Melawan Kekerasan Seksual di Industri Hiburan

MeTooGolden Globe 2018 nampak berbeda karena tidak ada pemandangan selebritas Hollywood dengan gaun yang berwarna-warni, melainkan berwarna hitam. Mereka juga mengkampanyekan #TimeIsUp. Hal tersebut merupakan kampanye selebriti Hollywood dalam menanggapi  berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di kalangan selebriti Holywood. Beberapa selebriti datang bersama aktivis dari berbagai macam organisasi. Aktris asal Inggris Emma Watson, misalnya, datang bersama Marai Larasi pendiri organisasi Imkaan, yang bergerak untuk menyampaikan aspirasi wanita kulit hitam dan kelompok minioritas lainnya.

Sebelum kampanye #TimeIsUp memenuhi media-media sosial, kampanye #MeToo juga sempat lebih dahulu memenuhi media-media sosial dan ada sekitar 4,7 juta orang yang menggunakan tagar tersebut, yang juga menyuarakan agar korban-korban kekerasan seksual berbicara soal pengalaman pahit yang menimpa mereka. Kampanye #MeToo diinisiasi oleh Tanara Burke satu dekade lalu untuk mendukung perempuan kulit hitam yang menjadi korban kekerasan seksual.

Pada tanggal 11 November, Alianza Nacional de Campesinas, yang mewakili 700 ribu perempuan buruh pertanian menulis surat terbuka menunjukan solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan tersebut. Surat solidaritas tersebut menyebutkan bahwa 80 persen dari 700 ribu perempuan buruh pertanian menjadi korban dari berbagai bentuk kekerasan seksual. “Meskipun kita bekerja dalam lingkungan yang sangat berbeda, kita memiliki pengalaman yang sama menjadi mangsa individu yang memiliki kekuasaan untuk mempekerjakan, memecat dan mendaftarhitamkan atau juga mengancam keamanan ekonomi, fisik dan emosional kita…” Solidaritas tersebut kemudian dijawab dengan surat solidaritas dari 300 perempuan yang bekerja di film, teater dan televisi untuk para petani dan perempuan kelas buruh.

Kampenye melawan kekerasan seksual menguat seiring dengan terungkapnya pelecehan yang dilakukan seorang produser film berpengaruh Hollywood, Harvey Weinstein. Setidaknya belasan perempuan maju mengutarakan kekerasan seksual yang mereka alami. Mereka adalah staf rendahan, asisten serta aktris pendatang baru.

Pada kasus Weinstein tercatat dimulai dari tahun 1984, seorang kru film dalam salah satu film pertama Weinstein mengaku bahwa dia mengalami upaya pemerkosaan. Berlanjut pada dekade 90an, pada 1997 Harvey memperkosa Rose McGowan di kamar hotel. Pada 2015 model asal Italia Ambra Battilana melaporkan perlakuan Harvey kepada kepolisian New York setelah Harvey mencoba memegang payudara Ambra. Rossana Arquete aktris asal Prancis dan Angelina Jolie menceritakan bahwa mereka pernah menjadi korban Weinstein saat pembuatan sebuah film.

Menurut situs time.com ada sekitar 117 pelaku yang dituding juga melakukan pelecahan-pelecehan seksual pasca kasus Harvey muncul. Mereka adalah tokoh-tokoh yang punya pengaruh dan modal dalam industri hiburan Amerika Serikat maupun di luarnya. Menurut permohonan maaf (munafiknya) Weinstein di pengadilan, kekerasan seksual sudah membudaya ketika dia dibesarkan pada era 60 dan 70an.

Tidak hanya menimpa kalangan selebriti Hollywood pelecehan serupa juga terjadi di lain tempat. Seperti yang disuarakan ratusan perempuan yang  bekerja di industri musik di Australia. Kampanye dengan tagar #meNOmore ini menginginkan penghentian kekerasan seksual termasuk jargon-jargon seksis. Kontes kecantikan Peru juga sempat diprotes oleh perempuan-perempuan yang terlibat dalam ajang tersebut karena standar ukuran payudara dan pinggang yang menjadi poin dalam penilaian. Di Inggris, terdapat laporan yang menyebutkan bahwa sepertiga perempuan yang bekerja di Parlemen Inggris mengalami kekerasan seksual.

Dalam dunia pendidikan hal yang sama juga terjadi. Menurut investigasi koran Guardian awal tahun 2017, kekerasan seksual di dunia pendidikan berada pada tingkat epidemik. Sementara Oxford adalah kampus dengan kasus kekerasan seksual tertinggi di seluruh universitas di Inggris.

——————

Bagian penting dari pengakuan para perempuan dalam industri hiburan tersebut adalah sulitnya untuk mengungkapkan kebenaran. Sudah ada rumor sejak awal 1990an bahwa Weinstein memperkosa perempuan. Namun para perempuan, seperti Rose McGowan, mendapatkan intimidasi bahwa mereka tidak akan pernah menang di pengadilan.

Ketika kasus kekerasan seksual tersebut muncul di berita maka media massa akan membungkamnya. Seperti yang dilakukan oleh New York Times ketika seorang jurnalis menyelidiki rumor bahwa perempuan ditipu untuk datang ke kamar hotel Weinstein di Italia.

Courtney Love yang pada tahun 2005 mengatakan bahwa aktris pendatang baru jangan menerima undangan pesta privat Weinstein diboikot oleh agen pencari bakat utama Hollywood.

Ambra Battilana melaporkan kekerasan seksual oleh Weinstein pada tahun 2015. Polisi New York kemudian memintanya menggunakan penyadap dan bertemu dengan Weinstein untuk mendapatkan pengakuan. Walaupun penyadapan tersebut berhasil, kejaksaan Manhattan menolak mengajukan tuntutan dengan alasan Battilana bukan saksi yang dapat dipercaya.

Dengan munculnya berbagai macam kasus tersebut, Weinstein Company berusaha keras membersihkan kejahatan Weinstein. Dewan direksi Lance Maerov membuat code of conduct baru.

Begitulah para perempuan yang berani mengungkapkan kejahatan Weinstein dibungkam. Mereka dibungkam lewat perjanjian tidak boleh mengungkapkan apa yang terjadi atau kesepakatan ganti rugi uang. Atau mereka akan diseret dalam keributan dan karir mereka dihancurkan. Yang lain berhadapan dengan tembok dan terpaksa berhenti dari pekerjaannya. Beberapa lainnya terus mengalami kekerasan seksual oleh Weinstein. Polanya terlihat jelas bahwa pada tingkat institusi dan sistem tidak berubah dan akan membungkam semua pengungkapan.

——————

Latar belakang perlawanan terhadap kekerasan seksual adalah perkembangan gerakan perempuan selama beberapa tahun belakangan ini. Pada tahun 2011, mahasiswa Kanada melancarkan demonstrasi “Slutwalk” di Toronto. Demonstrasi “Slutwalk” serupa dilancarkan juga di berbagai belahan dunia.

Setahun setelahnya demonstrasi besar melanda New Delhi ketika seorang mahasiswi meninggal setelah diperkosa beramai-ramai. Puluhan ribu juga melancarkan demonstrasi di berbagai kota di India menuntut perlindungan terhadap perempuan.

DI Argentina, setengah juga orang turun ke jalan melawan kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang pelajar. Demikian juga di Perancis terjadi demonstrasi besar-besaran terkait kasus pemerkosaan polisi terhadap seorang remaja laki-laki.

Pada Januari 2017, jutaan perempuan di seluruh dunia turun ke jalan dalam “Women’s March”. Demonstrasi dilancarkan setelah pelantikan Donald Trump, si seksis, sebagai Presiden AS.

——————

Feminis liberal dengan berbagai kecenderungannya mengatakan bahwa ada pembebasan perempuan dalam kapitalisme. Bahwa pembebasan perempuan bisa dilihat dengan kuota 30 persen, perempuan-perempuan yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan, menteri bahkan kepala negara. Bahwa telah begitu banyak hak-hak dan kesetaraan yang didapatkan oleh kaum perempuan dalam tatanan kapitalisme. Bahwa kebebasan dan keberhasilan individu perempuan adalah pembebasan perempuan. Namun kasus kekerasan seksual yang terjadi dan gerakan melawannya menunjukan bahwa kapitalisme tidak dapat memenuhi janji pembebasan perempuan.

Pemanfaatan media-media sosial merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengungkapkan kekerasan seksual dan bersolidaritas. Namun pasca pengungkapan kasus oleh korban bukan berarti masalah selesai. Masih ada ancaman-ancaman yang dilakukan oleh pelaku seperti kehilangan pekerjaan, karena di beberapa kasus pelaku adalah orang-orang yang berpengaruh seperti pemilik modal.

Aksi-aksi spontan saja tidak cukup apalagi hanya terlibat dalam dunia maya, perlu aksi-aksi solidaritas secara langsung, dan perlunya pekerja membentuk wadah para seperti serikat buruh yang independen agar para pekerja bisa menyuarakan kekerasan dan pelecehan yang mereka alami.

Fungsi dari serikat buruh tersebut bukan hanya bekerja di bidang-bidang normatif, namun harus juga bergerak di tataran kerja-kerja ideologis, karena hanya dengan itu pekerja akan mempunyai kesadaran yang utuh jika nantinya menjadi korban dapat dengan tegas melawan, dan kawan-kawan lainnya bisa bersolidaritas jika terjadi upaya-upaya ancaman bukan malah lagi menjadi anti-pati.

Kerja-kerja ideologis juga diperlukan untuk memahami bahwa kekerasan seksual bukan hanya terjadi akibat moral pelaku yang rusak, melainkan ini berkaitan bagaimana perempuan menjadi tersingkirkan ke dapur-dapur rumah tangga, yang artinya gerakan-gerakan anti kekerasan seksual bukan hanya terjebak pada menuntut pelaku dipenjarakan namun juga harus melangkah lebih jauh dengan memutus sistem yang berdasarkan kepemilikan pribadi alat-alat produksi, agar tidak ada lagi Harvey-Harvey yang baru karena memiliki kekuasaan dan modalnya dapat melecehkan dan mengancam korban agar tetap diam.

 

ditulis oleh Musa Talutama, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

 

 

Referensi

https://tirto.id/heboh-skandal-pelecehan-hollywood-seleb-kampanye-di-golden-globe-cCZz

https://tirto.id/saya-pun-mengalami-pelecehan-seksual-metoo-cyZ7

https://tirto.id/kasus-pelecehan-harvey-weinstein-sisi-gelap-dunia-hiburan-cykG

https://tirto.id/melawan-pelecehan-seksual-atas-buruh-perempuan-cn65

http://time.com/5015204/harvey-weinstein-scandal/

http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/pelecehan-di-dunia-industri-musik-australia/9256420

http://www.internationalviewpoint.org/spip.php?article5326

https://socialistworker.org/2017/11/09/the-power-of-metoo

https://socialistworker.org/2017/10/19/the-silence-is-broken

https://socialistworker.co.uk/art/45651/Has+the+fight+against+sexual+harassment+reached+a+tipping+point

https://www.liberationnews.org/working-class-women-actresses-unite-in-metoo-solidarity/

1,026 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment