Kemenangan Sayap Kanan di Venezuela

Venezuela FlagKubu oposisi sayap-kanan di Venezuela baru-baru ini menang dua pertiga kursi di pemilu Majelis Nasional pada 6 December. Hasil pemilu tersebut memberikan kekuasaan kepada pihak kanan untuk mengubah konstitusi dan memulai proses pemilu presiden untuk mengganti President Nicolás Maduro (penerus almarhum Presiden Hugo Chavez), sebelum masa jabatannya sudah berakhir.

Chavez yang terpilih pertama kali pada tahun 1999 pernah menjalankan kebijakan pembaruan yang menghasilkan mengurangi kemiskinan sambil memarahkan kaum elit Venezuela dan imperialisme Amerika Serikat. Namun, kelas kapitalis tetap mengkontrol ekonomi dan ada beberapa masalah signifikan di Venezuela. Hal tersebut menunjukkan keterbatasan jalur sosialisme dari atas. Ada pelajaran-pelajaran penting untuk kaum Kiri Indonesia, terutama mengenai ciri-ciri masyarakat sosialis dan tentang pembangunan partai untuk memperjuangkan sosialisme.
Tragedi Venezuela adalah bahwa setelah 17 tahun Chavismo, jutaan buruh mencabut dukungannya dari Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV)dan dengan itu menyebabkan kekalahan PSUV di pemilu.

Pemerintah menyalahkan kekalahannya terutama pada ‘perang ekonomik’ yang dijalankan kaum borjuis Venezuela dan Amerika Soviet. Kemudian karena ‘pengkhianatan’ kaum miskin dan kaum buruh Chavistas, yang baik golput atau memilih oposisi.

Tetapi hal-hal tersebut tidak menjelaskan mengenai mengapa pemerintahmengalami kehilangan dukungan dari jutaan buruh.

Terutama, ada jatuhnya harga minyak dunia secara drastis yang mengurangi penerimaan negara dan menyebabkan kenaikan tingkat inflasi dari 160 sampai 200 persen pada tahun 2015. Pemerintah di mana pun akan menghadapi tantangan besar ketika harga minyak turun dari $140 barel menjadi di bawah $40 per baral.

Tetapi ada masalah yang lebih dalam. Pada beberapa tahun terakhir, orang biasa yang mau membeli sembako dipaksa menunggu dalam antrean selama tujuh jam seminggu. Lebih buruk, pemerintah telah meremahkan krisis dan merespon kritik dengan mengatakan bahwa kaum revolusioner harus berhenti mengeluh dan mendukung saja Maduro.

Bagian dari birokrasi Bolivarian telah mengasingkan dirinya dari kehidupan sehari-hari warga biasa. Sayangnya hal tersebut adalah kencenderungan politik yang dominan dalam kepemimpinan Chavista dan mencerminkan politik partainya.

Pada tahun 2007 Presiden Chavez menyerukan pembentukan PSUV dengan tujuan untuk menyatukan semua pihak yang berkomitmen untuk memajukan Revolusi Bolivarian. Kaum sosialis yang membela Chavez dari pihak kanan tetapi juga mengkritik metode birokrasinya, menjadi diterjepit.

Akhirnya, kebanyakan kelompok sosialis setuju untuk berpartisipasi dan segera PSUV mempunyai jutaan anggota. Namun, PSUV tidak berdasarkan pada partisipasi aktif anggotanya. Melainkan, PSUV mengandalkan pada struktur birokrat di mana kritik, debat dan kekuasaan buruh tidak didorong.

Walaupun ada upaya untuk membangun dukungan untuk PSUV dengan proyek demokrasi partisipatif –komune, kooperatif buruh dan sebagainya – kekurangan keterlibatan kaum buruh dan kekurangan kontrol dari bawah berarti terbirokratisasi terjadi. Dan karena tidak ada kekuasaan buruh, korupsi menyebar dari sektor swasta kepada birokrasi negara.

Isu-isu dengan PSUV dan kondisi material yang dihadapi kaum buruh mengakitbatan jutaan orang biasa tidak memberikan suara kepada pemerintah pada 6 Desember. Banyak orang yang memilih Chavismo selama 17 tahun terakhir pada Desember memberitahu pemerintah bahwa mereka mau berakhirnya kemerosotan kondisi ekonomi dan politik.

Seperti dikatakan seorang revolusioner Gonzalo Gomez dari kelompok sosialis Marea Socialista yang sudah lama mengkritik pemerintah dari perspektif Kiri, “Ada dua musuh revolusi: birokrasi dan modal. Dua hal tersebut adalah dua sisi dari koin kapitalis yang sama. Dua-duanya bersaing secara elektoral, tetapi membagi koper di bawah meja.”
Kemenangan kubu kanan adalah hal nyata dan pukulan buruk, namun kaum sosialis seharusnya tidak memiliki ilusi atau harapan terhadap PSUV. Sementara Maduro mungkin akan terus memakai retorika radikal, tetapi kesempatan untuk perubahan nyata untuk menuju sosialisme hanya akan datang dengan peningkatan tajam dalam aktivitas revolusioner dari bawah.

Oleh : Harriet Rianti.

1,527 total views, 5 views today

Share this post:

Related Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment