AMPK Kembali Melancarkan Aksi Tolak Pabrik Semen di Kantor Gubernur Kalimantan Timur

Senin, 8 April 2019 Aliansi Masyarakat Peduli Karst (AMPK) kembali melakukan aksi untuk menuntut dicabutnya izin pembangunan pabrik semen dan berbagai IUP yang ada di kawasan karst sangkulirang mangkalihat. Aksi tersebut merupakan lanjutan dari aksi tanggal 25 Maret 2019 lalu yang sesuai hasil konsolidasi dari AMPK bahwa jika tidak ada tanggapan dari gubernur setelah 7×24 jam maka akan melakukan aksi kembali.

Massa aksi mulai berkumpul di Taman Samarendah pukul 10:30 WITA sembari menunggu massa aksi lainya dan mempersiapkan peralatan aksi. Pukul 12:00 WITA massa aksi mulai melakukan long march menuju ke kantor gubernur. Di sepanjang jalan menuju kantor gubernur massa menyanyikan yel yel “tolak pabrik semen”  dan lagu-lagu perjuangan rakyat serta korlap melakukan orasi untuk menjelaskan kepada pengguna jalan tentang persoalan yang dihadapi rakyat kaltim saat ini dan apa yang dituntut oleh AMPK.

Sampai di depan kantor gubernur, beberapa massa aksi melakukan shalat dzuhur berjamaah dan salah satu aparat ikut berjamaah juga dengan massa aksi. Setelah selesai shalat berjamaah, korlap mengajak massa aksi agar kembali merapat di depan pagar kantor gubernur. Korlap menyampaikan orasi politiknya tentang dampak yang terjadi jika berdiri pabrik semen di kawasan Karst Sangkulirang Mangalihat. Selain korlap ada juga perwakilan organisasi yang tergabung di AMPK yang berorasi bergantian mengenai alasan – alasan penolakan berdirinya pabrik semen di kawasan Sangkulirang Mangkalihat

Kurang dari 4 orator setelah korlap, Hadi Mulyadi selaku Wakil Gubernur Kalimantan Timur menemui massa aksi dengan pengawalan ketat. Wagub langsung menaiki mobil komando dengan pengawalan ketat oleh ajudan dan aparat Satpol PP serta polisi untuk mendengarkan orasi dari korlap. Hadi ingin menjawab apa yang dituntut oleh massa aksi, tetapi korlap tidak memberikan ruang dialog kecuali Wakil Gubernur dengan tegas mengatakan akan mencabut izin pabrik semen. Wagub mulai bersitegang dengan korlap dan disertai perusakan mobil komando dan perampasan microfon milik massa aksi oleh aparat. Akhirnya Wagub berbicara di depan massa aksi dengan menggunakan microfon dari polisi. Wagub menjanjikan akan menyerap aspirasi massa dan akan meninjau apakah memang pembangunan pabrik semen ini akan berdampak luas pada eskositem di kawasan karst. Karena massa yang tidak puas dengan apa yang disampaikan wagub, akhirnya wagub pun meningalkan massa dan lagi-lagi disertai dengan tindakan represifitas dari aparat yang memukul mundur massa aksi dan melakukan pengerusakan terhadap mobil komando milik massa aksi.

Mobil yang sudah rusak di bagian depannya akibat dipukul oleh aparat akhirnya ditarik mundur dan peralatan aksipun diturunkan dari mobil komando. Suasana setelah itu massa aksi duduk di jalan raya dan beberapa menyiapkan genset untuk menyalakan sound sistem agar massa aksi dapat melanjutkan orasi. Setelah peralatan siap maka aksi dilanjutkan dengan orasi dari korlap yang menyatakan bahwa tidak ada keseriusan dari Pemprov Kaltim untuk menyelamatkan kawasan karst. Korlap memberikan kesempatan kepada perwakilan dari Lingkar Studi Kerakyatan untuk menyampaikan orasi politik. Putra sebagai perwakilan dari LSK menjelaskan bahwa semua persoalan rakyat hari ini mulai dari kerusakan lingkungan perampasan lahan serta penghancuran sumber sumber penghidupan warga sampai dikeluarkannya izin-izin oleh pemerintah merupakan konsekuensi logis dari sistem kapitalisme, ia menjelaskan bahwa sistem ekonomi politik hari ini lah yang mengakibatkan itu semua. Dimana para pemodal bersekongkol dengan para kapitalis birokrat atau pemerintahan hari ini. Karena itu menurut putra kita tidak boleh hanya berharap dan terjebak pada logika bahwa pemerintah hari ini mampu menyelesaikan persoalan rakyat karena pemerintah jugalah sebagai pelaku bukan saja hanya perusak lingkungan tapi juga pelaku matinya anak-anak di lubang tambang melalui izin-izin usaha yang mereka berikan, tetapi kita harus harus membangun simpul – simpul perlawanan dari sektor buruh, petani, nelayan, dan kaum miskin kota dan sektor tertindas lainnya tanpa berharap kepada pemerintah. Karena dengan membangun solidaritas dengan seluruh rakyat tertindaslah akan memperkuat gerakan kita bukan dengan memisah-misahkan gerakan dengan rakyat dan sebelum mengakhiri orasinya, putra mengajak kepada semua massa aksi untuk menyanyikan lagu Internasionale.

Perwakilan dari PERMAHI sempat melakukan orasi dan di pertengahan orasinya dia meminta kepada massa agar mendorong pagar kantor gubernur yang dijaga oleh aparat. Dan ini di respon oleh aparat dengan tindakan repsresif. Menggunakan tongkat dan gas air mata, aparat melakukan represifitas terhadap massa aksi serta melakukan pengejaran, akibatnya banyak massa aksi yang menjadi korban atas tidakan itu. Sedikitnya ada 22 orang yang terluka akibat pukulan serta terkena gas air mata dari aparat, diantaranya ada yang sampai dievakuasi ke rumah sakit termasuk Korlap. Massa yang dikejar menggunakan tongkat berhamburan menjauh dari kantor gubernur, tetapi setelah mengetahui beberapa massa ditangkap oleh aparat massa kembali ke depan kantor gubernur menuntut agar kawannya dapat dibebaskan dan mengembalikan sound sistem yang juga diambil serta dirusak oleh aparat. Sementara perwakilan PERMAHI yang menyuruh massa untuk mendorong pagar melarikan diri dan tidak muncul hingga selesai aksi.

Setelah massa yang ditahan dibebaskan, massa melakukan konsolidasi terkait apa yang akan dilakukan setelah kejadian sebelumnya. Ada dua tawaran yang dibahas dalam kosolidasi yaitu yang pertama tawaaran agar aksi bergeser ke kantor satpol pp untuk menuntut ganti rugi yang telah diterima oleh massa aksi, tawaraan ini disampaikan oleh perwakilan dari HMI. Tawaran kedua dari perwakilan LSK mengatakan bahwa harus dibuat koronolgi aksi agar bisa melawan pemberitaan yang menyudutkan massa aksi, dan tetap dilakukan di depan kantor gubernur. Massa lebih banyak sepakat dengan tawaran untuk membuat kronologi aksi karena jika aksi bergeser ke kantor Satpol PP maka itu bukan saja akan menghilangkan esensi dari aksi kita yaitu menuntut pencabutan izin pabrik semen namun itu juga hanya akan membuang buang tenaga massa aksi dengan menuntut Satpol PP.

Aparat sempat mengancam massa aksi agar menyudahi aksi karena sudah mendekati pukul 18:00 WITA. Akhrinya massa bersepakat untuk tetap berada di depan kantor gubernur namun bukan di jalan raya lagi tetapi di seberang kantor Gubernur Kalimantan Timur. Beberapa massa dari IAIN melantunkan sholawat, setelah itu melakukan shalat. Pukul 19:30 massa menyalakan lilin yang membentuk tuliskan “tolak pabrik semen” dan dilanjutkan dengan orasi, puisi, dan nyanyian lagu-lagu perjuangan rakyat yang terus membakar semangat massa aksi. Ditengah aksi itu berlangsung turun hujan namun tidak menyurutkan semangat massa aksi, massa tetap berkumpul dengan membentang terpal sebagai pelindung dari air hujan sambil ada yang menyampaikan orasi dan puisi. Dan sekitar pukul 22:15 massa membubarkan diri dengan menyanyikan lagu darah juang. (pa)

324 total views, 1 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment