Akhir Agustus ini menandai kemarahan rakyat yang meluas. Tersebar di berbagai titik, ratusan ribu orang menguasai jalanan untuk memprotes kebijakan dan watak rezim oligarki Prabowo-Gibran dan DPR RI yang sewenang-wenang dalam berkuasa, menaikkan anggaran pendapatan perangkat dewan sebesar ratusan juta per bulan, dan hidup mewah di tengah krisis yang dialami rakyat. Aksi demonstrasi ini direspons dengan brutal oleh aparatus kekerasan TNI-Polri. Informasi terkini, 1 orang pekerja kemudi online meninggal dunia dan ribuan orang yang mayoritas pemuda ditangkap paksa.
Affan (21), begitu sapaan sesama driver dan kawannya. Seorang pemuda yang juga resah dengan ragam kebijakan pemerintah. Affan adalah tulang punggung keluarga, yang harus meregang nyawa setelah terlindas mobil barakuda di Bendungan Hilir, Jakarta. Ia berlari menghindari gas air mata sampai terjatuh. Pernyataan kepolisian yang menganggap tertabrak justru kebohongan. Sejumlah saksi dan bukti rekaman video memperlihatkan Affan ditabrak. Affan adalah martir yang hari ini menjadi simbol perlawanan setelah kejahatan rezim lewat aparat terjadi di berbagai tempat dan waktu.
Affan adalah ribuan massa aksi lainnya. Di antara 600 orang yang ditangkap, mayoritas adalah kaum muda. Ketidakpastian kerja, biaya pendidikan mahal, dan kekesalan akan ketidakpastian masa depan yang kian hari kian menjauh dari kepentingan kelas pekerja. Selain Affan, banyak yang terbaring di rumah sakit. Kepala bocor, kaki patah dan luka-luka lain akibat tangan aparat yang dipersenjatai pemerintah fasis dan oligarki.
Di tanah Papua, tepatnya Sorong, negara juga melakukan represi besar-besaran dalam merespon solidaritas pembebasan 4 tahanan politik yang akan dipindahkan ke Makassar. Pada 28 Agustus 2025, aksi solidaritas direspon oleh Polisi dan TNI dengan penangkapan terhadap 18 aktivis. Aparat juga melakukan penembakan dengan peluru tajam terhadap massa sehingga menghasilkan korban luka.
GEBRAK memandang situasi ini sebagai manifestasi dari krisis ekonomi-politik yang sudah mencekik kehidupan massa rakyat. Karena politik upah murah, PHK massal, penggusuran lahan kaum tani dan miskin kota untuk proyek-proyek korporasi dan Negara, tingginya biaya hidup, pembungkaman terhadap aktivis pembela HAM, dan penindasan terhadap kaum perempuan. Di saat yang sama, pejabat negara dan orang-orang kaya berpesta foya dengan kekayaan yang berasal dari jerih payah dan sumber penghidupan rakyat.
Kenaikan tarif pajak, peningkatan gaji dan tunjangan pejabat-pejabat Negara, arogansi penguasa, dan brutalitas aparatus kekerasan TNI-POLRI memantik kesadaran massa rakyat untuk berjuang. Kelas pekerja, rakyat miskin kota, kaum muda, pelajar, dan mahasiswa aktif menginisiasi aksi yang berani ini.
Dalam situasi hari ini, kami melihat bahwa aksi-aksi untuk perjuangan demokratik harus didukung seluas-luasnya. Aksi-aksi tersebut harus dilancarkan dengan sikap politik yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan mendesak rakyat Indonesia hari ini. Kemendesakan mobilisasi massa hari ini adalah untuk memecahkan solusi atas masalah pajak yang naik signifikan, upah guru yang sangat kecil, di saat bersamaan tunjangan dan gaji DPR yang melangit, serta alokasi anggaran untuk alat represi negara (Polisi dan TNI) dipangkas secara signifikan. Di saat bersamaan, biaya pendidikan tinggi kaum muda hari ini juga meningkat, proyek Makan Bergizi Gratis yang terus menerus memakan korban karena keracunan, dan juga belanja negara di sektor pertahanan dan keamanan yang meningkat.
Tentunya, perjuangan harus terus berlanjut. Jangan biarkan Prabowo-Gibran, DPR RI, elit partai berkuasa, dan aparat TNI-POLRI hanya meminta maaf. GEBRAK menyerukan untuk membangun kembali persatuan gerakan yang terorganisir, majukan tuntutan yang menyentuh perubahan kehidupan rakyat, dan lancarkan aksi-aksi yang berani dan tahan lama untuk memukul balik kekuasaan oligarki.
Untuk itu, aliansi GEBRAK mengajukan tuntutan sebagai berikut:
- Mengutuk brutalitas aparat kepolisian terhadap massa aksi demonstrasi;
- Stop militerisme dan represifitas aparat terhadap massa aksi demonstrasi. Segera bebaskan seluruh peserta aksi yang ditangkap;
- Batalkan kenaikan tarif pajak yang dibebankan kepada kelompok rakyat miskin, dan masyarakat menengah. Sejahterakan buruh, petani, nelayan, guru honorer, dosen, tenaga medis dan kesehatan. Naikkan pajak progresif bagi perusahaan, perbankan serta konglomerat;
- Turunkan harga sembako, tarif dasar listrik, bahan bakar minyak-BBM, air, dan tarif tol;
- Hapuskan hak istimewa dan potong gaji pejabat negara, perwira tinggi, pejabat lembaga non kementerian, komisaris dan direktur BUMN hingga setara upah buruh rata-rata untuk pendidikan dan kesehatan gratis, subsidi rakyat serta kesejahteraan buruh dan rakyat;
- Potong anggaran lembaga negara, kementerian serta jabatan yang tidak berhubungan dengan kesejahteraan rakyat, antara lain Kementerian Pertahanan, Kepolisian, Kejaksaan Agung, BIN, DPR, MPR< dsb untuk Pendidikan dan Kesejahteraan Gratis, Subsidi Rakyat serta Kesejahteraan Buruh dan Rakyat;
- Tangkap dan adili para koruptor, turunkan gaji dan tunjangan DPR serta pejabat tinggi negara;
- Tangkap, adili, dan penjarakan para pelaku pelanggaran HAM berat, baik para pelaku pelanggaran HAM berat masa lalu maupun yang saat ini;
- Batalkan dan cabut kebijakan yang menindas rakyat (UU Cipta Kerja, KUHP, UU Minerba, Proyek Strategis Nasional, RKUHAP, dan lain-lain);
- Reformasi total sistem ekonomi dan politik Negara untuk keadilan dan kedaulatan rakyat Indonesia. Wujudkan demokrasi rakyat sejati;
- Hapus sistem outsourcing, wujudkan kepastian kerja yang layak, upah layak, reforma agraria sejati, pendidikan gratis berkualitas;
- Reformasi kepolisian, turunkan anggaran TNI dan Polri;
- Bangun industrialisasi nasional yang kuat di bawah kontrol rakyat, sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat.
Kemenangan akan tuntutan mendesak ini hanya bisa diwujudkan dengan persatuan rakyat tertindas di seluruh Indonesia. Persatuan tanpa memandang ras, suku, agama, dan kepercayaan tertentu. Kemenangan yang hanya percaya bahwa musuh rakyat adalah elit-elit politik oligarki hari ini. Artinya rezim Prabowo-Gibran dan sekutunya: jendral-jendral pelanggar HAM, anggota parlemen di Senayan, dan menteri-menteri kaki oligarki.
Organisasi yang tergabung dalam aliansi GEBRAK:
- Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)
- Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)
- Konfederasi Serikat Nasional (KSN)
- Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN)
- Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI)
- Jaringan Komunikasi Serikat Pekerja Perbankan (Jarkom SP Perbankan)
- Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
- Serikat Mahasiswa Progresif (SEMPRO)
- Kesatuan Perjuangan Rakyat (KPR)
- Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI)
- Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI)
- Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID)
- Federasi Pelajar Indonesia (FIJAR)
- Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta)
- Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
- Kesatuan Perjuangan Rakyat (KPR)
- Federasi Serikat Buruh Makanan & Minuman (FSBMM)
- Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM)
- Federasi Pekerja Industri (FKI)
- Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI)
- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
- Greenpeace Indonesia (GP)
- Trend Asia (TA)
- Aliansi Jurnalis Independent (AJI)
- Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS)
- BEM STIH Jentera
- Serikat Pekerja Kampus (SPK)
- Rumah Amartya
- Pembebasan
- Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS)
- Perempuan Mahardhika
- Komite Revolusi Pendidikan Indonesia (KRPI)
- Kesatuan Serikat Pekerja Tenaga Medis dan Kesehatan Indonesia (KSPTMKI)
- Destructive Fishing Watch (DFW)
- Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
- Perserikatan Sosialis
- Organisasi Kaum Muda Sosialis
Narahubung
Sunarno/KASBI – 081280646029
Ilhamsyah/KPBI – 081219235552
Ricky/SEMPRO – 085715057761
Martin/KPR – 085761754198
Isnur/YLBHI – 081510014395
Liska/PKBI – 0822-1919-0493
Comment here