Semangat Sumpah Pemuda : Bersatu Saja Rumit, Apalagi Terpecah Belah!

Sumpah PemudaJangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir” – kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Sejarah singkat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928

Sejak didirikannya organisasi Budi Oetomo pada 20 mei 1908 memberikan dampak bermunculannya kesadaran berorganisasi bagi masyarakat meski organisasi tersebut masih di kuasai kaum “priyai” atau kalangan bangsawan dan belum memberikan dampak yang riil ketika kita lihat dari segi program yang tak nampak memberikan pengaruh yang lebih pada saat itu dan terbukti hingga sekarang belum ada program riil yang bisa kita jadikan contoh hingga saat ini.

Kembali ke sejarah sumpah pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928 sedang berlangsung Kongres Pemuda Indonesia ke II di Indonesische Clubgebouw dimana Kongres tersebut dihadiri beberapa organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi , Sekar Roekoen, PPPI, dll. Selain itu Kongres tersebut juga dihadiri beberapa pembicara seperti Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.

Pada saat penutupan kongres para pesert menyanyikan lagu Indonesia Raya. Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.

Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu :

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Semangat “sumpah pemuda” berhasil membakar semangat perjuangan dan kesadaran persatuan perjuangan pada saat itu untuk melawan penjajah kolonial. Tentu saja Kongres Pemuda tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba banyak hal yang melandasinya seperti penjajahan kolonial, kendala perjuangan ketika berjuang secara terpisah yang pada saat itu dipengaruhi oleh takti devide et impera (taktik memecah belah). Sebelum kongres pemuda II, para pemuda sudah pernah menggelar kongres pertamanya pada tahun 1926. Tabrani Soerjowitjitro, salah satu tokoh penting dari kongres pertama, peserta kongres pertama sudah bersepakat menjadikan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.

Akan tetapi, pada saat itu, Tabrani mengaku tidak setuju dengan gagsan Yamin tentang penggunaan bahasa melayu. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua. Tentu saja semangat persatuan ini berdampak penting bagi perjuangan untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonial pada saat itu.

Belajar dari sejarah

Sejarah telah memberikan kita pelajaran bahwa perjuangan kita untuk melawan penindasan akan selalu mendapat tantangan dari ‘si penindas’. Politik memecah belah atau yang bisa kita kenal dengan istilah ‘devide et impera’ sudah membuktikan dimana ketika perjuangan secara terpisah-pisah akan begitu muda ditaklukkan. Kini, alih-alih bersatu, meski bersatu perjuangan kita tidak akan mudah dan rumit apalagi terpecah belah. Tetapi kini kesadaran berjuang semakin diberangus oleh rezim dan tentu hal ini tidak bisa lepas dari pengaruh rezim Soeharto yang otoriter yang melakukan ‘depolitisasi(penghilangan aktivitas politik)’ diberbagai sektor, kalaupun ada, aktivitas tersebut hanya aktivitas yang justru memperkuat rezim pada saat itu.

Faktor depolitisasi membuat rakyat menjadi minim kesadaran politik, 16 tahun reformasi justru membuat rakyat tetap terpuruk karena akses ekonomi-politik hanya dikuasai segelintir elit dan hal ini dibuktikan dengan tidak adanya partai politik yang berasal dari konsolidasi rakyat karena hanya kaum borjuis nasional yang bisa mendapatkan akses ekonomi-politik di Indonesia. Kaum borjuis nasional yang lemah, hanya bisa berebut ‘kue’ sisa dari negara-negara Imprealis dan berujung semakin terjajahnya rakyat oleh rezim pro modal yang masih berkuasa hingga saat ini yang secara nyata terus membiarkan sistem kapitalisme berdiri tegak menghisap dan menindas rakyat Indonesia serta merampok kekayaan alam Indonesia.

Bangun persatuan rakyat, berangus Kapitalisme demi terwujudnya Sosialisme!

Ketika sumpah pemuda berhasil membakar semangat persatuan nasional untuk memberangus penjajahan kolonial, maka tidak bisa dipungkiri kita(rakyat) sudah sepatutnya membangun persatuan gerakan rakyat untuk memberangus sistem kapitalisme yang pro modal, yang menciptakan ketimpangan antara si kaya dan si miskin yang dibutikan dengan data ratio gini yang terus meningkat sampai 0,41 pada tahun 2013, yang membuat rakyat jauh dari akses-ekonomi politik untuk mencapai kesejahteraan tanpa penghisapan manusia atas manusia dan penghisapan bangsa atas bangsa.

Gerakan rakyat hari ini masih terpecah belah, dimana masih banyak gerakan yang justru dimanfaatkan oleh segelintir elit karena kurangnya kesadaran politik untuk melawan borjuasi nasional yang terus menjadi antek-antek imprealis. Kebijakan-kebijakan rezim hari ini secara gamblang menunjukkan keberpihaknnya kepada kepentingan modal, seperti yang kita ketahui bersama biaya pendidikan dibuat semakin mahal, upah buruh terus ditekan agar selalu murah, sumber daya alam terus dikuasai oleh segelintir orang dan berbagai kebijakan anti-demokrasi terus diciptakan untuk memberangus kekuatan rakyat.

Gerakan Buruh, Tani, Kaum Miskin Kota, Mahasiswa, Perempuan, dan Pemuda progresif seharusnya terus meningkatkan konsolidasi guna menciptakan alat politiknya sendiri, alat politik untuk melawan dominasi elit hingga menumbangkannya melalui konsolidasi-konsolidasi persatuan rakyat. Hal ini bukan hal yang utopis karena sejarah sudah membuktikan, dengan persatuan kita bisa menjatuhkan penjajahan kolonial. Kaum revolusioner harus terus meningkatkan aktivitas perlawanan dan pendidikan-pendidikan politik di berbagai sektor guna memberangus hegemoni elit yang terus membuat rakyat terbelakang, yang juga terus membuat rakyat terpecah belah.

Merdeka!!!

Oleh : Sapri Maulana, Biro Politik – DPC GMNI Samarinda dan Kontributor Arah Juang.

3,779 total views, 9 views today

Share this post:

Related Posts

One Comment

  1. xx says:

    Bangsa jawa sudah berpengalaman selama 350 tahun kena jajah belanda kini mereka menjajah Nusantara untuk memenuhi sumpah palapa. Bangsa jawa menjajah secara halus contohnya melalui program transmigrasi. Setiap kepala bangsa jawa tahu hal ini cuma mereka menutupi atas nama NKRI

Leave a Comment