Ada Apa Di Balik Kebangkitan BDS?

bds-franceSherry Wolf

Selama sembilan tahun keberadaannya, gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) telah terang-terangan mendefinisikan ulang perjuangan untuk Palestina dengan istilah hak asasi manusia yang sederhana dan tepat sasaran. Dibandingkan dengan taktik gerakan pembebasan Palestina lainnya, kampanye BDS telah berhasil menciptakan curahan dukungan untuk hak-hak asasi rakyat Palestina dan menempatkan pelanggaran yang dilakukan Israel di bawah pengawasan ketat internasional, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Di Amerika Serikat, isu hak-hak rakyat Palestina yang selama ini hanya dibicarakan di kelompok-kelompok Kiri dan komunitas Muslim dan Arab saja, kini telah masuk ke kajian dan debat arus utama. Dari korporasi media hingga institusi pendidikan, diskusi tentang Israel-Palestina telah berbelok dari hanya sekedar klaim teritori dan persaingan narasi sejarah, terlepas dari penting juga untuk membahas itu, menjadi fokus pada tiga tuntutan gerakan BDS ini, yaitu Israel harus:

  1. Menghentikan pendudukan dan penjajahannya di seluruh tanah Arab dan membongkar dinding apartheidnya;
  2. Mengakui hak-hak fundamental rakyat Arab-Palestina di Israel dengan kesetaraan penuh; dan
  3. Menghormati, melindungi, dan mendukung hak-hak pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah dan tanah mereka, sebagaimana ditetapkan dalam Resolusi 194 PBB.[1]

Ajakan BDS tahun 2005 muncul dari 170 kelompok sipil rakyat Palestina – termasuk semua partai politik, serikat buruh, jaringan pengungsi, NGO, dan organisasi yang mewakili rakyat Palestina yang hidup di bawah penindasan, baik di Israel, maupun di pengasingan. Gerakan ini terinspirasi dari keberhasilan gerakan anti-aparteid di Afrika Selatan. Para inisiatornya disemangati oleh Konferensi Dunia 2001 melawan Rasisme, Diskriminasi Ras, Xenofobia, dan Intoleransi yang diselenggarakan oleh Unesco di Durban, Afrika Selatan, dimana naskah pernyataannya menentang “gerakan yang didasari ide-ide rasisme dan diskriminasi, khususnya gerakan Zionisme, yang berdasarkan superioritas rasial.”[2] Pada 2003, para akademisi Palestina memulai ajakan memboikot institusi akademis Israel dan setahun kemudian mereka meluncukan Kampanye Palestina untuk Boikot Akademik dan Budaya Israel di Ramallah. Mereka menyerukan kepada para akademisi dan intelektual Palestina untuk bergabung di gerakan boikot internasional ini.[3] Dari gerakan itu, sebuah komite nasional didirikan untuk mengumpulkan kelompok-kelompok masyarakat sipil Palestina yang sepakat pada ketiga tuntutan di atas, dan kemudian meluncurkan gerakan BDS.

Internasionalisme yang mendasari BDS meninggalkan pemikiran yang mendominasi lingkaran pemimpin politik Palestina selama berdekade. Pemikiran yang menganggap bahwa pembebasan Palestina bisa dilakukan hanya dengan memobilisasi rakyat Palestina saja. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dibentuk tahun 1964 dipengaruhi oleh kesuksesan perjuangan anti penjajahan di masa itu, terutama gerakan gerilya yang mendepak Prancis dari Aljazair dalam perang kemerdekaannya. Meskipun anggota PLO kebanyakan berasal rakyat miskin Palestina, hampir seluruh jajaran kepemimpinan organisasi itu berasal dari pengusaha kaya dan yang lain berasal dari elit Palestina. Pemimpin PLO mencoba mengadaptasi strategi perang gerilya yang mereka lihat berhasil di Aljazair, pada populasi yang lebih kecil dan lebih tersebar di Timur Tengah itu. Pendanaan bagi strategi bersenjata ini datang dari penguasa Arab yang dilihat oleh pemimpin kaya PLO sebagai sekutu alamiah mereka, termasuk Raja Arab Saudi (King Faisal), Raja Jordan (King Hussein), dan Presiden Mesir (Hosni Mubarak).

Sebagai ganti untuk pemberian senjata dan uang, PLO dibawah kepemimpinan Yasser Arafat setuju untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri di negara-negara Arab tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Philip Marfleet dan Tom Hickey di jurnal Inggris International Socialism, “Mereka bersikap seperti borjuasi tanpa negara, yang membatasi populasi ‘mereka’ hanya untuk agenda nasionalis semata. Ini tentu membahagiakan para raja, emir, dan presiden di willayah itu, yang menggunakan dukungannya pada PLO sebagai formalitas retorisnya melawan Israel, yang ujung-ujungnya untuk mempertahankan hak-hak istimewa mereka sendiri.[4]

Pendekatan ini pada akhirnya menjadi bencana politik dan ekonomi. Tidak hanya rakyat Palestina yang dengan mudahnya kalah oleh militer Israel, tapi juga banyaknya jumlah pekerja Palestina di negara-negara Arab yang diabaikan oleh PLO sehingga kehilangan hak-haknya dan mendapatkan upah kerja rendah karena kondisi kerja yang buruk di Arab Saudi, Yordania, Mesir, dan di manapun.

Intifada pertama pada 1987 dan yang kedua dimulai pada 2000 adalah bentuk pemberontakan dan perlawanan dari rakyat Palestina untuk merespon meroketnya jumlah pemukiman Israel di Tepi Barat dan Gaza pasca pendudukan Israel di wilayah tersebut pada 1967. Para buruh di wilayah Arab itu menginisiasi mogok kerja dan tindakan solidaritas lainnya untuk Intifada Pertama, tapi ditentang keras oleh Arafat dan kepemimpinan PLO. Ketika buruh tekstil di pabrik Mahalla al-Kubra, Mesir melakukan mogok dan aksi lainnya yang menyebar hingga Kairo dan Alexandria, mereka diancam dengan kekerasan oleh Menteri Dalam Negeri Mesir saat itu, Zaki Badir, “Saya akan memotong kaki siapapun yang berani turun melakukan demonstrasi”, ancamnya.[5] Bukannya menerima dukungan solidaritas buruh, Arafat dan para pemimpin PLO malah mengecam aksi ini dan bergabung bersama penguasa Arab dalam pertemuan di Aljir (ibukota Aljazair) yang menjanjikan 330 juta dollar pada PLO.[6] Persekongkolan PLO dengan penguasa Arab dan pada akhirnya pemerintah Israel dan Amerika Serikat pada tahun 1993 melalui Kesepakatan Oslo hanya menghasilkan penyebarluasan pemukiman Israel di tanah Palestina, pendirian dinding aparteid, dan bahkan kondisi hidup yang lebih menyedihkan bagi rakyat Palestina baik di Israel maupun di Wilayah Pendudukan (Tepi Barat dan Gaza).

Generasi baru Palestina yang dibesarkan oleh warisan dari kegagalan strategi ini kini mengambil alih kendali. Artikel ini akan menganalisis tiga kunci perkembangan yang mengompori kebangkitan BDS di Amerika Serikat. Meskipun bukan daftar yang lengkap, tiga alasan ini merupakan esensi dari perubahan ideologi dan organisasi dalam waktu yang relatif cepat.

Keberhasilan BDS di Amerika Serikat sebagian besar disebabkan oleh:

  1. Ekspos besar-besaran terhadap tindakan brutal Israel pada Palestina, terutama saat Operation Cast Lead pada musim dingin 2008-2009 dan pembantaian 9 rakyat sipil di atas kapal bantuan kemanusiaan Mavi Marmara di laut internasional pada 2010.
  2. Kepemimpinan dari kelompok yang disebut sebagai Generasi Palestina[7], mayoritas kaum muda Arab-Amerika muslim, dan juga kaum muda Yahudi dan yang lain, yang tumbuh besar ketika atmosfer Islamofobia dan rasisme anti-Arab yang pekat pasca 11 September di Amerika Serikat.
  3. Aplikasi metode yang berhasil digunakan dalam gerakan anti-aparteid Afrika Selatan yang kemudian menyebar hingga kampus-kampus Amerika dan semakin menggema pada tahun 1980an.

Tentu saja ketiga poin di atas masih bisa diperdebatkan, karena setiap perkembangan yang disebutkan merupakan hasil dari perkembangan-perkembangan lain dan memantik perkembangan selanjutnya, tapi ketiga ini tampaknya merupakan tiga katalis utama dalam kebangkitan gerakan BDS di Amerika Serikat.

Israel Melawan Dirinya Sendiri

Tokoh pemimpin Israel bersama dengan pendukung internasional Zionisme mengklaim bahwa gerakan BDS itu ‘mendeligitimasi’ Israel, yang mengancam otoritas hak-hak istimewa Israel. Ada jajak pendapat global yang patut diwaspadai oleh mereka: Harian Israel Ha’aretz melaporkan pada Mei 2013, survey yang dilakukan oleh BBC kepada lebih dari 26.000 orang di 25 negara seluruh dunia menunjukkan bahwa hanya 21 persen yang menilai Israel secara positif, sedangkan 52 persen melihatnya sebagai negara yang buruk.[8]

Tapi penjelasan lebih akurat mengenai perubahan dramatis dari opini publik internasional melawan negara yang mengklaim diri sebagai negara Yahudi ini adalah sikap keji yang dilakukanya sendiri membuat orang semakin melihat tindakan tidak manusiawinya pada rakyat Palestina, setiap harinya semakin banyak orang terkejut dengan apa yang mereka lihat di media. Deligitimasi Israel, faktanya, adalah kerugian yang disebabkannya sendiri; gerakan BDS hanya berperan untuk menunjukkan, memperjelas, dan melawan kejahatan-kejahatan yang dilakukan Israel.

Mari kita perjelas: Pelanggaran hak asasi manusia oleh Israel bukan hal baru. Israel selama ini dan selalu menjadi penjajah tanah Palestina, kelahirannya sendiri disertai pemusnahan etnis terhadap lebih dari 750.000 rakyat Palestina pada 1948. Deskripsi Karl Marx akan akar kapitalisme tampaknya persis sama dengan Israel, yang juga hadir di dunia dengan, “menetes dari ujung kepala hingga kaki, dari setiap porinya, dengan darah dan kotoran.”[9] Banyak artikel sebelumnya dalam jurnal ini yang memuat detil sejarah mitos Zionisme dan kejahatan-kejahatan Israel terhadap Palestina. Tapi sejarah dan represi terhadap rakyat Palestina yang masih terjadi hingga sekarang di wilayah-wilayah pendudukan dan di dalam Israel sendiri, dengan terang-terangan disangkal dan diabaikan hingga tahun-tahun belakangan, terutama di Amerika Serikat sendiri. Sekarang, penyangkalan itu masih terus dilakukan, tapi perlakuan tidak manusiawi terhadap rakyat Palestina tidak bisa lagi diabaikan.

Titik balik kesadaran tentang Israel-Palestina yang menempatkan BDS ke level yang lebih besar adalah Operation Cast Lead. Selama tiga minggu di musim dingin 2008-2009, Israel menggunakan salah satu dari senjata militer paling mematikan di dunia pada Gaza, membuat lebih dari 1.400 rakyat Palestina tewas (tiga belas orang Israel tewas, 9 dari mereka adalah tentara), dan 1,5 juta sisa penduduknya terjebak di balik dinding beton dengan perlengkapan pengawasan berteknologi tinggi. Pembantaian Gaza, dengan nama sandi Operation Cast Lead, diikuti pemberlakukan kekejaman perang Israel dengan blokadenya yang mencegah pergerakan bebas barang, jasa, dan manusia, untuk masuk dan keluar dari Gaza, sebuah pengepungan yang masih berlangsung hingga sekarang.

Diluncurkan saat tengah hari ketika anak-anak Gaza pulang dari sekolah, upacara kelulusan akademi polisi tengah berlangsung, dan jalan-jalan yang dipenuhi pedagang dan pembeli, serangan Israel memang sudah diperhitungkan untuk membunuh manusia dan menghancurkan infrastruktur sebanyak-banyaknya. Pada hari pertama saja, Israel membunuh lebih dari 200 orang Palestina dan melukai 700 orang; setelah itu militer Israel menghancurkan infrastruktur air bersih dan air kotor Gaza, mengebom rumah sakit al-Quds, meledakkan gudang-gudang barang dan makanan PBB, dan menghapus seluruh universitas-universitas, sekolah-sekolah, masjid-masjid dari peta Kota Gaza yang padat itu.

Bahkan pada saat itu seorang apologis vulgar bagi Israel terkejut dengan potensi kerugian ideologis dari pembantaian tersebut. Seorang koresponden senior untuk surat kabar Israel Ha’aretz, Ari Shavit, mengeluhkan skala serangan itu sebagai “penghancuran pada jiwa dan citra Israel. Penghancuran yang ditayangkan di layar-layar televisi, di ruang tengah komunitas internasional, dan lebih penting lagi, di Amerika-nya Obama.” Shavit mencatat bahwa peledakan fasilitas PBB yang dilakukan di hari yang sama saat Sekretaris PBB mengunjungi Jerusalem adalah sesuatu di luar kewarasan[10]. Dia benar juga.

Selama bertahun-tahun, Israel telah meluncurkan serangan militer yang tak terhitung pada rakyat Palestina. Luar biasanya, tidak ada satupun yang mampu menahan kekerasan yang dilakukan Israel, seperti pada Pertempuran Jenin 2002, ketika 150 tank Israel, ditambah dengan senjata dan artileri yang dibawa setiap personel militer, juga diperkuat dengan jet tempur F-16, semuanya melakukan pengepungan ke sebuah kamp pengungsi yang tidak lebih dari satu mil persegi yang merupakan rumah bagi 15.000 orang.[11] Namun dengan menyebarnya media sosial seperti Facebook dan Twitter di tangan kaum muda pergerakan, perang 2008-2009 terhadap Gaza memberi peringatan pada Amerika yang sebelumnya tidak simpati atau bahkan tidak peduli dengan kondisi di Gaza. Di seluruh Amerika Serikat, ribuan orang turun ke jalan untuk melakukan protes demonstrasi dan menghadiri acara-acara diskusi yang dilakukan oleh kelompok komunitas BDS dan beberapa cabang Students for Justice in Palestine (SJP) yang semakin lama semakin berkembang.[12] Para aktivis mempublikasikan foto-foto serangan mematikan itu melalui facebook dan twitter, dan orang-orang terkejut melihat gambar para pemukim Israel yang duduk santai di kursi pantai sambil makan dan minum di puncak bukit untuk melihat Gaza, yang bersorak tiap peledakan dan penghancuran seolah-olah sedang menikmati sore sambil menonton pertandingan sepakbola atau konser.

Di Amerika Serikat, yang jenuh dengan pesan-pesan pro-Israel, penting untuk mencatat bahwa pada saat eskalasi pengepungan, hanya 44 persen rakyat Amerika yang mendukung serangan itu, melawan 41 persen yang menolaknya, menurut Rasmussen.[13] Anggota partai Demokrat biasa – tidak seperti pemimpin mereka – sangat terkejut, hanya 31 persen dari mereka yang antusias pada serangan itu.

Titik balik selanjutnya muncul saat Minggu Hari Peringatan 2010. Kapal utama dari rangkaian Gaza Freedom Flotilla, yang bernama Mavi Marmara, berusaha menembus pengepungan dan memberi bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza yang menderita tanpa ada obat dan makanan yang memadai, namun kemudian ternyata diserang militer Israel saat tengah malam di tengah-tengah perairan internasional. Kevin Ovenden, salah seorang organisator yang berada di Mavi Marmara, mendeskripsikan serangan gaya komando Israel yang mengerikan melalui udara dan laut itu, yang membunuh sembilan orang sipil tak bersenjata. “Fase baru perlawanan telah lahir, tapi dengan harga yang sangat berat, hampir tidak tertanggungkan: Sembilan saudara kami dibunuh, banyak lagi yang terluka akibat ditembak, darah mereka sekarang berdebur di sepanjang pantai Gaza.” [14]

Para aktivis solidaritas Palestina bergerak dalam aksi dan demonstrasi terorganisir, ruang orasi-orasi terbuka, agenda diskusi akademis dengan mereka yang berada dalam kapal sebagai pembicaranya, sambil menceritakan kejadian mengerikan terhadap serangan tiba-tiba. Pada akhirnya mengekspos siapa sebenarnya Israel ini: pembohong. Jurnalis Glenn Greenwald mendukung gerakan ini dan berbicara di depan khalayak universitas. Dalam beberapa bulan saja, Frank Gehry, yang diakui sebagai arsitek paling berpengaruh dunia, bergabung dalam gerakan boikot pemukiman illegal Israel setelah menolak mendesain Museum Toleransi Yahudi, yang direncanakan dibangun di atas kuburan Muslim. Bersamaan dengan konduktor dan pianis Daniel Barenboim, Gehry menambahkan namanya ke daftar 200 seniman dan pekerja seni Yahudi yang mendukung boikot terhadap pemukiman illegal Israel dalam gerakan Jewish Voice for Peace (JVP).[15]

Sementara jajak pendapat di AS menunjukkan mayoritas yang jelas mendukung Israel daripada Palestina – bukan hal yang mengejutkan mengingat ada banyaknya propaganda pro-Israel di media AS meskipun agak retak dalam beberapa waktu belakangan ini – tidak seorangpun, dari veteran aktivis solidaritas Palestina hingga Perdana Mentri Benjamin Netanyahu, menyangkal adanya pertumbuhan simpati pada Palestina dan kecurigaan terhadap pelanggaran hak asasi oleh Israel. Pada konferensi American Israel Political Action Committee (AIPAC), yang tidak diragukan lagi merupakan kelompok pro-Israel paling berpengaruh di Amerika Serikat, pembicara dari Sekretaris Negara John Kerry hingga Netanyahu merasa penting untuk mengejek BDS. Dalam pidato utamanya kepada AIPAC, Netanyahu menyebut BDS tidak kurang dari delapan belas kali. Kepada para pendukungnya, Netanyahu meminta Zionis untuk melawan para aktivis penganjur boikot, “untuk mendeligitimasi para pelaku deligitimasi.”[16] Banyak aktivis BDS yang menganggap ini menunjukan bahwa musuh yang sebelumnya mengabaikan gerakan BDS sekarang memperhatikannya. Sekarang setelah Israel menjadi musuh global, gerakan BDS menuai perhatian yang lebih besar dari segala sisi.

Generasi Palestina Mengambil Alih Kendali

Bagaimana Rasanya Menjadi Masalah? Begitu tanya Profesor Moustafa Bayoumi dari Brooklyn College dalam judul bukunya yang berisi wawancara dengan pemuda Arab-Amerika yang tumbuh besar di Brooklyn pasca 9/11. Buku itu menyelidiki pengalaman hidup di negara yang bagi banyak penduduk Arab dan Muslim Amerika dapat dengan mudah dijadikan target dan dicurigai teroris hanya karena alasan penampilannya saja atau latar belakang agama dan etnis mereka. Bagi banyak orang, batasan yang diberikan pemerintah AS dan stigma masyarakat membungkam suara-suara itu. Namun bagi minoritas Arab dan Muslim yang terus berkembang setiap harinya yang kemudian mengambil alih kendali gerakan BDS di Amerika Serikat, melawan pelanggaran hak asasi yang dilakukan Israel – bersama institusi yang berkolaborasi dengan mereka –telah menjadi perjuangan hak sipil utama generasi mereka. Sebut saja mereka, jika Anda berkenan, Generasi Palestina.

Jika pembebasan orang-orang tertindas tidak mungkin dilakukan tanpa diri mereka berperan aktif, seperti yang sering diklaim oleh pendukung Marx, maka perkembangan ini sangat penting. Gerakan ini tentu saja, diinisasi oleh rakyat Palestina yang hidup di bawah penindasan dan diaspora, dan partisipasi yang selalu meningkat disertai dengan kepemimpinan dari kaum muda Arab-Muslim Amerika dalam gerakan ini tidak bisa dipungkiri bahkan oleh pengamat biasa.

Remi Kenazi, seorang penyair Palestina-Amerika berbakat dan populer, pindah ke Kota New York empat bulan sebelum 9/11. Besar di kawasan yang didominasi oleh orang-orang Barat Massachussets berkulit putih membuatnya sering mengalami diskriminasi rasial. Tapi dia mengaku dalam wawancara dengan Jadaliyya bahwa suasana tidak menyenangkan yang dialami orang-orang Arab Muslim setelah serangan membantunya menulis puisi dan melejitkan karir pertunjukan pembacaan puisinya.[17] Sebagai anggota dari Adalah-NY, kelompok BDS, dan US Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (USACBI), Remi mengekspresikan kemarahannya, harapannya, dan visi politiknya untuk meradikalisasi generasinya. Ia menjadi pahlawan budaya BDS karena videonya “Normalize This” dan pertunjukan terbarunya “This Divestment Bill Hurts My Feelings,” sebuah karja kolaborasi dengan Suhel Nafar, seorang sutradara, animator, dan co-founder dari grup hip-hop Palestina yang sangat populer, DAM, yang musik-musiknya dipakai menjadi lagu soundtrack gerakan BDS.

Dalam emailnya merespon pertanyaan saya mengenai apa yang menginspirasi para aktivis mahasiswa Arab dan Muslim terkemuka di kelompok BDS, beberapa hal muncul dalam gerakan politisasi mereka. Mereka memasukkan gambar-gambar awal Perang Irak yang menunjukkan tindakan pelecehan kepada rakyat di Dunia Arab. Seperti foto penyiksaan di Penjara Abu Ghraib, juga foto-foto mengerikan dari masa kecil mereka di Palestina di bawah militer Israel, Israeli Defence Force (IDF). Tahun 2000, rekaman berdurasi satu menit yang disiarkan secara luas menampilkan Muhammad al-Durrah, bocah laki-laki 12 tahun yang meringkuk ketakutan di dalam pelukan ayahnya dan berlindung di samping dinding saat ditembaki membabi buta oleh tentara Israel hingga tewas, dan luka menyayat hati dari duka sang ayah karena tidak bisa melindungi anaknya. Banyak dari aktivis mahasiswa sekarang berusia sama seperti Muhammad saat ia dibunuh. Gambar-gambar dari luar negeri itu ditambah penghinaan rasis yang dialami sehari-hari di Amerika, keduanya menjadi bahan bakar dasar untuk melawan.

Embrio gerakan BDS menjadi magnet bagi sebagian dari mereka, dan menjadi sarana mengekspresikan kemarahan kemudian memobilisasi teman-teman yang lain untuk aksi. Seorang mahasiswa muda Yaman-Boston, Sofia Arias menulis, “Ini karena Operation Cast Lead tahun 2008-2009, dan penolakanku pada solusi dua negara, yang mendorongku untuk mengorganisir gerakan BDS di universitasku, dan mendesaknya gerakan solidaritas internasional yang aktif di luar itu. Setelah itu, di AS, kamu bisa merasa banyak yang berubah, dan pencitraan Israel mulai terlihat runtuh, kamu bisa lihat itu.”[18]

Tareq Ali, mahasiswa Palestina-Amerika di Universitas George Mason, menjelaskan alasannya bergabung di aktivitas politik yang terorganisasi, sebagai berikut:

Sebelum berorganisasi, aku dulunya atlit Jiu-Jitsu Brazil, yang menuntutku untuk pergi ke banyak fasilitas latihan. Desember 2012, aku diundang ke gym yang memasang bendera Israel di lokasi latihannya. Aku dengan baik-baik menolak undangan itu dan menjelaskan bahwa ada 42 anggota keluargaku yang dibantai atas nama bendera itu. Yang membuatku kaget, pemilik gym itu, yang seorang Yahudi, menawarkan untuk menurunkan benderanya. Sore setelah latihan aku menerima komplain dari pelatihku, seorang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Dia meminta aku memisahkan antara politik dan karir atlitku. Di titik ini aku sadar, bahwa tidak cukup hanya memakai bendera Palestina di seragamku. Aku harus berkontribusi dalam pembebasan rakyat Palestina sejauh yang aku mampu. Aku mau membuat ruang , tidak hanya untuk rakyat Palestina, namun juga untuk semua rakyat tertindas untuk berkembang tanpa harus mengorbankan identitas mereka.[19]

Demikian pula, Wael Elasady seorang Palestina-Amerika di negara bagian Portland mulai melihat perlawanan untuk membela rakyat Palestina lebih dekat melalui keterlibatan institusi Amerika. Dia mempertanyakan ke dirinya sendiri: “Mengapa universitas-universitas mengundang penjahat perang untuk mengisi kuliah? Mengapa mereka terus menganggap normal negara apartheid dengan menjalin kerjasama program pertukaran pelajar di Israel? Mengapa uang kuliah mahasiswa diinvestasikan pada perusahaan-perusahaan yang mengambil untung dari pelanggaran hak asasi rakyat Palestina? Mengapa presiden universitas kami mengutuk profesor-profesor yang mengajarkan kebenaran tentang Palestina?”[20]

Konferensi SJP tahun 2011 yang dilaksanakan di Universitas Columbia saat puncak-puncaknya Occupy Wall Street pada Oktober menarik beberapa ratus mahasiswa, sebagian besar Arab dan Muslim. Ditambah dengan diskusi strategis tentang peluncuran kampanye boikot berbasis kampus, mahasiswa berdebat mengenai revolusi Arab, peran imperialisme Amerika Serikat, dan sejarah Israel-Palestina. Minggu pagi selepas ratusan mahasiswa SJP, hampir 100.000 warga New York berkumpul di Time Square, kelas-kelas dipenuhi mahasiswa yang bersemangat melanjutkan diskusi. Pembicara diskusi pagi itu adalah tentang mitos Zionisme, mengira sebagian besar mahasiswa akan ketiduran karena kelelahan akibat aktivitas mereka hingga larut kemarin malam dan harus kembali ke kampus pagi harinya. Namun, ruangan penuh sesak, semuanya berdiri, dan banyak yang terbakar karena isunya di akhir sesi diskusi. Belasan orang pulang sambil tanpa ragu membeli buku Omar Barghouti, BDS: The Global Struggle for Palestinian Rights, yang menjadi buku dasar gerakan BDS.bds

Evolusi gerakan aktivisme politik mahasiswa BDS bahkan lebih nyata pada Russell Tribunal terhadap Palestina tahun 2012, pengadilan rakyat internasional yang datang ke Kota New York, untuk mengadili Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemerintah Amerika Serikat atas keterlibatannya dalam pelanggaran Israel atas hak asasi manusia yang sudah diakui secara internasional.[21] Hiruk pikuk selama enam minggu itu, berisi rangkaian puluhan kegiatan dan acara yang diorganisir kebanyakan oleh para relawan mahasiswa Arab-Muslim di seluruh kota, yang menampilkan antara lain, pemimpin Black Power Angela Davis, penulis Alice Walker, dan Roger Waters dari Pink Ployd sebagai juri. Para aktivis mahasiswa ini, yang telah mengorganisir gerakan BDS di kampus mereka, bekerja tak kenal lelah untuk membangun pengadilan rakyat yang sukses besar yang menarik lebih dari seribu orang setiap hari untuk menonton dan mendengar persidangan di Cooper Union yang terdapat Great Hall di dalamnya, ruang di mana Frederick Douglass membacakan Proklamasi Emansipasi pada 1863.

Dan patut digarisbawahi, perubahan ini terjadi pula di antara orang Yahudi-Amerika, terutama mereka yang berusia di bawah 30 tahun, sebagian dari mereka bergabung dan memainkan peran utama dalam perjuangan BDS. Dalam artikel yang dipublikasikan oleh New York Review of Books[22], Peter Beinart menulis, “Untuk beberapa dekade, organisasi Yahudi meminta para Yahudi Amerika untuk mempercayakan liberalisme mereka pada Zionisme, tapi sekarang, yang menakutkan bagi mereka, justru banyak kaum muda Yahudi yang memeriksa Zionisme tersebut.” Dan ada artikel di majalah Times yang berjudul “Mengapa Semakin Sedikit Pemuda Yahudi Amerika Bersepakat dengan Pandangan Orang Tua Mereka terhadap Israel,” seperti kutipan berikut:

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Steven Cohen dari Hebrew Union College dan Ari Kelman dari Universitas California di Davis pada 2007 menemukan bahwa meskipun mayoritas Yahudi Amerika dari seluruh jenjang umur adalah “pro-Israel”, mereka yang berumur di bawah 35 tahun semakin sulit diidentifikasi sebagai “Zionis”. Lebih dari 40% Yahudi Amerika di bawah 35 tahun percaya bahwa “Israel menduduki tanah milik orang lain,” dan 30% lebih dari mereka merasa “malu” karena tindakan Israel.[23]

Mereka yang telah berbicara di kampus-kampus tentang Israel-Palestina selama bertahun-tahun merasakan perubahan drastis. Tahun 90-an dan sebelumnya, publikasi forum umum yang agak kritis terhadap Israel sering mendapatkan ancaman pembunuhan dari Jewish Defense League atau kelompok sejenis, universitas juga sering memasang detektor logam dan petugas keamanan dalam diskusi-diskusi kami, yang beberapa kali juga diganggu oleh banyak massa mahasiswa Zionis. Dalam satu acara di NYU, mahasiswa Zionis berbaris masuk dengan membawa bendera Israel dan menyanyikan lagu nasional Israel, Hatikva, saat saya berdiri untuk memulai pidato. Di Harvard selama Perang Teluk tahun 1991, mahasiswa berdiri dan meneriaki bahwa aku “anti-semit” karena mengkritik Israel dan baru berhenti ketika ikon sejarawan Howard Zinn berdiri dan mengatakan bahwa kami berdua adalah Yahudi yang menolak dibungkam oleh massa. Intimidasi dari kelompok-kelompok Zionis kepada para aktivis solidaritas Palestina memang berkurang banyak sekarang, meskipun menggunakan cara lain untuk menekan seperti secara administrasi dan sanksi hukum. Ini adalah tanda lemahnya gerakan akar rumput mereka dan semakin menguatnya ikatan institusi antar Zionis untuk melawan gerakan BDS, untuk lebih detail lihat buku Ali Abunimah, The Battle for Justice in Palestine.

Tahun 2013, usaha keras kelompok seperti USACBI untuk membawa pertanyaan tentang hak asasi rakyat Palestina menghantam di tengah-tengah akademisi. Hanya dalam beberapa bulan, tiga organisasi akademik di Amerika Utara memilih untuk memboikot universitas Israel: yang pertama Association of Asian American Studies, kemudian setelah melalui resolusi musim semi disusul American Studies Association, dan tak lama kemudian Native American and Indigenous Studies Association. Cabang-cabang SJP mengambil tindakan untuk membela profesor-profesor mereka yang mendapat serangan. Tapi sekarang kontroversi telah mencapai ruang-ruang legislatif negara, yang membawa gerakan BDS masuk semakin dalam ke arus utama media – Los Angeles TimesWashington Post, dan New York Times, semuanya memuat opini editorial mendukung boikot terhadap universitas Israel. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perpecahan pertama di kampus-kampus pro-Israel semakin dalam sejak musim dingin 2013-2014 saat “Open Hillels” dibentuk di Swarthmore dan Vassar menyatakan niat mereka untuk bekerjasama dengan BDS dan kelompok pro-Palestina lainnya, dalam penentangan terbuka terhadap misi Hillels sendiri. Sekarang, peran JVP dalam promosi dan mengorganisir kampanye BDS melawan perusahaan raksasa finansial pengelola pensiun TIAA-CREF, pabrik manufaktur alat karbonasi SodaStream dan yang lainnya, tidak ternilai. Meskipun secara organisasi JVP hanya fokus melawan perusahaan yang beroperasi di wilayah pendudukan sejak 1967 – bukan di seluruh Israel,seperti yang sasaran yang diserukan oleh BDS – JVP membuka diri dalam debat mengenai boikot yang lebih luas dan bahkan pada pertanyaan apakah negara Yahudi perlu dipertahankan. Banyak dari anggotanya adalah para anti-Zionis, yang lainnya lebih samar dan hanya menolak pendudukan tahun 1967. Namun dalam organisasi dimana tuduhan ‘anti-semit’ muncul terhadap setiap kritik terhadap Israel, memiliki kerjasama dengan organisasi Yahudi terkemuka yang menghubungkan lebih dari 100.000 aktivis Yahudi adalah satu keuntungan yang tak terbantahkan dalam melawan klaim palsu tersebut.

Inisiatif yang lebih kecil seperti International Jewish Anti-Zionist Network (IJAN) telah bergabung dengan American Muslims for Palestine untuk mengorganisir kegiatan seperti “Never Again for Anyone”, sebuah tur mendengarkan ceita baik korban dari Holocaust maupun rakyat Palestina yang menjadi korban dari perampasan yang mengajak terlibat dalam BDS. IJAN telah melahirkan grup Facebook seperti Jews for the Palestinian Right of Return yang membuat pernyataan yang ditandatangani oleh ribuan orang untuk memperkuat suara-suara Yahudi yang menolak logika negara Israel yang melakukan pembersihan etnis dan malah mengadvokasi hak-hak demokrasi seluruh rakyat Palestina dan Yahudi dalam satu negara sekuler.

Meskipun usaha awal para aktivis BDS untuk memenangkan resolusi universitas untuk divestasi dari perusahaan yang mengambil untung dari pendudukan Israel dan kebijakan apartheidnya kadang mengalami kemunduran, pertumbuhan gerakan itu justru lebih mencengangkan. Pada debat dan jajak pendapat mengenai divestasi di Universitas California – Berkeley, April 2013, menunjukkan bahwa Generasi Palestina telah bangkit. Selama sepuluh jam, pembicara demi pembicara, mahasiswa dari berbagai latar belakang etnis dan agama, berdiri dan membuat pernyataan sikap terhadap divestasi, dan kemudian menyepakati resolusi. Keyakinan mahasiswa dalam mengadvokasi divestasi menunjukkan bahwa gerakan BDS mentransformasi budaya politik kampus di banyak tempat. Aktivis BDS mulai mempertanyakan hak asasi rakyat Palestina sebagai isu sentral generasi ini seperti isu Perang Sipil Spanyol di tahun 30an dan perlawanan anti-apartheid Afrika Selatan di tahun 80an.

Untuk merespon gerakan BDS yang meroket tajam, Zionis meluncurkan serangan di segala bidang yang didanai dengan baik. Israel Action Network memulainya di tahun 2010 dengan dana 6 juta USD dengan tangan di lebih dari 400 komunitas untuk “bekerja sebagai tim respon cepat yang bertugas untuk mengkonter kampanye yang sedang berkembang.”[24] Kelompok kampus mencari bantuan dari Palestine Solidarity Legal Support yang baru dibentuk untuk menangkal usaha-usaha institusional untuk mematikan, membungkam, dan bahkan menuntut secara hukum para aktivis SJP karena advokasi Palestina mereka. Serangan balik dari kelompok Zionis justru memunculkan pertanyaan lebih besar diantara aktivis akan kebutuhan sebuah institusi formal pengambil keputusan dalam gerakan nasional, sentralisasi, dan pertanyaan-pertanyaan politis tentang bagaimana melawan serangan-serangan yang mendiskreditkan aksi mereka. Hari aksi nasional sedang dalam agenda bagi banyak orang.

Seperti dalam gerakan lainnya, aktivis BDS terpengaruh oleh arus yang lebih luas di kelompok Kiri AS, meskipun kolaborasi aktif dengan pemerintah Israel dilakukan oleh pimpinan Partai Demokrat, termasuk Presiden Obama, menciptakan perbedaan pendapat yang kuat tentang bagaimana dan haruskah ikut terlibat dalam politik elektoral. Sebagian besar aktivis kritis terhadap Partai Demokrat, meskipun sebagian kecil memutuskan secara formal bahwa independensi dari Partai Demokrat adalah kunci gerakan.

 

“Momen Afrika Selatan nya Palestina”

 

Bukan kebetulan bahwa banyak pendiri dan pemimpin gerakan BDS datang dari zaman tahun-tahun kemenangan gerakan anti-apartheid Afrika Selatan. Omar Barghouti, anggota pendiri BDS dan penulis BDS: The Global Struggle for Palestinian Rights, adalah mahasiswa internasional di Universitas Colombia tahun 80-an, salah satu lokasi paling penuh gejolak dalam pertempuran divestasi AS. Generasi itu mendapatkan pengalaman politik mereka di akhir dekade gerakan solidaritas itu, menyaksikan kemenangan rakyat pekerja kulit hitam Afrika Selatan melawan apartheid. Barghouti terkadang menyebut meroketnya gerakan BDS sebagai “momen Afrika Selatan-nya Palestina”. Analogi dengan Afrika Selatan bukan sesuatu yang retoris; itu adalah pengakuan hubungan sejarah dan politik yang dengan sadar dilakukan di antara dua sistem aparteid dan refensi akan metode yang bisa digunakan untuk meruntuhkan negara aparteid terakhir di dunia.

Kata “apartheid” adalah Bahasa Afrika untuk “keterpisahan” atau “terpisah”. Tahun 1948 – di tahun yang sama ketika Israel dibentuk sebagai negara – apartheid menjadi kebijakan resmi pemerintah kulit putih Afrika Selatan, merujuk kepada hukum, kebijakan, dan praktek yang dibentuk oleh pemerintah itu untuk mempertahankan supremasi minoritas kulit putih terhadap mayoritas kulit bukan putih. Tahun 1973, Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi Internasional tentang Pemberantasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid[25], mendefinisikan apartheid sebagai kejahatan kepada kemanusiaan, tidak spesifik hanya kepada Afrika Selatan. Kejahatan apartheid didefinisikan sebagai “tindakan tidak manusiawi” yang dilakukan dengan tujuan memaksakan segregasi dan diskriminasi rasial pada kelompok yang menjadi sasaran, dan membangun dominasi satu kelompok atas kelompok yang lain. Konvensi itu secara khusus melarang tindakan “yang dirancang untuk memisahkan penduduk … dengan menciptakan perkampungan terpisah untuk kelompok ras tertentu, pelarangan pernikahan antar kelompok … dan perampasan kepemilikan tanah.” Konvensi tersebut juga melarang tindakan yang menghalangi orang dan organisasi tertentu dari hak asasi dasar mereka, termasuk hak untuk bekerja dan mengakses pendidikan, hak untuk meninggalkan dan kembali ke negara asal mereka, hak berkebangsaan, hak untuk bergerak dan bertempat tinggal.

Semua ini menjelaskan karakter politik dan hukum Israel dengan sempurna. Semua hak asasi ini disangkal bagi rakyat Palestina. Amerika tahu ada segregasi rasial semacam ini – ia pernah menjadi kebijakan hukum di Amerika bagian Selatan sejak akhir abad ke-19 sampai tahun 1960-an, yang dikenal sebagai Jim Crow. Meskipun tidak pernah ada papan penunjuk di Tel Aviv atau Jerusalem yang bertuliskan “Hanya Yahudi” atau “Hanya Palestina”, namun jangan salah tangkap: Israel adalah negara Jim Crow. Israel adalah negara apartheid, meskipun sistem dua negara diterapkan secara berbeda dalam banyak hal. Seperti yang dikatakan seorang sosialis yang lahir di Israel, Moshé Machover, mereka adalah satu marga tapi berbeda spesies. Di Afrika Selatan, apartheid beroperasi untuk mengontrol, merepresi, meng-hyper-eksploitasi populasi penduduk asli berkulit hitam. Sedangkan apartheid Israel digunakan untuk membersihkan negara itu dari populasi penduduk asli.

Ada perbedaan krusial lainnya. Di Afrika Selatan di mana mayoritas populasi di bawah apartheid adalah pekerja kulit hitam, kekuatan mereka sanggup mendaratkan pukulan mematikan pada apartheid. Ini tidak bisa dikatakan sama dengan Palestina, ketika populasi tidak hanya sedikit, tapi semakin lama mereka juga semakin kehilangan hak-haknya. Dalam kasus Palestina, solidaritas internasional dari gerakan BDS saat ini, dan pada akhirnya, gerakan buruh baik dari wilayah itu dan seluruh dunia, akan menjadi penentu kemenangan perjuangan Palestina. Meskipun demikian, analogi apartheid tetap dapat digunakan.

Diskriminasi rasial terhadap rakyat Palestina telah diformalkan dan diinstitusionalkan melalui pembentukan secara hukum sebuah “kebangsaan Yahudi”, yang berbeda dengan kewarganegaraan Israel. Tidak ada kewarganegaraan “Israel” di Israel, dan Mahkamah Agung mereka terus-menerus menolak mengakui itu karena akan mengakhiri sistem supremasi Yahudi di Israel. Undang-Undang untuk Kembali tahun 1950 memberikan hak kepada semua orang Yahudi – dan hanya untuk Yahudi – hak atas nasionalitas, yaitu hak untuk memasuki ‘Eretz Yisrael’ (Israel dan Wilayah Pendudukan) dan dengan segera mendapatkan hak-hak politik dan hukum secara penuh. “Bangsa Yahudi” di bawah Undang-Undang untuk Kembali adalah ekstrateritorial dan bertentangan dengan hukum umum internasional mengenai berkebangsaan. Karena undang-undang tersebut memasukan seluruh warga negara Yahudi dari negara lain, terlepas dari apakah mereka mau atau tidak untuk menjadi bagian dari “bangsa Yahudi” secara kolektif, dan menyingkirkan siapapun yang ‘bukan-Yahudi’ (termasuk rakyat Palestina) dari hak-hak kewarganegaraan di Israel. Di bawah hukum Israel, status berkebangsaan Yahudi disertai dengan hak-hak dan keuntungan utama, yang tidak pernah diberikan kepada rakyat Palestina.

Di awal 60-an, Perserikatan Bangsa-Bangsa memberlakukan pelarangan senjata parsial; tahun 1964, Afrika Selatan diskors dari berpartisipasi dalam Olimpiade dan dilarang secara langsung pada 1970; gerakan divestasi dan sanksi, tidak mulai secara internasional selama bertahun-tahun. Tahun 1994, sistem apartheid resmi sudah berhasil dibongkar dan Nelson Mandela beserta Kongres Nasional Afrika sudah memimpin Afrika Selatan. Sepanjang tahun-tahun apartheid Afrika Selatan, para pemimpin Israel dari Golda Meir tahun 1940an hingga Yitzhak Rabin tahun 1994 bersedia mengabaikan masa lalu para pemimpin Afrika Selatan yang anti-semit – beberapa memiliki masa lalu bergabung dengan NAZI – untuk melakukan perdagangan senjata rahasia hingga pelatihan polisi militer dengan negara apartheid itu.[26]

Gerakan BDS tanpa malu-malu mengambil contoh dari cara bermain gerakan anti-apartheid Afrika Selatan yang sukses. Seperti Yahudi Israel saat ini, sebagian besar populasi kulit putih Afrika Selatan menolak negara demokratis dan menempelkan dominasi mereka atas populasi kulit hitam hingga akhir yang pahit. Tapi perlawanan domestik kulit hitam Afrika Selatan digabungkan dengan tekanan gerakan anti-apartheid internasional yang menyebabkan kerugian besar atas legitimasi rezim apartheid di sana. Seperti saat ini, beberapa berpendapat bahwa boikot yang dilakukan dapat membahayakan rakyat yang ingin kita bantu. Namun saat itu seperti juga seperti sekarang, populasi asli adalah juga inisiator dan pejuang gerakan boikot, divestasi, dan sanksi ini. Hari ini, tokoh-tokoh yang memimpin gerakan Afrika Selatan juga berbicara menentang apartheid Israel dan mengadvokasi BDS.

“Masalah-masalah yang sama seperti ketidaksetaraan dan ketidakadilan hari ini memantik gerakan divestasi untuk mengakhiri penindasan yang dilakukan Israel sepanjang puluhan tahun di tanah Palestina dan perlakuan tidak adil yang merugikan rakyat Palestina di bawah rezim pemerintah Israel.”[27] Begitu menurut Uskup Agung Afrika Selatan, Desmond Tutu. Aktivis anti-apartheid Afrika Selatan, Suraya Dado dan Muhammed Desai bersikeras merasa berhutang budi: “Adalah kewajiban kami sebagai orang Afrika Selatan untuk bersolidaritas dengan rakyat Palestina.”[28]

Kota-kota kumuh palsu yang dibuat mahasiswa di kampus mereka untuk menunjukkan segregasi dan kesengsaraan hidup di daerah kumuh Afrika Selatan memiliki gema untuk mengejek pos pemeriksaan yang dibuat oleh aktivis BDS untuk mendramatisir kondisi sehari-hari bagi rakyat Palestina yang harus melakukan perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Hari-hari panjang perjuangan gerakan anti-apartheid Afrika Selatan sama persis dengan acara tahunan Israeli Apartheid Week, yang sudah diperingati sepuluh tahun pada musim dingin ini. Kartu identitas bohongan yang mengidentifikasi berdasarkan ras yang dibuat para mahasiswa di tahun 80an, sama dengan surat peringatan bohongan yang mereka buat dan sebarkan melalui bawah pintu kamar di asrama-asrama untuk menunjukkan contoh apa yang militer Israel lakukan sebelum mengusir orang-orang Palestina dari rumah mereka. Contoh-contoh ini berkembang saat generasi yang lebih tua membagi pengalaman mereka dengan rekan-rekan yang lebih muda dalam gerakan, dan workshop tentang pembelajaran gerakan anti-apartheid  telah menjadi kewajiban dalam konferesi-konferens BDS.

Hal yang begitu mencengangkan dari gerakan BDS hari ini adalah kecepatan kemajuannya dalam sembilan tahun. Tidak hanya Israel menjadi negara jahat di mata orang-orang yang jumlahnya semakin lama semakin banyak, tapi juga kerugian finansial yang dialami Israel membuat para aktivis berani berharap lebih banyak. Surat kabar Israel, Maariv, melaporkan bahwa Israel mengalami kerugian setidaknya 30 juta USD karena BDS, sebagian besar di sektor pertanian.[29] Pimpinan Israel saat ini menganggap BDS sebagai “ancaman terbesar” mereka.[30]

Bagaimana pun, tidak ada negara, tentu saja termasuk sekutu terdekatnya AS, yang mau menerima pukulan ini tanpa menyerang balik. Abunimah, Blumenthal, dan yang lainnya telah menggambarkan dengan detail dan terperinci bagaimana usaha Israel  yang resmi dan rahasia untuk mendeligitimasi para pelaku deligitmasi’. Dari kampanye jutaan dolar yang menyabotase dan menyerang aktivis hingga usaha propaganda untuk mempromosikan kebijakan Israel atas hak-hak LGBT yang sebenarnya terbatas (‘pinkwashing’), usaha hasbara (propaganda) Israel sangat halus, didanai dengan baik, dan didukung oleh tokoh-tokoh di AS. Anggota parlemen di New York, Florida, Illinois, dan Pennsylvania telah mengajukan proposal rancangan undang-undang untuk menekan kritik terhadap Israel di kampus-kampus AS karena resolusi boikot yang muncul di mana-mana belakangan ini. Presiden Obama juga memastikan akan bergabung dalam kelompok melawan BDS pada konferensi AIPAC tahun ini.

Mencapai tujuan utama gerakan – yaitu mengakhiri penjajahan dan kebijakan apartheid sekaligus memperkenankan hak untuk kembali – masih terasa begitu jauh di masa depan dan tidak bisa dimenangkan hanya dengan BDS. Meskipun BDS adalah taktik yang luar biasa untuk memenangkan simpati dan mengundang aktivis untuk bersolidaritas dengan rakyat Palestina, bahkan memberikan pukulan telak ekonomi dan ideologi Israel, itu pada akhirnya adalah sebuah perjuangan untuk mereformasi kapitalisme – sistem eksplotasi yang merupakan bagian dari orde imperialisme.

Sosialis harus mendukung gerakan yang sedang berkembang ini, meskipun tidak semua mendukungnya. Di jantung cita-cita sosialisme terletak solidaritas internasional terhadap perjuangan rakyat tertindas, yang tentu dilakukan oleh BDS. Meski beberapa sosialis berpendapat bahwa gerakan ini tidak cukup radikal dalam memperjuangankan hak asasi manusia atau bahkan bisa ditentang karena bisa mencederai pekerja Palestina dan Yahudi Israel.

Satu yang terpenting, sebagai sebuah gerakan yang diluncurkan dan dipimpin oleh orang-orang Palestina di berbagai spektrum politik – luar biasa di dalam dan di luarnya karena perpecahan historis spektrum politik Palestina – BDS adalah sebuah ekspresi menentukan nasib sendiri oleh rakyat Palestina. Kerangka hak asasi manusianya menggunakan hukum internasional untuk mengekspos kemunafikan negara seperti AS yang mengklaim memiliki prinsip mulia itu, padahal mengkhianati prinsip itu sendiri dengan melakukan kongkalikong dengan negara apartheid Israel.

Namun sifat reformasi dari BDS ini bukan alasan bagi sosialis untuk menentangnya. Seperti juga kita tidak begitu saja menentang gerakan reforma lainnya. Hampir semua perjuangan keadilan ekonomi dan sosial, termasuk gerakan serikat pekerja, akan ditolak seluruhnya bila alasannya hanya karena itu. Batasan yang dimiliki gerakan justru membutuhkan sosialis untuk meningkatkan politik anti-imperialisme dan politik solidaritas kelas tertindas internasionalis yang lebih luas di dalam gerakan BDS itu sendiri, seperti yang dilakukan oleh para anggota dari International Socialist Organization yang mengambil peran aktif di kampus dan kelompok BDS berbasis komunitas lainnya. Kekuatan dari gerakan BDS saat ini adalah konferensi dan agenda-agenda pendidikan telah mulai mempertanyakan dan memperdebatkan apa yang selama ini berhasil dan juga gagal dalam revolusi di dunia Arab dalam tahun-tahun belakangan ini. Bagaimanapun, tetap menjadi kelemahan bagi gerakan ini karena kebanyakan kelompok-kelompok BDS tersita waktu dan tenaga dalam perencanaan agenda-agenda harian sehingga mengesampingkan pertanyaan politis yang lebih dalam. Ini tentu gejolak dalam setiap gerakan, namun gejolak yang harus dijawab jika tujuan utamanya yaitu pembebasan ingin dicapai. Gerakan global BDS yang berani harus dimenangkan pada analisis yang lebih jernih mengenai imperialisme dan sentralitas kekuasaaan di tangan pekerja, ini tidak dapat dimenangkan tanpa keterlibatan aktif para sosialis dalam gerakan, mengembangkan jaringan dan kredibilitas politik untuk mendapatkan pendengar yang lebih luas akan ide ini. Ide yang telah didorong maju oleh perjuangan di dunia Arab.

Tantangan bahwa BDS bisa saja melukai para pekerja Palestina mengingatkan atas argumen yang muncul untuk melawan gerakan anti-apartheid Afrika Selatan. Organisasi pekerja Palestina, seperti serikat buruh kulit hitam di Afrika Selatan yang mendukung usaha-usaha anti-apartheid, telah bergabung dalam gerakan BDS. Jadi argumen ini hancur berantakan karena mereka yang dianggap paling terkena dampaknya justru berjuang bersama. Terlebih lagi, pendapat bahwa pekerja Israel bisa terluka oleh BDS mungkin benar, namun salah tempat. Para pekerja Yahudi Israel, seperti yang terjadi di seluruh dunia, dieksploitasi dan ditindas oleh kelas penguasa mereka. Tapi dukungan mereka yang tak putus terhadap penggusuran, penjajahan, dan represi Israel terhadap rakyat Palestina harus dilawan, bukan diakomodasi. Dukungan melimpah untuk penindasan di antara Yahudi Israel, termasuk 90% dukungan terhadap pengepungan brutal di Gaza,[31] merupakan bukti akan fakta bahwa sebagian besar pekerja Yahudi di Israel telah memihak negara Zionis itu melawan rakyat Palestina.

Segelintir orang Yahudi Israel yang menentang kebijakan Israel, paling terkenal adalah Ilan Pappé dan Amira Haass, aktivis Boycott From Within, dan kelompok pro-Palestina yang menjamin solidaritas bersama, tapi mereka adalah pengecualian kecil dari tatanan yang ada. Tentu sangat dibutuhkan update terhadap esai tahun 1969 ini mengenai karakter kelas di masyarakat Israel,[32] tapi inti yang disampaikan tetaplah sama: bahwa subsidi ekonomi yang diberikan pada masyarakat Yahudi Israel dan peran Penjaga Praetorian yang dimainkan oleh Israel untuk Kekuasaan AS di Timur Tengah mendistorsi hubungan “normal” kelas di negara itu. Hingga dinamika tersebut dibalik, pekerja Yahudi Israel tidak akan memisahkan dirinya dari Zionisme secara massal.

Fokus gerakan solidaritas internasional ini harus tetap pada kekuatan di dalam Palestina dan secara internasional yang mau dan bisa melakukan sesuatu. Jalan menuju pembebasan Palestina mengalir di pusat-pusat industri utama di daerah tersebut dimana terdapat potensi kemenangan revolusioner yang dipimpin oleh kelas pekerja di dunia Arab, dari Kairo hingga Amman. Tapi seperti yang dunia lihat dalam beberapa tahun terakhir, sepertinya ini akan menjadi proses panjang bertahun-tahun.

Belum ada perubahan kebijakan signifikan untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina di Wilayah Pendudukan dan Israel. Namun lempeng tektonik ideologi yang mendukung Israel telah bergerak, dan sebuah gerakan hak asasi manusia secara internasional terus bangkit. Ketika pejabat Israel berbicara tentang ‘ancaman demografis’ yang biasanya mereka maksudkan sebagai populasi domestik Palestina. Gerakan BDS telah menunjukkan bahwa ancaman demografis sebenarnya terhadap stabilitas Israel adalah kebangkitan dari Generasi Palestina di seluruh dunia.[]

 

[1]     Omar Barghouti, BDS: The Global Struggle for Palestinian Rights (Chicago: Haymarket Books, 2011), 6.

[2]     THE RACISM WALKOUT; The Cause and the Effect: Two Excerpts, New York Times, September 4, 2001.

[3]     Untuk sejarah Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel, silakan lihat http://pacbi.org/index.php.

[4]     Tom Hickey dan Philip Marfleet, “The ‘South Africa Moment’: Palestine, Israel and the boycott, ”International Socialism issue 128, October 2010, http://www.isj.org.uk/index.php4?id=680#….

[5]     Dikutip in Ibid.

[6]     Ibid.

[7]     Penulis ingin berterima kasih kepada Bill Mullen, profesor di English and American Studies at Purdue, karena telah memperkenalkan kepada istilah ini yang juga merupakan judul dari buku yang diterbitkan pada 2013 oleh Verso Press.

[8]     “BBC poll: Israel among world’s least popular nations,” May 25, 2013, Ha’aretz,  http://www.haaretz.com/news/world/bbc-po….

[9]     Karl Marx, Capital Vol. I, Chap. 31, “Genesis of the industrial capitalist, ”http://www.marxists.org/archive/marx/wor….

[10]   Dikutip dari Noam Chomsky, “’Exterminate all the brutes,’” January 19, 2009, http://www.chomsky.info/articles/2009011….

[11]   Arjan El Fassed, “Israel commits massacre in Jenin refugee camp,” April 7, 2002, http://electronicintifada.net/content/is….

[12]   Elizabeth Schulte, “Rallying in support of Gaza,” January 2, 2009,Socialist Worker.

[13]   Dikutip dari Glenn Greenwald, “More oddities in the U.S. ‘debate’ over Israel/Gaza,” January 2, 2009, http://www.salon.com/2009/01/02/israel_6/.

[14]   Kevin Ovenden, “A new phase of struggle is born,” June 28, 2010,Socialist Worker.

[15]   Jesse Bacon, “Breaking: Architect Frank Gehry supports Israeli settlement boycott,” September 21, 2010, http://jewishvoiceforpeace.org/blog/brea….

[16]   Philip Weiss, “Netanyahu mentions ‘BDS’ 18 times in denouncing movement and its ‘gullible fellow travelers,’” March 4, 2014,http://mondoweiss.net/2014/03/netanyahu-….

[17]   Wawancara dengan Tareq Radi, “Poetry, Solidarity, and BDS: An Interview with Remi Kenazi, March 26, Jadaliyya, http://www.jadaliyya.com/pages/index/170….

[18]   Sofia Arias, email kepada Sherry Wolf, March 24, 2014.

[19]   Tareq Radi, email kepada Sherry Wolf, March 25, 2014.

[20]   Wael Elasady, email kepada Sherry Wolf, March 24, 2014.

[21]   The Russell Tribunal on Palestine,http://www.russelltribunalonpalestine.co….

[22]   Peter Beinart, “The failure of the American-Jewish establishment,” June 10, 2010, New York Review of Books, http://www.nybooks.com/articles/archives….

[23]    Dana Goldstein, “Why fewer young American Jews share their parents’ view of Israel,” September 29, 2011, Time, http://ideas.time.com/2011/09/29/why-few….

[24]    Dikutip dari Ali Abunimah, The Battle for Justice in Palestine (Chicago: Haymarket Books, 2014), 128.

[25]   John Dugard, “Convention on the Suppression and Punishment of the Crime of Apartheid,” November 30, 1973, http://legal.un.org/avl/ha/cspca/cspca.html.

[26]   Sasha Polakow-Suransky, The Unspoken Alliance: Israel’s Secret Relationship with Apartheid South Africa (New York: Pantheon Books, 2010).

[27]   Ali Abunimah, “South African church leaders endorse Israeli Apartheid Week,” March 10, 2014, Electronic Intifada, http://electronicintifada.net/blogs/ali-….

[28]   http://lemuradesoreilles.org/2014/03/25/….

[29] “BDS costs Israel 100 million shekels in losses,” Maariv, March 7, 2014, https://www.middleeastmonitor.com/news/m….

[30]   Ali Abunimah, “Israel is losing the fight against BDS,” Electronic Intifada, http://electronicintifada.net/blogs/ali-…

[31]   Max Blumenthal, Goliath: Life and Loathing in Greater Israel (New York: Nation Books, 2013), 11.

[32]   Untuk artikel yang sangat bagus mengenai hal ini lihat penerbitan ulang dari esai tahun 1969, “The class character of Israeli society,” see Moshe Mochover and Akiva Orr, ISR 23, May–June 2002, http://www.isreview.org/issues/23/class_….

Naskah Jurnal diambil dari International Socialist Review, Issue #93, Summer 2014. “What’s Behind the Rise of BDS?”, oleh Sherry Wolf.  Dapat diakses melalui http://isreview.org/issue/93/whats-behind-rise-bds.

 

Diterjemahkan oleh Aghe Bagasatriya, anggota Solidaritas Rakyat untuk Pembebasan Palestina (SRuPP).

641 total views, 2 views today

Share this post:

Recent Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment