Italia Menyerukan Mogok Nasional: “Kehidupan Kita Lebih Berharga Daripada Keuntungan Anda”

Ditulis oleh La Izquierda Diario Argentina

Meskipun Italia sedang lockdown, banyak sektor non-esensial masih saja bekerja. Hari ini (25/3) mogok nasional diserukan untuk memprotes keras kepalanya pemerintah untuk menjalankan “bisnis seperti biasa” dihadapan pandemi yang menghancurkan ini.

Ini adalah pemberontakan buruh. Dari pabrik metalurgi di Lombardy hingga Piedmont, dari pabrik baja Piombino ke tanur tinggi Taranto, dari perusahaan kimia dan tekstil hinga ke perusahaan aeorospace dan galangan kapal. Bahkan para pekerja pembangun jembatan baru di Genoa menuntut berhenti bekerja. Pemogokan dan protes spontan berasal dari orang-orang disandera oleh pekerjaan mereka, dipaksa untuk menghadapi virus corona sementara penduduk lainnya tinggal dirumah mereka.

(La Repubblica)

Italia adalah pusat pandemi global, dengan lebih dari 64,000 ribu kasus infeksi dan kematian hampir 7.000 ribu jiwa, setengah dari kematian tersebut terjadi minggu lalu. Ini adalah hasil dari langkah-langkah penghematan neoliberal yang memotong anggaran layanan kesehatan di Italia dan pengabaian kriminal Uni Eropa (UE).

Dalam konteks pandemi ini, karantina diberlakukan diseluruh negeri. Bukan saja hampir semua toko tutup, bahkan orang-orang tidak dibolehkan untuk terlalu jauh dari rumah mereka. Baru minggu ini, video walikota meneriaki konstituennya  untuk pulang menjadi viral.

Namun, produksi non-esensial belum juga dihentikan di Italia. Jutaan pekerja masih pergi bekerja setiap hari, memaparkan dirinya kepada infeksi di transportasi umum, di pabrik-pabrik, di bengkel dan di kantor.

Pada saat yang sama, pemberontakan pekerja terus meningkat. Sepanjang minggu terakhir, ada pemogokan spontan oleh pekerja di seluruh negeri. Beberapa aksi diorganisir oleh serikat buruh, menuntut alat perlindungan diri dan beberapa kasus menuntut untuk menghentikan produksi.

Tetapi Cofindustria,  yang merupakan kamar dagang  dan mengorganisir bos-bos Italia, memberi tekanan kepada pemerintah untuk tetap membuka sektor-sektor yang tidak vital untuk menghadapi pandemi atau kehidupan orang-orang yang dikarantina. Mereka mempunyai pengaruh besar terhadap kebijakan pemerintah dan sudah membuat perubahan dratis dalam merespon krisis. Misalnya pada tanggal 21 Maret, hari itu 700 orang mati dalam 24 jam, pemerintah mengumumkan bahwa semua produksi non-essential ditutup. Tapi keeseokan harinya, tanggal 22 maret, lobi kapitalis pun dimulai. Cofindustria menulis surat kepada pemerintah, mengatakan bahwa perusahaan akan kehabisan uang jika produksi mereka ditutup dan saham akan anjlok. Pada minggu malam pemerintah memenuhi tuntutan mereka, membuka produksi di beberapa sektor utama — sektor yang mereka anggap penting “strategis”. Ini berarti pembukaan kembali bank-bank, call center, perusahaan aerospace, dan industri pertahanan.

Mogok Nasional Untuk Melindungi Hidup Pekerja.

Konteks ini yang menjadikan mogok nasional terjadi, diserukan oleh beberapa serikat buruh. Bahkan beberapa serikat buruh yang birokratis saat ini “membiarkan“ pekerja untuk bergabung dengan ijin sakit bersama-sama. Tentu saja, dalam konteks kemarahan terhadap para bos banyak yang akan menyimak seruan itu.

Dalam surat yang dikirim untuk pemerinah. USB (Unione Sindacale di Base), mengatakan bahwa meraka sudah “menunggu pengumuman langkah-langkah pembatasan baru dari pemerintah dalam harapan bahwa ada penghentian produksi swasta dan produksi publik, kecuali produksi yang sangat diperlukan untuk krisis ini.” Bagaimanapun, tidak ada langkah-langkah pembatasan yang di umumkan dan pemerintah “keras kepala untuk tetap membuka pabrik-pabrik dan kantor-kantor”

Selanjutnya pernyataan USB menjelaskan:

“Para pekerja yang pergi dalam pemogokan akhir-akhir ini, menuntut tempat kerja mereka ditutup, karena para pekerja terpapar hanya agar bisnis ini tetap berjalan. Mereka yang melancarkan pemogokan beresiko mengalami pembalasan dari bos mereka, namun mereka melakukan itu karena mereka yakin bahwa tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan dan keselamatan seluruh masyarakat”

USB menyatakan bahwa sistem kesehatan publik telah dihancurkan oleh pemotongan berulang terhadap personil dan sumber daya oleh privatisasi dan oustsourcing. “Kekurangan tempat tidur, personil, dan alat kesehatan adalah beberapa faktor yang memperburuk penderitaan dan menjadi penting untuk menghentikan aktivitas untuk menghindari keruntuhan pasti dan sulitnya pemulihan orang sakit”

CISL (Konfederasi Serikat Buruh Italia), serikat buruh terbesar kedua di Italia dan yang memiliki hubungan kompromis dengan pemerintah juga mendekati pejabat pemerintah menuntut agar perusahaan-perusahaan non-esensial ditutup. CISL mengancam akan bergabung dalam pemogokan hari ini jika pemerintah tidak menurutinya.

Serikat lainnya, seperti SiCobas telah meghabiskan minggu lalu untuk menyerukan ijin sakit dari pekerjaan di gudang dan pabrik non-esensial bagi fungsi ekonomi selama pandemi ini. Diantara sektor-sektor pekerja logistik prekariat, terutama pekerja imigran yang menjadi anggota SiCobas sudah melakukan pemogokan spontan beberapa minggu terakhir.

Jalan Keluar dari Krisis

Pemogokan umum yang terjadi pada hari Rabu, 25 Maret ini adalah seruan kelas pekerja, menegakan kepala mereka dan berkata “hidup kita lebih penting daripada keuntungan mereka”

Namun, dalam dimensi krisis ini, sangat penting untuk menerapkan program yang memberikan jalan keluar dari krisis kesehatan publik dan sosial secara keseluruhan. Solusi tidak bisa diharapkan dari mereka yang menciptakan bencana ini – kelas penguasa yang telah melucuti kesehatan publik dalam beberapa dekade terakhir dan meningkatkan ketidakpastian kerja.

Sementara banyak perusahaan otomotif atau metalurgi bisa saja mengubah produksi mereka dan menempatkan semua sumber daya yang tersedia untuk memproduksi respirator, masker dan barang-barang lain yang diperlukan untuk melawan pandemi ini, Confindustria membela kondisi “bisnis seperti biasa.”

Itulah sebabnya, La Voce della Lotte (Suara Perjuangan), situs kawan dari Left Voice di Italia mengatakan:

“Dalam menghadapi bencana yang telah ditimbulkan oleh kapitalis, penting untuk memperlihatkan bahwa adalah para pekerja yang dapat mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan: tidak hanya dari sudut pandang jaminan kerja terhadap PHK massal dan kepastian upah, tapi juga untuk menyediakan makanan dan sumber daya kesehatan untuk seluruh rakyat miskin – bukan minoritas orang kaya. Ini hanya bisa terwujud jika kontrol demokratik, dari bawah kelas pekerja dapat diterapkan di tempat kerja dalam upaya untuk mengamankan dan mengubah produksi untuk memenuhi prioritas sosial: semua aktivitas non-esensial harus dihentikan, semua yang harus tetap bekerja harus dilindungi, dan aparatus produktif harus diubah sesuai kebutuhan luar biasa hari ini. Kita butuh pekerja untuk mengambil kendali dari seluruh proses ini”

Naskah diambil dari website Left Voice. Dapat diakses melalui Italy Calls General Strike: “Our Lives Are Worth More Than Your Profits” dimuat pada 25 Maret 2020. Diterjemahkan oleh Ezra Noland, anggota Lingkar Studi Kerakyatan

 991 total views,  3 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment