Yesus Sang Revolusioner?

Yesus di Bait AllahKongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO PRP) mengucapkan kepada seluruh umat Kristiani selamat memperingati Jumat Agung pada 14 April 2017 dan Hari Raya Paskah pada 16 April 2017. Berikut kami terbitkan artikel terjemahan bahasa Indonesia dari “Jesus The Revolutionary?” yang sebelumnya diterbitkan socialistworker.org untuk bacaan bagi kawan-kawan rakyat-pekerja dari umat Kristiani.

———-

ditulis oleh Phil Gasper.

 

Dalam sebuah forum yang diadakan di gereja Iowa (Negara Bagian AS) pada akhir November 2011, sebagian besar kandidat Partai Republik terkemuka menyatakan keyakinan ke-Kristenan mereka untuk saling menjatuhkan satu sama lain dalam konvensi pemilihan Presiden. Menurut majalah Financial Times, “Para calon … bersaing untuk menggambarkan bagaimana Tuhan telah memimpin mereka ke dalam politik dan memotivasi mereka menjalankan pemilihan kandidat dari Partai Republik.”

Tapi seberapa dekatkah pandangan para politisi sayap kanan kontemporer yang ingin memangkas anggaran publik yang menguntungkan kaum miskin di satu sisi dan di sisi lain memotong pajak kaum kaya—dengan pandangan Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi jelas jika kita meneliti asal-usul Kristianitas.

Kami memiliki bukti bahwa Yesus adalah tokoh sejarah yang nyata tidak hanya dari tulisan-tulisan Kristen seperti keempat Injil dalam kitab Perjanjian Baru, tetapi juga dari abad ke-1 sejarawan Yahudi Josephus dan awal abad ke-2 Tacitus.

Dia kemungkinan lahir di Nazareth (bukan Betlehem) sekitar 4 SM dan disalibkan oleh Pontius Pilatus, Gubernur Romawi di Yudea (salah satu provinsi Palestina)  antara 26 dan 33 Masehi. Selama hidupnya, Yesus adalah seorang pemimpin agama dengan sekelompok pengikut setia. Di luar itu, bagaimanapun juga, kita dapat disimpulkan bahwa sangat sedikit kehidupan Yesus dari banyaknya fakta-fakta tentang dirinya. Injil tidak dapat diandalkan sebagai catatan rinci. Orang-orang Kristen pertama kebanyakan buta huruf, dan cerita tentang Yesus yang teruskan secara lisan dengan demikian tumbuh sebagai penceritaan. Mereka tidak dituliskan sampai 40 tahun setelah kematian Yesus, bahkan lebih lama lagi dari itu. Selain itu, dalam dekade berikutnya, kitab-kitab Injil berulang kali diedit, “tiga kali, empat kali dan berkali-kali” menurut filsuf Yunani Celsus abad ke-2.

Injil menawarkan dua gambar yang berbeda dari diri Kristus Yesus. Di satu sisi, ada makhluk ilahi yang berkhotbah keselamatan di dunia lain setelah Kematian. Di sisi lain, ada Yesus dalam tradisi Revolusi kerakyatan Yahudi. Sosok dari Revolusi ini digambarkan menentang raja-raja dan para penindas, dan yang menjanjikan pengikutnya manfaat materiil nyata atas dalam kehidupan ini. Sebagai contoh, awal dari Injil Perjanjian Baru, yakni Kitab Markus, tidak menggambarkan kelahiran atau bayi Yesus. Kisah kelahiran-Nya tercatat pertama kali dalam Kitab Matius dan Lukas, yang berusaha untuk menunjukkan bahwa kelahiran Yesus menggenapi Perjanjian Lama, dan dengan demikian bahwa ia adalah Juru Selamat yang dijanjikan sebagai pemimpin yang akan membebaskan orang Yahudi dari Roma.

Kitab Lukas berulang kali mengidentifikasi Yusuf sebagai ayah Yesus, bukti bahwa kisah perawan suci yang melahirkan Yesus ditambahkan kedalam Injil setelahnya. Lukas juga mengatakan bahwa Yusuf adalah keturunan dari Raja Daud, dimana Sang Mesias seharusnya berasal dari garis keturunannya, dan termasuk cerita yang rumit dari sensus Romawi sehingga ia dapat mengklaim bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, tempat kelahiran Daud. Kita tahu itu adalah sebuah cerita karena tidak ada catatan sensus pada waktu itu, dan cerita bahwa orang-orang Romawi memerintahkan orang-orang untuk kembali ke tempat asal keluarga mereka untuk disensus, menjadikan hal tersebut tidak masuk akal.

Bagaimanapun, Ketiga Injil pertama tidak pernah mengklaim bahwa Yesus itu ilahi. Hal tersebut hanya terdapat dalam Injil Yohanes, ditulis terakhir dan ditolak oleh beberapa orang Kristen sampai akhir abad ke-3, bahwa Yesus digambarkan sebagai dewa.

Sementara itu, gambaran kedua tentang Yesus sesuai dengan keadaan sosial dan politik tempat dia tinggal. Palestina adalah sebuah koloni Roma dari abad 63 SM, diperintah baik secara tidak langsung oleh raja-raja lokal di bawah kendali Romawi, atau secara langsung oleh seorang Gubernur Romawi. Pemerintahan Romawi berkolaborasi dengan oleh bangsawan imamat dan orang-orang yang sangat kaya serta orang-orang Saduki. Mereka ditentang oleh orang-orang Farisi, massa penduduk, yang dipimpin oleh para rabi. Patriot yang paling radikal adalah orang-orang Zelot, mereka adalah orang-orang miskin paling miskin, yang memiliki impian besar akan seorang Mesias.

Yosefus mengatakan bahwa orang-orang Zelot terus-menerus “meyakinkan orang-orang Yahudi untuk memberontak … mengakibatkan kematian pada orang-orang yang terus mematuhi pemerintahan Romawi … dan menjarah rumah orang-orang besar.” Pemberontakan ini sering dipimpin oleh orang yang mengaku sebagai Juru Selamat, semuanya dikalahkan oleh orang Romawi. Yosefus mengacu pada “penyesat dan penipu, bahwa dengan dalih ilham ilahi mendorong perubahan revolusioner … meyakinkan orang banyak untuk bertindak seperti orang yang kehilangan logika.” Salah satu agitator ini adalah sepupu Yesus, Yohanes Pembaptis. Yosefus menjelaskan apa yang terjadi padanya:

Ketika orang lain juga bergabung dengan orang-orangnya karena mereka terpengaruh sampai tingkat tertinggi oleh khotbahnya, Herodes menjadi cemas. Kejahatan yang begitu besar efeknya pada umat manusia dapat disebabkan oleh beberapa bentuk hasutan.

Herodes memutuskan bahwa akan jauh lebih baik jika menyerang dan menyingkirkannya sebelum apa yang dilakukan Yohanes Pembabtis menyebabkan sebuah pemberontakan, daripada menunggu sebuah pergolakan… Yohanes, karena kecurigaan Herodes, dibawa ke Machaerus … dan yang meninggal ditempat tersebut.

Banyak bukti menunjuk pada Yesus sebagai Juru Selamat yang memproklamirkan diri berjuang untuk mengakhiri pendudukan Romawi, dan untuk sebuah masyarakat setara di mana jurang antara orang kaya dan orang miskin telah dihapus. Menurut Celsus, Yesus adalah “pemimpin hasutan.” Orang-orang Saduki dan orang-orang Farisi berulang kali dikritik dalam Injil, namun orang Zelot tidak. Salah satu pengikut Yesus, Simon yang disebut Petrus, diidentifikasi sebagai orang Zelot.

Lalu terlepas dari semua pengeditan selanjutnya, banyak pernyataan radikal oleh Yesus masih bertahan. Misalnya: “Jangan berpikir bahwa saya datang untuk membawa kedamaian kepada dunia. Tidak, saya tidak datang untuk membawa perdamaian, tapi pedang.” Kerajaan Allah berulang kali dikatakan berada di tangan Tuhan. Menurut sejarawan Archibald Robertson:

Strata paling awal dari Kitab Injil … mengacu pada gerakan revolusioner yang dipimpin oleh Yohanes Pembaptis dan kemudian oleh Yesus … ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan Romawi dan Herodes di Palestina dan pembentukan “kerajaan Allah” duniawi. Di mana yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan terakhir yakni orang kaya dikirim dengan tidak ada apa apa dan orang miskin dipenuhi dengan hal-hal baik dan diberi rumah dan tanah.

Jika ini yang diperjuangkan Yesus, tidak mengherankan jika orang-orang Romawi menyalibnya, dan bahwa pengikutnya dianiaya. Dan, tentu saja, ini adalah kebalikan dari partai Partai Republik sekarang ini. Banyak orang Kristen mula-mula mempraktikkan bentuk komunisme. Dalam Kitab Kisah Para Rasul tertulis: “Orang-orang percaya akan bersama-sama dan memiliki kesamaan. Menjual semua barang barang mereka diberikan kepada siapapun yang membutuhkan.” 

——————–

Penghancuran Kekaisaran Romawi di Yerusalem pada tahun 70 M  menghancurkan banyak basis pemberontakan Yahudi. Dengan kekalahan Yahudi, agama Kristen semakin menjadi agama bukan hanya dari seorang Mesias revolusioner, tapi juga mesias universal yang kerajaannya tidak ada di bumi ini. Paulus, penulis paling banyak dalam kitab Perjanjian Baru, berbicara tentang keselamatan pribadi, bukan untuk menjatuhkan raja-raja dari takhta mereka atau mengambil dari orang kaya dan memberi kepada orang miskin. Tapi Clement dari Alexandria, seorang teolog Kristen terkemuka yang hidup pada akhir abad kedua Masehi (c150-c220) menyerang pembedaan antara surga dan bumi, rakyat merdeka dan budak, mencela masyarakat kuno dan ideologi yang membenarkannya.

Pada akhir abad ke-1, Romawi dikalahkan oleh suku-suku Arya, yang mencegah ekspansi kekaisaran lebih lanjut. Dengan terputusnya pasokan budak, kekaisaran Romawi kehilangan kejayaan secara perlahan. Dan  menjelang akhir abad ke-3, kekaisaran berada dalam kekacauan. Kaisar Diokletian (dari tahun 284 sampai 305) dan Konstantin (dari 306 sampai 337) dipaksa untuk mengatur kembali kerajaan menjadi sebuah masyarakat yang didasarkan pada tani-tani hamba miskin, yang sepenuhnya terikat kepada patanah, menghasilkan makanan untuk para tuan tanah yang berkuasa.

Kekristenan mewakili satu dari sedikit tantangan terhadap status quo – hal itu harus dihancurkan atau dikooptasi. Diokletian mencoba melakukan represi. Ketika hal ini gagal, Konstantinus mencoba taktik yang lain, ia memeluk agama Kristen dan mensubordinasikan Gereja dengan kekuasaan kekaisaran.
Beberapa orang Kristen memberontak melawan gagasan aliansi dengan kekaisaran, namun banyak yang melihat keuntungan bagi Gereja dalam situasi baru ini. Yang paling menonjol adalah Agustinus (354-430), Uskup Hippo, sebuah kota di Afrika Utara.

Agustinus merumuskan ideologi aliansi baru antara Gereja dan negara yang membentuk seribu tahun berikutnya dalam sejarah Barat. Kosmologi yang dia kembangkan, tentang Tuhan yang abadi, tak terbatas, sempurna, yang terpisah dari bumi yang fana dan merosot, mencerminkan realitas sosial pada akhir kekaisaran. Kaisar dengan kekuatan dan subjek ilahi tanpa otonomi. Agustinus percaya bahwa Tuhan telah menundukkan manusia pada beban kejahatan dan kesengsaraan yang terus meningkat sebagai hukuman atas dosa asal Adam. Dia berpendapat bahwa keadilan Tuhan ditunjukkan “dalam penderitaan bayi kecil.” Intinya adalah bahwa kejahatan dunia ini harus dialami, sebuah gagasan yang dia pinjam dari filsuf Yunani dan Romawi Stoa. Satu-satunya harapan terletak pada iman akan keselamatan di dunia berikutnya.

Tapi ada juga penolakan terhadap pandangan Agustinus dan argumen tersebut bukan hanya sekedar perdebatan teologis. Di Mesir dan Afrika Utara, gerakan Donatis di kalangan orang Kristen memimpin oposisi terhadap kekaisaran dan aliansi Gereja dan negara. Para tani hamba dan buruh tani menyerang para tuan tanah, pemungut pajak dan kreditur, membebaskan budak, dan menghancurkan surat-surat sewa dan sertifikat tanah. Kaum Donatis mengendalikan banyak gereja di Afrika Utara dan tentara kekaisaran Romawi tidak dapat mengalahkan mereka sendiri.

Agustinus yang disebut  “Godam Kaum Donatis” memainkan peran penting dalam menghancurkan pemberontakan. Dia menggunakan sumber daya Gereja untuk menyerang para pemimpin bidat Donatis. Para Donatis akhirnya dikalahkan oleh kombinasi inkuisisi inkulturasi pertama dan pasukan kekaisaran.

Tapi kemenangan Romawi berumur pendek. Setelah menjarah Roma, kaum Vandal menaklukkan Afrika Utara pada tahun 430, tahun kematian Agustinus. Mereka mengambil alih perkebunan yang luas dan memaksa sebagian besar penduduk kekaisaran ke dalam perhambaan. Menurut seorang sejarawan:

Dengan runtuhnya kekaisaran di barat, kosmologi Agustinus diadopsi oleh umat Kristen di milenium berikut. Pandangan tentang dunia ini diciptakan dari ketiadaan, direndam dalam dosa dan kesengsaraan, dan dengan benar diperintah oleh otoritas Gereja dan Negara yang keras, sangat sesuai dengan masyarakat petani mandiri yang tidak berdosa, yang tidak membutuhkan pedagang atau filsuf atau ilmuwan.  Mereka hanya membutuhkan sebuah agama yang akan mendorong para budak untuk menerima nasib mereka.

Dalam pandangan Agustinus, seperti paganisme yang diketahui petani sebelumnya adalah dunia dengan celah menganga antara langit dan bumi. Sebuah bumi yang dihuni oleh roh, penyihir dan setan. Ketika masyarakat Romawi mundur ke tingkat agrarisisme primitif dan miskin, maka kosmologi Agustinus mundur ke dunia mitos yang magis dan irasional.

Seiring pertumbuhan gereja dalam kekayaan dan pengaruhnya, ia sudah tidak lagi demokratis dalam struktur internalnya. Kekuatan uskup meningkat dan Uskup Roma menjadi dominan di uskup lainnya. Properti gereja bukan lagi milik umum komunitas Kristen, namun dimonopoli keimamatan. Gereja bahkan menentang penghapusan perbudakan – setiap pastor paroki memiliki hak untuk memiliki satu laki-laki dan satu perempuan budak. Biara juga memiliki sejumlah besar budak dan Gereja terus memiliki budak sampai abad Pertengahan.

——————–

Semua ini sangat jauh dari deskripsi Yesus dalam Injil: “Dia telah memenuhi orang-orang kelaparan dengan hal-hal yang baik dan mengirim orang kaya itu dengan tangan hampa.” Tapi untaian radikal dalam agama Kristen telah dihidupkan kembali berkali-kali dalam sejarah, ketika gerakan sosial yang melawan penindasan telah mencoba menemukan ideologi untuk membenarkan tujuan mereka.

Gerakan ini berkisar dari pemberontakan petani di Jerman pada awal abad ke-16 yang dipimpin oleh Thomas Munzer, sampai pada sekte-sekte radikal Revolusi Inggris di abad berikutnya, termasuk peran gereja-gereja Hitam dalam gerakan hak-hak sipil dan teologi pembebasan di masa lalu.

Kaum sosialis mengidentifikasikan diri dengan semua gerakan radikal ini, tapi kita tidak akan melakukannya secara tidak kritis. Sejarah Kekristenan, termasuk kebangkitan kembali arus radikal secara periodik di dalamnya, sebenarnya menggambarkan dengan baik apa yang Marx katakan tentang agama. Inilah kata-kata terkenal Marx dari Kritiknya tentang Filsafat Hegel:

Kesengsaraan religius pada saat bersamaan merupakan ungkapan kesedihan dan protes nyata yang nyata. Agama adalah desahan makhluk tertindas, hati dunia yang tak punya hati,dan jiwa dari situasi yang tidak punya jiwa. Ini adalah opium rakyat.

Penghapusan agama sebagai kebahagiaan semu rakyat dibutuhkan untuk kebahagiaan sejati mereka. Permintaan untuk melepaskan ilusi tentang kondisinya adalah tuntutan untuk melepaskan kondisi yang membutuhkan ilusi. Kritik terhadap agama merupakan awal terhadap bencana alam, seruannya agama.

Keyakinan agama memiliki penyebab sosial. Daya tarik mereka sebagian terletak pada kenyataan bahwa mereka menawarkan sebuah solusi. Meskipun hanya khayalan untuk penderitaan dan eksploitasi kelas masyarakat, karena keyakinan agama mungkin akan ada selama kelas masyarakat ada dan hanya akan hilang jika kelas masyarakat “yang kondisinya membutuhkan ilusi” dihapuskan oleh Revolusi Sosialis.”

Tapi penghapusan agama tentu tidak berarti penindasan oleh Negara. Engels berdebat keras melawan orang-orang yang mendukung penindasan terhadap agama selama revolusi Komune Paris tahun 1871. Ia menunjukkan bahwa hasilnya hanya akan memperkuat agama. Sebaliknya, karena ketidaksetaraan maka karakteristik kelas masyarakat semakin dihapus, kebutuhan akan agama akan sedikit berkurang. Agama seperti Negara, akan lenyap. Tapi sekarang, dan di bawah kekuasaan pekerja, kaum sosialis harus mempertahankan kebebasan untuk mempraktikkan agama sebagai hak fundamental.

Agama pada saat yang sama adalah “ekspresi kesusahan dan protes terhadap kesusahan nyata.” Biasanya, agama keduanya memproyeksikan solusi terhadap kontradiksi sosial di surga atau akhirat, dan pada saat bersamaan, menawarkan kepada masyarakat yang ada di suatu wilayah kecil di mana kontradiksi-kontradiksi tersebut dapat dihindari secara singkat. Seperti yang telah kita lihat, dalam beberapa konteks, agama juga bisa menjadi wahana perjuangan politik dan sosial yang pembenaran ideologisnya adalah usaha untuk membangun surga di bumi. Tapi akhirnya, gerakan keagamaan radikal sekalipun adalah utopia. Mereka tidak memberikan strategi yang memuaskan untuk mencapai tujuan jangka panjang mereka, dan satu-satunya strategi yang dapat diberikan didasarkan pada analisis kelas masyarakat yang sampai pada kesimpulan logisnya merongrong dasar kepercayaan religius.

Dengan demikian bagaimanapun juga setiap partai sosialis revolusioner benar-benar menyambut baik orang-orang yang beragama maupun orang-orang yang tidak beragama ke dalam barisan mereka jika mereka benar-benar ingin berjuang melawan kapitalisme. Seperti yang Lenin katakan, atheisme seharusnya tidak memiliki tempat dalam program politik dalam sebuah organisasi sosialis. Persatuan dalam perang melawan kapitalisme lebih penting daripada kesepakatan mengenai pertanyaan teologis. Isu teologis akan dipecahkan tidak begitu banyak dengan argumen teoritis seperti pada praktik revolusioner.

Dalam menghadapi komersialisme yang merajalela yang menelan kita pada tahun ini, biasanya kita mendengar tokoh religius mengatakan bahwa inilah saatnya untuk menghidupkan kembali “semangat Kristus yang sebenarnya.” Jika itu berarti menghidupkan kembali egalitarianisme radikal orang Kristen awal, yang oleh Frederick Engels disebut “partai pemberontakan yang berbahaya,” maka kaum sosialis mendukungnya. Tapi kita tidak hanya membutuhkan semangat pembebasan orang-orang Kristen yang awal, tapi juga sebuah strategi revolusioner yang didasarkan pada politik kelas yang sebenarnya bisa membangun jenis masyarakat yang mereka inginkan.

 

——————–

Naskah diambil dari website socialistworker.org. Dimuat pada tanggal 14 Desember 2011. Dapat diakses melalui https://socialistworker.org/2011/12/14/jesus-the-revolutionary

Diterjemahkan oleh Set Yitro, kader KPO PRP.

2,462 total views, 1 views today

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment