Tentang GBI dan Seruan Bangun Partai Buruh (Bagian II)

Hari Buruh Sedunia 2015Menurunnya gerakan buruh tidak terlepas dari cengkraman elit birokrasi serikat buruh itu sendiri. Cengkraman ini berkaitan erat dengan kepentingan politik para elit birokrasi serikat buruh yang semakin lama semakin ke kanan dan berkolaborasi dengan para borjuis. Ditengah naiknya gelombang perlawanan klas buruh, yang membuat klas buruh semakin radikal dan kritis tentunya menjalankan kepentingan politik kanan tersebut akan mengalami kesulitan.

Dari cengkraman itu kita bisa melihat karakteristik dan politik apa yang akan dominan di partai massa buruh besutan GBI.

Pertama, adalah kolaborasi dengan elit borjuis. Baik Said Iqbal KSPI maupun Andi Gani KSPSI tidak terlepas dari kolaborasinya dengan para borjuis. Said Iqbal mengeluarkan instruksi untuk mendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Hingga May Day 2015 kemarin pun petinggi-petinggi KMP (koalisi partai pendukung Prabowo) juga diundang ke Gelora Bung Karno.

Satu hal yang perlu menjadi catatan penting adalah dukungan KSPI terhadap Prabowo. Termasuk hubungannya dengan Koalisi Merah Putih (KMP) hingga saat ini. Mereka memiliki keahlian menggunakan isu kanan (rasialisme) maupun demagogi kiri (kerakyatan, Soekarnois) untuk meraup dukungan klas buruh dan rakyat. Sementara politik yang mereka wakili adalah ingin memundurkan keadan seperti jaman Rejim Militer Soeharto.

Dukungan ini semakin berbahaya saat ini karena: (1) Disatu sisi Jokowi tidak akan bisa membawa klas buruh dan rakyat kemana-mana selain tetap ditindas. (2) Bahkan Jokowi sendiri memperkuat kekuatan sisa-sisa orde baru, seperti mendirikan Kodam di Papua. Dalam beberapa kesempatan juga merangkul Prabowo. (3) Perkembangan klas menengah yang mayoritas sekarang berkencenderungan mendukung otoritarian.

Andi Gani pada saat Pilpres 2014 mendukung Jokowi. Sekarang pimpinan serikat buruh yang juga pengusaha tambang ini menjabat sebagai Komisaris PT PP. Kenapa mereka berdua mendukung Jokowi ataupun Prabowo? Bukanlah demi kepentingan klas buruh melainkan untuk mendapatkan jabatan sebagai Menteri Tenaga Kerja.

Kedua, anti demokrasi. Di internal mereka sendiri dilancarkan pembersihan terhadap mereka-mereka yang maju. Danial Indrakusuma yang menginisiasi berbagai sekolah ekonomi politik dan Sherr Rinn yang dahulu menjadi pengelola website SPAI-FSPMI disingkirkan. Namun bukan hanya mereka saja yang menjadi korban. Yang lain, Andry Yunarko, Pangkorwil Garda Metal Riau dipecat. KC FSPMI Karawang, Abda Khair Mufti diganti dengan tuduhan korupsi tanpa diberikan kesempatan membela diri. Omah Tani yang menjadi inspirasi bagi adanya Rumah Buruh dikucilkan. Diluar KSPI kita bisa melihat bagaimana FKI SPSI yang berhasil memperjuangkan pembebasan 21 ribu buruh dari status outsourcing dihancur leburkan oleh elit-elit birokrasi serikat buruh. Salah satu pimpinan cabang mengeluarkan surat edaran ke pengusaha yang menyebutkan bahwa PB yang ditandatangani FKI tidak sah. Hasilnya 75 persen buruh batal bebas dari outsourcing. Berbagai wadah yang bisa memajukan kesadaran klas buruh. Berbagai sekolah-sekolah ekonomi politik dan forum-forum konsolidasi dibubarkan.

Semakin menyingkirkan yang maju maka semakin elit-elit birokrasi serikat buruh itu bersandar pada massa buruh yang kesadarannya terbelakang. Apakah kesadaran yang paling terbelakang itu? Terutama adalah rasialisme dan kepatuhan buta. Rasialisme sendiri bukanlah ideologi klas buruh karena klas buruh dengan ras, agama, suku, jenis kelamin, warna kulit apapun mengalami penindasan yang sama. Rasialisme terkait erat dengan pemilik modal untuk memecah belah klas buruh dan klas menengah galau tergencet kapitalisme, yang menjadi basis massanya. Dengan bersandar pada massa buruh yang paling terbelakang tersebut maka mereka dapat mengekang mereka-mereka yang maju.

Pertama, Memahami naik turunnya kondisi gerakan buruh menjadi penting karena berhubungan erat dengan tujuan dari kaum revolusioner untuk masuk (atau bahkan tidak masuk) kedalam partai massa buruh. Tujuan dari kaum revolusioner masuk kedalam partai massa buruh terkait dengan potensi pengorganisiran massa serta pembangunan partai revolusioner itu sendiri. Betul sekali. Jadi perdebatan masuk (atau tidak masuk) ke partai massa buruh besutan GBI bukanlah persoalan siapa mengorganisir atau siapa tidak mengorganisir. Namun pertanyaannya siapa yang mau diorganisir dan untuk tujuan apa mengorganisirnya?

Ada dua kecenderungan pengorganisiran massa diantara kaum revolusioner Indonesia. Pertama yaitu menurunkan level kaum revolusioner dan menyesuaikan diri dengan kesadaran atau keresahan massa yang paling umum bahkan yang paling terbelakang. Untuk kemudian diwadahi dalam berbagai organisasi-organisasi massa.

Kecenderungan ini yang menurut saya berkembang dominan diantara kaum revolusioner. Antara lain terdapat kecenderungan gerakanisme seperti yang secara terbuka diambil sebagai posisi oleh Politik Rakyat. Dimana Partai Revolusioner dikesampingkan untuk kemudian mengurusi pembangunan gerakan sosial dahulu. Disisi yang lain juga kesibukan mengurusi berbagai organisasi massa. Karena dengan organisasi massa maka akan lebih mudah menghimpun massa sebanyak-banyaknya berbasiskan atas keresahan-keresahan.

Sehingga minim sekali kaum revolusioner yang memiliki korannya ataupun media propagandanya sendiri. sebagai alat untuk menyebarluaskan ideologi revolusionernya. Kalaupun ada lebih banyak memuat propaganda organisasi massa yang berada dibawah pengaruhnya. Organisasi revolusionernya juga minim sekali muncul menjalankan aktivitas-aktivitasnya sendiri. Lebih banyak yang dimajukan adalah aktivitas-aktivitas organisasi massa yang berada dalam pengaruhnya.

Kedua, dan ini yang tepat, menghimpun klas buruh dan rakyat yang paling maju kesadarannya serta paling militan kedalam partai revolusioner. Tentunya mereka akan merupakan minoritas kecil. Minoritas kecil yang bisa berjumlah ribuan bahkan mungkin puluhan ribu disaat-saat terjadi pergolakan atau saat situasi revolusioner terjadi. Dari minoritas kecil itu dalam perjalanannya yang akan mampu memberikan kepemimpinan dan berjuang bersama klas buruh dan rakyat untuk menghancurkan kapitalisme. Itu sebenarnya logika sederhana yang ada disemua organisasi bahkan organisasi borjuis sekalipun. Yang bisa memimpin adalah individu-individu yang paling sadar terhadap kepentingan klasnya.

Ted Sprague dalam tulisannya “Kaum Revolusioner, Partai Kader dan Masalah Partai Buruh”, mengatakan “…mayoritas rakyat pekerja hanya akan bergerak ke kesimpulan-kesimpulan revolusioner pada periode revolusioner…”. Kita bisa mengatakan lebih umum lagi bahwa klas buruh dan rakyat akan lebih mudah menerima ide-ide revolusioner, meyakininya dan kemudian bergabung dalam partai revolusioner saat terjadi radikalisasi atau meningkatnya perlawanan. Sesuatu yang sudah terbukti ketika pendidikan-pendidikan ataupun bacaan kritis menjadi populer saat gerakan buruh meningkat perlawanannya.

Namun analisa Ted berhenti disitu, tidak ada analisa tentang kondisi gerakan buruh Indonesia. Sehingga tidak bisa menjawab secara kongkrit adakah radikalisasi atau potensi peningkatan perlawanan didalam partai massa buruh besutan GBI?

Jika memang ada potensi tersebut maka dapat dipastikan bahwa ketika kaum revolusioner masuk kedalamnya partai massa buruh besutan GBI akan ada klas buruh yang mudah menerima ide-ide yang disebarluaskan oleh kaum revolusioner.

Seperti yang saya paparkan diatas tidak ada radikalisasi tersebut, tidak ada peningkatan perlawanan. Yang terjadi adalah justru gerakan buruh semakin menurun dan cengkraman elit birokrasi serikat buruh semakin kuat.

Bagi kaum revolusioner taktik haruslah fleksible. Dengan begitu kita dapat menghimpun pemimpin-pemimpin klas buruh dan rakyat. Yang dimunculkan oleh berbagai perlawanan yang ada. Ini menurut saya ketepatan intervensi yang dilakukan oleh Danial sejak sekitar tahun 2010an terhadap FSPMI. Disaat mayoritas kaum revolusioner masih sibuk bekerja di basis (organisasi) massa tradisionalnya.

Disatu saat lebih baik kita mencurahkan seluruh kekuatan kita untuk masuk ke dalam kampus-kampus. Namun disaat yang lain lebih baik mengintervensi klas buruh di sektor industri tertentu. Dan dalam kondisi kemunduran gerakan buruh seperti sekarang adalah sia-sia berkubang dalam partai massa buruh besutan GBI yang dicengkram demikian kuat oleh elit-elit birokrasi serikat buruh.

Kedua, Selain kondisi objektif tersebut yang menjadi penting dalam memutuskan taktik masuk (atau tidak masuk) dalam partai massa buruh besutan GBI adalah syarat-syaratnya. Syarat tersebut adalah: aktivitas kaum revolusioner yang independen dan bebas.

Buat apa mengajukan syarat? Toh seperti yang dilontarkan oleh Ted Sprague, reformisme itu pengkhianat. Pertama justru karena elit-elit birokrasi serikat buruh itu adalah kaki tangan borjuis didalam gerakan buruh maka kita harus menentukan syarat-syarat yang jelas dan tegas. Sehingga menjadi jelas kerja-kerja apa yang harus dilakukan oleh kaum revolusioner. Demikian tanpa syarat-syarat itu maka kaum revolusioner hanya akan mengikuti apapun batasan-batasan yang dibuat oleh para elit-elit birokrasi serikat buruh itu.

Tanpa syarat-syarat itu maka omong kosong kita berbicara menghimpun yang paling maju. Massa yang paling maju tidak akan mungkin bisa ditarik mendukung kaum revolusioner ketika kita tidak mungkin melakukan kerja-kerja revolusioner dan mengikuti atau membiarkan apapun pengkhianatan yang terjadi.

Kedua, syarat-syarat itu sendiri juga akan menguntungkan bagi kaum revolusioner jika ditolak. Hal ini akan menunjukan siapa yang anti demokrasi dan persatuan klas buruh.

Faktanya penyingkiran, pengucilan dan pembatasan sudah terjadi. Diatas sudah saya jelaskan bahwa terkait dengan elit-elit birokrasi serikat buruh yang politiknya semakin bergerak ke kanan maka konsekwensinya mereka-mereka di internal yang militan, kritis dan maju kesadarannya harus disingkirkan atau dikucilkan.

Ketiga, Persoalan lain terkait dengan partai massa buruh besutan GBI adalah bagaimana berhadapan dengan elit birokrasi serikat buruh didalam GBI itu sendiri. Ini adalah satu soal dimana kaum revolusioner masih sangat lemah memahaminya. Atau bahkan mengabaikannya dan menganggap tidak ada yang disebut sebagai elit birokrasi serikat buruh.

Elit-elit birokrasi serikat buruh tersebut memiliki hubungan yang erat dengan borjuasi. Berbagai tulisan dari PPI mengenai partai massa buruh besutan GBI selalu mencantumkan karakter partai tersebut harus anti elit borjuis. Namun tidak ada penjelasan mengenai hubungan elit-elit birokrasi serikat buruh (bahkan yang didalam GBI) dengan elit borjuis.

Padahal banyak elit-elit birokrasi serikat buruh secara historis merupakan sisa-sisa dari pimpinan-pimpinan serikat pekerja SPSI jaman Rejim Militer Soeharto. Dimana mereka berfungsi untuk mengontrol klas buruh itu sendiri.
Diantara mereka juga merupakan bagian langsung dari klas borjuasi itu sendiri. Seperti Andi Gani yang selain merupakan pimpinan KSPSI juga merupakan pengusaha tambang. Sekarang dia menjadi Komisaris PT PP. Sudah menjadi rahasia umum jika terdapat juga pimpinan-pimpinan serikat buruh yang juga memiliki perusahaan outsourcing, dsb.

Sementara itu Said Iqbal ataupun Obon Tabroni juga memiliki hubungan dengan partai-partai borjuis. Said Iqbal saat pemilu 2014 memaksakan agar KSPI mendukung Prabowo. Sementara Obon Tabroni dikatakan dekat dengan PDI Perjuangan. Walaupun berbeda mereka sama-sama tidak ada persoalan ketika KSPI saat May Day 2015 mengundang semua pimpinan Koalisi Merah Putih.

Dengan begitu maka jelas bahwa elit-elit birokrasi serikat buruh itu memiliki kepentingan yang berbeda dengan massa buruh. Dia menjadi alat bagi borjuasi untuk mencengkram dan mengendalikan gerakan buruh.

Seberapa kuat kendali tersebut juga akan bergantung pada keseimbangan kekuatan antara klas buruh dan borjuasi. Para elit-elit birokrasi serikat buruh itu pada dasarnya tumbuh dari posisinya yang berfungsi untuk menegosiasikan kepentingan anggota buruhnya dengan kepentingan para pemilik modal. Disatu sisi dia tidak dapat benar-benar mengabaikan tuntutan massa anggota buruh tanpa berakibat mereka pindah ke serikat lain. Namun juga tidak dapat benar-benar memajukan gerakan buruh hingga memberikan kerugian bagi para pemilik modal. Karena itu berarti dia dapat kehilangan otoritasnya sebagai tukang negosiasi.

Lalu bagaimana menghadapi mereka? Kelemahan kaum revolusioner dalam berhadapan dengan elit birokrasi serikat buruh tersebut adalah justru menggunakan cara-cara elit birokrasi serikat buruh itu sendiri. Yaitu dengan menyelesaikan semuanya melalui kesepakatan-kesepakatan dalam ruang tertutup dengan elit-elit birokrasi serikat buruh itu sendiri.

Tidak memahami bahwa fungsi elit birokrasi serikat buruh tersebut adalah sebagai negosiator antara klas buruh dan rakyat. Serta kepentingannya yang berbeda dengan klas buruh membuat anggapan bahwa elit birokrasi serikat buruh sama saja dengan massa buruh yang dengan kerja kaum revolusioner akan bisa disadarkan dan juga dijadikan revolusioner.

Perspektif ini mengaburkan kaum revolusioner dari tujuan utama intervensi yaitu mendapatkan dukungan dari klas buruh dan rakyat yang paling maju.

Bersambung…………………….

Oleh : Ignatius Mahendra Kusumawardhana, Kontributor Arah Juang dan Anggota KPO-PRP.

Catatan Kaki :

  • Lihat survey kompas http://nasional.kompas.com/read/2012/06/08/11204529/Kelas.Menengah.Konsumtif.dan.Intoleran, http://nasional.kompas.com/read/2012/06/08/1200246/Kelas.Menengah.Menggantung.Asa.pada.Negara
  • http://solidaritas.net/2013/11/andi-gani-meng-gebrak-siapa.html
  • http://solidaritas.net/2014/11/dulu-gagal-tiga-konfederasi-kembali-akan-mogok-nasional.html
  • http://solidaritas.net/en/wp-content/uploads/2015/06/FSPMIs-instruction-letter-to-its-member-to-prohibit-the-member-to-have-relations-with-TURC-etc-724×1024.jpg, http://solidaritas.net/2015/06/begini-cara-anggota-fspmi-menanggapi-kritik-dengan-instruksi-blokir.html
  • http://politikrakyat.com/2014/02/20/politik-rakyat-an-introduction/
  • http://www.militanindonesia.org/teori-4/organisasi/8553-kaum-revolusioner-partai-kader-dan-masalah-partai-buruh.html
  • https://ppijkt.wordpress.com/2015/04/28/situasi-sekarang-akan-pentingnya-partai-buruh-dan-langkah-ke-depan/, https://ppibekasi.wordpress.com/2015/05/17/politik-kelas-buruh-bagian-ii/

 

2,215 total views, 1 views today

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment