Dari Stasiun Finland

Stasiun FinlandLenin tiba di Statiun Finland, 100 tahun yang lalu tepat pada hari ini (16 April-ed), merumuskan kembali strategi Bolshevik dan jalannya Revolusi Rusia.

 

ditulis oleh Yurri Colombo

 

Pada hari ini, ketika Vladimir Lenin mencapai Petrograd seratus tahun yang lalu dalam “kereta yang disegel”[1] yang melakukan perjalanan dari Swiss melalui Jerman, situasi baik secara internal maupun di medan perang tampaknya telah stabil.

Gencatan senjata sementara antara Pemerintahan Sementara dan massa yang memberontak, bagaimanapun juga, sebagian besar mengesampingkan isu utama dalam Revolusi Februari: yakni perang. Ketika tujuan agresif militer dari Pemerintahan Sementara terungkap, demonstrasi “April Days-Hari-hari April” membuktikan bahwa Revolusi masih menyala.

Setelah Februari, Tsar Nicholas II ditahan dan sebuah Pemerintahan Sementara dibentuk. Di puncak pemerintahan adalah Pangeran Georgy Lvov, tokoh seremonial yang mewakili hubungan terakhir dengan rezim lama, tetapi kabinet didominasi oleh kaum Liberal yang ketakutan terhadap Revolusi yang menempatkan mereka dalam kekuasaan.

Jabatan Menteri Luar Negeri dipegang oleh Pavel Milyukov, pemimpin bersejarah Partai Kadet[2], dan Menteri Pertahanan adalah Aleksander Guchkov, seorang Oktobris[3] yang juga ketua Duma. Menteri Kehakiman dipegang oleh partai Revolusioner Sosialis, Alexander Kerensky, satu-satunya kaum sosialis di kabinet.

Tugas utama dari pemerintah yang baru adalah untuk memberikan jaminan bagi Entente[4] dan para kapitalis Rusia bahwa perang akan terus berlanjut. Seperti pernyataan Milyukov kepada seorang jurnalis Prancis, “Revolusi Rusia dirancang untuk menghilangkan hambatan dalam perang Rusia untuk mencapai kemenangan.”

Perjuangan revolusioner pada bulan Februari memunculkan dewan buruh yang dipilih secara demokratis yang disebut Soviet seperti pada Revolusi 1905, bedanya sekarang terdapat perwakilan prajurit, pertama di Petrograd dan kemudian di semua provinsi Kekaisaran Rusia.

Pada tanggal 1 Maret, Petrograd Soviet menerbitkan Perintah Nomer 1, yang menyatakan bahwa “perintah komisi militer dari Duma harus dijalankan hanya dalam kasus dimana perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah dan keputusan dari Dewan Buruh dan Deputi Militer.”

Selain itu, revolusi telah membawa hal baru, kebebasan yang tak tertandingi dan mengakhiri pelecehan oleh polisi yang terjadi terus-menerus. Ketika jurnalis Inggris Morgan Philips Price tiba dengan kereta api di Moskow pada tanggal 6 April, ia mencatat:

Aku berjalan di jalanan dan segera melihat perubahan yang telah terjadi sejak saya berada di sini terakhir kalinya. Tidak ada satu orang polisi atau gendarme pun yang terlihat. Mereka semua telah ditangkap dan dikirim ke garis depan dalam beberapa detasemen kecil. Moskow tanpa polisi satupun dan tampaknya warga kota cukup bahagia tanpa mereka.

Petrograd Soviet didominasi oleh kekuatan sosialis, khususnya Menshevik. Mereka berpendapat bahwa pemerintah tetap berada di tangan kaum borjuis dan kelas buruh harus memainkan peran penyeimbang hanya untuk menekan Pemerintahan Sementara.

Dalam pandangan mereka, Rusia tidak siap untuk melakukan sebuah revolusi sosialis. Sebuah situasi “kekuasaan ganda” berkembang dengan cepat: Pemerintahan Sementara mewakili kepentingan kapitalis dan tuan tanah di satu sisi, sementara kekuatan yang sesungguhnya berada di tangan soviet dan kelas buruh.

Pada tanggal 23 Maret, Amerika Serikat terlibat dalam perang. Pada hari yang sama, Petrograd mengubur korban Revolusi Februari. Delapan ratus ribu orang berbaris ke Mars FieldLapangan Mars, mobilisasi terbesar tahun itu.

Pemakaman tersebut menjadi himne solidaritas internasional dan seruan untuk perdamaian; dalam karya Klasiknya History of the Russian Revolution-Sejarah Revolusi Rusia, Leon Trotsky menulis bahwa “demonstrasi bersama dari tentara Rusia beserta tahanan perang Austria-Jerman adalah sebagai fakta pemberi harapan yang jelas yang membuat mungkin untuk percaya bahwa Revolusi, meskipun semua yang terjadi, dalam dirinya membawa pondasi dunia yang lebih baik.”

Tsereteli dan para pemimpin Soviet kubu Menshevik menjamin dukungan eksternal untuk Pemerintahan Sementara dan percaya bahwa perang harus terus berlangsung, meskipun dalam postur “defensif dan tanpa aneksasi”. Posisi tengah-tengah ini berusaha untuk bermain di dua kaki antara mendukung mandat pemerintah untuk melanjutkan perang, seakan tidak ada yang terjadi, dengan harapan para prajurit dan buruh untuk perdamaian.

Pada tanggal 14 Maret, Petrograd Soviet mengeluarkan manifesto menyerukan “rakyat Eropa untuk berbicara dan bertindak bersama-sama dan tegas untuk mendorong perdamaian.” Akan tetapi seruan untuk buruh Jerman dan Austria, yang menyatakan, “Rusia yang Demokratik tidak dapat mengancam kebebasan dan peradaban ,” dan ”kami dengan tegas membela kebebasan kita sendiri dari segala jenis gangguan-gangguan reaksioner,” dibaca oleh banyak orang sebagai kepentingan pro-perang.

Seperti pendapat Trotsky, “surat Milyukov seribu kali tepat ketika menyatakan bahwa ‘manifesto, meskipun dimulai begitu khas dari pasifisme, berkembang menjadi ideologi yang pada dasarnya sama dengan kita dan semua sekutu kita.’”

Sebelum Revolusi Februari, perang berhenti, seiring prajurit menolak untuk berperang, ratusan ribu desersi, dan bersahabat dengan prajurit Jerman.

Sejak Natal tahun 1914, persahabatan tersebut termasuk menari bersama dan bertukar minuman cognac serta rokok diantara sesama prajurit Jerman dan Rusia, dan berlanjut selama bertahun-tahun tanpa menghasilkan pemberontakan terbuka terhadap para perwira. Sejarawan Marc Ferro mengutip sepucuk surat mengenai perwira dari seorang prajurit Rusia yang ditulis kepada istrinya:

Perang? Para perwira duduk saat kami berada dalam kotoran, mereka mendapatkan 500 atau 600 Rubel saat kita hanya mendapatkan 75. Mereka terobsesi oleh ketidakadilan. Dan kemudian, meskipun adalah prajurit yang harus menanggung beban terberat dari perang, ini berbeda untuk para perwira, mereka diselimuti oleh medali, salib, penghargaan; Tapi gerombolan perwira itu jauh dari medan perang.

Awalnya para Jenderal berusaha untuk memblokir pemberitaan mengenai pemberontakan di Petrograd dari para tentara yang berada di garis terdepan, namun yang terjadi tentara Jerman menginformasikan tentara Rusia mengenai Revolusi Februari, yang selanjutnya mengikis kepercayaan prajurit terhadap perwira mereka. Paradoksnya, Revolusi mengakhiri desersi. Para prajurit mengharapkan segera diakhirinya perang, dan mereka tidak ingin merusak kemampuan pemerintah baru untuk menegosiasikan perdamaian.

Laporan dari garis depan menunjukkan bahwa keinginan para prajurit adalah “dukung garis depan, tapi jangan melakukan ofensif.” Dengan berminggu-minggu waktu yang berlalu, komandan Tentara Kelima melaporkan, “Semangat bertempur telah menurun. . . politik yang telah menyebar ke seluruh lapisan tentara, telah membuat seluruh massa militer menginginkan satu hal – yakni mengakhiri perang dan pulang ke rumah. “Selama minggu pertama bulan April, delapan ribu tentara melakukan desersi dari garis depan di bagian utara dan barat.

Kembalinya Lenin dan dengan diterbitkannya Tesis April membawa perubahan mendasar dalam kebijakan Bolshevik, argumentasinya adalah “tidak ada dukungan” untuk Pemerintahan Sementara yang borjuis dan imperialis.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Pravda, koran partai, Kamenev berpendapat bahwa “Tesis April” mewakili “pandangan pribadi” Lenin, dan bahwa “skema umum Lenin tampaknya tidak dapat diterima sejak dimulainya anggapan bahwa Revolusi Borjuis telah selesai dan bergantung pada transformasi segera revolusi ini menjadi sebuah Revolusi Sosialis. ”

Pada konferensi Bolshevik bulan Maret 1917, Stalin juga mendukung kemungkinan unifikasi dengan kaum internasionalis Menshevik “di sepanjang garis Zimmerwald-Kiental.” Namun bahkan pada tahun 1915, Lenin skeptis terhadap terminologi anti-perang pasifis dari mayoritas di Zimmerwald yang membuka pintu untuk mendukung perang, Lenin menyebut mereka “Kauskyite-shitheads.”

Ketika dia kembali pada bulan April, Lenin mengajukan pendapat agar Zimmerwald kiri memisahkan diri dengan mayoritas Zimmerwald sepenuhnya, termasuk kaum Menshevik, yang oleh Stalin dan banyak Bolshevik lainnya ingin dipersatukan.

Lenin yang tak kenal lelah berhasil meyakinkan partai. Bolshevik bisa mengandalkan 79.000 anggotanya, yang 15.000 di antaranya berada di Petrograd. Meski masih merupakan kekuatan minoritas kecil, terutama di Soviet Petrograd, mereka cukup kuat untuk memiliki peran dalam peristiwa-peristiwa tersebut.

Baik pemerintah maupun pemimpin Menshevik pada tingkat pimpinan di Soviet tidak menginginkan krisis politik baru yang muncul pada paruh kedua bulan April. Milyukov dan kapitalis Rusia telah meyakinkan kembali sekutu-sekutu Rusia tentang peran Rusia dalam konflik tersebut, dan bercita-cita untuk memperebutkan Kekaisaran Ottoman-yang dikuasai oleh Dardanelles.

Namun, Milyukov menyadari bahwa tanpa kesepakatan dengan Soviet, pasukan hampir tidak akan menerima dan akan melawan rencana pemerintah.

Di sisi lain, Tsereteli bersikeras pada perlunya pengumuman pemerintah bahwa bagi Rusia perang itu hanyalah bertahan diri. Penentangan dari Milyukov dan Guchkov dipatahkan, dan pada tanggal 27 Maret diumumkan:

Rakyat Rusia tidak menginginkan diperkuatnya kekuatan eksternalnya dengan mengorbankan rakyat lain dan tidak menetapkan bahwa tujuan dari Revolusi adalah perbudakan dan penghinaan siapa pun. . . . Tapi Rakyat Rusia tidak akan mengizinkan tanah airnya keluar dari Perang Dunia dengan dipermalukan dan dirusak sumber daya pokoknya.

Deklarasi defensif pada tanggal 27 Maret tidak diterima dengan baik oleh Sekutu, yang melihat di dalamnya ada sebuah konsesi ke Soviet. Duta Besar Prancis Maurice Paléologue mengeluhkan “sikap takut-takut dan ketidaktegasan” dari deklarasi tersebut

Tapi pertaruhan Milyukov untuk menggunakan perang melawan Revolusi harus memperhitungkan hubungan kekuatan sesungguhnya antara Pemerintahan Sementara dan Soviet. Dia ingin, selangkah demi selangkah, meningkatkan kekuatan Pemerintahan Sementara.

Beberapa hari kemudian, sebuah pertemuan baru terjadi antara perwakilan pemerintah dan pihak Soviet. Rusia sangat membutuhkan pinjaman dari sekutu untuk melanjutkan perang; sebuah memorandum yang baru dari pemerintahan dapat membantu mencapai tujuan ini. Pada tanggal 18 April, Milyukov mengirim sebuah surat baru kepada pemerintahan-pemerintahan Sekutu dimana dia menekankan kehendak untuk “melanjutkan perang sesuai kesepakatan dengan sekutu dan untuk mematuhi kewajiban terhadap mereka.”

Dalam surat tersebut juga diklaim bahwa revolusi hanya memperkuat kemauan rakyat untuk membawa perang pada sebuah kemenangan. Pada sebuah sesi malam khusus pada tanggal 19 Maret, Komite Eksekutif Soviet membahas surat tersebut. “Diputuskan dengan suara bulat dan tanpa perdebatan dimana diakui oleh semua bahwa ini sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh Komite,” kata anggota komite Vladimir Stankevich.

Harian Rabochaya Gazeta, sebuah surat kabar kaum Menshevik, menambahkan bahwa surat Milyukov adalah “olok-olokan terhadap demokrasi.” Namun, koran utama dari intelijensia liberal, Novoe Vremya, mencoba untuk mempertahankannya, dengan menyatakan bahwa tidak mungkin merobek perjanjian yang telah ada.

Jika Rusia melakukannya, “sekutu kita juga akan menggunakan kebebasan dalam bertindak: jika tidak ada perjanjian, tidak ada yang harus mematuhinya. . . . Kami berpikir bahwa dengan pengecualian kaum Bolshevik, semua warga Rusia akan menganggap tesis dasar dari surat kemarin itu benar.”

Catatan itu mengakibatkan ledakan spontan kemarahan yang menjadi begitu populer. Rabochaya Gazeta menulis:

Petrograd bereaksi dengan begitu gugup dan sensitif. Di mana-mana, di pertemuan jalanan, di trem, perdebatan sengit mengenai perang berlangsung. Topi dan saputangan berarti perdamaian; penutup kepala berarti mendukung perang perang. Di distrik kelas buruh dan di barak, sikap terhadap surat tersebut lebih banyak diekspresikan untuk melawan politik aneksasi.

Sukhanov, seorang Menshevik dan mungkin reporter terbaik selama Revolusi Rusia, mengingat dengan jelas:

Kerumunan besar buruh, beberapa di antaranya bersenjata, bergerak menuju Nevsky dari Sisi Vyborg. Ada juga banyak prajurit dengan mereka. Para demonstran berbaris di bawah slogan-slogan: “Gulingkan Pemerintahan Sementara!” “Gulingkan Milyukov!” Kegembiraan yang luar biasa pada umumnya berkembang di distrik kelas buruh, pabrik-pabrik, dan barak-barak. Banyak pabrik yang yang ditutup. Pertemuan lokal berlangsung di mana-mana.

Pada malam di tanggal 20 April, para pemimpin Menshevik di Soviet meminta pemerintah untuk mengirim sebuah surat baru yang mengoreksi Milyukov dengan cara pasifis, namun pada akhirnya mereka menerima posisi partai Revolusioner Sosialis-nya Kerensky bahwa cukup dengan menawarkan sebuah “penjelasan” dari surat tersebut.

Meskipun begitu, pada 21 April, ada gelombang demonstrasi baru, kali ini diarahkan dan diorganisir oleh Bolshevik. Ini adalah kali pertama sejak Revolusi dimana partai pimpinan Lenin menjadi kepala dan bukan ekor dari gerakan tersebut. Pada saat bersamaan, di Nevsky Prospekt, pendukung bersenjata pemerintah berkumpul, diorganisir oleh Partai Kadet. Menurut edisi 22 April  Rabochaya Pravda:

Kemarin di jalan-jalan di Petrograd, suasananya bahkan lebih mencekam daripada pada tanggal 20 April. Di distrik [kelas buruh], serangkaian pemogokan terjadi. . . . Tulisan di atas spanduk memiliki isian yang beragam, tapi tetap sama, ada yang mencatat ciri utama: di daerah tengah, di Nevskii, Sadovaya dan lainnya, slogan-slogan mendukung Pemerintahan Sementara mendominasi; Di daerah pinggiran, sebaliknya. . . . Bentrokan antara demonstran dari kelompok yang berbeda sering terjadi. . . . Ada banyak rumor penembakan.”

Seorang perempuan yang ikut dalam demonstrasi menulis:

. . perempuan di pabrik ini. . bergerak dengan para demonstran ke Nevsky di sisi jalan yang ganjil. Kerumunan massa yang lain bergerak secara paralel di sisi yang genap: perempuan berpakaian indah, pegawai, pedagang, pengacara, dan lain-lain. Slogan mereka adalah: “Hidup Pemerintahan Sementara,” “Hidup Milyukov,” “Tangkap Lenin.”

Ketegangan di lingkungan buruh meningkat. Seorang buruh pabrik menggambarkan satu pertemuan siang itu:

Suasananya bergejolak. . . . Diputuskan untuk menunggu keputusan dari Soviet. Tapi sebelum keputusan itu diketahui beberapa buruh kembali dari pusat kota dengan berita bentrokan, perobekan spanduk dan penangkapan. . . . Suasana seketika berubah. “Apa? Mereka mengejar kita di jalanan, merobek spanduk kita, dan kita hanya melihat hal ini diam-diam dari kejauhan? Mari kita pindah ke Nevsky! “

Dalam situasi tegang ini, Jenderal Kornilov – yang didukung oleh Milyukov – memutuskan untuk memindahkan artileri ke luar Istana Mariinsky dan memerintahkan sekolah militer untuk memberikan dukungan. Tujuannya adalah untuk menghubungkan bagian-bagian tentara dengan demonstrasi pro-pemerintah bersenjata yang diadakan beberapa ratus meter dari demonstrasi buruh yang dipimpin Bolshevik. Milyukov, dalam memoarnya, mencoba menyembunyikan sifat kontra revolusioner yang terbuka dari inisiatif tersebut, dia berpendapat:

Pada tanggal 21 April Jenderal Kornilov, panglima tertinggi distrik Petrograd, diberitahu tentang demonstrasi kelas buruh bersenjata dari pinggiran kota, dan memerintahkan beberapa unit garnisun untuk dibawa ke Palace Square. Dia berhadapan dengan penentangan dari Komite Eksekutif Soviet, yang memberi tahu staf tersebut melalui telepon bahwa seruan menggerakan tentara dapat memperumit situasi tersebut. Setelah melakukan negosiasi dengan delegasi Komite. . . si panglima membatalkan perintahnya dan dihadapan anggota komite mendiktekan pesan telepon ke semua bagian pasukan garnisun, dengan perintah untuk tetap berada di barak. Setelah itu, sebuah seruan dari Komite yang ditempelkan di jalan-jalan mengumumkan bahwa: “Kamerad, jangan keluar dengan senjata dihari-hari bermasalah ini dan tanpa arahan dari Komite Eksekutif.”

Sebenarnya, Komite Eksekutif Soviet – memahami karakter kontra-revolusioner dari keputusan Kornilov akan mengancam mereka juga – memberikan perintah agar pasukan tidak meninggalkan barak mereka. Kornilov mendapati dirinya terisolasi dan tanpa alternatif selain mundur.

Para pemimpin Soviet menghadapi resiko jalan buntu, sehingga Komite Eksekutif dengan tergesa-gesa menyatakan bahwa insiden dengan pemerintah tersebut telah diselesaikan, dan meminta para buruh untuk kembali ke rumah mereka. Rabochaya Pravda secara ironis mencatat bahwa:

Ketika Komite Eksekutif mempublikasikan arahannya kepada prajurit untuk tidak pergi ke jalanan dengan bersenjata, orang-orang mulai mengamati adegan yang membuat penasaran dimana para prajurit mencoba meyakinkan kawan-kawan mereka untuk secara umum menahan diri dari berpartisipasi dalam demonstrasi, apapun karakter demonstrasi tersebut. Seringkali juga prajurit meminta warga sipil untuk tenang.

Kornilov meyakinkan Milyukov bahwa dia memiliki “kekuatan yang cukup” untuk menghancurkan para pemberontak, namun pasukan ini tidak pernah terwujud. Trotsky menulis, “Kebimbangan ini akan mencapai mekar tertinggi pada bulan Agustus, ketika si konspirator Kornilov akan menggerakan tentara yang tidak ada ke Petrograd.” Pada malam 21 April, meskipun beberapa tembakan masih dapat didengar, krisis politik sudah berakhir.

Dengan keseimbangan kekuatan pada bulan April 1917, Bolshevik juga tidak tertarik dalam pertempuran terbuka yang mendorong perang saudara. Untuk pertama kalinya partai pimpinan Lenin memainkan peran penting dalam situasi tersebut, namun belum siap untuk memimpin gerakan menuju sebuah revolusi baru.

Soviet masih terkonsolidasi dan tetap berada di bawah hegemoni Menshevik. Bagi Lenin, sebuah revolusi baru masih terlalu dini, dan slogan yang didukung oleh beberapa Bolshevik tentang “penggulingan pemerintah” adalah salah:

Haruskah Pemerintahan Sementara digulingkan segera? . . . Untuk menjadi kekuatan, kelas buruh sadar harus memenangkan mayoritas di pihak mereka. . . . Kami bukan Blanquists. . . . Kami Marxis, kami membela perjuangan kelas proletar melawan racun borjuis kecil.

Krisis telah surut, tapi tidak ada yang sama seperti sebelumnya. Menjadi jelas bahwa tidak ada keputusan pemerintah yang bisa lolos tanpa kesepakatan Soviet. Strategi Kadet dan kelas kapitalis kemudian bergeser untuk melibatkan kaum sosialis secara langsung dalam pemerintahan. Syarat utama untuk keterlibatan partai-partai sosialis di kabinet adalah penggantian Guchkov dan Milyukov.

Setelah pengunduran diri mereka, Pemerintahan Sementara mengajukan proposal ke Soviet Petrograd untuk membentuk pemerintahan koalisi. Sebuah kesepakatan dicapai pada 22 April, dan enam menteri sosialis bergabung dengan kabinet (dua Menshevik, dua Revolusioner Sosialis, dan dua Populis). Hanya Presiden Eksekutif Soviet Nikolay Chkheidze yang menolak menjadi menteri.

Bolshevik juga menolak untuk berpartisipasi dan malah mempersiapkan diri untuk perjuangan revolusioner yang akan datang. Dalam banyak hal, “Hari-hari April” memperkuat kebutuhan buruh untuk sebuah kekuatan mandiri dan bersenjata mereka sendiri. Misalnya, Pabrik Sepatu Skorokhod memutuskan untuk membentuk pasukan Garda Merah seribu orang dan meminta Soviet memberikan lima ratus senapan dan lima ratus revolver.

Pada tanggal 23 April, pada sebuah pertemuan delegasi pabrik mengenai pengorganisasian Garda Merah, seorang pembicara berpendapat, “Soviet menaruh terlalu banyak kepercayaan pada Kadet. Soviet tidak pergi ke jalanan. Kadet melakukannya. Meskipun tanpa dukungan Soviet, para buruh pergi ke jalan dan menyelamatkan hari itu.”

Hari-hari April adalah meneguhkan tekad buruh dan tentara Petrograd. Milyukov dan Kadet adalah pecundang jangka pendek. Menshevik dan SR mempertahankan kendali mereka atas Soviet Petrograd, namun kepercayaan diri mereka terguncang. Dalam bulan-bulan berikutnya, perang dan krisis revolusioner akan semakin dalam.

 

 

Naskah diambil dari website jacobinmag.com. Dimuat pada tanggal 16 April 2017. Dapat diakses melalui https://www.jacobinmag.com/2017/04/april-days-lenin-russia-world-war-one/.

Penerjemahan dilakukan dengan menanggalkan beberapa bagian. Diterjemahkan oleh Set Yitro, kader KPO PRP.

 

[1] Kereta yang disegel adalah kereta yang berjalan melewati beberapa negara dengan menggunakan segel imigrasi dan bea cukai. Namun isi dari kereta tersebut secara legal tidak diakui masuk atau keluar dari negara-negara yang dilewati oleh kereta tersebut.

[2] Partai yang dibentuk pada Oktober 1905. Kadet merupakan singkatan dari partai Konstitusional-Demokratik. Partai Kadet adalah partai reformis yang berusaha mempertahankan monarki namun mendirikan kekuasaan parlemen di seluruh Rusia. Diantara pemimpinnya yang terkemuka adalah: P N Milyukov, S A Muromtsev, V A Maklakov, A I Shingarov, P B Struve dan F I Rodichev.

[3] Partai yang dibentuk sebagai hasil dari Manifesto 17 Oktober 1905 yang dikeluarkan oleh Tsar Nicholas II. Dimana dia menjanjikan pembangunan pondasi yang teguh untuk kebebasan sipil. Partai ini terdiri dari borjuis-borjuis dan kulak-kulak besar serta mendukung penuh pemerintahan Tsaris.

[4] Aliansi antara Rusia, Republik Ketiga Perancis dan Inggris Raya.

267 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment