Perang Saudara Orang West Papua di Kawasan Pasifik

Perang Saudara di PapuaTerdapat perseteruan sengit antara pemerintah Indonesia dan Papua. Keduanya, bersaing ketat di setiap momen di kawasan Pasifik. Setiap pertemuan di Melanesia Spearhead Group (MSG) dan Pasifik Island Forum (PIF), kedua belah pihak jadi mata-mata. Indonesia sendiri hadir melalui organisasi Melanesia Indonesia (Melindo), sementara Papua bergerak di bawah United Liberation Movement of West Papua (ULMWP).

Keduanya, sama-sama bicara atas nama tanah dan manusia di West Papua. ULMWP melancarkan diplomasi untuk membawa aspirasi orang asli Papua ke dalam forum resmi di kawasan Pasifik.Mereka membawah isu-isu seperti pelanggaran HAM, pembungkaman ruang demokrasi, penangkapan dan penyiksaan terhadap aktivis dan masyarakat sipil, pembatasan ruang bagi jurnalis asing, pelanggaran di bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Arah Diplomasi ULMWP di Kawan Pasifik

Gerakan ULMWP terus mendorong isu kekerasan dan kejahatan pemerintah Indonesia di segala sektor. Lalu di dalam wadah tersebut, Oktovianus Motte, Benny Wenda, Andy Ayaimsemba, Rex Rumakiek, Yakob Prai, serta rekan-rekan lainnya mengangkat terkait genosida yang sedang berlangsung di West Papua. Gerakan ini meminta orang-orang dan petinggi di kawasan Pasifik, agar dapat memasukan agenda perjuangan orang asli Papua ke dalam forum dan pertemuan resmi.

Gerakan meminta kepada semua elemen di kawasan ini, seperti persekutuan gereja-gereja Pasifik, pimpinan organisasi MSG, PIF, dan NGO lainnya, agar dapat mendorong isu penentuan nasib sendiri bagi orang asli Papua Barat. Selain itu, mereka berharap agar isu dekolonisasi untuk West Papua dibicarakan di setiap kesempatan dimana-mana. Hari ini, ULMWP sudah berada bersama saudara kandung di Meleanesia. Wadah koordinatif ini sudah menduduki pada level yang stategis di kawasan Pasifik.

Sedangkan di dalam negeri, mereka juga sangat kuat. Karena tiga organisasi besar, yakni Parlemen Nasional West Papua (PNWP), Negara Republik Federal Papua Barat (NFRPB) dan West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL). Sejak 2014 lalu, membentuk ULMWP di Saralana, Vanuatu persatuan di dalam negeri semakin kuat. Suhu dan semangat kemerdekaan orang asli Papua semakin tinggi. Hal ini didukung karena semua faksi perjuangan di West Papua sudah bersatu dan terus terang mengatakan ingin lepas dari Indonesia.

Setiap momen penting, orang Papua terus menerus melakukan aksi damai yang bermartabat. Setaip peristiwa terus menyuarakan di dalam organisasi, forum dan persekutuan seperti Solidaritas Demokrasi Hukum dan Demokrasi Rakyat Sipil Papua (SDHDRP), Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Gerakan Pemuda dan Rakyat (GempaR Papua), Forum Independen Mahasiswa (FIM), Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Solidaritas Nasional Mahasiswa Papua (Sonamapa), dan masih banyak lagi.

Arah Diplomasi Melindo di Kawasan Pasifik

Sementara Melindo mewakili provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Organisasi ini lahir dan disahkan di Maluku pada Februari 2015 atas perintah Presiden Jokowi melalui mantan Menteri  Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy. Frans Alberth Joku bersama Nickolas Messet saat ini menjadi juru bicara pemerintah Indonesia kawan Pasifik.

Joko bersama Messet dikenal tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) sejak 1960-an. Mereka berdua keluar dari tanah kelahiran dan hijrah ke PNG menjelang PEPERA 1969. Komunitas Masyarakat Papua (KMP) yang berbasis di yahoo, menyebutkan bahwa keduanya kembali menyerahkan diri ke pangkuan NKRI. Joku dan Messet secara resmi sebagai warga negara oleh staf khusus wakil presiden RI H.M. Alwi Hamu, di Ifar Gunung, Sentani (23/2).

Aktivitas Joku dan Messet mati-matian memperjuangkan Melindo di MSG dan PIF tidaklah main-main. Status mereka sebagai orang asli Papua dan mantan tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM), menjadi tolak ukur serta patut diperhitungkan. Upaya pemerintah Indonesia lewat staf khusus wakil presiden RI (Jusuf Kalla), H.M. Alwi Hamudan mantan gubernur Papua, Barnabas Suebu (2007) patut diawasi. Karena berhasil mempengaruhi kedua tokoh ini kembali ke pangkuan NKRI dengan alasan membangun daerahnya sendiri.

Hari ini Joku dan Messet menjadi orang Orang terpengaruh di kawasan Pasifik. Keduanya telah beroperasi dalam forum KTT MSG pada Juni 2015 lalu di Honiara, Salomon Island. Mereka menunjukkan tekad agar Melanesia Indonesia menjadi anggota asosiasi di MSG.Tetapi baik Melindo maupun ULMWP tidak dapat diterima sebagai anggota di organisasi ini. Momen tersebut sempat menarik perhatian publik di kawasan Pasifik dan Indonesia. Karena kedua wadah ini saling bersaing untuk menjadi anggota sambil melempar isu persoalan di tanah West Papua.

Namun nama Melindo sekarang tak sehangat ULMWP. Melindo seperti tenggelam di tengah waktu. 2015 lalu, lobi Melindo di PNG dan Fiji cukup menakjubkan. Tetapi belakangan ini, kemudian nama Melindo jarang didengarkan lagi. Tetapi Melindo tidak pernah diam di tempat. Pemerintah Indonesia tidak perlu juga sibuk membendung gerakan pembebasan Papua Barat. Sebab, Indonesia telah berhasil merekrut pria yang kini mengelolah Independent Group Supourting Otonomous Regiont Of Papua Within Republik Indonesia (Ijssartri).

Baru-baru ini, Joku sempat memanaskan situasi pada pertemuan PIF di Samoa. Berikut Joku punya pernyataan:“Sangat disesalkan bahwa orang-orang di Kepulauan Pasifik tiba-tiba ingin membahas masalah Papua, sekarang,” kata Joku saat itu, dikutip dari Jubi. Joku dan Messet mendapat posisi atas nama Papua atas perintah Presiden Jokowi. Berdua, saat sudah menjadi diplomat untuk Indonesia, guna memperjuangkan Indonesia dalam kaitan isu-isu Papua Merdeka di kawasan Pasifik.

Bersama Messet, Joku pasti akan menguntungkan Indonesia di kawan Pasifik. Pemerintah Indonesia santai saja, karena posisi keduanya akan akan memberikan informasi yang baik demi kepentingan Indonesia. Keduanya, tidak main-main. Mereka berdua juga korban dari tindakan kekerasan dan kejahatan. Tahun 1969 jelang PEPERA melarikan diri ke PNG. Apalagi Joku pernah menjadi moderator dalam kongres PDP dan meseet 40 tahun di luar negeri gara-gara masalah status politik Papua.

Tentu keduanya tahu masalah Papua dan akan membantu Indonesia. Pemerintah cerdik memilih kedua tokoh yang disegani orang Papua saat ini. Mereka menunjukkan tekad kecintaan terhadap Indonesia sejak awal melalui diplomasi di MSG dan seluruh kawasan Pasifik. Mereka sudah hadir dan terus berpropaganda kepada orang Melanesia di Pasifik tentang Papua. Mereka menekankan bahwa Indonesia sudah memberikan kewenangan penuh melalui UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua dan Papua Barat.

Mereka terus bersikeras menyuarakan tidak ada kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang berujung pada pelanggaran HAM. Bahkan mereka juga berusaha meredam isu genosida di West Papua. Joku dan Messet juga terus mengatakan tidak ada penangkapan, penyiksaan, penembakan dan pembatasan ruang demokrasi. Mereka pun terus mengatakan tidak benar akses jurnalis asing masih tertutup. Hal ini sangat membantu Indonesia. Mereka tidak sekedar memihak Indonesia tetapi juga menunjukkan sikap untuk menarik simpati orang Papua lain di dalam dan luar negeri.

Perang Diplomasi Sesama West Papua

Pertarungan belum usai. Perlawanan antara Melindo dan ULMWP tidak sekedar perang diplomasi antara Indonesia dan Papua. Tetapi lebih dari itu adalah perang antar bangsa. Khusus di dalam kedua wadah ini, pemainnya sama-sama orang asli Papua. Mereka adalah orang-orang Melanesia yang lahir dan besar di West Papua. Mereka, baik di pihak melindo maupun ULMWP sama-sama orang pribumi yang mempunyai hak tanah, wilayah, dan masyarakat di West Papua.

Namun yang membedakan di sini kedudukan mereka di dalam organisasi yang berbeda. Kepentingan lah yang membuat mereka berpisah dan melakukan perlawanan atas nama dan untuk tanah dan manusia di West Papua. Mereka membawa nama Papua yang meliputi persoalan hidup luas. Ada yang mengakui keberagaman masalah. Ada pula yang menyebut, tidak ada masalah dengan orang Papua di dalam rumah Pancasila. Siapa saja bisa bingung, karena sama-sama tahu masalah di West Papua.

Pertarungan sesama Papua ini seperti di lapangan hijau. Katakanlah pertandingan sepak bola antar klub. Pemainnya adalah anak-anak Papua, yang tempo dulu latihan bersama di suatu tempat di Papua. Anak-anak Papua itu akan berpisah karena manajemen klub, mengontrak mereka. Klub, dicontohkan antara Persipura Jayapura dan Persija Jakarta. Mereka akan bermain di kompetisi Indonesia Super liga (ISL). Kemudian anak-anak Papua itu, main demi kepentingan klub masing-masing. Hubungan mereka sebagai sesama Papua akan dibatasi di dalam klubnya.

Anak-anak Papua yang bermain di Persipura maupun Persija, otomatis akan bermain dengan tiga kepentingan. Pertama, untuk kepentingan klub. Kedua, untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Kemudian yang ketiga, untuk harga diri dan martabat orang asli West Papua. Namun untuk nomor ketiga ini penuh pertimbangan. Khususnya, anak asli Papua yang bermain untuk di klub Jakarta. Anak-anak Papua yang bermain untuk Jakarta (Persija), pantas disebut setengah Jakarta dan setengah West Papua.

Kalau soal angkat martabat, anak-anak West Papua yang bermain untuk klub Jakarta tidak bisa gampang mengatakan, angkat harga diri dan martabat orang dari Sorong-Merauke. Mereka sebagian besar bermain untuk Persija, maka otomatis sebagian besar angkat harga diri dan martabat orang Jakarta. Derajat orang West Papua di Jakarta hanyalah ampas dari harga diri dan martabat orang Jakarta. Kalau disebut ada juga pengangkatan martabat dan harga diri orang kulit hitam, berarti itu hanya kembali kepada: kepentingan pribadi dan keluarga.

Pertarungan di lapangan hijau atau disini dapat disebut di kawasan Pasifik tidaklah main-main. Anak-anak Papua di Persipura, selain kepentingan klub dan pribadi, mereka akan memperjuangkan mati-matian nama baik salah satu klub dari Indonesia paling timur. Sementara anak-anak Papua Barat yang main di Jakarta, akan menunjukkan keahliannya, tidak seratus persen untuk angkat harga diri dan martabat orang Papua Barat. Mereka yang bermain untuk Jakarta, akan memenangkan pertandingan mati-matian demi nama baik klub Jakarta, bukan untuk mengangkat derajat orang Papua Barat.

Jakarta hanya sekadar pakai tenaga anak-anak Papua untuk kepentingan klubnya. Sementara Persipura Jayapura akan mempertaruhkan harga diri dan martabat di depan pemain untuk mati-matian memenangkan pertandingan. Bisa saja manajemen Persija Jakarta memanfaatkan anak-anak berambut keriting untuk melawan saudara kandungnya di lapangan hijau. Jika dikabarkan, rata-rata pemain berasal dari satu tanah air West Papua, orang bakal akan meramaikan dan menghabiskan waktu di tribun deretan kursi panjang.

Bila pemainnya terdapat dari anak-anak West Papua yang dulu latihan bersama, siapa pun akan heran. Bakal akan berkata: pertandingan hari ini bukan antara Jakarta dan Jayapura (Papua). Tetapi hari ini beda dari sebelumnya. Luar biasa, manajemen Jakarta (Persija) menurunkan dan memainkan semua pemain dari asal West Papua. Tentu orang di West Papua akan ramai. Tidak akan menahan perasaan. Soalnya, pemain kedua klub adalah anak-anak dari satu tanah air West Papua. Hanya bermain di lapangan hijau dari klub yang berbeda.

Tidak bisa menghentikan semangat orang West Papua, baik yang sering hanya mendengar dari media masa dan kata orang. Bahkan orang dari mana-manapun akan menyaksikan stadion. Orang akan menonton di televisi dan dengar dari radio serta membaca lewat Koran dan jejaring sosial (Facebook, Instagram, Twiter, dan Whats App). Barangkali pertandingan antar Persija dan Persipura dapat disamaratakan dengan pertarungan sengit, antara diplomasi Melindo dan ULMWP di Pasifik. Perang diplomasi ini persis: “Perang Saudara West Papua di Kawasan Pasifik.”

 

 

ditulis oleh Soleman Itlay, anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua

340 total views, 1 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment