Invasi Imperialis ke Kuba

Pada 15 April 1961, Imperialis Amerika Serikat (AS) melancarkan invasi ke Teluk Babi (atau Playa Girón), Kuba. Dalam waktu kurang dari 72 jam, rakyat Kuba membuktikan bahwa mereka dapat mempertahankan diri dari kekuatan militer terbesar di dunia sembari mendeklarasikan dirinya melancarkan revolusi sosialis.

Pada 17 Maret 1960, Presiden AS Eisenhower menyetujui rencana aksi rahasia untuk menggulingkan Republik Kuba. Rencana tersebut akan dipandu oleh Central Intelligent Agency (CIA). Dimulai dengan membentuk kekuatan militer, dengan tujuan untuk menginvasi dan menggulingkan pemerintahan Kuba. Kekuatan militer tersebut dilatih dan dibentuk di Guatemala, Nikaragua dan di beberapa negara bagian AS seperti Florida dan Alabama. Dari sini terbentuk Brigade 2506, yang terdiri dari pelarian Kuba saat Revolusi 1959.

Sementara itu akan dilancarkan perang ekonomi: penghentian semua perdagangan gula dengan Kuba, penghentian semua pengiriman bahan bakar minyak ke Kuba, memerintahkan semua perusahan AS di Kuba untuk menolak bekerjasama dengan pemerintah Kuba. Selain itu juga melanjutkan embargo senjata dengan cara apapun dan kampanye terorisme akan terus dilanjutkan. Kampanye terorisme yang dimaksud adalah berbagai upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, pengiriman persenjataan untuk kelompok-kelompok teroris di dalam Kuba, pemboman dan sabotase terhadap sasaran-sasaran strategis di Kuba.

Pada 28 September 1960, Fidel Castro mengumumkan pembentukan Committees for the Defense of the Revolution(CDR). CDR adalah kelompok berbasiskan lingkungan sekitar di seluruh Kuba untuk mempertahankan dan meluaskan capaian revolusi. Tidak berapa lama, Kuba telah secara universal mempersenjatai semua buruhnya, termasuk perempuan. Pada 1961, CDR memiliki keanggotaan setengah juta orang. Tahun 1970 keanggotaannya 3,2 juta atau 37 persen dari rakyat Kuba; 5,4 juta tahun 1980 atau 56 persen dari rakyat Kuba dan pada tahun 2010, 8,4 juta rakyat Kuba dari total populasi 11,2 juta terdaftar sebagai anggota CDR.

Setidaknya sejak pertengahan tahun 1960, Kuba menginformasikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa CIA sedang berupaya menginvasi Kuba. AS selalu menolak itu dan PBB kemudian mengabaikannya.

Pada awal 1961, John F Kennedy (JFK) dilantik sebagai Presiden AS mengalahkan Richard Nixon dengan kampanye bahwa Nixon tidak tegas terhadap penyebaran komunisme. Sebelum menjabat, JFK sudah mendapatkan laporan mengenai rencana CIA untuk menginvasi Kuba, dengan kode JMARC (Pentagon menyebutkan Operasi ZAPATA). Mereka yang terlibat dalam operasi tersebut antara lain David Sanchez Morales, Henry Hecksher, William Harvey, David Atlee Phillips, Ted Shackley, E Howard Hunt, Desmont FitzGerald, Tracy Barnes, William (Rip) Robertson dan Carl E Jenkins. JFK sendiri menekankan bahwa Pemerintah AS jangan sampai bisa dikaitkan dengan invasi ke Kuba.

Dalam dokumen milik Central Intelligency Agency (CIA). Invasi Teluk Babi dirancang dalam tiga tahap. Pertama, menghancurkan sebanyak mungkin pesawat tempur Kuba. Ini dilakukan oleh pilot-pilot Brigade 2506 dengan membom tiga markas angkatan udara Kuba. Sehingga ketika invasi darat dilancarkan, Kuba tidak dapat memberikan serangan balasan. Pilot-pilot tersebut beserta pesawatnya akan didandani untuk menyerupai Angkatan Udara (AU) Kuba. Hoax untuk menutupi tahap pertama adalah, bahwa terdapat beberapa pilot AU Kuba yang kecewa dengan Fidel Castro, menembaki markas militer mereka sendiri dan membelot ke AS. Tahap kedua, menghancurkan sisa pesawat Kuba yang tidak berhasil dihancurkan di tahap pertama. Tahap ketiga adalah invasi oleh Brigade 2506 melewati laut dan mendarat di pantai. Rencana awalnya adalah di pantai dekat kota Trinidad, namun rencana itu dibatalkan karena kekhawatiran terhadap publisitas terhadap invasi yang dilakukan berdekatan dengan kota besar. Ini akan bertentangan dengan upaya menggambarkan invasi tersebut sebagai perang gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Kuba yang kecewa terhadap Castro.

Pagi hari 15 April 1961, enam pesawat pembom B-26 yang dicat seperti pesawat AU Kuba terbang dari Nikaragua dan membom dua bandara udara, tiga markas militer dan bandara Antonio Maceo di Kuba. Serangan tersebut membunuh beberapa rakyat sipil dan hanya menyisakan 8 pesawat tempur, sebanyak 7 orang tewas dan 53 lainnya luka-luka. Sekitar 90 menit kemudian seorang pilot anggota Brigade 2506 berpura-pura membelot bergerak ke Bandara Udara Internasional Miami. Serangan udara tambahan ditolak oleh JFK untuk memastikan bahwa hubungan AS dengan invasi tersebut tetap tertutup.

Serangan itu mendorong ribuan rakyat Kuba untuk turun ke jalan pada 16 April untuk menghormati mereka yang tewas. Di sinilah Fidel Castro memberikan pidato di hadapan rakyat bersenjata bahwa Revolusi Kuba adalah revolusi sosialis. Castro menghubungkan pencapaian reforma agraria, program pendidikan dan kesehatan dengan perjuangan melawan imperialisme dan mengikat semuanya dengan kebutuhan untuk sosialisme. “Apa yang tidak bisa mereka maafkan adalah kita telah melancarkan revolusi sosialis tepat di bawah hidung Amerika Serikat”. Deklarasi tersebut disambut oleh ribuan rakyat, laki-laki dan perempuan, yang mengangkat senjata mereka sebagai tanda setuju.  

Hampir tengah malam tanggal 16 April, pasukan katak AS mendarat di Teluk Babi dan memasang lampu pendaratan. Dini hari 17 April, Brigade 2506, dengan kekuatan sekitar 1.400 orang Kuba di bawah Komandan agen CIA, Grayston Lynch dan operator CIA William Robertson melancarkan pendaratan. Mereka dibagi menjadi 6 batalion yang masing-masing terdiri dari 200 tentara. Dua batalion mendarat di Teluk Babi dan satu di Playa Larga namun mereka berhadapan dengan batu karang yang mengakibatkan pendaratan tertunda beberapa jam. Dua kapal perang tenggelam, walau tentara yang berada di dalamnya bisa diselamatkan namun peralatan perang tenggelam.

Sekitar pukul 3 pagi, anggota CDR melihat kapal perang AS. Tidak lama kemudian, Pemerintah Kuba mengetahui akan terjadi invasi dan segera meresponnya. Castro mengkoordinasikan pertahanan Kuba; pertama seluruh rakyat diinformasikan mengenai invasi tersebut: beberapa bulan sebelumya sudah dimulai program mempersenjatai dan memberikan pelatihan militer dasar untuk seluruh rakyat Kuba. Setelahnya AU Kuba yang tersisa, walau kalau jumlah, digerakan dan berhasil mengalahkan pesawat AS. Mereka kemudian membombardir armada laut AS dan menenggelamkan kapal komando “Maropa” dan kapal perbekalan “Houston”. Polisi Kuba memburu dan menangkap operator CIA sebelum mereka bisa menghancurkan target-target dan CDR bertempur melawan Brigade 2506.

Saat invasi terjadi, Sekretaris Negara AS, Dean Rusk memberikan konferensi pers dan menyatakan bahwa AS tidak mengintervensi Kuba. Di tataran diplomasi internasional, kebohongan AS terbongkar dan terlihat bahwa AS perancang Invasi Teluk Babi. Menteri Luar Negeri Kuba, Raul Roa meminta pertemuan darurat ke PBB. Duta Besar AS untuk PBB, Stevenson menunjukan foto pesawat dan dengan tegas menyatakan bahwa AS tidak ada hubungan dengan serangan udara yang terjadi. Dia menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pilot-pilot yang membelot dari AU Kuba. Namun foto-foto itu justru membongkar kebohongan AS. Hidung pesawat pembelot tersebut berbahan metal sementara pesawat AU Kuba berbahan plastik.

Pada tanggal 18 April, JFK dan Khrushchev, Perdana Menteri Uni Soviet berbalas surat. Khrushchev menegaskan bahwa AS terlibat dalam invasi dan Uni Soviet akan membantu rakyat Kuba melawan invasi tersebut. JFK menjawab bahwa AS tidak ingin melakukan intervensi militer ke Kuba. Namun sambil menuliskan hoax bahwa terjadi krisis di Kuba sehingga seratus ribu rakyat Kuba bermigrasi ke berbagai negara tetangga.

JFK kemudian membatalkan semua dukungan AU AS, sehingga Brigade 2506 terpaksa mempertahankan dirinya sendiri. Setelah dua hari pertempuran sengit, Pada 19 April JFK sejenak membalikan keputusannya dan memerintahkan AU AS untuk membantu Brigade 2506. Namun pesawat mereka ditembak jatuh dan empat pilot Amerika terbunuh. Sekitar pukul 2 siang, Brigade 2506 berhasil dikalahkan.

Diperkirakan sekitar 67 pelarian Kuba dari Brigade 2506 terbunuh. Sebanyak 10 orang pilot pelarian Kuba dan 4 pilot Amerika, termasuk Thomas Ray, perwira CIA terbunuh. Di sisi Kuba, 176 tentara terbunuh dan sekitar 2.000 milisi rakyat terbunuh atau terluka saat pertempuran. Dari penyelidikan Pemerintah Kuba terhadap 1.197 tentara Brigade 2506 yang ditangkap mereka terdiri dari: 100 pemilik perkebunan, 67 orang pemilik apartemen, 24 orang pemilik properti besar, 112 pengusaha, 194 orang bekas tentara Batista (termasuk 14 orang yang buron karena pembunuhan dan penyiksaan saat perang revolusioner), 179 orang adalah “orang-orang kaya malas” dan 35 orang adalah raja industri. Secara keseluruhan mereka memiliki sekitar 373.525 hektar tanah, 9.666 rumah dan bangunan apartemen, 70 pabrik, 10 pabrik gula, 3 bank, 5 tambah dan 12 klub malam.

Ditulis oleh Musa Talutama, Kader Perserikatan Sosialis dan Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

Tulisan ini juga diterbitkan dalam Arah Juang edisi 64, III-IV April 2019, dengan judul yang sama.

 411 total views,  5 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment