Sebelum Jokowi Dilantik, SGBN Ajak Kaum Buruh dan Rakyat Bangun Persatuan Perjuangan Hadapi Rejim (Penindas) Baru

SGBN

Detik-detik pelantikan pemerintahan baru Jokowi-JK bukan hanya disambut oleh ‘persahabatan’ Jokowi-Prabowo yang sebelumnya berseteru, tetapi juga disambut sebagian rakyat dengan persiapan perjuangan atas rejim yang dinilai tidak akan membawa perubahan bagi buruh dan rakyat. SGBN (Sentral Gerakan Buruh Nasional) merupakan salah satu organisasi buruh yang melakukannya sehari sebelum pemerintahan baru resmi dilantik. Aksi yang digelar SGBN di Bunderan HI Jakarta menjadi unik dan tidak biasa. Selain digelar pada hari minggu (19 Oktober) disaat sebagian masyarakat berlibur dan menikmati car free day, aksi ini juga merupakan respon dari hiruk-pikuk politik selama Pemilu dan terpilihnya Jokowi-JK sebagai sosok yang digambarkan mayoritas media massa dan rakyat sebagai “harapan baru” bagi Indonesia.

“Harapan baru itu tidak mungkin dan berlebihan selama pemerintahan baru nanti masih melanjutkan logika dan sistem penindasan yang dijalankan pemerintahan sebelumnya”, jelas Wati, korlap SGBN diatas mobil komando. Pada poster-poster yang dibawa oleh sekitar 600 massa aksi SGBN, terdapat beberapa tuntutan bagi pemerintahan baru seperti penolakan atas kenaikan harga BBM, penolakan atas politik upah murah (serta pengajuan upah riil nasional 4,5 juta), penolakan atas sistem kontrak-outsourcing, penolakan atas UU Pilkada, serta jaminan sosial atas pendidikan dan kesehatan yang dinilai sama sekali belum terlaksana melalui sistem BPJS. Selain itu, SGBN juga menyerukan terbangunnya persatuan perjuangan buruh dan rakyat yang ditindas, baik melalui konfederasi buruh alternatif maupun partai politik alternatif yang konsisten memperjuangkan rakyat tertindas.

Disela-sela aksi, kordinator SGBN, Sultoni, mengatakan bahwa pemerintahan baru tidak akan jauh berbeda dari pemerintahan sebelumnya yang sama-sama mewakili kepentingan modal. Bahkan dari rencana yang disampaikan kepada publik untuk menaikkan harga BBM dengan membawa alasan defisit anggaran, Jokowi dinilai serupa dengan rejim-rejim terdahulu. “Hanya berganti wajah, belum berganti sistem dan kebijakan!”, ungkap Sultoni lantang. Aksi SGBN ini disebut Sultoni sebagai aksi nasional SGBN karena melibatkan unsur SGBN di daerah secara bersama dan serentak. Selain di Jakarta yang mengikutsertakan Bekasi, Tangerang, Karawang dan Indramayu, aksi juga digelar di Makassar Sulawesi Selatan, Deli Serdang Sumatera Utara, dan Samarinda Kalimantan Timur.

Ketika ditanya mengenai konfederasi alternatif dan partai alternatif yang dimaksud, Sultoni mengemukakan dengan gamblang tentang masalah didalam gerakan buruh itu sendiri. “Hancurnya gerakan buruh itu sering disebabkan oleh pemimpin-pemimpin organisasi buruh yang justru tidak berpihak pada buruh melainkan pada pemodal dan elit partai-partai pemodal. Selain itu, massa buruh juga belum banyak belajar dan mengambil kepemimpinan, sehingga terjadi kesenjangan antara keputusan organisasi dengan partisipasi anggota organisasi, dan banyak memunculkan birokratisme dalam organisasi buruh yang malah menghambat perjuangan buruh itu sendiri. Terkadang bisa memperbaiki birokratisme ini, tapi terkadang perbaikan ini justru harus dilalui dengan mengorbankan perjuangan buruh itu sendiri”, jelas Sultoni panjang lebar. Oleh karenanya, bagi Sultoni, konfederasi alternatif adalah alat yang perlu dan mungkin untuk diwujudkan bersama-sama dengan unsur organisasi buruh yang menolak menghianati buruh sekaligus demokratis.

Demikian halnya dengan partai alternatif, SGBN yang dalam momentum Pemilu kemarin ikut membentuk Komite Politik Alternatif, menganggap program pembangunan partai alternatif tidak boleh berhenti hanya dalam momentum Pemilu dan dalam wadah Komite Politik Alternatif. Perlu suatu kampanye dan pewadahan yang luas bagi setiap unsur buruh dan rakyat yang bersepakat membangun partai alternatif yang berdasar pada program-program perjuangan buruh dan rakyat serta menolak sistem yang mengabdi pada modal. Namun kata Sultoni, SGBN hanya salah satu organisasi dari ratusan organisasi yang sedang berjuang saat ini. Sehingga SGBN tidak dapat bergerak sendirian dalam proses pembangunan itu. “Dan itulah sebabnya SGBN menyerukan persatuan perjuangan”, pungkas Sultoni menutup pembicaraan.

Aksi SGBN ini dimulai dari pukul 10.30 di Tugu Proklamasi. Pukul 11.00 massa aksi bergerak ke bunderan HI. Setelah dua kali berkeliling bunderan HI, massa berhenti ditengah bunderan selama 2 jam untuk bergantian orasi, meneriakkan yel-yel, bernyanyi, dan membagikan selebaran yang telah dibuat. Walau 2 jam membuat macet jalan di sekitar HI, polisi yang sehari sebelumnya melarang digelarnya aksi juga urung mempercepat pelaksanaan aksi karena mendapat argumen yang kuat dari para buruh yang melakukan negosiasi. (red)

 

 

 1,593 total views,  1 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment