Selama beberapa dekade belakangan ini terdapat kemajuan besar bagi perempuan, keterlibatan kaum perempuan memasuki lingkup pekerjaan dengan segala macam bentuk profesi juga mendorong perempuan terlibat dalam pertumbuhan ekonomi secara global. Lantas apakah ini menyelesaikan permasalahan penindasan perempuan dan sudahkah tujuan emansipasi yang kita inginkan tercapai? Di Indonesia, berbagai macam bentuk kebijakan yang lahir ataupun situasi politik yang tengah terjadi juga memiliki dampak signifikan kepada perempuan dan kelas buruh itu sendiri.
Kontradiksi yang lahir di dalam kapitalisme menunjukkan suatu jurang kesenjangan yang semakin lebar. Pekerjaan rumah tangga dan perawatan yang tidak dibayar secara tidak proposional membebani perempuan. Upah buruh perempuan tetap lebih rendah dibandingkan buruh laki-laki. Di Indonesia sendiri kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Rezim Prabowo-Gibran, melalui Fadli Zon bahkan mencoba menghapuskan peristiwa pemerkosaan massal dalam Pogrom Mei 1998. Situasi lainnya secara global, kita harus menghadapi bagaimana kekuatan imperialisme yang ditunjukkan melalui serangan Amerika ke berbagai negara–yang memakan ribuan korban jiwa termasuk perempuan. Bom pertama dalam serangan Imperialis AS dan Zionis Israel ke Iran adalah ke sekolah dasar perempuan di Minab yang menelan korban jiwa sekitar 180 orang dan mayoritasnya adalah anak-anak perempuan.
Lantas apakah kita akan berhenti pada analisa gender untuk melihat penindasan di bawah kapitalisme yang terjadi begitu masif? Kita tidak bisa berhenti pada euforia sesaat terhadap capaian dalam ranah kebijakan-kebijakan yang seolah dibuat untuk dapat mengakomodir permasalahan perempuan ataupun masuknya perempuan dalam berbagai sektor publik tidak secara otomatis menghasilkan emansipasi. Ketika kebijakan-kebijakan masih dibuat oleh segelintir orang dan negara yang masih dipimpin oleh para elit borjuis maka keadilan yang coba mereka ciptakan adalah semu.
Kita melihat kemajuan bagi perempuan dalam beberapa dekade terakhir hampir semua hanya dimiliki bagi perempuan-perempuan borjuis—mereka yang memiliki akses di mana sebelumnya untuk laki-laki seperti bisnis, keuangan ataupun pendidikan tinggi. Kemajuan semacam itu juga mendorong ide-ide dominan yang menjadi penyakit di tubuh gerakan perempuan itu sendiri. Pada saat yang sama kita menyaksikan sangat sedikit capaian riil untuk perempuan buruh bahkan terjadi berbagai serangan terhadap hak-hak yang pernah didapatkan oleh kelas buruh.
Di tengah penindasan yang begitu masif diciptakan oleh kapitalisme kita membutuhkan strategi perjuangan pembebasan perempuan yang menuntut adanya perubahan menyeluruh kondisi sosial yang mendukung penindasan tersebut. Strategi yang didorong juga harus melihat kekuatan sosial yang mampu memberikan tantangan signifikan terhadap sistem yang menindasnya yaitu kekuatan kelas buruh. Kita tidak dapat menempatkan perempuan sebagai kategori sosial tersendiri yang terpisah dalam perjuangan dengan kaum tertindas lainnya–ataupun memisahkan permasalahan perempuan hanya berdasarkan pengalaman subjektif yang menganggap bahwa penindasan perempuan tidak memiliki basis yang sama. Ini akan berakibat pada keterbelahan dalam pembangunan persatuan perjuangan yang mampu menentang segala bentuk penindasan secara terintegrasi.
Apakah juga cukup dengan solusi ruang aman bagi perempuan atau apakah cukup dengan perempuan berhasil menduduki kursi-kursi parlemen seluruh permasalahan perempuan akan teratasi? Tidak akan pernah ada ruang aman di tengah lautan kapitalisme, misalnya; berbagai macam kasus kekerasan seksual yang terjadi di dalam keluarga, ruang privat kita yang dapat diintervensi oleh negara melalui berbagai macam kebijakan, berbagai sekolah ataupun universitas yang menutupi kasus kekerasan seksual dan menyembunyikan pelaku atas dasar nama baik. Sementara, kursi-kursi parlemen berhasil diduduki oleh perempuan-perempuan borjuis dengan mengatasnamakan kemenangan kaum perempuan secara keseluruhan di tengah masih banyak perempuan-perempuan yang buta huruf, akses pendidikan yang sulit, atau bahkan suara-suara mereka dimanfaatkan untuk kepentingan para perempuan borjuis. Permasalahan penindasan perempuan tidak dapat terselesaikan dengan ide-ide utopis di tengah ide-ide dominan yang diciptakan oleh para borjuasi untuk bisa terus memperkuat kepentingan segelintir orang yang memegang alat produksi di dalam sistem kapitalisme.
Situasi ini pernah dituliskan oleh Alexandra Kollontai, tokoh perempuan revolusioner yang terlibat dalam perumusan Hari Buruh Perempuan Internasional menunjukkan suatu analisa mendasar perbedaan kepentingan dari perempuan borjuis dengan perempuan buruh, “Bagi perempuan borjuis, hak-hak politik hanyalah sarana yang memungkinkan mereka untuk menjalani hidup dengan lebih mudah dan aman di dunia yang didirikan atas dasar eksploitasi kaum pekerja. Bagi pekerja perempuan, hak-hak politik adalah langkah di sepanjang jalan yang terjal dan sulit menuju kondisi kerja yang diinginkan” (Women’s Day, February 1913).
Argumentasi ini di dasari pada situasi objektif yang terjadi pada gelombang pertama gerakan perempuan yang didominasi oleh feminis borjuis.
Di balik momentum Hari Perempuan Internasional setiap tahunnya memberikan kesempatan bagi kita untuk menyoroti isu-isu perempuan. Dalam Perkembangan, Hari Perempuan Internasional lebih populer dikenal sebagai ajang perayaan ataupun momentum milik kaum perempuan saja dan mereduksi fakta historis “Hari Perempuan” yang lahir dari perjuangan gigih kelas pekerja Rusia, keterlibatan kaum buruh perempuan dalam memulai peristiwa revolusi di Rusia merupakan kemenangan yang dirayakan oleh kaum buruh di dunia.
Situasi objektif di Rusia di sekitar era tersebut, dimana Tsarisme begitu mencengkram buruh dan tani dalam genggamannya, buruh perempuan Rusia berhasil menandai hari internasional mereka. Sebelumnya kaum Bholsevik melakukan upaya-upaya pengorganisiran ke pabrik-pabrik dan serikat-serikat buruh yang menghimpun banyak buruh perempuan. Berbagai propaganda dilakukan oleh kelompok revolusioner, mulai dari terbitan koran-koran yang membahas terkait keterlibatan perempuan dalam perjuangan dan disebarkan dengan masif dan berbagai pertemuan-pertemuan rahasia digelar.
Di Rusia, antagonisme terhadap Tsarisme pun meningkat. Hingga memasuki 1917, krisis pangan semakin parah, laki-laki dikerahkan kepada perseturuan yang sia-sia di medan perang, sementara kaum perempuan harus menghadapi beban ganda. Buruh perempuan St. Petersburg memutuskan untuk menggelar demonstrasi pada Hari Perempuan Internasional. Berpawai ke Duma, mereka berseru menuntut “roti untuk anak-anak kami” dan “kembalikan suami kami dari medan perang”. Inisiasi ini membuahkan keberhasilan lebih besar, di hari selanjutnya, setengah dari pekerja pabrik di Petrograd turut bergabung dalam pemogokan. Dengan itu, dimulailah Revolusi Rusia yang membawa kemenangan paling gemilang sepanjang sejarah Hari Perempuan Internasional.
Alexandra Kollontai, Komisaris Kesejahteraan Sosial dan Perempuan pertama yang menjabat sebagai diplomat Soviet, dengan teguh mendukung perubahan besar dalam status perempuan. Kollontai bersama Inessa Armand mendirikan Zhenotdel, sebuah departemen pengorganisiran perempuan yang dibentuk untuk memastikan partisipasi penuh perempuan dalam masyarakat Soviet. Zhenotdel didirikan dengan visi bahwa mobilisasi perempuan untuk membela revolusi adalah cara utama untuk mengatasi krisis yang dihadapi republik Soviet yang baru dan untuk melakukan itu, perempuan perlu mengidentifikasi revolusi sebagai kekuatan pembebasan.
Perempuan buruh menyadari negara kelas buruh tidak hanya akan melindungi hak-hak perempuan, tetapi juga dapat memastikan kesetaraan hak-hak perempuan dan laki-laki sebaik mungkin. Setelah didirikannya negara kelas buruh, perempuan langsung menuntut hak politiknya. Tahun-tahun awal Soviet dengan inisiatif Zhenotdel, berhasil meraih kemenangan- kemenangan signifikan untuk membebaskan perempuan dari batasan-batasan di rumah mereka. Pembukaan kantin, tempat pencucian pakaian, penitipan anak, perekrutan perempuan ke tempat kerja diorganisir. Koperasi didirikan, undang-undang ketenagakerjaan diperbarui untuk mencakup cuti melahirkan hingga fasilitas ruang menyusui diberikan. Zhenotdel juga berhasil menyediakan aborsi di rumah sakit Soviet secara gratis pada tahun 1920, sebagai negara pertama yang melakukannya. Dengan itu, perempuan mulai memainkan peranan yang sama dengan laki- laki di masyarakat. Perubahan dramatis dalam kondisi perempuan ini berakar dari partisipasi perempuan buruh dalam partai Bolshevik.
Zhenotdel tidak bergerak terbatas di Rusia, mereka juga meluncurkan Organisasi Perempuan Komunis Internasional dan melakukan kerja politik di sekitar Asia Tengah Soviet, untuk memajukan pekerjaan mereka dalam membantu partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan politik. Zhenotdel berhasil mengintervensi bahkan Uzbekistan, dimana masyarakatnya sangat terpisah secara gender. Perempuan diisolasi dan tidak dibolehkan berinteraksi dengan laki-laki diluar keluarga inti. Pendekatan seperti pengorganisiran kedalam klub dan koperasi perempuan, fasilitas penitipan anak, konsultasi medis dan kegiatan budaya khusus perempuan dijalankan. Dalam sebuah artikel untuk Kommunistka, Kollontai menjelaskan fasilitas fasilitas tersebut sebagai upaya untuk memberikan edukasi kepada perempuan, untuk menarik mereka kepada visi Soviet dan memupuk nilai-nilai komunisme dalam diri mereka sendiri.
Pada 1850-an di Tiongkok, perempuan mengambil peran dalam gerakan pemberontakan. Mempertahankan hak atas edukasi, pernikahan bebas dan mengakhiri ‘foot binding’. Perkembangan perjuangan revolusi dan pembebasan perempuan berkembang bersamaan. Pasca revolusi, perkawinan terencana dihapuskan, perceraian dapat dengan mudah didapatkan, poligami dan penggunaan selir dilarang, perekrutan perempuan dalam angkatan kerja ditingkatkan, penitipan anak kolektif dan ruang makan juga didirikan untuk mengakomodasi perempuan pekerja.
Semangat revolusioner pembebasan perempuan menyebar, termasuk di Indonesia. Pembentukan organisasi dan gerakan revolusioner pembebasan perempuan di Indonesia dilatarbelakangi kebutuhan yang melebihi aktivitas pembekalan keterampilan dan pendidikan perempuan. Dibutuhkan sebuah penghubung perjuangan kesetaraan serta hak-hak perempuan tidak hanya pada tataran umum seperti hak pilih namun juga tingkat konkret mendasar di akar rumput seperti melawan pernikahan di bawah umur, poligami, maupun kekerasan seksual sekaligus menyambungkannya dengan perjuangan anti-penjajahan/anti-penindasan serta menolak intervensi imperialisme. Manifestasi dari semangat itu terwujudkan dalam pembentukan GERWIS, yang terdiri dari beberapa organisasi perempuan, dilanjutkan oleh GERWANI.
Perjuangan perempuan buruh tidak dilepaskan dari perjuangan kelas buruh secara keseluruhan–baik pun buruh laki-laki. Hal ini sudah dibuktikan secara historis; perjuangan pembebasan perempuan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kaum tertindas lainnya khususnya kelas yang memiliki kendali dalam sistem produksi dalam sistem kapitalisme yaitu kelas buruh itu sendiri. Seluruh kelas pekerja mempunyai kepentingan yang sama untuk melawan serangan atas hak-hak dasar kita. Musuh kita bukanlah satu sama lain, namun kaum 1% yang menggunakan kekayaan yang kita hasilkan untuk berfoya-foya, meninggalkan umat manusia lainnya terjerumus semakin jauh dalam krisis.
Maka, yang kita perlukan adalah penguatan gerakan kelas pekerja itu sendiri. Kelas pekerja perlu bersatu, memobilisasikan dirinya untuk melawan seksisme dalam berbagai wujudnya. Dalam situasi seperti sekarang semakin jelas bahwa kita tidak bisa duduk diam menunggu perubahan untuk terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Rosa Luxemburg: “Mereka yang tidak bergerak, tidak menyadari belenggu mereka.”
Potensi kekuatan kita bukan terletak pada fakta bahwa kita kaum yang paling tertindas, namun pada kekuatan solidaritas kita secara terorganisir dan ketepatan strategi perjuangan untuk pembebasan kaum tertindas secara utuh. Baik perempuan kelas pekerja, LGBT, beserta kelompok minoritas lainnya yang tenaganya dieksploitasi untuk memperkaya kaum minoritas parasit mewakili 99% dari masyarakat. Penindasan terhadap perempuan tidak bisa dihapuskan ketika sistem yang menopangnya masih terus dilanggengkan. Kapitalisme secara terstruktur dan terorganisir melahirkan penindasan ke setiap aspek kehidupan kita–dibutuhkan perlawanan secara terorganisir pula untuk mencapai penghapusan penindasan yang kita impikan. Untuk itu, perjuangan perempuan tidak bisa terpisah-pisah dan berhenti pada pada model perjuangan yang didasarkan pada batasan pengalaman perempuan itu sendiri. Dibutuhkan perjuangan revolusioner untuk dapat memukul balik kekuasaan dan menghapuskan sistem yang melahirkan berbagai penindasan yang mengakar di jantung masyarakat kita hari ini.
“Pembebasan kaum pekerja hanya dapat menjadi milik kelas pekerja itu sendiri; kelas pekerja tidak akan pernah dapat menyelesaikan pekerjaan sejarah yang besar dan mengerikan ini jika terpecah menjadi dua bagian oleh perbedaan jenis kelamin. Sebagaimana laki-laki dan perempuan proletariat yang mengalami penderitaan di dalam kehidupan mereka, demikian pula mereka harus menyatukan kebencian yang membara terhadap kapitalisme dengan kemauan yang lebih besar dan berani untuk memperjuangkan Revolusi” (Clara Zetkin, Februari 1922)
![]()


Comment here