Perempuan dan Perang dalam Wonder Woman

Perempuan dan PerangBagi mereka yang mengikuti perkembangan media massa, khususnya sinema, film Wonder Woman muncul menarik perhatian kita, dengan segala hal postif dan negatifnya serta pro-kontranya. Wonder Woman bukan film superhero(ine) perempuan pertama. Elektra, Cat Woman, dan lainnya sudah mendahuluinya. Belum kalau kita menghitung serial televisi. Jessica Jones dari Marvel bahkan sudah lebih dahulu ada. Pengecualiannya di sini adalah Wonder Woman merupakan film superhero dengan perempuan pahlawan super yang berasal dari posisi major/utama dan bukannya dari posisi rekanan/sidekick, sasaran asmara/romantic interest, rival atau musuh apalagi anti-musuh/anti-villain dari pahlawan super laki-laki yang sebelumnya ada. Tidak seperti Elektra yang keberadaannya ada karena ada Dare Devil dan Cat Woman yang keberadaannya ada karena hubungan dengan Batman. Wonder Woman menduduki posisi setara dengan Superman dan Batman. Kesetaraan ini kemudian menjadi basis bagi banyak orang untuk bicara mengenai kontribusi Wonder Woman dalam pembicaraan mengenai persoalan perempuan.

Soal perang juga menjadi isu hakiki selain isu perempuan yang diusung dalam Wonder Woman. Kita bisa melihatnya dalam plotnya. Plot Wonder Woman sebenarnya sederhana dan tidak muluk seperti Batman v Superman ataupun Man of Steel. Diana Prince yang bekerja di Museum Louvre Paris Prancis menerima foto dari Bruce Wayne yang menampilkan dirinya bersama rekan-rekan perjuangannya dalam Perang Dunia (PD) I. Dari situ ia bernostalgia. Dari sanalah film ini menjadi origins story atau kisah asal-usul (Wonder Woman). Diana lahir dan dibesarkan di pulau Themyscira yang dihuni oleh para pejuang Amazon. Para perempuan yang diciptakan Zeus untuk menjaga umat manusia dengan misi menjadi jembatan bagi manusia untuk mencapai pencerahan. Namun Ares, sang dewa perang, menyesatkan manusia dan mengadudomba mereka untuk menunjukkan betapa salahnya Zeus dan betapa bejatnya manusia sehingga pantas dimusnahkan. Sebagai akibatnya kaum Amazon turut diperbudak oleh manusia. Hippolyta kemudian memimpin kaum Amazonia mengobarkan pemberontakan anti-perbudakan. Sementara itu Ares bentrok dengan para dewa lainnya dan membunuh sebagian besar dari mereka namun akhirnya berhasil dikalahkan Zeus. Zeus yang menang tapi sekarat akhirnya menciptakan pulau Themyscira sebagai suaka dan perlindungan bagi kaum Amazon yang tersembunyi dari dunia manusia. Hippolyta yakin Ares tak akan kembali dan menentang Diana yang ingin berlatih seni perang namun Antiope, salah satu jenderal kaum Amazon berpikir sebaliknya. Diana kemudian dilatih diam-diam oleh Antiope sampai ketahuan oleh Hippolyta dan dalam perdebatan di antaranya akhirnya ia merestuinya. Beberapa saat kemudian suatu pesawat jatuh di perairan Themyscira. Diana menyelamatkan pilotnya yang bernama Steve Trevor, seorang mata-mata Sekutu yang menyamar sebagai tentara Jerman. Namun kejatuhan Steve ini disusul pasukan Jerman yang mengejarnya. Pecahlah konfrontasi antara para pejuang Themyscira dan pasukan Jerman. Meskipun pasukan Jerman berhasil dikalahkan namun Antiope gugur dalam pertempuran. Setelah perdebatan sengit dalam dewan Amazonia, Diana yang meyakini Ares sebagai biang keladi PD I dan berbagai pelanggaran HAM di dalamnya akhirnya mengambil keputusan sepihak untuk meninggalkan Themyscira, mengembalikan Steve Trevor, dan terjun dalam PD I untuk membunuh Ares agar penjagalan manusia ini bisa berhenti.

Wonder Woman dan Isu Perempuan

Problemnya, cukup mudah bagi mereka yang melihat pakaian minim Wonder Woman untuk serta merta mencapnya sebagai objektifikasi (tubuh) perempuan dan komodifikasi sensualitas. Namun Patty Jenkins, sang sutradara Wonder Woman sama sekali tidak mempotret, membingkai, dan menampilkan Wonder Woman secara demikian. Patty Jenkins tidak menampilkan adegan tersingkapnya celana dalam Wonder Woman, tidak mengekspos belahan dada Diana, bahkan tidak memberikan gestur genit-merajuk-merayu-manja sama sekali untuk dipraktikkan dalam kecakapan seni peran oleh Gal Gadot—itu saja sudah cukup menunjukkan bahwa sosok Wonder Woman/Diana Prince/Gal Gadot di film ini tidak ditampilkan secara seksis. Betapa berbedanya bila dibandingkan misalkan dengan Cat Woman/Selena Kyle (di waralaba komik DC The New 52), Taki dalam waralaba “game” Soul Calibur Namco, bahkan sosok Harley Quinn di film Suicide Squad. Tentu saja seseorang bisa berkomentar betapa tidak realistisnya baju zirah Wonder Woman karena begitu minim dan tidak banyak melindungi malah menampilkan banyak bagian tubuh pemakainya. Namun komentar demikian jelas menafikan bagaimana terdapat banyak petarung yang memilih zirah minim, mengorbankan perlindungan maksimal untuk mendapatkan kecepatan dan daya gerak maksimal. Para pejuang Sparta dalam film 300 misalnya. Bahkan suku Dothraki sama sekali tidak memakai zirah—berbanding terbalik dengan para ksatria Westeros di Game of Thrones.

Diana sang Wonder Woman sendiri tampil tidak hanya sebagai perempuan kuat dan menguasai seni bela diri sekaligus seni bertempur. Melainkan juga sebagai perempuan polos. Polos dalam pengertian murni, bukan lugu, bukan naif apalagi bodoh. Sebagai seseorang yang datang dari Themyscira—komunal fiktif tanpa adanya masyarakat kelas sekaligus tanpa seksisme—Diana yang kemudian memasuki dunia Steve Trevor—dunia kapitalistis penuh penindasan, penghisapan, perang, pencemaran, serta tentu saja penindasan terhadap perempuan—mengajukan pertanyaan-pertanyaan polos yang sebenarnya (bila dilihat dari kacamata penonton) bisa dimaknai sebagai pra-gugatan kritis terhadap segala bentuk barbarisme (yang dinormalisir) sehari-hari dan hegemoni tirani.

Wonder Woman dan Isu Perang

Patty Jenkins mencoba menyerupai George R.R. Martin, dengan sengaja menghindari klise konflik hitam vs putih alias baik lawan jahat. Oleh karenanya ia mengambil latar bukan PD II (seperti di seri komiknya) yang lebih mudah dijadikan basis konflik baik vs jahat dimana negara-negara Sekutu melawan negara-negara Poros yang terdiri dari rezim-rezim fasis melainkan mengambil latar PD I. Maka meskipun kita bisa menemukan tokoh antagonisnya berupa Erich Ludendorff—Jenderal Kekaisaran Jerman megalomaniak, ambisius, sekaligus doyan perang, Isabel Maru alias Dr Poison—sang ilmuwan dari Spanyol yang terobsesi gas beracun, senjata biologis, dan pemusnah massal, serta Ares sang dewa jahat, sebagai sesuatu yang kelihatannya tipikal dan klise, namun Petty Jenkins mengemasnya dengan menampilkan kompleksitas watak berikut ambiguitas moralnya.

Luddendorf dalam Wonder Woman merupakan seorang Jenderal yang menentang penghentian PD I lewat perjanjian damai. Ia meyakini Jerman bisa membalik keadaan dengan penggunaan gas beracun berbahan dasar hidrogen yang dikembangkannya bersama Dr Maru. Semua ini didorong oleh pandangannya yang memuja perang. Ia meyakini bahwa perang membuat manusia menjadi lebih baik, mendorongnya menjadi gagah berani, serta menuntut pengorbanan. Baginya perdamaian hanyalah jeda antara perang. Meskipun penggunaan obat hirup penambah kekuatannya dalam film Wonder Woman merupakan hal sepenuhnya fiktif namun ideologi dan pandangan yang dianutnya, bahkan juga sosoknya sendiri, merupakan tokoh sejarah yang benar-benar ada. Selain merupakan Jenderal Jerman, Ludendorff atau lengkapnya Erich Friedrich Wilhelm Ludendorff, adalah biang keladi penyebar teori konspirasi yang menuduh bahwa kekalahan Jerman dalam PD I akibat ditusuk dari belakang oleh pengkhianatan kaum Marxis, Bolshevik, dan Yahudi terhadap tentara Jerman. Kelak ia akan berpartisipasi dalam kudeta gagal Wolfgang Kapp tahun 1920 dan Beer Hall Putsch bersama Adolf Hitler tahun 1923. Ludendorff baik dalam fiksi maupun dalam dunia nyata merupakan seorang Darwinis Sosial yang meyakini bahwa perang adalah fondasi masyarakat manusia dan kediktatoran militer adalah bentuk pemerintahan ideal. Karakter Ludendorff dalam dunia nyata adalah pengingat bahwasanya seorang penjahat tidak perlu memiliki kekuatan super secara komikal untuk menjadi super-villain atau penjahat super. Seseorang yang punya kepentingan menindas dengan akses luas terhadap kekuasaan (baik politis maupun militer) merupakan super-villain nyata itu sendiri. Oleh karena itu pemberian kekuatan super lewat obat hirup kepada Ludendorff dalam film Wonder Woman bukan hanya tidak perlu alias mubazir. Namun juga komikalisasi sekaligus karikatur terhadap Ludendorff di dunia nyata itu sendiri. Bahkan penekanan film terhadap pemujaan perang dan Darwinisme Sosial Ludendorff dilakukan sedemikian rupa dengan menghapuskan ideologi nasionalisme dari Ludendorff. Nasionalisme imperialistis yang sama yang digunakan untuk mengadudomba rakyat untuk maju membunuhi satu sama lain dengan dalih bela negara padahal sebenarnya demi kepentingan imperialisme yang saling berebut jajahan, penghisapan, dan kekuasaan.

Upaya film Wonder Woman untuk menegaskan karakter penjahat yang berbeda dengan stereotip umum juga tampak dalam karakterisasi tokoh-tokoh penjahat lainnya. Karakter Dr Maru di samping merupakan ilmuwan perang pengembang senjata biologis gas beracun memiliki sisi lain berupa kegagalan kehidupan personal dan ketergantungan emosionalnya terhadap Ludendorff yang tidak sehat. Bahkan Ares sendiri, dalam kebenciannya terhadap manusia dan keinginannya untuk memusnahkan mereka, didorong tujuan paradoks ganjilnya untuk mengembalikan bumi menjadi nirwana yang lestari—bebas perang dan pencemaran oleh manusia. Betapa ironisnya melihat bahwa alterego Ares dalam film bukanlah seorang jenderal perang melainkan diplomat juru damai.

Kompleksitas ini juga diberlakukan pula pada tokoh-tokoh protagonis. Diana yang menggugat Chief, seorang penyelundup yang berdagang dengan kedua belah pihak, sebagai orang apatis karena tidak mau terlibat dalam PD I kemudian tertegun saat mendengar Chief menyatakan bangsanya (indian/pribumi Amerika/suku Black Foot) sudah kalah perang dan tanah airnya dijajah oleh bangsanya Steve Trevor yang kini dibela Diana. Maka pada momen itu ada kesempatan untuk memblejeti PD I sebagai konflik antar imperialis. Namun sayang kesempatan itu menguap begitu saja.

Masih terkait ini harus diakui tidak banyak film superhero yang menampilkan pribumi Amerika dengan dialog pembuka berbahasa Black Foot dan mengenalkan diri dengan nama Napi—nama tokoh mitologis pribumi Amerika. Dari sana kita bisa melihat dalam film ini Patty Jenkins berusaha menerapkan keanekaragaman atau diversitas identitas. Setidaknya dalam identitas ras. Selain Steve Trevor yang merupakan mata-mata Amerika dan Etta Candy sekretaris Inggris, ada Sameer—agen rahasia Prancis Moroko, Charlie—penembak jitu dari Skotlandia, Isabel Maru—ilmuwan Spanyol, dan tentu saja Diana—sang Wonder Woman dari Amazonia. Penerapan diversitas identitas dalam film Wonder Woman cukup berhasil tanpa kesan dipaksakan. Ini menempatkan Wonder Woman dalam keberhasilan yang sama dengan Rogue One: Star Wars dan Crazy Ex Girl Friend. Tidak seperti Modern Family yang diversitas identitasnya adalah sekumpulan poin untuk dicentang. Tidak seperti reboot Ghost Busters yang diversitasnya mengandung rasisme dan menjadikan identity swap/gender swap atau ganti gender sebagai komoditas. Tidak seperti Two Broke Girls yang diversitasnya adalah sekumpulan stereotip untuk dijadikan bahan tertawaan.

Dalam tulisan “Heroisme Super Hero” yang mengulas film “Batman v Superman: Dawn of Justice”, saya menulis hal berikut: “Epos super hero atau pahlawan super berdiri di atas dua kaki. Pertama, pemahaman bahwasanya kejahatan dan kriminalitas hanya bisa dihadapi dengan baku hantam. Kedua, heroisme atau kepahlawanan dangkal yang mengidap messiah complex/sindrom juru selamat/delusi ratu adil dengan memandang massa hanya sebatas objek lemah nan tak berdaya (tanpa potensi sekaligus kemampuan aksi kolektif) dan selalu perlu diselamatkan.” Film Wonder Woman kali ini bukanlah pengecualian. Meskipun, harus digarisbawahi, kadarnya jauh lebih rendah dibandingkan film-film superhero lainnya.

Namun betapapun mendesaknya isu-isu yang disinggung film Wonder Woman dan betapapun progresifnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Diana, muatan film ini sama sekali jauh dari watak revolusioner. Sebagai seseorang (sekaligus kisah) dengan tekad mengakhiri perang, Wonder Woman sama sekali tidak menampilkan aktor utama yang sebenarnya mengakhiri perang imperialistis PD I di dunia nyata: revolusi. PD I tidak diakhiri dengan kemenangan militer Sekutu yang maha perkasa dan digdaya melainkan diakhiri karena kelas buruh Rusia yang muak karena harus menanggung beban derita perang Imperialis memutuskan bukan hanya PD I harus berakhir namun tirani kapitalisme juga harus mampus. Desersi dan pembangkangan prajurit marak di banyak front. Bukan hanya para prajurit Rusia—mayoritas dari kalangan buruh dan tani miskin yang kena wajib militer—yang muak menanggung kedinginan, kelaparan, dengan ransum yang membusuk dan digigiti kutu-kutu dalam parit-parit perang, yang kemudian memilih menelantarkan front, pulang, dan bahkan banyak yang memberontak terhadap para perwira atasannya, namun juga para prajurit Jerman dan banyak negara lain peserta PD I. Kita bisa mengingat kisah sendu haru tentang para prajurit Jerman dan Inggris yang gencatan senjata sebentar di malam natal untuk bermain bola. Kisah sendu haru yang menunjukkan bahwa sesama rakyat miskin lebih punya banyak kesamaan meskipun berbeda kebangsaan. Wonder Woman gagal mengangkat hal ini.

Sebagai film yang mengangkat tema anti perang, Wonder Woman juga gagal mengangkat gerakan anti perang itu sendiri. Kaum Pasifis Kristen, Nasionalis Irlandia, organisasi-organisasi perempuan, seniman anti perang, apalagi anarkis, sindikalis, dan sosialis yang menentang PD I, tidak disinggung sama sekali. Dengan demikian jatuh pada narasi idealis bahwasanya seluruh manusia mudah dihasut dan diadudomba Ares sang dewa perang.

Kontradiksi Fiksi dan Fakta

Kegagalan ini lebih parah lagi kalau kita melihat pemilihan Gal Gadot sebagai Diana—sang Wonder Woman. Lewat film, Diana menyatakan ingin melawan perang dan menghentikan Ares agar manusia tidak lagi diadudomba untuk saling membunuh. Namun ironisnya Gal Gadot yang dipilih untuk memerankan Diana/Wonder Woman justru merupakan Zionis yang bukan hanya terang-terangan mendukung Israel namun juga mengaku bangga pernah mengabdi wajib militer di Israel Defense Force (IDF).

Zionisme, ideologi yang mendasari berdirinya negara Israel, muncul pada akhir abad ke-19 sebagai reaksi atas anti-Semit Eropa dan gelombang razia anti-Yahudi. Sebagai reaksi atas penganiayaan yang dihadapi oleh kaum Yahudi di bawah kekaisaran Astro-Hungaria dan Rusia, sebagian kecil kelompok borjuis picik Yahudi Eropa mulai mengusulkan ide bahwa anti-Semit bukanlah hasil dari perkembangan sejarah namun adalah keadaan yang tidak terelakkan selama orang-orang Yahudi hidup di antara non-Yahudi. Selanjutnya, para Zionis memulai kampanye mereka untuk mendirikan tanah air “nasional”, terlepas dari fakta bahwa mereka bukan merupakan sebuah bangsa, namun kelompok agama dan budaya. Dan dipilihlah Palestina sebagai lokasi tanah air itu di antara berbagai alternatif lokasi.

Sebelum, selama, dan setelah peletakan dasar-dasar Israel, gerakan Zionisme berupaya menguasai sebanyak mungkin wilayah (yang dulunya) Palestina, mendirikan populasi pemukim permanen dengan mengeliminasi dan menggantikan populasi asli rakyat Arab Palestina. Masyarakat koloni-pemukim seperti ini jelas merupakan tipe formasi imperialis, yang mana ditujukan untuk menghapus ras populasi asli masyarakat melalui jalan apapun, termasuk pemusnahan etnis, genosida, dan/atau asimilasi.

Maka tidak heran bila pada Perang Gaza 2014 lalu, saat ketika dunia terhenyak oleh kekejian Israel yang melakukan serangan militer ke Jalur Gaza, Gal Gadot mendukung militer Israel secara terang-terangan melalui media sosialnya, “Aku mengirimkan cinta dan doa pada rakyat Israelku, terutama pada laki-laki dan perempuan yang mempertaruhkan hidup mereka melindungi negaraku melawan tindakan keji Hamas, yang bersembunyi di balik wanita dan anak-anak. Kita bisa melaluinya!! Shabbat Shalom! #weareright #freegazafromhamas #stopterror #coexistance #loveidf”. Sudut pandang yang sangat jauh bertentangan dengan fakta bahwa saat itu Israel melakukan serangan udara bertubi-tubi tanpa pandang bulu dan invasi darat yang brutal. Selama 50 hari serangan, secara keseluruhan, serangan itu membunuh 1.545 rakyat Palestina yang tinggal di Jalur Gaza, termasuk 556 anak-anak di antaranya, dan membuat 11.166 keluarga kehilangan tempat tinggalnya. Sebenarnya Israel lah yang keji di sini.

Sangat kontradiktif bila disebut bahwa tentara Israel mempertaruhkan hidupnya, karena militer Israel sang pencabut nyawa. Hari ini, Israel merupakan salah satu dari kekuatan militer terkuat di dunia. Menurut ranking dari Global Firepower pada 2014, kapabilitas militer Israel menduduki ranking 11 dari 133 negara, empat posisi lebih banyak dari Kanada, dan Sembilan posisi lebih banyak dari Australia. Sejak Perang Dunia Kedua, Israel menjadi penerima bantuan luar negeri terbanyak AS. Pada 2016, AS menandatangani perjanjian baru berupa bantuan militer berjangka waktu 10 tahun dengan Israel, dengan nilai terbanyak dalam sejarah Amerika Serikat, bernilai 38 miliar dolar AS. Perjanjian itu lebih banyak 27 persen dari perjanjian bantuan militer antara AS dan Israel sebelumnya, yang ditandatangani pada 2007.

Sebagai Wonder Woman, Gal Gadot dengan penuh semangat menegaskan dirinya sebagai

Pelindung perempuan dan anak-anak. Namun dari keterangan unggahannya, dia tidak seperti itu bagi perempuan dan anak-anak Gaza yang tidak berdosa. Ini tidak hanya mengenai Perang Gaza ada 2014, namun juga selama penindasan yang dilakukan Israel pada Palestina selama 69 tahun terakhir. Perempuan, anak-anak, dan keluarga Palestina harus menanggung beban kematian, kehancuran, dan keputus asaan. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai pernyataannya yang tidak sensitive itu, ia menghindari dan memilih tidak menjawab pertanyaan mengenai rasisme dan zionisme.

Gal Gadot menggambarkan pengabdian yang naif di IDF, pengabdian dianggap sesuatu yang mulia, bukan menunjukkan adanya keterlibatan dalam tindakan kriminal skala besar. Ini adalah pengabaian mengenai betapa seriusnya pendudukan Israel terhadap Palestina. Sangat berkontradiktif terhadap keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab kepada keadilan yang secara terus menerus ditunjukkan oleh Diana. Diana merasa terpanggil oleh keadilan, namun aktris yang memerankannya justru berpaling darinya. Nilai-nilai inti dari karakter ini tidak muncul dalam dalam apa yang dipercayai aktrisnya sendiri. Wonder Woman, secara esensial, melambangkan kebenaran. Kebenaran yang dengan tegas disangkal dan dihapus Gal Gadot. Kebenaran bahwa sejak 1948, negara Israel telah secara sistematis mengusir, membantai, dan memenjarakan sebagian besar anak-anak dan rakyat sipil yang rentan.

Menurut Vanity Fair, Gal Gadot mengabdi selama dua tahun saat terjadi Perang Israel-Hizbullah pada 2006. Peperangan yang terjadi selama 34 hari itu berlangsung di sepanjang perbatasan Lebanon dan bagian utara Israel. Perang itu sendiri menewaskan 119 tentara Israel, sebagian besar tewas saat serangan memasuki Lebanon, dan sekitar 40 rakyat sipil Israel. Serta lebih dari 1.000 rakyat Lebanon tewas dalam perlawanan, sebagian besar dari mereka adalah rakyat sipil.

Selama wajib militer, Gal Gadot bertugas sebagai pelatih pertarungan dan dengan sadar pengetahuannya akan senjata digunakan untuk mendapatkan peran dalam film-filmnya.

Mereka yang ingin berusaha memisahkan seniman dari karya seni, termasuk dengan dalih konsep Death of Author atau Matinya Penulis, patut ditanya pandangannya soal kontradiksi fiksi dan fakta yang memunculkan kemunafikan. Bila kita bisa menerima sinema bertema anti-perang dengan tokoh utama pendukung imperialis, maka bisakah kita menerima sinema bertema anti-kekerasan seksual dengan tokoh utama pendukung pelaku kekerasan seks? Seseorang bisa dengan mudah menolak diceramahi oleh seorang pendosa, namun bagaimana bisa kita menerima sinema anti-perang dari seorang pendukung penjajah dan penjahat perang?

 

 

ditulis oleh Leon Kastayudha, kader KPO PRP, dan Aghe Bagasatriya, anggota Solidaritas Rakyat untuk Pembebasan Palestina (SRuPP).

1,814 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment