Lebaran: Melawan Ilusi Perdamaian Kelas dan Memperkuat Perjuangan Kelas Pekerja

Lebaran Anti RasisSetiap tahun umat Muslim menjalankan satu bulan penuh puasa, dimana artinya dari imsak sampai maghrib berpantang makan dan juga minum serta menahan hawa nafsu dan menjauhi  hal-hal lain yang dilarang. Setelah sebulan penuh berpuasa, umat muslim di dunia merayakan hari raya Idul Fitri yang di Indonesia populer disebut Lebaran. Lebaran seringkali menjadi momentum maaf memaafkan. Seluruh media informasi menjadi tempat bagi masyarakat untuk saling memaafkan. Namun, tradisi ini tidak berlaku bagi kelas buruh dan pemilik modal. Sebanyak 414 Awak Mobil Tangki (AMT) dipecat secara sepihak oleh PT Pertamina Patra Niaga—perusahaan milik PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang perdagangan BBM, pengelolaan BBM, pengelolaan armada dan pengelolaan depot—26 Mei lalu. Begitupun dengan ratusan buruh PT Shinwoo Indonesia di Kampung Babakan, Desa Deyeuh, Kecamatan Cilungsi, Kabupaten Bogor yang sampai tanggal 22 Juni 2017 kemarin upah dan THR-nya tidak kunjung dibayar oleh pemilik perusahaan. Tradisi saling memaafkan tersebut juga tidak berlaku bagi militer dan pemerintah Indonesia yang tanpa ampun sudah membantai ribuan jiwa bangsa papua yang tengah memperjuangkan hak menentukan nasib sebagai solusi demokratis. Sekali lagi, tradisi saling memaafkan dalam lebaran tidak punya ruang hidup dalam sistem kapitalisme. Sistem yang membuat penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa masih terjadi. Kuasa atas alat-alat produksi berada ditangan segelintir orang yang memiliki modal serta kekayaan dihasilkan dan dimonopoli konglomerat, pejabat, dan aparat, dengan cara menghisap, memeras, dan menindas kelas bawah.

Maka dari tahun ke tahun Lebaran menjadi momentum yang sulit bagi kelas buruh. Satu sisi, ia harus memikirkan untuk membeli pakaian baru untuk keluarga serta menyiapkan hidangan bagi sanak saudara yang datang berkunjung. Belum lagi memikirkan biaya untuk kembali ke kampung halaman. Sementara upah tidak sebanding dengan kebutuhan. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan belum adanya sistem transportasi massal yang aman, layak, berkualitas tinggi dan terjangkau bagi seluruh rakyat.

Berbondong-bondong rakyat memenuhi tempat perbelanjaan, kebanyakan dari mereka adalah keluarga buruh. Seluruh barang-barang yang sebelumnya tertumpuk digudang akibat over produksi, kembali dikeluarkan dan dijual dengan harga yang sesuai dengan kantong rakyat pekerja. bahkan beberapa diantaranya tidak mampu untuk membeli pakaian baru. Untuk mengidealisir hal tersebut nyanyian-nyanyian seperti “baju baru.. Alhamdulillah, untuk dipakai, dihari raya.. tak adapun tak apa-apa, masih ada baju yang lama…” di kumandangkan. Kaum buruh di paksa untuk menerima penindasan terhadapnya dan ketimpangan sosial yang terjadi sebagai takdir.

Pewarnaan bulan suci dan hari kemenangan benar-benar telah nampak menjadi sarang keuntungan akumulasi kapital yang dilakukan para kelas borjuis, hal yang harusnya di maknai sebagai kemenangan dari penindasan di masa Muhammad saat membebaskan sikap jahiliyah dari sukunya sendiri Quraisy. Iya sekali lagi kemenangan yang dari penindasan.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampui, nampaknya Idul Fitri atau hari-hari raya lainnya menjadi kemenangan bagi kelas borjuis bukan hanya kemenangan secara ekonomi juga secara ideologi, konsumserisme dan hedonisme menjadi alat yang pas untuk mendistorsi makna Idul Fitri, yang seharusnya menggali secara historis pembebasan yang dilakukan Muhammad dari barbarisme yang dilakukan suku Quraisy. Hilangnya arti penting pembebasan kini menjadi pesta belanja. Berpesta untuk pembebasan dari perang yang tidak diketahui.

Konsumerisme telah menjadi sebuah ilusi perangkap bagi rakyat pekerja dalam memaknai sebuah hari raya nan suci. Sisi lain justru ini adalah hal yang sangat dibutuhkan kelas borjuis baik dalam menanamkan ideologi beserta tradisinya juga mengakumulasi kapital yang mereka miliki. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi, sebuah kontradiksi dalam ajaran agama bahkan dibulan yang suci.

Ekonomi yang berbasiskan pada kepmilikan modal, artinya dimana segala proses produksi hingga distribusi diatur oleh mereka-mereka yang mempunyai modal dengan dibantu oleh kaki tangan mereka yaitu negara. Membuat modal yang telah dikucurkan menjadi barang-barang untuk diakumulasi (keuntungan) yang sebesar-besarnya. Artinya kembali lagi pihak borjuis tidak mempedulikan atau malah makin keranjingan dan senang atas gejolak sosial dimana permintaan naik berkali-kali lipat, itu pula ajaran-ajaran agama tentang penghambatan akumulasi modal yang mereka miliki akan semakin diasingkan.

Hanya dengan sistem ekonomi terencana lah, dimana alat-alat produksi seperti pabrik, tanah, transportasi, serta lainnya dan juga produksi dan distribusinya berada di bawah kontrol rakyat pekerja atau kelas proletar, dan akan berdasarkan kebutuhan bukan keuntungan.

Ini juga dimanfaatkan oleh kaum-kaum fundamentalis. Faksi lain dari kelas borjuis ini malah lebih parah dalam mendistorsi pembebasan-pembebasan yang dilakukan oleh Muhammad dijamannya, mereka malah menggunakan umat Islam dengan kekuatan mayoritas populasinya, untuk memupuk politik Rasisme.

Setelah kelas pekerja, diilusi dengan koonsumerisme, kini mereka juga diilusi oleh politik Rasisme. Baru saja kita menyaksikan pertarungan pilkada DKI Jakarta. Pertarungan dua faksi borjuis kaum fundamentalis dengan tokohnya Rizieq Syihab dan kaum nasionalis dengan tokoh yang kalah, Ahok. Demi mengalahkan Ahok, kaum fundamentalis menggunakan isu-isu rasisme yang sangat-sangat tercela dan menjijikan. Di satu sisi, serangan sebaliknya justru menggunakan slogan-selogan Nasionalisme seperti “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Keduanya—secara hakikat—jelas tidaklah berbeda. Baik kubu Ahok dan kaum fundamentalis yang menyerang Ahok, sama-sama berusaha mengalihkan akar dari persoalan masyarakat kelas saat ini, yakni penguasaan atas alat-alat produksi di tangan segelintir pemilik modal, yang mengakibatkan kesenjangan sosial, kemiskinan, penggusuran, PHK dan upah murah.

Sangatlah ahistoris sekali bila ingin memuliakan agama dengan rasisme, dimana Muhammad melakukan sebuah gerakan yang global untuk membebaskan manusia dari sikap barbarisme, keresahan Muhammad terhadap kondisi suku Quraisy yang barbar membuat dia melakukan sebuah gerakan perlawanan terhadap sukunya sendiri, hingga hari ini agama yang dibawa oleh Muhammad masih ada dimana-mana dan oleh siapa saja boleh memeluk agama tersebut tidak peduli dia dilahirkan dari rahim suku bangsa apa.

Kemudian kita lihat hari ini kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu berlaku selayaknya bahwa siapapun asal dia seiman adalah benar, tak peduli dari kelas mana dia berasal, borjuis atau pekerja (proletar), inilah kontradiksi secara ahistoris yang dibuat oleh kelompok-kelompok fundamentalis untuk menumbangkan faksi borjuis lainnya, jika dibiarkan saja maka fasisme di Jerman yang dibawa oleh Hitler dengan isu rasisme dan genosida terhadap kelompok Yahudi akan terulang.

Tidak tuntasnya pemisahan agama dari Negara merupakan bagian permasalahan yang lebih besar. Dalam masyarakat pra-kapitalis, khususnya saat monarki absolut masih berdigdaya, tidak ada kebebasan beribadah dan beragama. Kerajaan memiliki agama resminya. Ini berdasarkan persekutuan antara raja-raja, yang pada hakikatnya berasal dari kelas tuan tanah, dengan kaum elit agamawan. Hubungan simbiosis ini membuat kaum elit agamawan mendapatkan hak-hak istimewa sekaligus monopoli tafsir keagamaan serta hegemoni terhadap massa di satu sisi serta di sisi lain membuat raja-raja mendapatkan pembenaran dengan sokongan klaim agama, misalnya dengan cap bahwa raja adalah perwakilan Tuhan di muka bumi. Konsekuensinya siapapun yang mengkritik apalagi melawan raja disamakan dengan menentang agama dan Tuhan.

Kapitalisme di Indonesia lahir akibat dibawa masuk melalui perluasan kapital eropa, tidak seperti di Eropa, lahir dari  perlawanan terhadap Feodalisme. Itu pula mengapa revolusi demokratis yang ditandai dengan proklamasi 1945, belum utuh. Tugas-tugas revolusi demokratis nasional pada hakikatnya adalah penggulingan feodalisme dan monarki serta membentuk kapitalisme. Secara lebih rinci memuat penghapusan feodalisme dan penghambaan, reforma agraria, penghapusan monarki dan pembentukan parlemen demokratis, pembentukan negara bangsa dengan batasan-batasan wilayah dan pasar nasionalnya, pembebasan nasional, modernisasi masyarakat, serta industrialisasi. Termasuk di dalamnya adalah penerapan sekularisasi atau pemisahan agama dari negara yang terkait erat dengan jaminan dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) khususnya kebebasan beragama dan beribadah.

Sekularisme menjadi jawaban atas politik Rasisme yang berkembang di Indonesia. Mengutip kata-kata Lenin dalam Sosialisme dan Agama: “…agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan.” Kita menuntut pemisahan antara agama dan Negara, dimana agama akan menjadi urusan internal masing-masing pemeluk agama bersangkutan. Kita mendukung kebebasan bagi setiap orang untuk “menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun…” termasuk juga mendukung kebebasan berkeyakinan bagi setiap orang. Kebebasan beragama dan menjalankan agamanya bagi setiap orang, entah itu Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Baha’i, Sikh, Syiah, Sunni, Ahmadiyah, serta agama-agama lainnya termasuk kepercayaan dan agama-agama tradisional yang ada.  Namun hal itu tidak akan terwujud tanpa ada suatu rombakan tatanan masyarakat yang berbasiskan pada kelas yang paling tertindas yaitu kelas pekerja.

Marilah kita kembali kepada pokok pembahasan. Lebaran tidak boleh kita biarkan menjadi ajang bagi kaum fundamentalis dan kelas borjuis sebagai momentum untuk mendamaiakan pertentangan kelas yang terajadi. Karena, itu sama saja, memperpanjang penindasan dan penghisapan yang dialami kelas pekerja. Kelas buruh tidak dihisap karena agamanya. Karena itu tidak ada kewajiban kelas pekerja memerangi agama lain. Kelas borjuislah yang selama ini menyebabkan kelas pekerja berdoa dalam keadaan terasing. Pemilik modal telah menyebabkan kelas pekerja tidak dapat merayakan lebaran dengan suka cita. Kapitalisme telah merenggut kebahagiaan mayoritas rakyat demi peningkatan kekayaannya. Karena itu, tidak ada perdamaian hakiki dalam kapitalisme. Karena itu, kaum sosialis berkepentingan untuk memperkuat perjuangan kelas pekerja. Membawa kembali kelas pekerja pada tugas historisnya. Menumbangkan kapitalisme yang menghisap.

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri!
Rahmat dan Hidayah bagi Proletariat
Sekularisasi dan Kebebasan Beragama-Beribadah bagi Semua Umat!
Internasionalisme, Solidaritas, dan Persatuan Perjuangan Kelas Lintas Iman dan Agama!
ditulis oleh Ahmad Ridwan, Anggota Lingkar Studi Kerakyatan

500 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment