Mitos Borjuasi dan Fakta Revolusi Oktober 1917

lenin-spechMemperingati 99 tahun revolusi Oktober yang jatuh pada 7 November, Lingkar Studi Sosialis Malang menggelar Diskusi Semi Publik (DSP) pertama bekerjasama dengan Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO PRP) persiapan Komite Kota Malang. DSP I LSSM bertemakan “99 Tahun Revolusi Oktober dan Peran Partai Bolshevik” ini juga membahas mengenai Revolusi 1905, Revolusi Februari 1917, Revolusi Oktober 1917, dan Perang Sipil Rusia dari tahun 1917 hingga 1923 yang merupakan perang melawan kontra-revolusi. Selain itu DSP I LSSM juga membahas berbagai mitos dan fakta mengenai revolusi, Bolshevisme, maupun sosialisme itu sendiri.

Salah satu pernyataan yang kerap dilontarkan oleh intelektual borjuis maupun akademisi liberal adalah retorika bahwasanya sosialisme, khususnya Marxisme, sudah tidak relevan karena sudah terbukti kegagalannya seiring runtuhnya Tembok Berlin dan bubarnya Uni Soviet. Cap irrelevansi Sosialisme dan Marxisme ini ironis. Pertama, mengapa sesuatu yang sudah dianggap tidak berhasil, terbantahkan, dan ketinggalan zaman perlu dinyatakan berulangkali sebagai irrelevan? Bukankah kalau suatu hal itu memang sudah terbukti gagal dan tidak aktual maka otomatis hal itu akan ditinggalkan begitu saja? Kita bisa membandingkan alat komunikasi pager atau penyaranta, atau bisnis Warung Telekomunikasi (Wartel) mengapa tidak ada yang terus-menerus menyatakannya sudah tidak relevan? Sebagai contoh lain, mengapa konsep negara Republik versi Plato yang menyatakan bahwa sebaiknya negara dipimpin oleh Raja Filsuf, juga tidak ada yang berulangkali melayangkan cap gagal? Bukankah kengototan, kekeraskepalaan, dan kerepetitifan akademisi liberal, intelektual borjuis, dan politisi kapitalistis dalam melayangkan cap irrelevan terhadap Marxisme justru menunjukkan potensi aktual sistem sosialisme dan bahaya laten teori Marxisme yang bisa mengancam keberlangsungan tirani kapitalisme?

Lagipula kenyataannya apa yang runtuh di balik Tembok Berlin dan buyar di Uni Soviet maupun Blok Timur bukanlah sosialisme dan kediktatoran proletar. Melainkan karikaturnya. Kediktatoran birokrat yang berkuasa dengan mengatasnamakan kelas buruh dan ajaran Marxisme. Terkait hal ini kita perlu membaca kembali karya-karya Leon Trotsky, khususnya Revolusi yang Dikhianati.

Trotsky, seorang Bolshevik sekaligus pimpinan Garda Merah yang memainkan peran kepemimpinan dalam memenangkan Revolusi Oktober sekaligus pendiri Tentara Merah yang memenangkan Perang Melawan Kontra-Revolusi 1917-1923, memandang bahwa meskipun Kelas Buruh dengan Tentara Merahnya menang melawan gempuran belasan negara Imperialis yang ingin menghancurkan negara buruh Uni Soviet, namun ongkos yang dibayar sangat besar. Pabrik-pabrik hancur dibombardir, tambang-tambang luluh lantak, infrastruktur-infrastruktur rusak akibat Perang Sipil. Kelas buruh banyak yang mati memerangi kaum Reaksioner. Banyak yang masih hidup kemudian pulang ke desa, bertani, tidak lagi menjadi buruh. Soviet-soviet sedikit dihadiri bahkan kosong. Intinya basis material banyak yang hancur dan kelas buruh mengalami degenerasi. Sedangkan revolusi-revolusi buruh di negara-negara lainnya, khususnya di negara-negara industri maju, seperti di Eropa Barat, khususnya Jerman banyak yang gagal. Akhirnya Uni Soviet menjadi terisolasi.

Dalam situasi demikian tumbuhlah lapisan birokrasi. Ratusan ribu mantan birokrat negara Tsar masuk ke institusi Negara Uni Soviet. Terutama setelah Lenin meninggal pada tahun 1924 lapisan birokrasi semakin mengonsolidasikan diri di sekitar Stalin. Secara kelas, borjuasi memang sudah digulingkan, namun kelas buruh tidak lagi memegang kendali langsung atas alat-alat produksi, artinya demokrasi proletarian mengalami erosi bahkan terkikis habis, kekuasaannya diambil alih oleh kaum birokrasi. Kaum birokrasi ini, suatu kelompok sosial namun bukan kelas tersendiri, bisa dipahami wataknya dari kelahiran dan pertumbuhannya dari masa-masa isolasi. Dalam situasi dimana antrian untuk mendapatkan barang kebutuhan terlalu panjang, berkembanglah kelompok yang bertugas menertibkan antrian di satu sisi namun di sisi lain mengupayakan agar kelompok mereka itu sendiri mendapatkan barang-barang kebutuhannya lebih awal daripada buruh dan rakyat yang mengantri. Jadi mereka tidak lagi mewakili kelas buruh yang berkepentingan atas revolusi dan sosialisme. Birokrasi berkepentingan mempertahankan previlese atau hak-hak istimewanya sendiri, termasuk dengan cara menindas buruh dan rakyat.

Kondisi demikian disebut Trotsky sebagai Negara Buruh yang Terdeformasi. Negara Buruh yang merosot. Trotsky menekankan ini bukan suatu bentuk masyarakat baru melainkan fase transisional, fase di antara kapitalisme dan sosialisme yang secara tak terhindarkan akan jatuh ke dalam salah satunya. Apakah kejatuhan Negara Buruh yang Terdeformasi ini mengarah ke restorasi demokrasi buruh ataukah ke restorasi kapitalisme, semua itu tergantung apakah gerakan penggulingkan kediktatoran birokrasi dipimpin secara terorganisir oleh Kepeloporan Revolusioner Kelas Buruh atau tidak.

Oleh karena itu kita bisa melihat revolusi buruh tidak hanya meletus dan berkobar di negara-negara kapitalis melainkan di negara-negara kediktatoran birokrasi yang mengatas namakan kelas buruh dan ajaran Marxisme. Ada revolusi buruh di Hungaria tahun 1956 dan revolusi buruh Polandia di tahun 1980 padahal keduanya sama-sama termasuk Blok Timur yang mengaku sosialis. Namun karena lemahnya atau bahkan absennya kepeloporan revolusioner, di Hungaria kita mendapati revolusinya hancur digilas birokrasi sedangkan di Polandia malah dibajak dan diarahkan ke restorasi kapitalisme.

DSP I LSM kemudian juga memunculkan pertanyaan-pertanyaan seputar kekerasan dan pelanggaran HAM terkait revolusi. Banyak pandangan, baik awam maupun komentar-komentar di dunia akademis di Indonesia, menyatakan revolusi Oktober justru sarat kekerasan dan pelanggaran HAM. Kenyataannya sebaliknya. Revolusi Oktober berjalan nyaris tanpa korban jiwa meninggal dunia. Pengambil alihan pusat-pusat telekomunikasi, transportasi, bahkan Istana Musim Dingin—pusat pemerintahan, dilancarkan oleh laskar-laskar buruh yaitu Garda Merah dan Komite Militer Revolusioner secara efektif, pesat, dan tanpa perlawanan berarti, terutama karena rakyat mendukungnya. Nyaris tanpa perlawanan berarti. Hanya ada dua orang tewas. Itu pun salah satunya tewas karena bunuh diri.

Patut kita pahami kekerasan secara meluas pada pokoknya baru muncul ketika kelas penindas berusaha mempertahankan tiraninya. Dengan kata lain kekerasan pada pokoknya dilahirkan oleh kontra-revolusi. Ini pulalah yang terjadi di Rusia. Pasca Revolusi Oktober yang relatif damai tak berdarah itu, pecahlah Perang Sipil sampai tahun 1923, dimana pasukan Tentara Putih dibekingi berbagai negara Imperialis berusaha menghancurkan negara buruh yang baru lahir dan mengembalikan kekuasaan kelas penindas. Sama seperti kontra-revolusi terhadap Komune Paris namun dengan skala berlipat-lipat lebih besar dan dahsyat.

Jadi Tentara Putih bukan saja didukung oleh kaum kontra-revolusioner Rusia namun oleh pasukan-pasukan dan dukungan logistik, persenjataan, diplomatik, sekaligus finansial oleh berbagai negara Imperialis dan kapitalis. Britania dengan koloninya Kanada, Australia, India, Amerika Serikat, Prancis, Italia, Rumania, Serbia, Polandia, Yunani, dan Jepang, bahu-membahu bersama Tentara Putih menyerbu dan berusaha menggulingkan Negara Buruh di Rusia. Kaum sosialis, khususnya kaum Bolshevik di Rusia menghadapi situasi gawat darurat luar biasa. Bukan situasi damai dimana Hak Asasi Manusia (HAM) mudah dijamin dan dipenuhi. Tentara Merah terpaksa menerapkan wajib militer bagi mereka yang berumur 17 sampai 40 tahun karena Garda Merah alias laskar-laskar buruh yang berkeanggotaan berbasis kesukarelaan saja jelas tidak cukup untuk menandingi gempuran pasukan dari sebelas negara Imperialis. Negara Soviet juga terpaksa menerapkan kontrol suplai makanan lebih ketat dan kuota pangan serta kewajiban penyaluran sekian jumlah panen untuk memberi makan warga perkotaan.

Jatuhnya korban jiwa dalam Perang Sipil Rusia 1917 – 1923 harus diakui memang sangat besar namun harus dilihat sesuai konteksnya Teror Merah yang diorganisir Cheka, yang banyak dikeluhkan intelektual borjuis dan akademisi liberal misalnya, sebenarnya merupakan kampanye khusus masa perang (jadi bukan di masa damai) untuk melawan kaum kontra revolusioner selama Perang Sipil Rusia dari 1918 hingga 1921 saja. Apalagi pada kenyataannya korban eksekusi Teror Merah sebanyak 250.000 jiwa kalah banyak dibandingkan korban Teror Putih yang sebanyak 300.000 jiwa belum termasuk pembunuhan anti-semit terhadap Yahudi yang menewaskan 100.000 jiwa.

Dalam “Terorisme dan Komunisme”, Leon Trotsky menjelaskan konteksnya di tahun 1920: “Kegentingan kediktatoran proletar di Rusia, mari kita soroti disini, berada di kondisi tidak kurang-kurang sulitnya (misalnya dibandingkan Revolusi Prancis). Ada satu front atau garis depan terus-menerus, di utara dan selatan, di timur dan barat. Disamping tentara-tentara Garda Putih Rusianya Kolchak, Denikin, dan lainnya, ada mereka yang menyerang Rusia Soviet secara serempak atau bergantian: Jerman, Austria, Cekoslovakia, Serbia, Polandia, Ukrainia, Rumania, Prancis, Britania, Amerika, Finlandia, Estonia, Lituania…di suatu negeri yang dipojokkan oleh blokade dan dicekik oleh kelaparan, terdapat konspirasi-konspirasi, pembangkangan-pembangkangan, tindak-tindak terosisme, dan penghancuran jalan-jalan dan jembatan-jembatan…

Masih di karya yang sama Trotsky membandingkan antara teror dengan revolusi yang berbeda konteksnya: “Perebutan kekuasaan oleh Soviet pada awal November 1917 (menurut kalender Gregorian) sebenarnya dicapai dengan pengorbanan yang sedikit. Borjuasi Rusia mendapati diri dalam suatu tingkatan yang terasing dari massa rakyat, secara internal begitu tak berdaya, terombang-ambing oleh alur peristiwa dan hasil perang, terdemoralisasi oleh rezim Kerensky, sehingga hampir-hampir tidak berani menunjukkan perlawanan…suatu kelas revolusioner yang telah menaklukkan kekuasaan dengan senjata di tangannya berhak dan akan menghantam, dengan senapan di tangan, semua upaya untuk merampas kekuasaan dari tangannya. Saat di hadapannya ada pasukan yang memusuhinya, maka ia mengerahkan tentaranya untuk melawannya. Saat ia dihadapkan dengan konspirasi bersenjata, upaya pembunuhan, atau pemberontakan, maka ia akan menghantam kepala-kepala musuhnya dengan hukuman tanpa pandang bulu.

Demi memahami ini sekaligus sebagai salah satu contohnya kita perlu ingat bahwa dalam perjuangan menentang Perang Dunia I yang pada dasarnya adalah perang Imperialis dimana para penjajah saling berebut jajahan, pasar, dan bahan baku, partai Bolshevik menyerukan Revolutionary Defeatism serta mengubah Perang Imperialis menjadi Perang Kelas. Menyerukan menghentikan perang Imperialis dan menyerukan penggulingan kelas penindas. Slogannya “Perdamaian, Tanah, dan Roti”. Pasca kemenangan Revolusi Oktober, kaum Bolshevik dan pemerintahan Soviet berkomitmen memenuhi slogan dan janji keluar dari PD I. Ini diwujudkan lewat perjanjian perdamaian Brest-Litovsk antara Rusia dan negara-negara Poros. Perjanjian damai ini memang lebih menguntungkan Jerman dan negara-negara poros karena mensyaratkan penyerahan banyak wilayah Rusia kepada mereka namun Lenin mendukungnya selain untuk memenuhi janji slogan perdamaian, juga karena saat itu laskar-laskar buruh di Rusia khususnya Garda Merah tidak mampu menghadapi ancaman serbuan dari pasukan-pasukan Imperialis yang lebih besar. Namun ini tidak dipahami dan tidak diterima oleh Sosialis Revolusioner Kiri (Sayap Kiri dari partai tani Sosialis Revolusioner. Sayap kanan Revolusioner Sosialis mendukung Pemerintahan Transisional Kerensky. Sedangkan sayap kirinya pecah dan mendukung Bolshevik dalam Revolusi Oktober)—untuk selanjutnya kita sebut SRK saja. Saat perjanjian damai Brest-Litovsk ditandatangani pada 3 Maret 1918 mereka mengeluarkan fitnah dan tuduhan yang tidak-tidak. Mulai dari menuduh Bolshevik sebagai mata-mata Jerman sampai fitnah mengkhianati perjuangan kelas. Padahal dalam Sovnarkom atau Dewan Komisar Rakyat, empat dari 16 jabatan Komisar dipegang oleh SRK, dan keputusan untuk menandatangani perjanjian damai Brest-Litovsk sudah diputuskan secara demokratis. Bahkan para anggota SRK juga banyak menduduki jabatan di Cheka. Kalah dalam musyawarah dan voting secara demokratis SRK tetap memaksakan kehendaknya. Tidak cukup sekadar ngotot menentang Brest-Litovsk dalam kata-kata. Kaum Sosialis Revolusioner Kiri kemudian bertindak kelewat batas dengan menembak mati duta besar Jerman di Moskow, mengebom sekretariat Partai Bolshevik, mengorganisir makar, bahkan Lenin sendiri hampir dibunuh oleh mereka. Ini bahkan terjadi hanya selang setahun setelah Revolusi Oktober. Bayangkan berbagai macam reaksi, kontra-revolusi, dan sabotase yang bermunculan selama sampai akhir Perang Sipil di Rusia.

Jadi tidak benar pandangan yang menyatakan bahwa dari awal Partai Bolshevik berlaku seolah-olah otoriter dan berambisi mendirikan rezim satu partai. Justru sebaliknya. Partai dan kelompok lain yang tidak konsisten serta membelot ke jalan reaksioner. Menshevik dan SR Kanan mendukung pemerintahan kapitalis rezim Kerensky yang ingin membubarkan Soviet-soviet dan meneruskan perang Imperialis. SR Kiri menyabotase perjanjian damai Brest-Litovsk. Kenyataannya, banyak anggota SRK yang menentang tindakan kontra-revolusioner mantan kawan-kawannya kemudian memutuskan pecah dan keluar mendirikan Partai Komunis Populis serta Partai Komunisme Revolusioner lalu menyatakan mendukung Bolshevik—kelak mereka kemudian bersama para anggota SRK yang tidak ikut berontak, bahkan banyak mantan Anarkis (seperti Victor Serge) akhirnya memutuskan berintegrasi ke Bolshevik.

Seandainya pasca-revolusi Oktober tidak ada gempuran kontra-revolusi raksasa dengan bekingan belasan negara Imperialis tentu jatuhnya korban jiwa serta pelanggaran HAM demikian bisa dihindarkan. Namun memang watak kelas penindas tidak akan menyerahkan penindasannya dengan sukarela. Kita lihat bahkan Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu negara pemrakarsa PBB dan pencetus Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) juga biang pelanggaran HAM bahkan mereka menjatuhkan dua bom atom ke Nagasaki dan Hiroshima, menewaskan jutaan perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah.

Jadi sekali lagi kita harus melihat semuanya sesuai konteksnya dan mendudukkan segala sesuatu sesuai duduk perkaranya. Termasuk soal Revolusi Oktober ini. Patut kita soroti pula capaian-capaian positif Revolusi Oktober. Dengan revolusi ini, kaum perempuan di Rusia meraih hak politiknya (hak suara dan hak memilih dipilihnya) tiga tahun lebih awal daripada kaum perempuan di AS bahkan puluhan tahun lebih awal daripada perempuan Prancis yang baru mendapatkannya di tahun 1945. Setelah kemenangan revolusi Lenin juga menetapkan kebijakan yang menghapus kriminalisasi terhadap kaum homoseksual. Selain itu Uni Soviet juga merupakan negara pertama yang mengakui hak-hak kaum difabilitas. Sekian pengalaman, capaian, pelajaran (baik dari kebenaran dan kesalahan maupun keberhasilan dan kegagalan) dari peristiwa Revolusi Oktober serta peran Partai Bolshevik tetaplah relevan dipelajari, termasuk bagi kelas buruh, pemuda, dan rakyat di Indonesia yang ingin menghapuskan penindasan. (lk)

N.B: Catatan diskusi ini dilengkapi dengan beberapa tambahan fakta sejarah. Selain itu karena keterbatasan pencatatan, tidak bisa memuat semua komentar, tanggapan, dan dinamika dalam pendiskusian.

535 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment