Pelajaran dari Perancis Mei 1968

Dekade 1960an merupakan situasi yang penuh gejolak di seluruh dunia yang dipelopori oleh gerakan kaum muda. Kata kunci pada saat itu adalah: pembebasan nasional, pembebasan kulit hitam dan pembebasan perempuan. Di setiap tempat di Eropa meledak, Polandia dan Cekoslovakia, Italia dan Spanyol bergejolak. Di Asia, India dan Pakistan. Sementara di Amerika Latin, Meksiko, Argentina dan berbagai negara lainnya bergejolak. Di Amerika Serikat berkembang gerakan pembebasan kulit hitam dan gerakan anti perang yang memobilisasi ratusan ribu hingga jutaan orang. Sementara itu di Kuba, Fidel Castro pada tahun 1967 mengorganisir Tricontinental, sebuah konferensi untuk membangun solidaritas rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin melawan Imperialisme. Che Guevara menyerukan agar rakyat membangun 2, 3, 4, 10 Vietnam jika dibutuhkan. Slogan yang digunakan dalam aksi salah satunya adalah: “London, Paris, Roma Berlin, kita berjuang, kita akan menang.” Pada tahun 1968 di Perancis meledak pemberontakan kelas buruh dan mahasiswa yang hampir saja menghancurkan tatanan kapitalisme. Tulisan ini mencoba melihat apa yang bisa kita pelajari dari Revolusi Perancis 1968.

Radikalisasi yang terjadi didasari oleh keresahan yang timbul dari sistem pendidikan Perancis. Di Perancis, seperti di banyak negara kapitalis maju lainnya pada saat itu, jumlah mahasiswa dan universitas tumbuh pesat. Pada tahun 1946 terdapat 123 ribu universitas menjadi 514 ribu universitas pada tahun 1968. Dengan tekanan tersebut, universitas-universitas dan terutama Sorbonne, berubah karakternya dari klub elitis yang kecil menjadi pabrik-pabrik pendidikan yang tidak efisien dan kumuh. Semuanya dikorbankan demi persoalan sederhana agar semuanya bisa masuk ke universitas.

Para kapitalis tidak dapat lagi memilih buruh secara terbatas, lapisan manajemen yang mereka butuhkan, dari lingkungan istimewa dan kelas menengah mereka sendiri. Mereka harus memperluas rekruitmen. Anak-anak dari latar belakang yang lebih sederhana mulai masuk ke universitas. Mereka menolak memainkan peran sebagai anjing penjaga kapitalisme dan radikalisasi mereka berhubungan dengan kaum muda yang menolak tatanan moral dari masyarakat Gaullist.

Paska Perang Dunia Kedua adalah periode boom ekonomi, dimana pertumbuhan ekonomi kapitalis berjalan tanpa interupsi. Di Perancis tempat parkir penuh dengan mobil-mobil demikian juga pusat perbelanjaan. Buruh memiliki hak atas perumahan publik yang murah. Namun terdapat mereka yang disingkirkan: satu dari dua orang Perancis tidak memiliki kendaraan, dan 50 persen perumahan kekurangan air panas, tempat mandi dan toilet dan kadang kekurangan semuanya.

Jumlah buruh meningkat dengan cepat dan jumlah buruh industrial di pabrik-pabrik menengah dan besar mencapai tingkat tertinggi pada dekade 1960an. Produksi industrial tumbuh 50 persen dalam sepuluh tahun. Namun hal itu dilakukan dengan melakukan fragmentasi dalam pekerjaan buruh, kerja shift dan meningkatkan ritme kerja, semua yang sering disebut sebagai Taylorism, dengan rata-rata jam kerja sepanjang 46 jam perminggu dengan banyak “bos-bos” kecil mengawasi mereka. Kerja menjadi lebih melelahkan, lebih berbahaya juga: terdapat 2,5 juta kecelakaan kerja pertahun untuk sekitar 16,5 juta buruh. Pengangguran memang sedikit, berkisar antara 200 hingga 300 ribu orang.

Pertumbuhan ekonomi terjadi namun pemerataan sangat buruk. Memang dimungkinkan hidup di negeri kaya dan melihat standart hidup meningkat. Namun melihat bahwa kelas buruh sedang dicurangi ketika profit meningkat lebih cepat ketimbang upah. Dibalik aura kemajuan dan perkembangan teknologi yang dibawa oleh boom ekonomi kapitalis paska Perang Dunia Kedua, kehidupan seperti kosong. Jam kerja dan kuliah yang panjang dan kehidupan yang seperti tanpa semangat seharusnya dikompensasikan kegembiraan akan barang-barang konsumsi yang dijual dengan iklan berulang-ulang kali. Bersamaan dengan janji kesejahteraan terdapat kemelaratan dan kemiskinan yang nyata.

Apa yang terjadi di Perancis bukanlah pemberontakan yang direncanakan. Terjadi ledakan tiba-tiba, spontan yang dimulai oleh mahasiswa. Ledakan itu kemudian berkembang ke buruh muda dan dari buruh muda menyebarluas kepada kelas buruh secara keseluruhan.

Sejak bulan Desember 1967 berkembang demonstrasi dan mogok di 8 sekolah menengah atas (SMA) di Paris yang menolak pemotongan anggaran pemerintah untuk jaminan sosial. Aksi ini kemudian diikuti oleh boikot kelas yang dilakukan oleh pelajar di berbagai SMA pada bulan Januari 1968, untuk memprotes aktivis sekolah yang dikeluarkan dari sekolah. Pelajar yang dikeluarkan adalah anggota dari Jeunesses Communistes Révolutionnaires-Pemuda Komunis Revolusioner (PKR), sebuah organisasi pemuda sosialis revolusioner yang berelasi dengan Internasional Keempat. PKR, yang dibentuk pada sebuah konferensi yang dihadiri oleh 120 aktivis dari berbagai universitas dan SMA di Perancis pada bulan April 1966, merupakan kekuatan politik utama dalam radikalisasi di antara pelajar Perancis.

Sementara itu di kampus Nanterre, Universitas Paris, marak agitasi mahasiswa. Nanterre menggambarkan kontradiksi antara kapitalisme Perancis dan sistem pendidikan tinggi. Kampus penuh sesak kelebihan mahasiswa setelah empat tahun dibuka. Disamping Nanterre adalah perkampungan kumuh yang dihuni oleh buruh-buruh migran tanpa ketrampilan yang bekerja di pabrik-pabrik mesin dan tempat-tempat pembangunan gedung.

Di Nanterre terjadi demonstrasi yang terus mengalami eskalasi, terjadi pendudukan dan bentrokan dengan polisi anti huru hara di kampus. Demonstrasi menuntut hak untuk berkunjung ke asrama perempuan dan menentang Perang Vietnam, menentang kelompok fasis Occident dan intervensi polisi.

Adalah penolakan perang imperialist terhadap revolusi Vietnam yang menjadi titik balik bagi keresahan menjadi radikalisasi luas melawan masyarakat borjuis secara umum. Salah satu slogan yang tertulis di spanduk dan poster propaganda dalam protes selama Revolusi Mei 1968 adalah “Power is in the streets, not in Parliament-Kekuasaan ada di jalanan, bukan di parlemen!” Fenomena inilah yang membuat pemerintahan di dunia barat ketakutan: penolakan dari generasi muda terhadap institusi politik dan nilai-nilai yang dimiliki oleh generasi sebelumnya.

Sejak Desember 1966 bermunculan berbagai macam komite solidaritas untuk Vietnam di SMA maupun universitas-universitas. Kebanyakan dari mereka tidak tertarik dengan organisasi kaum muda Partai Komunis (PK) Perancis karena kebijakan PK Perancis untuk Vietnam terlalu lembek. PK Perancis, seperti partai-partai Stalinis di berbagai belahan dunia hanya menyerukan “perdamaian” secara abstrak atau “negosiasi” ketimbang menyerukan Imperialis untuk keluar dari Vietnam dan biarkan rakyat Vietnam menentukan nasibnya sendiri. Dari komite-komite solidaritas untuk Vietnam tersebut demonstrasi diarahkan berkembang untuk melawan persoalan-persoalan yang spesifik di Perancis.

Pada tanggal 22 Maret polisi menahan 5 aktivis anti-perang setelah mereka melakukan aksi di depan bank milik Amerika Serikat di Paris. Pada sore harinya, ratusan mahasiswa menduduki gedung administrasi di Nanterre untuk melakukan protes atas penahanan aktivis anti-perang tersebut. Pengurus universitas merespon hal tersebut dengan menutup semua kegiatan perkuliahan di kampus. Semenjak saat itu, pertemuan dan demonstrasi dilakukan hampir setiap hari di Nanterre.

Lebih lanjut, mereka meluncurkan boikot ujian dan menetapkan tanggal 2 dan 3 Mei sebagai “anti-imperialist study days” atau “hari belajar anti-imperialis” di Nanterre. Lagi-lagi, pengurus universitas panik dan kemudian menutup semua kegiatan perkuliahan di kampus. Pada 3 Mei, para pelajar dan mahasiswa di Sorbonne dan komite-komite aksi di ratusan SMA di Paris mendeklarasikan solidaritas mereka terhadap pelajar di Nanterre. Pada hari yang sama, ribuan pelajar dan mahasiswa berdemonstrasi melawan represi brutal dari kepolisian.

Pada tanggal 7 Mei, 30.000 pelajar turun ke jalan dan memadati jalanan di Paris selama 5 jam, menuntut dibukanya kembali universitas mereka dan semua aktivis pelajar yang ditangkap dapat dibebaskan secepatnya.

Tanggal 9 sampai 10 Mei terjadi “night of barricades” yang sangat terkenal dimana 35.000 pelajar berdemonstrasi dan membangun barikade serta melakukan perlawanan sepanjang malam terhadap CRS (unit Kepolisian Perancis anti huru hara). Pada malam tersebut, 400 pelajar terpaksa dilarikan ke rumah sakit, banyak dari mereka yang dipukuli oleh CRS. Akan tetapi aksi massa pelajar tersebut tidak sia-sia dan menunjukkan kemenangan. Kemarahan publik atas aksi brutal polisi terhadap pelajar yang berdemonstrasi dan disiarkan di TV memaksa pemerintah untuk memenuhi tuntutan para pelajar dan mahasiswa.  

Sehari setelahnya, pada tanggal 11 Mei, pimpinan dari 3 konfederasi serikat buruh, merespon kebencian publik yang meluas atas represi dari pihak kepolisian, menyerukan mogok nasional selama satu hari pada Senin, 13 Mei. Pada hari itu, 1 juta buruh dan pelajar melakukan aksi di sepanjang jalan di Paris. Kontingen pelajar secara eksplisit menuntut diakhirinya rezim semi-Bonapartis Presiden Charles de Gaulle, dengan seruan protes “Ten Years is enoughSepuluh tahun sudah cukup!” Bendera Perancis diturunkan dari bangunan pemerintah dan digantikan dengan bendera merah. Akan tetapi sayangnya, mogok nasional pada hari itu berakhir tanpa ada arahan yang tegas dari pmpinan serikat buruh kecuali untuk bubar.

Meskipun demikian, demonstrasi besar-besaran para pekerja mempertebal keyakinan pelajar untuk melanjutkan aksi; sekitar 20-25.000 dari mereka bertemu dan memutuskan untuk melanjutkan aksi dan untuk menduduki Sorbonne. Hal ini menunjukan karakteristik Perancis yang membedakan dengan ledakan pelajar di Berlin, Roma atau Buenos Aires. Apa yang dilakukan oleh pelajar di Perancis adalah sebuah gerak cepat dan diduplikasi secara masif, sehingga membawa krisis pemerintahan pada level baru. Lebih lanjut di seluruh penjuru Perancis, baik itu buruh laki-laki maupun perempuan kemudian menduduki tempat kerja mereka dan menutup gerbangnya.

Pada tanggal 14 Mei, para buruh kembali ke pabrik mereka masing-masing akan tetapi dengan sebuah kepercayan diri yang semakin meningkat akan kekuatan mobilisasi massa. Hal ini menjadi keyakinan dalam diri para buruh muda, banyak dari mereka telah bergabung dalam protes pelajar sejak 3 Mei sampai 10 Mei dan telah berjuang bersama para pelajar pada malam barikade.

Sejak saat itu, gelombang protes melanda seluruh negeri. Dalam kurun waktu seminggu, mogok nasional melibatkan sekitar 10 juta dari total 15 juta pekerja di Perancis.

Perjuangan massa pelajar menjadi sebuah detonator atas revolusi pekerja secara masif. Akan tetapi sebuah detonator tidak dapat bekerja kecuali terdapat material ledakan yang potensial untuk dipicu.

Selama seminggu, sejak 24-30 Mei, pemerintahan de Gaulle berada di ujung tanduk. Akan tetapi pimpinan serikat Partai Komunis Perancis menolak untuk menyerukan penggulingan pemerintah. Bahkan ketika 10 juta buruh melancarkan mogok mereka menolak menyerukan mogok nasional melawan pemerintah. Mereka membatasi tujuan pemogokan itu pada tuntutan-tuntutan ekonomi seperti kenaikan upah, pengurangan jam kerja dan percepatan pensiun. Mereka bahkan bergabung dengan pemerintah untuk mengatakan bahwa mahasiswa-mahasiswa radikal adalah “provokator”.

Pada tanggal 29 Mei, serikat buruh yang berada di bawah kendali PK Perancis, CGT, menyerukan demonstrasi di Paris. Para pemimpin Stalinis mengijinkan tuntutan politik dibawa namun mereka mengajukan tuntutan politiknya pun yang samar-samar, yaitu “pemerintahan rakyat”. Di akhir demonstrasi, elit birokrasi serikat buruh CGT membubarkan demonstrasi, tidak ada long march dan tidak ada orasi-orasi.

Kemudian de Gaulle mendirikan pusat operasi militer di Verdun dan mengumumkan dalam pidatonya yang disiarkan di TV bahwa Majelis Nasional dibubarkan dan akan dilaksanakan pemilihan umum parlementer pada tanggal 23 Juni.

Pimpinan PK Perancis menyambut keputusan de Gaulle. Minggu-minggu sebelum pemilihan umum, para pemimpin PK Perancis bersaing dengan pendukung de Gaulle untuk memposisikan diri sebagai pendukung tertib hukum dan taat aturan. Seminggu setelah pidato de Gaulle, para bos membuat kesepakatan dengan pemimpin serikat buruh. Saat pemilihan umum, pendukung Gaulle meningkatkan suara mereka.

Apa Yang Kita Pelajari?

Dalam kebanyakan waktu, rakyat memiliki sedikit harapan. Mereka menerima atau beradaptasi pada kondisi disekeliling mereka, bahkan kondisi yang menindas mereka terus menerus. Mereka merasa tidak memiliki kekuatan, mereka tidak berpikir bahwa mereka bisa membuat perubahan.

Demikian juga dalam kebanyakan waktu, kaum revolusioner adalah kecil, minoritas yang termarjinalkan, dianggap tidak realistis dan utopia. Revolusi dilihat sebagai sesuatu yang tidak mungkin, rakyat dikatakan terlalu apatis dan tidak peduli. Sementara kelas buruh dikatakan masih terbelakang dan tidak melakukan perlawanan.

Namun tiba-tiba, secara tidak terduga, terjadi ledakan besar dari bawah. Di mana jutaan kelas buruh dan rakyat secara heroik terlibat dalam perjuangan radikal yang merubah dunia, politik dan dirinya sendiri secara menyeluruh.

Apa yang terjadi pada bulan Mei sampai Juni 1968 di Perancis menjadi momen bersejarah yang mematahkan omong kosong bahwa gerakan massa tidak mungkin terjadi di negara industri. Sebaliknya, dalam kurun waktu sekitar 3 minggu, jutaan orang turun ke jalan dengan tujuan bersama dan menunjukkan apa yang dapat dihasilkan dari gerakan itu. Mogok nasional bukan lagi sebuah mimpi romantik, tetapi benar-benar terjadi. Hal penting lain yang dapat dipelajari dari Mei 1968 di Perancis adalah bahwa revolusi proletarian merupakan hal yang masih valid, meskipun hal ini belum berhasil secara utuh di sana karena kurangnya kepemimpinan revolusioner Partai Komunis Perancis.

Kejadian ini menghasilkan sesuatu hal yang lebih daripada yang dapat dilihat. Di luar universitas tersebar gagasan-gagasan baru yang diproduksi dari kritik yang sehat dan sistematis atas prasangka dan klise yang memampatkan kehidupan sosial di sana. Pada saat yang sama, gagasan akan kebebasan, demokrasi, solidaritas dan kekuatan menyapu seluruh negeri, menekan ke pabrik-pabrik, kantor-kantor, gedung-gedung pemerintahan dan bahkan di pedesaan yang selama ini dikenal sebagai kaum tradisionalis.

Kesemua hal ini meninggalkan memori yang tidak terlupakan di benak semua peserta aksi. Hal ini memberikan gambaran akan ledakan dari kreativitas yang memunculkan erupsi energi jutaan orang dalam sebuah setting sosial yang membawa keyakinan bahwa revolusisi sosial akan tiba.

Pada saat yang bersamaan, seluruh generasi kaum pekerja – sebagaian besar kaum muda, tetapi sebagian besar juga kaum yang lebih tua – menemukan dua hal bersamaan yang muncul di kaum kiri, yakni Partai Komunis Perancis dan minimnya peran revolusioner yang diperankan oleh partai ini. Setelah dekade yanng penuh dengan isolasi, hal ini membuka kemungkinan untuk tradisi revolusioner terbangun kembali di berbagai kalangan kelas pekerja.

Sejak bulan Mei sampai Juni 1968, Perancis berada dalam kondisi revolusi buruh terbesar sepanjang sejarahnya, dan hal ini berakhir dengan pemilu yang memperkuat partai penguasa. Banyak dari kalangan kiri revolusioner mengatakan bahwa ini adalah “pengkhianatan” dari Partai Komunis Perancis. Tetapi bagaimana pimpinan partai Komunis Perancis dapat melakukan pengkhianatan ini dengan sedikit oposisi dari 10 juta buruh yang melakukan mogok?

Disini kita melihat konfirmasi terhadap apa yang dikatakan oleh Lenin dalam karyanya di tahun 1902, Apa Yang Harus Dikerjakan?: “Sejarah seluruh negeri menunjukan bahwa kelas buruh, dengan usahanya sendiri, hanya mampu mengembangkan kesadaran serikat buruh…”

Sementara kelas buruh Perancis telah melancarkan aksi yang memiliki potensi revolusioner di dalamnya, kelas buruh belum melewati batasan antara pemogokan untuk tuntutan ekonomi mendesak dengan pemogokan untuk secara radikal merubah masyarakat. Adalah kekurangan kesadaran revolusioner diantara mayoritas buruh sehingga pemimpin serikat buruh reformis dapat menggiring mereka kepada ilusi pemilihan umum parlemen.

Lenin menekankan bahwa kesadaran sosialis revolusioner bisa dibawa kepada kelas buruh hanya dari luar perjuangan spontan mereka. Yaitu perjuangan melawan majikan dan pemerintah mereka. Kesadaran sosialis revolusioner tersebut dibawa melalui kerja-kerja ideologi dan organisasional yang teguh dari partai Marxis revolusioner.

Kekalahan terbesar di Perancis 1968 adalah pada faktor subjektif, dimana tidak ada kepemimpinan revolusioner yang mengakar secara kuat di kelas buruh. Kekuatan Marxis revolusioner di Perancis pada saat itu mungkin sekitar 300-400 orang. Mereka tidak berada pada posisi untuk menentang hegemoni ideologi dari pemimpin-pemimpin buruh yang reformis.

Ini artinya kita di Indonesia harus memperkuat kekuatan revolusioner; melibatkan diri kita pada organisasi revolusioner; membangun kesadaran sosialis yang revolusioner; menjadikan diri kita kader-kader partai revolusioner yang profesional. Sehingga kita akan siap untuk merubah pemberontakan buruh yang spontan akibat penindasan kapitalisme menjadi perjuangan revolusioner untuk kekuasaan kelas buruh dan sosialisme.

Ditulis oleh Surtikanti, kader KPO PRP

Tulisan ini juga diterbitkan dalam Arah Juang edisi 22, III-IV Mei 2017, dengan judul yang sama.

 431 total views,  2 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment