Hanya Orang Bodoh atau Pembohong yang Akan Menerima Cerita “Reforma” Arab Saudi

Pangeran Arab SaudiDitulis oleh Omar Hassan pada 6 November 2017

 

Aliansi AS dengan Arab Saudi telah mempermalukan kekuasaan politik selama bertahun-tahun, dengan permusuhan sepenuhnya monarki Saudi terhadap kebebasan demokratis yang paling dasar, kebijakan ultra-fanatik menargetkan perempuan dan agama minoritas serta struktur sosial negeri yang secara umum kuasi-fasis.

Di sisi yang lain, Saudi telah menjamin akses tanpa batas bagi AS untuk minyak murah, memfasilisasi kebangkitannya sebagai kekuatan global. Anda bisa melihat kenapa presiden demi presiden telah siap untuk mengabaikan beberapa pelanggaran hak azasi manusia dan memberikan monarki Saudi kekuasaan penuh untuk menangkap, penyiksaan dan mengkesekusi siapapun yang tidak disukainya.

Namun belakangan ini, beberapa hal terungkap bagi Saudi.

Di tingkat regional, saingan yang mereka benci, Iran semakin berpengaruh, khususnya di Suriah, Irak dan Lebanon. Pada tahun 2015, pemerintah Saudi mengunakan kekuatan militer yang sangat besar – dibeli dari Britania dan AS – untuk mengintervensi perang sipil di Yemen dan mengirim pesan yang kuat kepada saingannya. Intervensi tersebut termasuk blokade makanan, suplai obat-obatan dan air minum pada jutaan rakyat serta ribuan serangan udara terhadap penduduk sipil dan target militer.

Pasukan AS dan Australia memberikan dukungan logistik penting dan militer untuk memfasilitasi serangan gencar tersebut, yang menyebabkan kematian setidaknya 10.000 penduduk sipil dan kelaparan secara luas, epidemi kolera terburuk di dunia dan hampir keruntuhan sosial menyeluruh.

Sementara bukan ancaman segera terhadap Wangsa Saudi, ketegangan berkembang di dalam negeri juga. Arab Spring tahun 2011 menghasilkan protes yang cukup besar di Arab Saudi, termasuk beberapa aksi bersama antara komunitas Syiah dan Sunni.

Rezim menghukum aktivisme herois ini dengan upaya untuk melenyapkan Syiah di daerah timur dan selatan negeri tersebut serta mengeksekusi ratusan aktivis. Oposisi ini masih ada, bahkan jika sekarang tidak dapat memobilisasi di jalan. Membuat kondisi semakin buruk bagi pemerintah adalah kejatuhan harga minyak, mengakibatkan lubang besar dalam anggaran negara.

Datanglah putra mahkota Mohammad bin Salman. Saat menjabat menteri pertahanan tahun 2015 dia memprakarsai serangan barbar ke kelompok Hutsi di Yemen, berharap untuk menyatukan negerinya yang sedang bermasalah di balik perang yang gemilang dan membangun reputasi untuk dirinya sebagai pemimpin yang tegas. Di front militer setidaknya, dia telah gagal secara spektakuler. Perang telah menjadi bencana mahal yang menambah tekanan pada kas pemerintah yang sudah genting.

Disamping begitu, Mohammad Bin Salman telah menjadi manusia yang paling berkuasa di Riyadh, bertanggung jawab untuk pemotongan tajam subsidi pemerintah, upah dan sektor pekerjaan pubilk serta privatisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sebagian perusahaan minyak besar ARAMCO. Dia juga merupakan juara “kawasan ekonomi khusus” dimana para bos dapat mengekploitasi kombinasi menguntungkan dari lingkungan bebas pajak dan tenaga kerja yang sangat prekariat, terutama sekali migran.

Kebijakan mengerikan ini jarang menerima ulasan di media Barat liberal, karena keterlibatan mereka dalam aliansi dan perspektif imperialisme AS. Sebagai gantinya, kita diminta untuk merayakan proyek “modernisasi” dari putra mahkota baru, disimbolisasikan dengan janji yang tidak radikal namun dipublikasikan secara besar-besaran untuk mengijinkan perempuan mengemudi pada Juni 2018.

Penjilat New York Times mendeksripsikan reforma tersebut “luar biasa”, sementara disini ABC merayakan raja Salman dan bin Salman karena telah berani “tes ombak” dalam usaha terhormat mereka untuk memperbaiki hak perempuan. Dalam forum ekonomi yang baru saja diselenggarakan, Tony Blair berbicara dengan semangat mengenai Saudi atas gerakan progresif luar biasa mereka yang membiarkan laki-laki dan perempuan duduk bersama.

Reformasi sosial ini diterapkan untuk membangun dukungan kepada rezim yang sedang dalam kondisi malaise yang mendalam dan untuk mengalihkan berkembangnya kritik terhadap kegagalan ekonomi politik dan militer mereka. Reformasi sosial tersebut tidak menyentuh masyarakat yang sangat seksis, rasis tidak demokratis dan tidak adil secara ekonomi.

Lebih lanjut, reformasi sosial menyediakan topeng politik bagi perebutan kekuasaan mencolok yang dilakukan oleh putra mahkota. Dia sekarang telah mengumumkan sebuah rencana untuk memimpin “kampanye anti korupsi” yang akan memungkinkan dia untuk menyingkirkan musuh-musuhnya, dengan prespektif jangka panjang memasarkan semakin banyak bagian dari ekonomi Saudi.

Dengan secara tidak kritis merayakan perbaikan dangkal atas status perempuan yang mengerikan dan memperlihatkan perbaikan tersebut sebagai kerja dari elit yang tercerahkan ketimbang pertahun-tahun perlawanan akar rumput, negara-negara Barat dan media patuh mereka membantu membela sistem sosial reaksioner yang merupakan kunci penopang kepentingan AS di daerah tersebut.

Monarki Saudi harus dihancurkan, bukan direformasi, dan seharusnya perempuan migran yang memegang pisau guletin (alat pemenggal kepala). Itu akan menjadi sebuah capaian yang pantas dirayakan.

 

 

Naskah diambil dari website redflag.org.au. Dapat diakses melalui https://redflag.org.au/node/6087. Diterjemahkan oleh Rinjani Maheswari, anggota LSK .

243 total views, 4 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment