Perjuangan Kelas versus Kolaborasi Kelas

Perjuangan KelasDini hari tanggal 30 Juni 2016, Bung Surya Anta dari Partai Pembebasan Rakyat (PPR) memoskan status Facebook yang mempertanyakan label “Kolaborasi Kelas.”[1] Status tersebut pada pokoknya meskipun menyatakan bahwa kolaborasi kelas antara kelas penindas dan kelas tertindas tidak memungkinkan untuk perjuangan kelas, namun menekankan bahwa kerjasama atau kolaborasi dengan kelompok-kelompok tertentu dari kalangan borjuasi diperbolehkan sepanjang menguntungkan kelas proletar. Selain itu status tersebut juga menyinggung perdebatan internal Partai Rakyat Demokratik (PRD) seputar kolaborasi dan dukungan terhadap Gus Dur dalam rangka melawan persekutuan militerisme, Orde Baru, dan kaum reformis gadungan dimana dinyatakan Bung Surya Anta, mereka yang menentang taktik ini kemudian mencap pendukung taktik dengan label “kolaborasi kelas” namun di kemudian hari malah mendukung Jokowi. Siapa saja mereka, tidak disebutkan namanya dalam status tersebut. Begitu pula kepada siapa status tersebut ditujukan, juga tidak nama yang secara lugas disebut atau dicantumkan (“mentioned”/”tagged”).

Dalam pendiskusian, kawan-kawan KPO PRP melihat status tersebut sepertinya ditujukan sebagai balasan terhadap status saya yang mengkritik muatan-muatan kolaborasi kelas dalam artikel Bonnie Setiawan sebagaimana diterbitkan oleh situs Indoprogress.Tulisan berikut ini merupakan respon terhadap hal itu serta upaya menjelaskan persoalan perjuangan kelas dan kolaborasi kelas. Agar bisa dijadikan bahan wacana dalam gerakan kita sekaligus upaya membangun kembali tradisi berkorespondensi, berdiskusi, berdialog, atau (kalau perlu) bahkan tradisi berdebat serta berpolemik secara baik dan benar.


“Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas.

Orang merdeka dan budak, patrisir dan plebeian, tuan bangsawan dan tani hamba, warga gilda dan magang, pendeknya: penindas dan yang tertindas, senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lain, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan tersembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, suatu perjuangan yang setiap kali berakhir dengan perombakan revolusioner seluruh masyarakat umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan.

Dalam zaman sejarah yang lampau, hampir di mana saja kita dapati masyarakat tersusun lenkap dalam berbagai macam golongan, dalam berbagai macam tingkatan kedudukan sosial. Di Roma purbakala terdapat patrisian, ksatria, plebeian,budak, dalam Zaman Pertengahan tuan feodal,  vasal, warga gilda, magang, tani hamba; lagipula di dalam hampir semua kelas ini terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahan.

Masyarakat borjuis modern yang timbul dari runtuhan masyarakat feodal tidak menghapuskan pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang lampau.

Tetapi zaman kita, zaman borjuasi, mempunyai ciri bahwa ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua kubu besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lain: borjuasi dan proletariat.” (Marx&Engels, 1848).

 

Perjuangan kelas adalah hal yang sentral dalam Marxisme pada umumnya dan filsafat Materialisme Historis pada khususnya. Seseorang yang mengaku Marxis tapi menolak Perjuangan Kelas sudah tidak lagi bisa disebut Marxis. Lenin bahkan membuat batasan yang jauh lebih ketat mengenai siapa yang bisa disebut sebagai Marxis dalam karyanya “Negara dan Revolusi”. Ia menyatakan, “Mereka yang hanya mengakui perjuangan kelas belumlah Marxis; mereka mungkin masih berdiri dalam batas-batas pemikiran borjuis dan politik borjuis. Membatasi Marxisme pada doktrin tentang perjuangan kelas berarti memotong Marxisme, mendistorsikannya, memerosotkannya sampai berupa suatu yang dapat diterima oleh borjuasi. Hanya dialah seorang Marxis, yaitu yang meluaskan pengakuan atas perjuangan kelas sampai pada pengakuan atas diktatur proletariat. Inilah yang merupakan perbedaan paling mendalam antara orang Marxis dan borjuis kecil (maupun yang besar juga). Inilah batu ujian yang di atasnya pengakuan serta pengertian yang sesungguhnya tentang Marxisme diuji.” (Lenin, 1917).

Sedangkan Kolaborasi Kelas di sisi lain merupakan gagasan yang bertentangan dengan Perjuangan Kelas, sebab Kolaborasi Kelas menanamkan dan menumbuhkan kolaborasi atau kerjasama antara kelas tertindas dengan kelas penindas, antara kelas terhisap dengan kelas penghisap. Oleh karena itu kolaborasi kelas tidak bisa benar-benar dibilang kolaborasi atau betul-betul merupakan kerjasama. Sebaliknya justru kolaborasi kelas lebih menyerupai hubungan simbiosis parasitisme atau hubungan antara yang diperkuda dengan yang memperkuda, hubungan antara yang ditunggangi dengan yang menunggangi. Masyarakat kelas bisa berdiri selain dominasi kelas penindas yang berkuasa dan memonopoli alat produksi juga bisa bertahan karena menghegemonikan pandangan-pandangan Kolaborasi Kelas itu. Bahwasanya ditanamkanlah pandangan yang menganggap kelas-kelas di masyarakat adalah hal yang bersifat alamiah serta hakiki serta tidak bisa diubah atau diganggu-gugat.

Kolaborasi Kelas ini kemudian diteguhkan kembali oleh Kaum Fasis. Sebagai reaksi berbasis kelas borjuasi kecil dan lumpen proletar untuk menyelamatkan kapitalisme dalam krisis dengan cara menghancurkan gerakan kelas buruh, fasisme bergerak menanamkan kembali segala macam prasangka reaksioner masyarakat kelas yang semakin dipertanyakan bahkan digugat saat kapitalisme mengalami krisis. Benito Mussolini, gembong fasis Italia dengan terang-terangan menyatakan “…kolaborasi kelas menegaskan ketidaksetaraan antar manusia yang memang tidak bisa diubah namun bermanfaat.” (Mussolini, 1932). Dengan dasar demikian, Fasisme terang-terangan dan secara langsung berhadap-hadapan menentang perjuangan kelas untuk menggulingkan tatanan sosial penindasan demi mewujudkan kesetaraan. Sebagai gantinya, Fasisme melalui doktrin Kolaborasi Kelas menekankan agar masyarakat menerima ketidaksetaraan atau kesenjangan sebagai kenyataan normal dan alami serta memaksa untuk menerima tatanan sosial berbasis masyarakat kelas demikian dengan penekanan bahwasanya Negara akan merekonsiliasikan antagonisme kelas dalam masyarakat yang bisa menimbulkan kebangkitan Komunisme.

Dari sini, sekali lagi, kita bisa menarik pengertian umum yang bisa kita sepakati bersama bahwasanya doktrin kolaborasi kelas menanamkan dan menumbuhkan kolaborasi atau kerjasama antara kelas tertindas dengan kelas penindas, antara kelas terhisap dengan kelas penghisap.

Apa pandangan Lenin soal kolaborasi kelas? Dalam tulisannya bertajuk “Class Collaboration With Capital, or Class Struggle Against Capital?” atau dalam bahasa Indonesianya berarti: “Kolaborasi Kelas dengan Kapital atau Perjuangan Kelas Melawan Kapital?” Lenin menyatakan:

“The Narodniks and Mensheviks, Chernov and Tsereteli, have transferred the Contact Commission from the room adjacent to the one the ministers used to meet in to the ministerial chamber itself. This, and this alone, is the purely political significance of the “new” cabinet.

Its economic and class significance is that, at the best (from the point of view of the stability of the cabinet and the preservation of capitalist domination), the leadership of the peasant bourgeoisie, headed since 1906 by Peshekhonov, and the petty-bourgeois “leaders” of the Menshevist workers have promised the capitalists their class collaboration. (At the worst—for the capitalists—the whole change has a purely personal or clique significance, but no class significance at all.)

Let us assume that the more favourable eventuality is the case. Even so, there is not a shadow of doubt that the promisers will be unable to fulfil their promises. “We shall—in co-operation with the capitalists—help the country out of Its crisis, save it from ruin and get it out of the war”—that is what the action of the petty-bourgeois leaders, the Chernovs and Tseretelis, in joining the cabinet really amounts to. Our answer is: Your help is not enough. The crisis has advanced infinitely farther than you imagine only the revolutionary class, by taking revolutionary measures against   capital, can save the country—and not our country alone.” (Lenin, 1917).

Ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi:

Kaum Narodnik dan Menshevik, Chernov dan Tsereteli, telah mengalihkan Komisi Kontak dari ruang sebelah ke ruang yang digunakan para menteri untuk bertemu di Kamar Kementerian itu sendiri. Ini, dan hanya ini sajalah, signifikansi politik dari kabinet “baru.”

Signifikansi ekonomi dan kelasnya adalah, paling baik (dari sudut pandang stabilitas kabinet dan pemeliharaan keberlangsungan dominasi kapitalis), kepemimpinan borjuasi tani, yang dikepalai sejak tahun 1906 oleh Peshekhonov dan “para pimpinan” borjuis kecil dari para buruh Menshevis telah menjanjikan pada kapitalis kolaborasi kelasnya. (Paling buruk—bagi para kapitalis—keseluruhan perubahan hanya mengandung signifikansi yang sepenuhnya bersifat personal atau klik, namun tidak mengandung signifikansi kelas sama sekali.”

Mari kita asumsikan bahwa peristiwa yang mungkin terjadi yang lebih menguntungkan terjadi. Walaupun begitu, tidak ada sedikitpun bayangan keraguan bahwa mereka yang berjanji-janji tersebut tidak akan mampu memenuhi janji-janjinya. “Kita sepatutnya—bekerjasama dengan para kapitalis—membantu negeri keluar dari krisis, menyelamatkannya dari reruntuhan dan mengeluarkannya dari perang”—itulah sebenarnya taraf tindakan para pimpinan borjuis kecil, para pengikut Chernov dan Tsereteli, yang bergabung dengan kabinet. Jawaban kami adalah: Bantuanmu tidak cukup. Krisis telah merangsek lebih jauh daripada yang bisa kamu bayangkan, hanya kelas revolusioner, hanya dengan mengambil langkah-langkah revolusioner melawan kapital, lah, yang bisa menyelamatkan negeri—dan bukan hanya negeri kita saja.

Demikianlah bisa kita lihat Lenin tidak hanya menentang kolaborasi kelas namun memblejetinya dan justru menyerukan perjuangan kelas.

Oleh karena itu dari sini bisa disimpulkan bahwasanya bukan hanya kolaborasi kelas itu bertentangan dengan perjuangan kelas namun kolaborasi kelas bahkan bertentangan dengan Marxisme. Sehingga siapapun yang menanamkan, menganjurkan, apalagi mendorong kolaborasi kelas, yaitu kerjasama antara kelas penindas dengan kelas tertindas, dalam hubungan antara pihak yang menunggangi dengan yang ditunggangi atau pihak yang memperkuda dengan yang diperkuda, bisa dikatakan bukan hanya sebagai kaum Revisionis namun juga Anti-Marxis.

Terkait konteks ini, saya sepenuhnya sepakat dengan Kawan Surya Anta yang mengatakan, “…Kolaborasi Kelas dalam pengertian yang sebenarnya adalah Kolaborasi diantara kelas Borjusi dan Proletar untuk Perjuangan (penghapusan) Kelas, dan itu tak mungkin sama sekali.” Dari pernyataan ini bisa disimpulkan bahwasanya Kawan Surya Anta bukan hanya menyatakan kemustahilan kesesuaian antara perjuangan kelas dengan kolaborasi kelas namun juga (secara tersirat) tidak membenarkan Kolaborasi Kelas itu sendiri. Soal satu poin ini ada kesamaan sekaligus kesepakatan.

Persoalan berikut yang masih harus didiskusikan adalah kalimat yang menyambung pernyataan Bung Surya Anta tadi. Ia mengatakan: “Sedangkan, kerjasama (kolaborasi) antara Kaum Kiri dengan 1 kelompok borjuis apakah itu borjuis kecil, borjuis kecil radikal, atau borjuis nasional demokratik, sejauh menguntungkan kebebasan politik bagi kaum buruh, adalah dimungkinkan.” Namun pertanyaannya kerjasama macam apa? Kerjasama untuk apa? Keuntungan kebebasan politik seperti apa yang bisa didapatkan kaum buruh dari kerjasama demikian? Semuanya masih merupakan pertanyaan rinci yang perlu dijawab. Khususnya karena argumen tersebut dilandasi sokongan dua tulisan Marxis yaitu Surat Friedrich Engels terhadap Gerson Trier di Copenhagen tahun 1889 dan karya Lenin berjudul Komunisme Sayap Kiri – Penyakit Kekanak-kanakan yang dibuat pada tahun 1920.

Dicantumkan bahwasanya F. Engels menjelaskan dalam suratnya kepada Gerson Trier di Copenhagen (1889): “Namun itu bukan berarti bahwa partai ini tidak boleh dalam momen-momen tertentu menggunakan partai-partai lainnya untuk tujuannya. Ini juga bukan berarti bahwa partai kita tidak diperbolehkan untuk memberikan dukungan sementara pada partai-partai lainnya selama dukungan ini secara langsung menguntungkan kaum proletariat atau maju seiring perkembangan ekonomi ataupun kebebasan politik. Saya memberikan dukungan pada siapapun yang melaksanakan perjuangan nyata di Jerman untuk penghapusan hak istimewa bagi anak sulung dan sisa-sisa tradisi feodal, birokrasi, tarif-tarif perlindungan, UU Anti Sosialis, ataupun pembatasan-pembatasan hak berkumpul dan berorganisasi.”

 

ditulis oleh Leon Kastayudha, Co-editor Bumi Rakyat. Kader KPO PRP.

 

bersambung ke bagian II

 


 

[1] Status Surya Anta 30 Juni 2016 jam 00.26 WIB di Facebook.

Soal Kolaborasi Kelas. Istilah “Kolaborasi Kelas” mengingatkan saya pada kontradiksi internal organisasi dan partai (PRD) belasan tahun lalu ketika merespon upaya Tentara, Sisa Orba dan reformis Gadungan yang berupaya menggulingkan Abdurahman Wahid (dan pada faktanya berhasil). Kebijakan politik organisasi dan Partai saat itu adalah membangun kesepakatan dengan Gusdur dan Para Pendukungnya untuk menghadang dan melawan upaya tersebut. Taktik yang dilakukan adalah meradikalisasi massa pendukung Gusdur dengan Platform lawan Militerisme dan Orde Baru.

Sebagian yang tidak setuju dan menganjurkan agar memukul seluruh elit borjuasi sekaligus. Dan menyatakan bahwa siasat kerjasama dengan Gusdur serta pendukungnya adalah: Kolaborasi Kelas.

Sebagian besar kawan-kawan yang 15 tahun lalu menggunakan istilah “Kolaborasi Kelas” ini dikemudian hari justru mendukung JOKOWI pada Pilkada Jakarta dan Pemilu Presiden 2014. Aneh memang, tapi itu lah realitas.

Posisi saya dalam soal kerjasama (kolaborasi) dengan Gusdur serta pendukungnya saat itu bersetuju dalam pengertian: kerjasama (kolaborasi) menghadang kekuatan Tentara, Sisa Orde Baru (Golkar dan lainnya) dan Penghianat Reformasi (Mega, Amien Rais, dan lainnya) guna menyelamatkan Reformasi dan Demokrasi dalam stage (tahap) yang akan menguntungkan bagi Perjuangan Kelas.

Pertanyaannya dimungkinkan atau tidak bekerja sama, berkompromi atau membuat kesepakatan/persetujuan dengan kaum borjuis?

  1. Engels menjelaskan dalam suratnya kepada Gerson Trier di Copenhagen (1889):

“Namun itu bukan berarti bahwa partai ini tidak boleh dalam momen-momen tertentu menggunakan partai-partai lainnya untuk tujuannya. Ini juga bukan berarti bahwa partai kita tidak diperbolehkan untuk memberikan dukungan sementara pada partai-partai lainnya selama dukungan ini secara langsung menguntungkan kaum proletariat atau maju seiring perkembangan ekonomi ataupun kebebasan politik. Saya memberikan dukungan pada siapapun yang melaksanakan perjuangan nyata di Jerman untuk penghapusan hak istimewa bagi anak sulung dan sisa-sisa tradisi feodal, birokrasi, tarif-tarif perlindungan, UU Anti Sosialis, ataupun pembatasan-pembatasan hak berkumpul dan berorganisasi.”

Lenin dalam plamfletnya Komunisme Sayap Kiri Penyakit Kekanak-Kanakan (bab 8) menulis:

“…seluruh sejarah Bolsyewisme, baik sebelum maupun sesudah Revolusi Oktober, adalah penuh dengan kejadian-kejadian dilakukannya manuver, persetujuan dan kompromi dengan partai-partai lain, termasuk partai burjuis!”

Harus ada kejelasan pengertian yang mana Kolaborasi Kelas dan mana yang bukan. Sebab, Kolaborasi Kelas dalam pengertian yang sebenarnya adalah Kolaborasi diantara kelas Borjusi dan Proletar untuk Perjuangan (penghapusan) Kelas, dan itu tak mungkin sama sekali.

Sedangkan, kerjasama (kolaborasi) antara Kaum Kiri dengan 1 kelompok borjuis apakah itu borjuis kecil, borjuis kecil radikal, atau borjuis nasional demokratik, sejauh menguntungkan kebebasan politik bagi kaum buruh, adalah dimungkinkan.

 2,743 total views,  1 views today

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment