Hari Australia = Hari Invasi

Invasion Day 226 Januari adalah dan selalu merupakan Hari Invasi. Tanggal itu menandai hari Britania menjajah negeri ini serta mengusung praktik-praktik penghisapan dan penindasan yang membuat Kerajaan Britania menjadi barbar namun sangat kaya.

Hari ini adalah pukulan tahunan ke muka bangsa Aborigin. Satu hari penuh kami dipaksa menonton televisi dan mendengarkan radio yang entah mengabaikan kebenaran soal invasi ini atau berupaya menulis ulang sejarah Australia sepenuhnya.

Kami muak—dan kami tak sendiri. Tahun 2017, 61% kaum muda memandang negatif perayaan ini, yang terekspresikan paling jelas dalam keputusan Triple J untuk menggeser Hottest 100 ke minggu keempat di Januari.

Lebih positifnya lagi adalah kehadiran signifikan dalam pawai-pawai protes Hari Invasi tahunan di seluruh negeri, khususnya Melbourne dan Sydney. Rakyat turun ke jalan dan berdemonstrasi di Hari Invasi daripada minum-minum dengan teman-temannya adalah suatu hal penting. Upaya-upaya payah Triple M untuk mencanangkan kembali perayaan invasi dengan Ozzest 100nya tak bisa mengubah hal itu.

Penting bahwasanya kampanye mengubah tanggal telah mendorong rakyat mempertanyakan narasi Hari Australia. Hal itu juga telah menggalang dukungan meluas bagi bangsa Aborigin, memperkuat solidaritas antara kami dan kawan-kawan non-Aborigin.

Bukan Perayaan

Nasionalisme yang melandasi Hari Australia mengasumsikan bahwasanya ada sesuatu untuk dirayakan terkait negeri ini. Saya tidak setuju. Nasionalisme adalah kanker. Nasionalisme menipu kita seolah-olah walaupun mungkin ada kesenjangan mendalam namun pada akhirnya kita tetap sesama “Aussies”, sesama bangsa Australia, dan berbagi kepentingan sama dalam kesejahteraan bangsa ini.

Ini adalah upaya untuk menutup-tutupi kenyataan betapa dalamnya pembelahan antara kaum berada dan tidak berada. Tahun lalu, tingkat laba terus naik untuk bisnis-bisnis raksasa. Sedangkan tingkat hajat hidup rata-rata terus menurut merosot bahkan memecahkan rekor sejak resesi awal 1990an. Gagasan bahwasanya buruh seperti saya punya kesamaan dengan Malcom Turnbull—perdana menteri Australia atau CEO bisnis raksasa adalah gagasan konyol.

Daripada mengubah tanggal, saya menentang hari apapun dan tanggal kapanpun untuk ditetapkan sebagai perayaan pendirian Australia. Tak ada apapun yang harus dirayakan, dan beberapa penelitian yang jujur terhadap 230 tahun terakhir justru semakin menjelaskan ini. Dorongan laba lewat pendirian industri pastoral koloni sejak awal telah menjadi ciri hubungan antara para penjajah dengan bangsa Aborigin. Para penjajah mencap bangsa saya sebagai ras terbelakang yang tidak bisa bersaing dengan peradaban kulit putih serta terkutuk untuk punah.

Inilah awal terhadap genosida yang berdasarkan dusta dan pembantaian-pembantaian seperti Myall Creek dan Appin yang muncul di pantai timur, dan di pelosok lebih lanjut seiring ekspansi koloni. Ini bukanlah suatu anomali dan kenyataan kolonisasi di Ausralia sangatlah mirip dengan kolonialisme secara umum di muka bumi: upaya menyingkirkan dan menghisap laba dari bangsa terjajah demi keuntungan kekuasaan penjajah dan elit kaya-rayanya.

Setelah itu berjalanlah lebih dari dua abad hukum-hukum penindas dan praktik-praktik keji yang diterapkan oleh negara dan pemerintahan-pemerintahan federal terhadap bangsa saya. Undang-Undang Setengah Ternak Victoria dan Australia Barat serta Undang-Undang Perlindungan Aborigin pada akhir 1800an mendikte seluruh hidup bangsa Aborigin. Mengatur dengan siapa kami boleh menikah dan bersosialisasi, mengatur dimana kami boleh bekerja dan dibayar dengan apa. Intinya melarang kami memiliki hak-hak demokratis dan kebebasan bergera.

Invasion Day 3Perampasan tanah juga berujung pada pendirian-pendirian wilayah-wilayah khusus untuk Aborigin, atau “misi-misi”, di seluruh negeri. Misi-misi itu masih ada. Saya pernah tinggal di salah satunya. Satu-satunya perbedaan antara sekarang dan dulu saat pertama kali didirikan adalah sekarang di sana ada toilet-toilet layak. Pemerintah secara harafiah menangkapi ratusan ribu bangsa Aborigin, menyingkirkan mereka dari tanahnya, dan menempatkan mereka di daerah luar/pinggiran-pinggiran kota di situs-situs yang dikelola Gereja Katolik atau terkadang oleh polisi setempat. Para investor pastoral kaya butuh tanah dan negara melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Represi negara terhadap bangsa Aborigin meningkat di abad 20, seolah-olah 100 tahun invasi belum cukup parah. Kebijakan pemerintah federal yang baru telah bergeser dari genosida terang-terangan ke asimilasi, dengan harapan kami akan mati dan anak-anak yang baru lahir dengan kompleksi kulit lebih terang bisa “diselamatkan” dan “direintegrasikan” ke dalam masyarakat kulit putih.

Inilah yang berujung pada Generasi Tercuri—anak-anak Aborigin yang dicuri dari keluarga-keluarga mereka, yang membuat jutaan hidup hancur. Perampasan tanah terus berlanjut, kali ini demi kepentingan sektor pertambangan. Ini tetaplah lapisan masyarakat yang sama, kaum kaya-raya dan antek-anteknya di parlemen yang berkuasa.

Terdapat peristiwa yang lebih baru, yaitu “Intervensi Teritori Utara” oleh Pemerintah Howard. Mereka bilang ke kami bahwasanya militer dikerahkan ke komunitas-komunitas Aborigin untuk menyelamatkan anak-anak. Omong-kosong. Para politisi tidak peduli saat Elijah Doughty terbunuh di Kalgoorlie pada tahun 2016; mereka menyebutnya kriminal kecil, menyiratkan bahwa dia pantas mati.

Mereka tidak peduli dengan Colleen Walker, Evelyn Greenup, ataupun Clinton Speedy-Durux, tiga anak Aborigin yang dibunuh di kota halamanku Bowraville di 1990-1991; mereka menyalahkan para keluarga atau Bibi Muriel (Ibunya Colleen), bahkan mempertanyakan apakah ia benar ibunya Colleen dan menyiratkan Colleen pasti cuma “keluyuran.”

Kenyataan bahwa meskipun ada Komisi Kerajaan terhadap Kematian-Kematian Kaum Kulit Hitam dalam Tahanan pada 1991 dengan penerapan yang rekomendasi-rekomendasinya yang sangat terbatas dan di sisi lain selama dua tahun berikutnya kematian kaum kulit hitam dalam tahanan justru meningkat-memuncak tajam, ini menceritakan pada kita bagaimana hubungan pemerintah Australia terhadap bangsa Aborigin.

Perlawanan

Namun kisah kami bukanlah penerimaan terhadap represi negara secara pasif. Seperti semua rakyat tertindas, hanya ada satu cara untuk bertahan yaitu dengan melawan. Bangsa kami punya sejarah panjang perlawanan yang mengesankan. Suatu Hari Australia yang didesain untuk merayakan apa yang mempersatukan kita terlepas berdasarkan apa tanggal itu ditetapkan—tidaklah bisa membungkam perjuangan-perjuangan kami. Ini menunjukkan bahwaanya terdapat pembelahan mendalam yang tertanam dalam kapitalisme Australia.

The Frontier Wars atau Peperangan Garis Depan mengisahkan sejarah menakjubkan perjuangan Aborigin. Dari Pemulwuy dan Pertempuran Parramatta serta Windradyne dari Wiradjuri, ke Tullamareena, seorang laki-laki Wurundjeri yang membakar penjara pertama yang dibangun di Melbourne setelah dipenjara bersama keluarganya karena mengambil ternak dari tanah Wurundjeri “milik” seorang bankir Britania—pecahlah perlawanan yang dimulai dini, dengan pertempuran dan perang gerilya dikobarkan sampai pertengahan 1800an.

Seiring dengan bangsa Aborigin semakin diintegrasikan ke masyarakat umum, baik sebagai buah perjuangan dan masuknya banyaknya populasi Aborigin perkotaan ke dalam tenaga kerja, suatu lapisan militan kelas buruh Aborigin berkembang menjadi para pemimpin perjuangan kami. Semua pahlawan kami pantas dihargai, disebut, dan dihormati. Hari Australia benar-benar bisa disebut “Hari Amnesia” kalau melihat bagaimana perjuangan-perjuangan kami benar-benar diabaikan atau dihapus dari sejarah sekaligus.

Kita patut mengingat mereka yang melawan invasi dan akibat-akibatnya. Para pejuang seperti Mumaring (juga dikenal sebagai Daisy Bindi), seorang pemimpin pemogokan Pilbara 1946, yang memperjuangkan upah-upah yang lebih baik dan kondisi-kondisi kerja yang lebih layak bagi bangsa Aborigin yang bekerja di stasiun-stasiun pastoral. Perjuangan 1966 demi upah dan kondisi di stasiun Wave Hill di Teritori Utara, yang dipimpin pemuda adat Gurindji bernama Vincent Lingiari, dengan pesat berkembang menjadi perjuangan untuk hak-hak atas tanah.

Arthur Murray, seorang pemimpin kampanye keadilan bagi kematian-kematian Aborigin di tahanan setelah puteranya, Eddie, dibunuh di sel Wee Waa, juga adalah seorang militan kelas buruh yang mendirikan Serikat Buruh Kapas bagi para buruh musiman Aborigin (dan juga yang non-Aborigin) di Wee Waa pada 1973. Arthur memimpin pemogokan tanpa batas dari 500 buruh kapas melawan kondisi kerja buruk, upah rendah buatan para majikan, dan kondisi hidup parah yang dipaksakan di lingkungan-lingkungan Aborigin.

Kami Masih Berjuang

Perjuangan untuk hak-hak Aborigin masih berlanjut hari ini. Tahun 2016 capaian-capaian berhasil diraih oleh kampanye yang dipimpin Bibi Jenny Munro dan para aktivis Aborigin lainnya untuk menuntut perumahan Aborigin di Blok di Redfern.

Setahun sebelumnya, kampanye massa turun ke jalan merespon rencana pemerintahan Abbott yang hendak memaksa menutup lingkungan-lingkungan Aborigin di Australia Selatan dan Australia Barat. Kampanye perlawanan berhasil mendatangkan solidaritas dari lapisan-lapisan luas masyarakat.

Kampanye melawan kematian kaum kulit hitam di tahanan dan melawan brutalitas polisi terus berlanjut di hadapan ketidakpedulian negara dan pemerintah-pemerintah federal.

Invasion DayBanyak perjuangan ini masih terus berlanjut karena sebab-sebab akar penindasan Aborigin masih tersisa. Sembari menekankan bahwa merupakan hal positif akan adanya pergerakan untuk mengubah Hari Australia, namun sejarah hubungan negeri ini dengan bangsa Aborigin tidaklah patut dirayakan pada hari apapun dan tanggal kapanpun. Sama halnya dengan sejarah penghisapan terhadap para buruh, atau serangan-serangan terhadap serikat-serikat; rasisme, seksisme, dan homophobia yang hakiki dalam bangunan negara Australia. Pemerintah menggunakan setiap kesempatan untuk mengipas-kipasi api rasisme dan memecah-belah rakyat.

Entah itu dengan mengambinghitamkan “geng-geng Sudan” di Victoria, atau “ancaman” para penguingsi akan menyedot tunjangan dan anggaran serta mencuri lapangan pekerja—dan pada saat yang bersamaan—melakukan pengingkaran homophobis atas kesetaraan pernikahan selama lebih dari satu dasawarsa, pemerintah menyabet tiap kesempatan untuk mengadudomba kita sementara para biang kerok sesungguhnya yaitu kaum kaya raya—memotong upah kita dan mengemplang pajak secara besar-besaran tanpa hukuman. Suatu gerakan anti-rasis untuk hak-hak Aborigin bisa melawan serangan-serangan demikian yang ingin mengadudomba rakyat.

Maka aku tak akan merayakan Hari Invasi. Aku akan berdemonstrasi—kalian juga harus melakukan hal yang sama. Bergabunglah bersama kami jam 10 pada Jumat 26 Januari dalam Demonstrasi Hari Invasi 2018 di Block, Redfern.

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel “There is nothing to celebrate about Invasion Day” yang ditulis oleh Gavin Stanbrook di redflag.org.au pada 22 Januari 2018. Artikel asli dapat diakses di https://redflag.org.au/node/6167. Diterjemahkan oleh Leon Kastayudha, kader KPO PRP.

654 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment