kapitalisme hasil dari eksplotasi sumber daya yang ada hanya dinikmati oleh segelintir orang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 (BPS) mencapai  4,67 %, angka tersebut cukup besar dibanding Negara berkembang lainnya. Apakah pertumbuhan ekonomi tersebut membanggakan? Tunggu dulu, pada waktu yang bersamaan angka indikator gini Indonesia berada pada 0,40. Indikator gini adalah gap atau ketimpangan antara yang kaya dan miskin. Artinya kesenjangan yang terjadi masih tinggi. Bahkan laporan OJK menyatakan bahwa 1% keluarga kaya menguasai lebih dari 50% aset nasional. Kesenjangan ini terjadi karena corak sistem kapitalisme yang penguasaan alat produksi hanya dimiliki oleh segelintir orang, seharusnya dimiliki bersama dengan kontrol rakyat.

Kondisi perburuhan seratus tiga puluh tahun silam dengan sekarangnya nampaknya tidak banyak berubah. Buruh tetap dieksploitasi dan jauh dari kata sejahtera. Ini akibat dari penguasaan alat produksi oleh segelintir orang yang merupakan corak sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme membuat Negara dengan segala aparaturnya berpihak pada pemilik modal dan digunakan untuk mengamankan kekayaan dan kekuasaan.

Keadaan itu juga kita rasakan di Indonesia. Negara dengan segala aparatnya mendukung dan mengamakan kepentingan pemilik modal. Kebijakan yang dibuat menguntungkan pemodal dan mensengsarakan kaum buruh dan rakyat tertindas lain.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat semakin pro terhadap pasar. Misalnya dalam kebijakan perburuhan mengadopsi sistem tenaga kerja flexible (sistem tenaga kerja kontrak dan outsourcing) yang menjadikan buruh sebagai komoditas. Kebijakan pro pemodal yang terbaru adalah PP No.78/2015 tentang pengupahan. Selain itu belum ada kebijakan yang melindungi tenaga kerja sektor informal. Sehingga tenaga kerja informal sering mengalami tindak kekerasan. Bahkan banyak aktivis yang memperjuangkan penghidupan yang layak bagi rakyat malah direpresi dan dikriminalisasi.

Peran Kaum Muda, Kebijakan yang kapitalistik masuk kesegala aspek, salah satunya pada dunia pendidikan. Biaya pendidikan yang mahal membuat masyarakat dari golongan kelas bawah tidak dapat mengaksesnya. Kita lihat beberapa Universitas besar di Indonesia, UI, ITB, ITS, UB dan bahkan UGM yang dulu disebut sebagai kampus kerakyatan sekarang berubah menjadi showroom mobil. Parkiran dipenuhi oleh mobil—mobil mewah. Ini berarti orang yang dapat mengakses pendidikan hanya dari golongan orang kaya. Lalu bagaimana dengan nasib anak buruh yang hanya digaji dengan upah yang rendah, bagaiman dengan anak yang lahir dari Rahim buruh tani, bagaimana dengan anak tukang becak, bagaimana anak yang lahir dari PRT, baimana nasib pendidikan anak yang lahir dari keluarga pekerja informal (buruh kios pulsa, buruh toko kelontongan, buruh kios bakso, dll), bagaimana nasib pendidikan bagi anak yatim piatu, gelandangan, pengemis, LGBTI. Apakah mereka bukan bagian dari warga Negara yang berhak mendapat pendidikan yang layak ? Apakah hanya anak dari pengusaha kaya yang berhak akses terhadap pendidikan? Apakah hanya anak dari pemilik MNC Grup, Bakrie Grup, Agung Podomoro Grup, elit Penguasa dan elit Partai Brojuis  yang dianggap sebagai warga Negara Indonesia ?

Dampak dari kapitalisasi pendidikan menjadikan kaum terpelajar (mahasiswa) teralienasi dari masyarakat. Kaum terpelajar menganggap diri mereka sebagai resi, super hero, begawan sehingga tidak mau memikirkan masalah rakyat tertindas apalagi bergerak bersama. Mahasiswa menjadi sibuk sendiri dengan dunianya. Orientasi mahasiswa adalah lulus dengan nilai yang bagus dan tepat waktu. Mahasiswa berubah menjadi sebuah komoditas bagi pasar tenaga kerja.

Padahal sejarah menunjukkan peran kaum muda terpelajar bagi gerakan rakyat sangat besar. Besar peran mahasiswa dalam perjuangan menghancurkan pemerintahan dictator Soeharto pada 98. Dan peristiwa perjuangan lain pasti ada dukungan dari kaum terpelajar. Tentunya mahasiswa yang ikut bergabung dengan rakyat bukan mahasiswa yang apatis dan hanya memikirkan diri mereka sendiri. Mahasiswa yang tercatat dalam sejarah adalah mereka yang mempunyai kesadaran bahwa mahasiswa adalah bagian dari masyarakat dan harus ikut berjuang bersama masyarakat tertindas. Mereka adalah intelektual organik yang sadar bahwa akar permasalahan yang dihadapi sama yaitu sistem kapitalisme. Mereka adalah intelektual sosial demokrat yang mengorganisir dirinya berjuang membebaskan rakyat dari segala bentuk penindasan. Kaum muda terpelajar harus bersatu dengan rakyat tertindas lainnya.

Dari semangat dan pengalaman sejarah mayday, buruh, buruh tani, buruh informal,  nelayan, rakyat miskin kota, mahasiswa harus bersatu melawan segala bentuk penindasan dan berjuang menghancurkan akar penindasan yaitu sistem kapitalisme. Perlu kita pahami bersama bahwa satu Individu tertindas ibarat seekor semut yang tidak bisa berbuat banyak, satu sertikat buruh/tani/mahasiswa/rakyat miskin kota belum mampu menahan beban yang besar, akan tetapi dengan bersatunya seluruh rakyat tertindas dengan disertai perspektif & idiologi perjuangan yang jelas akan membentuk kepalan tangan besar yang bisa mengahancurkan penindasan.

Kontak: 0895322573007

 2,022 total views,  6 views today

Comment here

%d blogger menyukai ini: