Kenapa Rusia Menjatuhkan Bom di Syria?

Bom SyriaDengan perintah Vladimir Putin, Rusia melancarkan serangan udara ke Syria, Eric Ruder, dalam sebuah artikel untuk website AS, SocialistWorker.org menjelaskan latar belakang konflik dan akibat-akibat dari tahap baru kekerasan ini.

Intervensi Rusia di perang sipil di Syria menandai dimulainya pengaruh bab baru dalam konflik yang telah mengakibatkan kematian bagi ratusan ribu orang dan mencerai-beraikan 10 juta orang didalam dan diluar perbatasan Syria.

Presiden Vladimir Putin mendandani masuknya Rusia kedalam konflik tersebut “serupa dengan koalisi anti-Hitler” yang melibatkan AS dan negeri-negeri Barat lainnya melawan Negara Islam Irak dan Syria (ISIS), yang mengontrol Syria bagian timur.

Namun serangan pertama Rusia pada tanggal 30 September tidak menyasar ISIS, namun kelompok-kelompok pemberontak – beberapa diantara mereka didukung dengan berbagai tingkatan oleh AS – yang telah bertempur di dua medan: melawan rejim diktaktor Syria, Bashar al-Assad di satu sisi, dan melawan ISIS di sisi yang lainnya. Laporan korban sipil meninggal akibat pemboman Rusia telah bermunculan sejak itu.

Tidak hanya serangan udara awal tersebut mengungkap tujuan Putin sebenarnya – untuk menopang rejim Assad, sekutu signifikan terakhir Rusia di daerah tersebut – namun juga menggambarkan potensi bagi meningkatnya konfrontasi antara AS dan Rusia, meskipun usaha “de-konflik” yang dibuat oleh kedua negara berkekuatan senjata nuklir tersebut .

Sementara itu, pemerintah AS telah secara publik menentang rejim Assad – bukan karena represi dan kekerasannya terhadap perlawanan popular, namun terutama karena aliansinya dengan Iran, musuh Washington lainnya – sementara tidak pernah memberikan dukungan kepada pemberontak anti Assad yang memungkinkan mereka untuk menandingi kekuatan militer Syria.

Masuknya kekuatan militer Rusia di sisi rejim Assad membuat AS mencari-cari cara menghadapinya – sementara korban jiwa di Syria terus bertambah.

Kemunculan kembali konfrontasi antara saingan imperialis Rusia dan AS sekarang harus ditempatkan diatas banyak lapisan permusuhan yang merobek-robek Syria.

Akar dari konflik ini ada pada kebangkitan popular melawan Assad yang mengambil inspirasi dari revolusi di Tunisia dan Mesir, serta perjuangan lain yang merupakan bagian dari Arab Spring tahun 2011. Tidak seperti diktaktor-diktaktor yang tersingkir, Assad mampu menyerang balik, membantai demonstrasi damai, memaksa militerisasi dari konflik tersebut, dan menggambarkan semua perlawanan didorong oleh AS, Israel dan atau kelompok pemberontak Suni yang bertekat menghancurkan Syiah dan kelompok minoritas keagamaan lainnya. Untuk membantu mengutuk oposisi, Assad dengan sinis melepaskan ekstrimis Suni dari penjara , berjudi bahwa para ekstrimis tersebut akan menyasar kekuatan demokratik yang dia hadapi juga, serta secara bersamaan berfungsi sebagai musuh sempurna untuk disasar sementara mencari dukungan.

Konflik di Syria adalah perang tiga arah antara pemerintahan Assad, kekuatan pemberontak dengan berbagai macam latar belakang dan ISIS. Itu termasuk Kurdi Syria yang bertempur melawan ISIS maupun Turki di perbatasan bagian utara Syria, ditambah bentrokan-bentrokan proksi antara berbagai kelompok pemberontak bersenjata dan jihadis yang didukung beragam oleh AS, Iran, Turki, Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.
Sekarang, dengan serangan udara Rusia berfungsi sebagai pelindung, tentara Iran akan bergabung dengan pejuang Hizbullah Lebanon bersama dengan kekuatan pemerintahan Assad dalam perang yang terus meningkat untuk mendapatkan kembali kontrol bagi pemerintah pusat.

Pertarungan telah mengakibatkan korban jiwa 250 ribu rakyat Syria – dan merubah separuh dari populasi Syria berjumlah 22 juta orang menjadi pengungsi. Sekitar 7 juta rakyat menjadi pengungsi internal (internally displaced person), dan sekitar 4 juta orang telah meninggalkan Syria, berakhir di Lebanon, Yordania, Irak, Turki dan – dalam jumlah yang lebih kecil namun dengan profil politik yang jauh lebih tinggi – Eropa.

Sejak kebangkitan pemberontakan rakyat Syria dimulai pada tahun 2011, pejabat AS telah menyatakan secara publik bahwa penyelesaian politik dari konflik yang ada harus menyingkirkan Assad dari kekuasaan. Namun AS dan Israel berkeinginan untuk mempertahankan mesin negara Syria tetap utuh. Alasannya sederhana: Dari cara pandang imperialisme Barat, semua alternatif dari Assad terlihat jauh lebih buruk.

Pada tahun 2012, Rusia dilaporkan menawarkan untuk menegosiasikan penyingkiran Assad dari kekuasaan . Namun dengan terlihatnya rejim ini seakan hampir jatuh, kekuatan AS dan Barat lainnya mengabaikan tawaran tersebut, dan menghabiskan waktu mereka mendukung kekuatan politik dan militer yang mereka pikir akan membawa sebuah rejim paska Assad yang stabil.

Namun Assad berhasil bertahan, dengan cara yang paling represif dan kekerasan: bom barel dan taktik bumi hangus lainnya yang menghancurkan seluruh daerah dan tempat tinggal, sebagai peringatan bagi yang lain bahwa perlawanan akan dihadapi dengan tangan besi.

Sementara itu, ISIS – produk dari perang sipil barbar di negara tetangga Irak, sebagian besar dihasut oleh AS untuk menjaga dirinya tetap diatas sebagai tuan kolonial – mendapatkan benteng di Syria bagian timur, tempat dimana jutaan kaum Suni Irak yang dikejar-kejar melarikan diri. Dibangun dari sisa-sisa al-Qaeda di Irak, ISIS merekruit petarung, mendapatkan pengalaman perang dan merebut uang dan persenjataan yang cukup untuk menjadi kekuatan yang tangguh.

Hari ini, Assad mungkin bisa bertahan dalam kekuasaan, namun rejimnya hanya mengendalikan sekitar 25 persen daerah Syria, di sepanjang daerah barat yang berpopulasi terpadat ketiga di negeri itu – sementara ISIS, memiliki basis di timur, mengontrol sekitar setengah negeri itu.

Baik serangan udara AS terhadap ISIS ataupun dukungan untuk Kurdi dan pejuang lainnya tidaklah merubah keseimbangan kekuatan. Komponen lain dari strategi Washington – sebuah program senilai 500 juta USD untuk melatih kekuatan tempur sebanyak 5 ribu orang melawan ISIS – bahkan lebih luar biasa kegagalannya. Bulan lalu, kesaksian dihadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat, Jenderal Lloyd Austin, komandan Komando Sentral AS, mengakui bahwa program tersebut sejauh ini hanya menghasilkan “empat atau lima” petarung .

Jika tambahan dana 600 juta USD yang diminta oleh Pentagon untuk terus mendanai program pelatihan tersebut sama berhasilnya, AS harus mengumpulkan 1,1 miliar USD untuk menghasilkan tentara yang berisi 11 orang petarung.

Masuk Putin dengan retorika membumbungnya tentang memimpin sebuah koalisi untuk menghadapi ISIS – tentu saja bersamaan dengan upaya untuk memenangkan dukungan di rumah untuk menegaskan kembali kekuasaan imperial Rusia.

Pertaruhan Putin menekan banyak pihak di Washington, dengan faksi “elang” dari kebijakan luar negeri yang ada menyerukan Obama untuk berekasi dengan keras terhadap “campur tangan” Putin di Syria – seolah-olah hanya AS yang memiliki hak hakiki untuk menentukan negeri mana yang boleh beroperasi disana.

Perdebatan juga mulai di media mengenai apakah Rusia bertindak karena merasa kuat atau justru menunjukan kelemahan atau keputusasaan. Mungkin semua itu jawabannya.

Dalam tingkatan tertentu, tangan Putin dipaksa oleh perjanjian nuklir baru-baru ini antara AS dan Iran , yang mengembalikan Iran pada hubungan normal dengan kekuatan dunia lainnya – dan dengan demikian keluar dari orbit Rusia. Bagi Rusia, ini semakin meningkatkan posisi penting strategis dari rejim Assad.

Namun jika tujuan paling ambisius untuk merestorasi kerajaan Rusia jauh dari jangkauan, intervensi di Syria telah menghasilkan posisi bagi Rusia di meja diskusi mengenai seperti apa hasil akhir di Syria.

Dan apapun kelemahan yang mungkin dihadapi oleh Putin, cengkraman AS di Timur Tengah telah diuji sangat berat – dalam makna militer dan politik – sejak invasi dan pendudukannya yang membawa bencana di Irak pada tahun 2003.

Perang tersebut menggulingkan Saddam Hussein dan menciptakan permulaan dari rejim boneka AS, namun berakhir dengan penarikan mundur yang memalukan dari prajurit tempur pada tahun 2011 dan karena kurang hati-hati memperkuat Iran sebagai kekuasaan dominan di daerah tersebut. Al-Qaeda, yang tidak ada di Irak sebelum invasi AS, tumbuh dengan cepat ditengah perlawanan terhadap pendudukan, dan muncul kembali dari petaka perang sipil sektarian yang dipicu oleh AS dalam bentuk ISIS.

Dan secara keseluruhan, berdirinya AS sebagai kekuasan imperialis dominan di daerah tersebut, yang berkuasa melalui kombinasi dari kekuatan ekonomi dan militernya sendiri, dikombinasikan dengan jaringan rejim-rejim sekutunya, telah mengalami kerusakan yang parah.

Pencaplokan kekuasaan terbaru serta pengaruh Putin di Syria telah lebih jauh mengungkapkan tergelincirnya kekuatan AS. Seperti kolomnis konservatif New York Times, Ross Douthat merangkum beberapa capaian Putin :
“Aneksasinya terhadap Krimea, sebagai contoh, membebani Moskow dengan berbagai jenis persoalan jangka pendek dan panjang. Namun itu memberikan preseden yang bermakna terkait dengan batasan kekuatan Amerika dan Barat, sejenis kontra-contoh bagi Perang Teluk pertama, dengan membuktikan bahwa perbatasan yang diakui masih bisa dibuat ulang oleh kekuatan militer. Rekayasa Syria-nya, serupa dengan itu, belum berhasil mengembalikan kontrol rejim Assad atas negeri yang tidak bahagia itu. Namun hal tersebut telah membantu membuktikan bahwa garis “Assad harus pergi”nya Amerika hanyalah gertakan kosong, dan bahwa sebuah rejim dapat melewati garis merah Washington dan tetap bertahan.”

Intervensi Rusia di Syria juga memberikan pelajaran mengenai batasan analogi historis – terutama sekali, konflik Perang Dingin antara AS dan bekas USSR yang dibuat oleh banyak komentator politik untuk menjelaskan tragedi Syria.

Economist, sebagai contoh, mendambakan geliat kembali serta kampanye militer Amerika yang lebih kuat, dari Syria hingga Afganistan. “Bahkan jika ini tidak lebih dari teater politik, Rusia membuat gerakan terbesar di Timur Tengah, yang hingga sekarang didominasi oleh Amerika, sejak Uni Soviet diusir pada tahun 1970an.” Argumentasi dari majalah tersebut .

Sementara itu, jurnalis dan ahli Timur Tengah Independent, Patrick Cockburn merayakan kembalinya Rusia pada panggung utama diplomasi :

“Perang Dingin AS-Soviet, serta persaingan global yang ikut dengannya, telah menguntungkan bagi banyak dunia. Kedua superpower berusaha mendukung sekutu-sekutu mereka sendiri dan mencegah vakum politik berkembang yang mungkin dapat dieksploitasi oleh musuhnya. Krisis tidak membusuk seperti yang terjadi hari ini, dan rakyat Rusia dan Amerika dapat melihat bahaya mereka tergelincir sepenuhnya keluar kendali dan memprovokasi krisis internasional.”

Dalam kenyataannya, kebuntuan superpower di masa lalu mengancam dunia dengan pemusnahan nuklir, dan “persaingan global yang ikut dengan” ancaman tersebut jauh dari positif bagi negeri-negeri dimana terjadi pertarungan. Namun bahkan ketika mengabaikan hal tersebut, mengharapkan terulangnya kondisi tersebut adalah berdasarkan atas harapan palsu kembali ke masa lalu, sementara mengabaikan korban jiwa yang disebabkan oleh eskalasi konflik di saat ini, seperti yang ditunjukan oleh penulis dan aktivis Marxis, Gilbert Achcar .

Bahkan lebih membingungkan dari nostagia Cockburn akan Perang Dingin adalah delusi pendukung jujur rejim Assad dan pelindung barunya di Moscow. Brian Becker dari Party for Socialism and Liberation serta kelompok frontnya ANSWER hanya menggaungkan retorika Putin dalam pernyataan sikap terakhirnya :

“Kekuatan utama yang mencegah Syria dari sepenuhnya dikalahkan oleh ISIS dan al-Qaeda adalah Tentara Arab Syria, tentara nasional dari negeri itu… sekarang militer Rusia telah secara langsung masuk dalam pertempuran bergandeng tanban bersama tentara nasional Syria… intervensi Rusia secara formal diminta oleh pemerintahan Syria berdaulat yang dipimpin oleh Bashar al-Assad dan dengan begitu sesuai dengan hukum internasional.”

Dalam rangka membayangkan intervensi Rusia sebagai tantangan terhadap kerajaan AS atas nama pahlawan “anti imperialis” Assad, Becker harus mengabaikan barbarisme dari kediktaktoran Syria, yang bertanggung jawab terhadap mayoritas besar dari ratusan ribu kematian dalam perang sipil – dan sejarah buruk Rusia sebagai pos terdepan neoliberalisme yang melayani oligarki Rusia serta sebagai kekuatan imperialis sendiri, dengan catatan buasnya di Chechnya diantara konflik-konflik lain untuk membuktikannya.

Slogan lama “Bukan Washington maupun Moskow” telah menjadi relevan kembali. Seperti seorang revolusioner Syria, Joseph Daher katakan :

“Tidak akan ada kontradiksi antara…berbagai aktor regional, namun pada akhirnya, AS ingin mempertahankan status quo imperialis di Timur Tengah, menjaga kepentingannya di daerah ini. Ini kenapa kita harus menentang semua kekuasaan imperialis (AS, Rusia dan yang lainnya) serta sub-imperialis (Arab Saudi, Iran, Qatar dan Turki) karena mereka semua menentang kepetingan klas-klas popular dan tidak memilih salah satunya karena kita menganggapnya lesser evil.”

[Pertama kali dipublikasikan di SocialistWorker.org]

Disadur dari website REDFLAG. Diterjemahkan Oleh Ignatius Mahendra Kusumawardhana, Kontibutor Arah Juang dan Anggota KPO-PRP.

4,524 total views, 1 views today

Share this post:

Related Posts

Ayo Berlangganan Koran Arah Juang

Leave a Comment